Isle Of Dogs: Propaganda Historis untuk Memanipulasi Massa Melalui Xenofobia

5 months ago

Wes Anderson membuat film animasi stop motion lagi? Gimana pendapat kalian? Sudah jelas ini merupakan hal yang sangat menarik dan sayang banget buat dilewatin. Kita semua pasti ingat dengan film Fantastic Mr. Fox yang rilis pada tahun 2009. Film itu disutradarai dan ditulis oleh Wes Anderson. Kombinasi cerita dengan kualitas animasi sungguh menjadikan komposisi film Fantastic Mr. Fox terasa sempurna. Imajinasi Anderson dalam menggiring plotnya, serta sering kali menciptakan twist yang engga terduga, dan engga terlupakan dia juga memberikan pesan-pesan moral yang mendalam loh.

Lalu Isle of Dogs bisa seperti Fantastic Mr. Fox engga ya? Atau bahkan lebih bagus? Nih beberapa ulasan buat kalian :

Isle of Dogs mencoba membawa penonton pada kehidupan politik yang rumit disebuah kota fiksi bernama Megasaki, Jepang. Tema politik yang seharusnya berat coba diredam dengan sudut pandang kawanan anjing yang terbuang dan diasingkan oleh Walikota korup bernama Kobayashi (suaranya itu diisi oleh Kunichi Nomura loh).

Wes Anderson dan boneka Fantastic Mr. Fox (Sumber: www.commeaucinema.com)

Anderson selalu membawa tema gelap ke dalam filmnya dengan menjadikan hal gelap itu sebagai kabut tipis yang kasat mata. Konsisten banget ya. Ini juga terjadi pada film Fantastic Mr. Fox, di mana Mr. Fox terpaksa menjadi seorang perampok untuk bisa kembali ke peternakan serta menghadapi para petani.

Tema tentang Walikota yang korup dijadikan kulit luar pembuka jalan petualangan menyenangkan yang seolah menghadirkan sebuah utopia dalam bentuk distopia tanpa kita benar-benar sadari. Begitu menariknya melihat sekumpulan anjing di sebuah pulau terpencil namun dengan lingkungan yang tidak sehat karena pulau itu adalah tempat pembuangan sampah.

Kisahnya semakin menarik ketika hadirnya seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun bernama Atari (Koyu Rankin) yang kabur dari rumah menggunakan pesawat terbang curian. Atari sendiri memiliki misi untuk menemukan sahabat anjingnya bernama Spots.

Atari yang terjun payung untuk menemukan anjingnya. (Sumber: www.thefourohfive.com)

Kisah kebersamaan, persahabatan dan pencarian atas nama cinta menjadikan Isle of Dogs sebagai romansa yang menyentuh hati banget nih. Perkembangan karakter para anjing yang awalnya suka berkelahi, rasa benci pada salah satu anjing penentang yang tidak memahami makna dari persahabatan sejati, memberikan pesan yang bagus, bahwa orang-orang yang kita jauhi karena punya pandangan berbeda juga punya alasan yang kuat kenapa mereka kayak gitu. Pada akhirnya perbedaan akan saling memahami kalau kita saling mengerti dan menerima bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling membenci. Pesan yang mendalam banget kan?

Ide-ide gila Anderson tentang petualangan imajinatif sudah ada sejak filmnya Moonrise Kingdom pada tahun 2012. Kisah pelarian sepasang kekasih dari kota New England. Saya selalu suka, Dia tidak terjebak dalam alur kisah yang benar-benar serius, dia tidak terlihat moderen, tapi film-filmnya memiliki aroma klasik yang berkelas, layaknya barang antik disebuah museum. Dan elemennya masih kentara dalam Isle of Dogs.

Atari bersama kawanan anjing yang menjadi sahabat barunya. (Sumber: www.vulture.com)

Isle of Dogs ini bukanlah film yang mengubar ketegangan, oleh sebab itu beberapa adegan pertarungan dibuat jadi minimalis, tapi Anderson punya cara yang cerdas dalam menyikapi hal ini, dia akan menggantikan adegan aksi dengan adegan lain yang terkesan mengerikan, kadang ironis ‘semacam jebakan’ tapi malah membuat penonton kagum dan terpesona.

Loncatan plot dari satu skenario ke skenario lain tidak ubahnya mesin pembawa emosi yang sangat menyentuh nih. Terkadang ada aroma keputusasaan, lalu bangkitnya kobaran semangat, dan kesetiakawanan saling menjaga satu sama lainnya dari dunia yang dibayang-bayangi oleh kekuasaan pemimpin kurop yang coba memisahkan mereka.

Saya bisa bilang kalau Isle of Dogs merupakan film Anderson yang cukup dangkal untuk dipikirkan tapi menarik untuk dinikmati. Unsur komedi yang terkandung di dalamnya, lewat lelucon,  karakter lucu, dan banyak keanehan menjadi hiburan tersendiri buat penonton berpikir kalau ini adalah film yang bisa mereka terima dengan santai. Tapi bersamaan dengan itu juga, film ini juga menawarkan kecerdasan secara emosional. Tiap scene yang tampil bagai diorama dengan sudut kamera khas film stop motion.

