Inilah Alasan Mengapa Serial TV Game Of Thrones Sangat Populer. Penasaran?

5 months ago
(Sumber: lacosacine)

Game Of Thrones – Permainan Ambisi Manusia Akan Kekuasaan. Well, Anda yang selalu up to date dengan hal-hal kekinian yang sedang terjadi, baik di dunia maya maupun dunia nyata, kecil kemungkinan kalau Anda kelewatan hype perilisan season 7 dari serial TV populer besutan HBO berjudul “Game Of Thrones” (GoT) yang baru saja dimulai di bulan July 2017 ini.

Jika ternyata Anda adalah seorang penggemar hardcore GoT maka tulisan saya ini akan terlihat dangkal dan banyak memiliki kekurangan; so let’s just say kalau tulisan ini lebih pas untuk newbie, yang belum pernah menonton Game of Thrones atau orang-orang yang masih baru mengetahui soal serial TV yang menghebohkan sejak pertama kali diluncurkan tahun 2011.

GoT telah membawa impact yang sangat besar di dunia pop culture dunia. Serial ini bahkan menduduki peringkat satu sebagai “serial televisi berbayar yang paling sering dibajak di internet” menurut sebuah survey internet beberapa waktu yang lalu.

Ya. GoT bukanlah sinetron yang diputar di televisi umum/biasa/nasional. Ada alasan kuat untuk itu. Serial televisi ciptaan duo produser David Benioff & D.B. Weiss ini diadaptasi dari serial novel fantasi fenomenal karangan George R.R. Martin yang berjudul “A Song Of Ice And Fire”. Walaupun berupa adaptasi namun GoT tidak memakai seluruh plot yang ada di novel sebagai acuan cerita di televisi. Hal ini sepertinya untuk menghindari kisah di serial TV nya agar tidak melewati kisah di serial novelnya; yang masih berstatus on-going alias belum tamat.

D.B Weiss dan David Benioff. Kreator Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

D.B Weiss dan David Benioff. Kreator Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

George R.R. Martin. Kreator A Song of Ice and Fire. (Sumber: Google Images)

George R.R. Martin. Kreator A Song of Ice and Fire. (Sumber: Google Images)

Serial novel sumber cerita Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

Serial novel sumber cerita Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

Jadi kenapa tadi saya katakan GoT tidak dapat diputar di televisi biasa dan hanya ada di televisi berlangganan HBO?

Hal itu karena konten eksplisit yang mereka miliki. Serial novel “A Song Of Ice And Fire” memiliki hal-hal yang eksplisit seperti sex & nudity (hubungan seks &  adegan telanjang), gore (pembunuhan sadis) dan bahkan incest (hubungan seksual dengan sesama saudara sedarah).

Stasiun televisi kabel berbayar yang menayangkan GoT. (Sumber: Google Images)

Stasiun televisi kabel berbayar yang menayangkan GoT. (Sumber: Google Images)

George R.R. Martin (alias GRRM) menciptakan serial novel itu dengan elemen-elemen yang sama sekali tidak cocok dikonsumsi oleh golongan dibawah rating dewasa. Hal-hal eksplisit itu lantas diadapasi oleh duo Benioff & Weiss di GoT. Sinetron ini menggunakan elemen-elemen eksplisit seperti yang ada di novel. Dan hal ini sudah pasti menjadikan GoT tidak akan mungkin muncul di televisi umum yang dapat diakses siapa saja.

Jadi cuma karena hal-hal eksplisit doang kah, yang membuat begitu banyak orang ngefans GoT? Sepertinya tidak. Ada hal yang jauh lebih menarik dari GoT ketimbang adegan telanjang di dalamnya.

Kisah di GoT diceritakan terjadi di benua Westeros dan Essos, dan ada pada tiga bagian besar kisah yang membentuk satu kesatuan utuh sebagai sebuah cerita yang epik.

Peta dunia di Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

Peta dunia di Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

Bagian pertama bercerita tentang singgasana “Iron Throne of the Seven Kingdoms” serta permainan konflik kepentingan antar para bangsawan yang menginginkan kekuasaan (yang akan didapat jika berhasil menguasai singgasana Iron Throne), atau malah mereka yang menginginkan untuk bebas dari kekuasaan Iron Throne of the Seven Kingdoms.

Singgasana Iron Throne penguasa Seven Kingdoms. (Sumber: Google Images)

Singgasana Iron Throne penguasa Seven Kingdoms. (Sumber: Google Images)

Bagian kedua fokus pada keturunan bangsawan yang dulu berkuasa namun terusir dari Iron Throne dan kemudian merencanakan merebut kembali tahta dari tangan keluarga yang sekarang menguasai Iron Throne dan memerintah Seven Kingdoms. Bangsawan ini diwakili oleh keturunan terakhir House Targaryen yang bernama Daenerys Targaryen.

