Hati-hati, Attitude Jelek Bisa Menghancurkan Karir Berkarya!

8 months ago
Sumber: WikiHow

Dalam berkarya, kita membutuhkan beberapa elemen esensial seperti wawasan, teknik, dan pengalaman. Akan tetapi, ketiga elemen tersebut bukanlah yang paling krusial, sebenarnya. Di balik itu, ada satu elemen yang tak kalah penting. Jika elemen ini hilang atau memang tidak ada sejak awal, maka proses berkarya yang kita lalui bisa menjadi sia-sia.

Attitude, inilah satu hal yang tidak boleh gagal kita pahami dalam kehidupan berkarya.

Secara bahasa, attitude berarti sikap atau perlakuan kita kepada orang lain. Baik dan buruknya tergantung kepada kita sendiri, dari cara kita memerlakukan orang lain. Kenapa dikatakan penting? Sebab, attitude ini berhubungan langsung dengan persoalan komunikasi. Dan berkarya adalah bentuk komunikasi kita dengan orang lain, baik kepada audiens maupun kreator lain.

Nah, kalau sudah masuk ke bahasan komunikasi, maka secara otomatis kita juga akan membicarakan soal impact atau pengaruhnya kepada orang lain.

Kalau kita baik kepada orang lain, orang lain tentu akan berbuat baik pula kepada kita. Tetapi kalau kita membuat orang lain jengah, maka cepat atau lambat jalan “keberuntungan” kita pun akan tertutup dengan sendirinya. Ini semacam seleksi alam yang tak mungkin terhindarkan.

Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa memilah sikap merupakan hal yang patut untuk kita renungkan dalam-dalam. Jika kita ogah-ogahan atau bahkan berusaha melawan “hukum alam”, kelak yang dirugikan bukan hanya orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Jadi, apa yang perlu kamu ketahui soal attitude? Simak ulasannya!

Melalaikan Sikap Baik, Bisa Berujung Tidak Baik

Sumber: Quotefancy

Sumber: Quotefancy

Ini bukan karangan belaka. Kenyataan bahwa orang akan memerlakukan kita sebagaimana kita memerlakukan mereka merupakan bagian dari kondisi psikologis manusia. Ada semacam mekanisme “balas budi” atau “balas dendam” yang tertanam dalam pikiran kita, tergantung dari apa yang orang berikan kepada kita.

Sebuah artikel di situs Family Share menjelaskan hal ini. Artikel itu menyatakan bahwa apa yang akan orang lakukan kepada kita semuanya tergantung kepada bagaimana kita memberi sikap kepada mereka. Golden rule, simple rule.

Sayangnya, aturan sederhana ini sering kita lalaikan. Penyebabnya bisa karena emosi atau bahkan sekadar untuk “keren-kerenan”. Yang mana pun alasannya, ketika attitude kita telah berhasil membuat orang tidak nyaman, maka kita perlu introspeksi diri.

Dengan melupakan elemen esensial ini, kita secara tak sadar sering memasang perangkap untuk masa depan kita sendiri. Beruntung jika ternyata kita bersikap buruk di hadapan orang yang pemaaf. Tetapi bagaimana jika sikap buruk itu ketahuan oleh orang-orang yang berhubungan langsung dengan kelangsungan karir kita?

Dalam industri kreatif, misalnya. Katakanlah kamu adalah seorang komikus, tetapi punya kebiasaan membuat drama atau mengucapkan hal-hal yang kurang sopan di media sosial. Jika sikap ini ketahuan oleh para penerbit komik dan membuat mereka jengah, apa yang kira-kira akan terjadi padamu?

Blacklisted, kemungkinan besar.

Hari Ini Kamu Bisa Selamat, Bagaimana Esok Hari?

Sumber: Burroughs Healthcare

Sumber: Burroughs Healthcare

Subjudul yang kedua ini seharusnya membuat kita berpikir soal memilah sikap dalam kehidupan kreatif. Ya, kamu bisa saja bersikap tidak apik kepada orang lain dan merasa lega karena tidak terjadi apa-apa pada kehidupan berkaryamu. Tetapi, bagaimana esok hari?