Banyak adegan mengharukan sekaligus lucu. (Sumber: www.highsnobiety.com)

Film ini banyak menyebarkan makna secara simbolis, dan berbicara cukup banyak juga tentang propaganda historis untuk memanipulasi massa melalui xenofobia. Tiap dialog terkadang membahas hal-hal yang berat dan sulit kita percayai namun dengan gaya yang ringan dan jenaka. Absurditas yang muncul lewat percakapan kawanan anjing membuat kenyataan dan fiksi seakan engga bercela. Dialog kuat yang muncul dari pemikiran kawanan anjing ini membuat kita memperhatikan dengan dalam ke diri kita sendiri tentang seberapa besar apa yang mereka “kawanan anjing” itu pikirkan dengan apa yang mampu kita pikirkan di kehidupan nyata.

Lapisan demi lapisan Isle of Dogs memang diatur begitu rapi oleh Anderson. Kisah utama tentang pencarian seekor anjing oleh seorang bocah karena rasa cintanya, tetap diprioritaskan menjadi menu utama pastinya, sehingga lapisan-lapisan ide yang cukup berat tidak menutupi semua kesenangan yang bias kita dapatkan ketika menonton film-film animasi pada umumnya.

Dari sekian banyak kelebihan yang dimiliki oleh film ini, ada beberapa hal yang saya rasa memberikan konotasi buruk sekaligus ironis. Dalam film ini, para manusia menggunakan bahasa Jepang karena bersetting di Jepang, sedangkan kawanan anjing berbahasa Inggris. Ini memang bukan masalah bagi sebagian orang, hanya saja tidak semua dialog dalam bahasa Jepang diterjemahkan secara menyeluruh, hal ini memberikan kesan bahwa orang Jepang terlihat datar, misterius, dan sulit untuk dipahami.

Ini sudah menjadi semacam tradisi lama untuk orang Eropa-Amerika yang secara tidak langsung menjajah estetika seni berbahasa di Jepang. Ini juga kayak menyiratkan bahwa Jepang lewat kota Megasaki sedang berada di dalam masalah besar yang harus diselamtkan oleh kawanan anjing yang mengongong dengan bahasa Inggris. Seperti orang Amerika sedang berusaha menyelamatkan Jepang!

Potret Jepang dalam film ini. (Sumber: www.theatlantic.com)

Lalu ada juga sebuah selogan berbentuk grafiti pada semen abu-abu dalam sebuah scene yang bertuliskan “Douyatte bokura wo korosu tsumori?” Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih begini: “Bagaimana mungkin anda berencana membunuh kita?”

Memang bagi sebagian orang “terutama bukan orang Jepang” akan menganggap kalau ini hanya selogan lalu yang tidak ubah bagai bagian dari detil visual, tapi bagi orang Jepang sendiri itu merupakan isyarat teriakan tentang perang. Sedikit mengerikan ya.

Terlepas dari beberapa hal tadi. Saya bisa bilang kalau Isle of Dogs merupakan film animasi stop motion terbaik di tahun ini. Kalian setuju engga nih? Hal ini semakin dipertegas dengan kemenangannya dalam Berlin International Film Festival 2018 dalam katagori Best Director. Dan Wes Anderson juga berhasil memenangan penghargaan Headliners di SXSW Film Festival atas film ini. Wah! Selamat ya.

Isle of Dogs ini menjadi film yang sangat direkomendasikan. Sangat jarang bisa menemukan film animasi yang berani banyak berbicara tentang hal-hal yang mengarah pada konstoversial, dengan nuansa yang ringan, dan tidak memaksa penonton untuk menerima semua ide yang dituangkan. Kalian udah nonton belum, nih?

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

00 d infinity war

Review Avengers: Infinity War – Lubang Hitam Penuh Emosi

Avengers: Infinity War lebih dari sekedar film crossover superhero Marvel yang menegangkan dan menghibur; namun juga pen.. more

Ini Dia Komik Strip Paling Viral Selama Juni dan Juli 2017

Komik strip sampai sekarang masih menjadi primadona di dunia maya. Perkembangan dan inovasi komikus strip dan jumlahnya .. more

youtube.com

Fans Membuat Petisi Untuk Me-Remake Film Star Wars: The Last Jedi; Perlu Atau Tidak?

Petisi yang menuntut remake The Last Jedi demi menebus karakter.. more

(duniaku.net)

Hikayat Vandaria: Frameless, Sosok Menakutkan Yang Mirip Manusia

Frameless? Apa tuh? Kenapa tanpa bingkai? Emangnya jendela? Berbeda dari mereka yang sering mendalami hikayat Vandaria, .. more

Goblin Slayer - Thumb

Goblin Slayer Anime Tersadis? Tunggu Dulu! Judul-Judul Ini Jauh Lebih Seram

Beberapa waktu terakhir ini kalangan penggemar anime, otaku dan forum-forum anime dunia dihebohkan dengan salah satu TV .. more