Daenerys Targaryen dari House Targaryen. (Sumber: Google Images)

Daenerys Targaryen dari House Targaryen. (Sumber: Google Images)

Sementara bagian ketiga akan mengulas lebih detil mengenai persatuan dan perjuangan para warga bagian utara (alias the North) dalam menghadapi datangnya musim dingin panjang, disebut sebagai Winter, yang juga akan disertai gelombang kedatangan makhluk-makhluk mistis “White Walkers” yang ada sejak ribuan tahun lalu dan bertujuan menghancurkan apapun yang ada di jalur mereka.

Sebelumnya tidak banyak yang percaya akan keberadaan White Walkers karena mereka dianggap hanya sebatas mitos; sampai kemudian mereka terlihat secara nyata bagi banyak orang North sejak tanda-tanda Winter akan datang mulai terasa.

“Winter is coming”. Like Eddard Stark said in Season 1.

Night’s King pimpinan White Walkers. (Sumber: Google Images)

Night’s King pimpinan White Walkers. (Sumber: Google Images)

GoT mendapatkan pujian tinggi baik dari fans maupun kritikus karena dianggap berhasil membangun sebuah saga yang penuh realisme dunia medieval secara “abu-abu”, dimana tidak ada pihak yang benar-benar putih atau benar-benar hitam. Tidak ada pihak yang jahat 100% dan demikian pula sebaliknya.

Walau memiliki basis layaknya kisah dunia medieval seperti sihir, naga, raksasa serta makhluk-makhluk mistis lainnya (termasuk White Walkers yang jadi “musuh bersama” manusia di serial ini), namun secara keseluruhan GoT lebih menonjolkan situasi yang tercipta/diciptakan oleh umat manusia.

Seperti misalnya peperangan di antara mereka, adanya pertikaian politik, perselingkuhan ataupun hal-hal amoral lainnya.

Salah satu naga di Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

Salah satu naga di Game of Thrones. (Sumber: Google Images)

Hal lainnya yang mungkin membuat GoT populer adalah seringnya serial ini mematikan karakter-karakter sentral, penting, lovable, maupun yang tidak disangka-sangka sama sekali akan mati dalam cerita. Ini merupakan salah satu aspek yang membuat fans benci/cinta mati dengan GoT, segalanya seringkali tidak terduga sebelumnya.

Saya tentu saja tidak akan menulis siapa yang (sudah atau akan) mati di serial GoT ini, Anda harus tonton sendiri untuk mengetahuinya. Yang jelas Anda akan sering terkaget-kaget dengan  kesadisan dan nudity di GoT. Jika Anda tidak cukup kuat mental untuk menyaksikan hal-hal “tabu” yang tidak pernah dipertunjukkan di sinetron apapun/manapun, sebaiknya Anda hindari GoT sejauh mungkin.

Tapi, sekali lagi, saya perlu pertegas lagi kalau serial GoT tidak melulu berpusat pada hal-hal indecent ataupun violance. Tidak hanya soal kesusilaan atau kekerasan. Semua itu hanyalah berfungsi sebagai “fanservice”. Bukan tema utama.

Bagian inti dari kisah di GoT adalah lebih ke sebuah “pertunjukan permainan” kalau manusia akan melakukan hal-hal gila untuk meraih kekuasaan, dan akan melakukan hal-hal yang lebih gila lagi untuk mempertahankannya. Iron Throne of the Seven Kingdoms bagaikan sebuah sangkar madu dan menjadi rebutan para beruang ganas.

Musim/season pertama GoT cukup otentik dan mengikuti struktur dari novel GRRM. Namun di season-season selanjutnya, Benioff dan Weiss melakukan interpretasi mereka sendiri dari source material (serial novel karangan GRRM) sehingga lama kelamaan GoT semakin terasa berbeda dari “A Song of Ice and Fire” walau tetap memiliki roh dan tematik yang sama.

Seperti misalnya Westeros yang merupakan versi dari Eropa era medieval ada di GoT maupun A Song of Ice and Fire. Kemiripan dengan Eropa terutama ada di bagian struktur lokasi, kultur setempat, hingga ke bagian intrik istana, sistem “Knight” / Ksatria, sistem feodal (bangsawan dan rakyat rendahan) sampai adanya turnamen yang berfungsi sebagai sarana adu gengsi antar Ksatria.