Seseorang sudah tahu jawabannya.

Mari berkenalan dengan Adam Smith. Ia adalah seorang Chief Financial Officer (CFO) di sebuah perusahaan di Arizona, dulunya. Kasusnya, ia merekam video perdebatannya dengan seorang pegawai restoran cepat saji. Demi memertahankan pendapatnya, Adam bersikap keras, bahkan cenderung tak sopan.

Tak disangka, video-nya viral.

Sampai saat video-nya menyebar di internet, Adam Smith masih baik-baik saja. Tetapi, begitu video-nya ditonton oleh orang-orang di perusahaannya, nasibnya langsung berubah drastis. Ia dipecat. Tak hanya dipecat, hidupnya pun jadi penuh kesempitan. Ia bahkan harus makan dengan suvenir khusus orang-orang yang tidak mampu. Awalnya bos, kini hidupnya gembos.

Dulu Bos, Kini Gembos. Sumber: YouTube

Dulu Bos, Kini Gembos. Sumber: YouTube

Kasus lainnya juga pernah menimpa seorang kreator di Indonesia. Karena sikapnya yang kurang baik dengan seorang komikus papan atas, serta melakukan sindiran yang tidak senonoh lewat karyanya, sontak dirinya menjadi bulan-bulanan netizen. Beberapa orang bahkan menyerukan boikot terhadap karya-karyanya.

Beruntung, masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Meski demikian, teman-teman yang pernah mengikuti “dramanya” pada tahun 2016 lalu tentu tahu bahwa kasus ini sempat panas dan hampir saja membuat karir sang kreator pupus.

Kasus-kasus di atas hanyalah segelintir dari sekian banyaknya contoh tentang bagaimana attitude bisa mengubah kehidupan orang sedemikian drastis. Pesannya: berhati-hatilah dalam bersikap.

Gaya Komunikasi Tiap Orang Berbeda, Jangan Sembarangan

Secara Tidak Sadar, Gaya Komunikasi Kita Bisa Bikin Orang Terganggu. Sumber: HuffPost

Secara Tidak Sadar, Gaya Komunikasi Kita Bisa Bikin Orang Terganggu. Sumber: HuffPost

Dalam kehidupan berkarya, kita seringkali harus melakukan komunikasi orang lain. Subjeknya bisa dengan audiens, pemilik circle, maupun kreator lain. Bahasannya pun bisa bermacam-macam, mulai dari diskusi santai, bertukar informasi, sampai mengadakan kerjasama.

Nah, kalau sudah masuk konteks komunikasi dua arah seperti ini, ada satu hal yang perlu kita ingat: setiap orang punya gaya komunikasi yang unik. Karena keunikan ini, maka bisa saja orang tidak bisa menangkap cara kita berkomunikasi. Lebih parahnya, mereka bisa saja tersinggung dengan cara kita berbicara.

Untuk mengatasi persoalan ini, kita perlu menggunakan bahasa yang paling universal digunakan oleh orang-orang di wilayah terkait. Jika di Indonesia, gunakan bahasa Indonesia yang baik. Jika di Inggris, gunakan bahasa Inggris yang baik. Intinya, kembali ke akar.

Juga, bersikaplah sopan. Jangan menggunakan slang atau kosakata yang aneh-aneh. Apalagi jika berhadapan dengan orang yang baru kita kenal, jangan menggunakan bahasa-bahasa yang kontroversial untuk digunakan dalam percakapan.

Misal: “Pull your ass together!” Kamu mungkin pernah mendengar kata-kata seperti ini di film Hollywood.

Contoh kalimat di atas mungkin tidak akan jadi kontroversial jika kita gunakan di wilayah Amerika Serikat dan dilontarkan kepada teman sejawat. Akan tetapi, bagaimana jika kita mengatakan hal serupa kepada orang di dunia belahan timur, seperti Jepang atau Indonesia? Tanggapannya bisa jadi berbeda, bahkan cenderung dianggap kasar karena mengandung “ass” yang berkonotasi kotor.

Sekarang bayangkan jika kita bersikap seperti demikian di hadapan seorang pemilik perusahaan kreatif; katakanlah di hadapan pemilik platform komik online yang sedang mencari banyak talenta.

Tanyakan kepada dirimu sendiri, posisikan dirimu sebagai pemilik platform lokal yang sedang mencari talenta secara baik-baik dan lawan bicaramu menggunakan bahasa yang kontroversial, bahkan cenderung arogan. Kira-kira bagaimana rasanya sebagai pemilik platform?

Komunikasi itu bukan soal gaya-gayaan, apalagi memamerkan kepintaran. Komunikasi adalah alat untuk bertukar informasi, sehingga ada manfaat yang bisa kita terima. Jika kita mengabaikan hal ini, percayalah, akan ada episode di mana kehidupan berkarya kita menjadi penuh drama.

Bad communication is the beginning of bad drama.

Berkaryalah dengan Etika

Sumber: Sulphur Springs ATA Martial Arts

Sumber: Sulphur Springs ATA Martial Arts

Kesimpulan dari artikel ini adalah kita perlu memprioritaskan attitude sebelum kemampuan; sikap baik sebelum wawasan; etika sebelum keahlian.

Kemampuan itu sifatnya fisik, bisa diasah dan berubah sesuai keinginan. Dengan berlatih secara konsisten, kemampuan bisa meningkat. Seiring berjalannya waktu, kemampuan seseorang akan berubah sesuai dengan jam terbang yang telah ia tempuh.

Sedangkan attitude bukanlah elemen fisik, ia adalah elemen psikologis. Jika kita terlalu lama membiarkan sifat jelek bersemayam dalam diri, maka mengubahnya pun akan semakin sulit, karena kita akan menganggap hal itu sebagai kebiasaan.

Maka, sebagai kreator yang baik, kita juga perlu konsisten mengintrospeksi diri, bukan cuma konsisten menelurkan karya.

Attitude adalah prioritas nomor satu dalam berkarya. Tanpanya, skill bisa jadi sia-sia. Seperti seonggok suvenir, skill tanpa attitude hanya akan berfungsi sebagai hiasan yang indah selama beberapa saat. Oleh karenanya, mari lebih peka. Ciptakan lingkungan berkarya yang menyenangkan untuk semua orang.

CIAYO!

About Author

S09 Gruppe

S09 Gruppe

S09 Gruppe adalah circle penyedia konten kreatif. Motto kami adalah Care the Creativity, yang berarti kami peduli pada pertumbuhan kreativitas Indonesia. Berkenaan dengan motto tersebut, kami akan selalu memberikan insight-insight kreatif terbaru serta penyemangat untuk berkarya.

Comments

Most
Popular

Sumber: Disney

Disney Tidak Senang dengan Bagaimana EA Menangani Star Wars

Reputasi EA sebagai perusahaan game raksasa yang rakus dan tak peduli dengan kemauan para gamer nampaknya semakin terlih.. more

Ekshibisi NaoBun Project Pamerkan Komik Hingga Instalasi Seni

Ekshibisi We Are NaoBun Project! tanggal 6-13 Mei 2018 lalu menampilkan sekitar 13 judul komik yang dikembangkan bersama.. more

CHIPS Membasmi Monster di Google Play Indonesia Games Contest 2017

Mau tau keseruan apa aja saat tim CIAYO Games menempati salah satu booth di The Warehouse, Plaza Indonesia? Yuk disimak!.. more

Pose Bareng Hadiah CIAYO Short Story Challenge

Pemenang CIAYO Short Story Challenge sudah diumumkan. Ini dia selebrasi dari beberapa pemenang yang berhasil diabadikan .. more

Ketagihan main Games? Hati-hati, Itu Termasuk Gangguan Mental loh!

Nah, sebelum kamu parno, apalah kamu mengidap gaming disorder atau engga. Yuk, kenali dulu gejalanya. .. more