Hal-hal yang dulu terjadi di Eropa “asli” era Abad Pertengahan, di adaptasi oleh Benioff + Weiss dan GRRM dalam format sinetron dan serial novel. GoT juga dikenal memiliki barisan aktor dan aktris dengan kualitas akting mumpuni. Karenanya serial ini sudah beberapa kali dinominasikan dan memenangi penghargaan bergengsi untuk sinetron buatan Amerika Serikat, Primetime Emmy Awards (termasuk di kategori paling bergengsi “Outstanding Drama Series” sebanyak dua kali di tahun 2015 dan 2016).

Borong Kemenangan Game of Thrones di Emmy 2016. (Sumber: Google Images)

Borong Kemenangan Game of Thrones di Emmy 2016. (Sumber: Google Images)

Mungkin aktor paling terkenal/dikenal dari serial GoT adalah Peter Dinklage, yang berperan sebagai Tyrion Lannister. Dengan tinggi badannya yang hanya 135 sentimeter (beliau mengidap ‘achondoplasia’ yang menyebabkan dwarf-ism) namun punya kemampuan akting brilian, Peter Dinklage kini tersohor ke seluruh dunia dan merambah ke dunia film mainstream juga; seperti di film “X-Men Days of Future Past” tahun 2014 kemarin.

Peter Dinklage bersama isterinya Erica Schmidt. (Sumber: Google Images)

Peter Dinklage bersama isterinya Erica Schmidt. (Sumber: Google Images)

Aktris Emilia Clarke (pemeran tokoh sentral penting GoT “Daenerys Targaryen”) berakting bareng Arnold Schwarzenegger di film ‘soft-reboot’ franchise terkenal Terminator yang berjudul “Terminator Genisys” di tahun 2015.

Terminator Genisys yang dibintangi Emilia Clarke. (Sumber: Google Images)

Terminator Genisys yang dibintangi Emilia Clarke. (Sumber: Google Images)

Sebenarnya masih banyak yang bisa diulas dan ditulis dari peringkat 12 “Serial Televisi Populer Sepanjang Masa” menurut majalah Rolling Stones tahun 2016 ini. Mungkin lain kali?

“Selamat menikmati kelanjutan GoT!” saya ucapin buat para sesama fans GoT yang sudah mengikuti serial seru ini sejak season 1 di tahun 2011 lalu. Kita tahu kalau “Winter is already here” dan sesuatu yang besar akan segera terjadi.

Sementara untuk Anda yang belum pernah menyaksikan satupun episode dari GoT, saya akan mengatakan ini, jika Anda menggemari kisah intrik politik, permainan kekuasaan, dan hal-hal penuh dekadensi moral manusia berlatar belakang era abad pertengahan di Eropa, serta memiliki toleransi tinggi untuk adegan-adegan yang akan membuat urat syaraf Anda ngilu sesaat, maka Anda harus mencoba menonton Game of Thrones mulai dari season pertama.

Kecil kemungkinan kalau Anda akan menyesalinya.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

(Sumber: ultimumvitae.com)

Yuk! Intip Fakta dan Sejarah Penggunaan Emoticon

Kalau kamu pengguna aplikasi messenger di smartphone, pasti kamu udah gak asing lagi dengan yang namanya emoticon dan st.. more

Joss Whedon dan Zack Snyder. Sumber gambar: bleedingcool.com

Pergantian Mendadak Kursi Sutradara Justice League yang Tidak Terduga, Mau Tahu Alasannya?

Saat pembuatan sebuah film, posisi sutradara merupakan posisi yang sangat penting. Tahukah bro sis, kalau film Justice L.. more

(zerochan.net)

Kisah Nyata Kelompok Shinsengumi Jepang di Anime Samurai X

Kalian tahu gak sih guys, ternyata kisah Samurai X ini diambil dari kisah nyata yang ada di Jepang. Sang author, Watsuki.. more

Presiden Amerika Serikat fiktif dari game “Metal Wolf Chaos”. Sumber gambar: twitter.com/devolverdigital

Presiden Amerika Serikat Fiktif Dalam Pop Culture, Yang Mana Favoritmu?

Presiden Amerika Serikat sering digambarkan dalam pemberitaan sebagai karakter penting dunia... more

Urban Legends Vietnam (Sumber: saigoneer)

Jangan Baca Kisah Urban Legend Vietnam ini Sendirian!

Namun taukah kamu kalo ternyata Vietnam menyimpan segudang kisah horror yang ga kalah sama Thailand? Penasaran? Pastiny.. more