Jimmy Kudo, Kapten Majid: Saduran Animanga di Arab dan Eropa

6 months ago

Pertama-tama, apa itu saduran?

Saduran adalah proses menerjemahkan sebuah karya. Namun, berbeda dengan sebuah karya terjemahan yang hanya menerjemahkan sebuah karya tanpa mengubah apapun didalamnya, saduran menerjemahkan sebuah karya dengan juga mengubah latar dan tokohnya.

Sebuah karya disadurkan biasanya untuk menyesuaikan karya tersebut dengan tempat dimana dia akan dinikmati. Slamet Rahardjo, seorang aktor kawakan Indonesia, pernah mengalami konflik dengan Teguh Karya, sutradara tahun 1970-an saat ia menjadi muridnya di Teater Populer terkait penyaduran karya.

Slamet Rahardjo dalam salah satu perannya di film Filosofi Kopi (sumber: Lakey Banget)

Slamet Rahardjo tidak setuju ketika mereka menampilkan teater dengan lakon Barat, teater itu diterjemahkan begitu saja tanpa diadaptasikan. Salah satunya adalah ketika ia disuruh memainkan Petruska seorang Rusia yang ia anggap lebih pantas jika diadaptasikan menjadi Parto.

Shinichi Kudo Menjadi Jimmy Kudo

Judul Detektif Conan di Barat yang diubah menjadi Case Closed (sumber: Funimation.com)

Saduran bukan hanya ada dalam karya-karya serius seperti teater dan sastra. Dalam dunia manga dan anime (karya komik dan animasi asal Jepang), kadang penyaduran dilakukan untuk menyesuaikan sebuah anime saat ia disaksikan di negara-negara lain.

Contoh pertama adalah Detektif Conan yang di Barat judulnya menjadi Case Closed. Tokoh utama yang kita kenal dengan nama Shinichi Kudo diubah menjadi Jimmy Kudo, Ran Mouri pun menjadi Rachel Moore dengan ayahnya yang namanya merupakan Kogoro Mouri menjadi Richard Moore.

Shin.. eh, Jimmy Kudo dan Rachel Moore (sumber: Fanpop.com)

Bukan hanya nama karakter utamanya, nama karakter-karakter pendukung pun banyak yang diubah, seperti Sonoko Suzuki yang menjadi Serena Sebastian, Heiji Hattori yang menjadi Harley Hartwell, Shiho Miyano yang menjadi Anita Hailey..

Kapten Tsubasa Menjadi Kapten Majid

(sumber: Arabic Toons)

Jika tadi kita berbicara tentang penyaduran anime di dunia Barat, sekarang kita bergeser sedikit ke dunia Arab. Ya, orang-orang Arab juga membaca manga dan menonton anime, menandakan bahwa karya komik dan animasi asal Jepang ini benar-benar dinikmati banyak orang di dunia dengan menjelajah kemana-mana.

Saya tidak begitu tau dengan Arab Saudi dimana bioskop baru saja diperbolehkan kembali di sana, namun teman-teman saya di Uni Emirat Arab, yang beberapa juga berasal dari Jordania dan Suriah menonton anime.

Di dunia Barat, Shinichi Kudo menjadi Jimmy Kudo. Di Arab, apa yang kita kenal selama ini sebagai kapten Tsubasa diubah menjadi kapten Majid. Bukan hanya Kapten Tsubasa, Doraemon pun mengalami nasib yang sama di mana namanya berubah menjadi Abkoor, yang berasal dari kata Abkariyah yang berarti jenius, mungkin karena Doraemon selalu mempunyai alat-alat canggih untuk menyelesaikan masalah Nobita.

Musalsal Abkoor, yang artinya merupakan Serial Keseharian Abkoor (sumber: Community Arabsbook)

Bukan hanya dalam nama, dalam alur cerita pun ada sedikit penyaduran, seperti dalam anime Detektif Conan. Jika dalam cerita aslinya Ran Mouri merupakan pacar Shinichi Kudo, di versi Arabnya, kata pacar diubah menjadi tunangan dikarenakan adat Arab yang tidak mengenal pacaran karena dianggap sebagai perbuatan yang mendekati zina.

Ayah Nobita Mengucapkan Assalamualaikum

(sumber: Facebook)

Bukan hanya di dunia Barat dan Arab, di Indonesia pun penyaduran terhadap manga (saya tidak begitu tahu dengan animenya) pernah terjadi, seperti bisa kita temukan dalam komik Doraemon edisi terjemahan lama.

Adik Giant yang dalam cerita aslinya bernama Jaiko pernah saya temukan diganti namanya menjadi Rita di beberapa komik Doraemon terjemahan lama. Begitu juga dengan beberapa kata seperti “Tadaima!” atau “Aku pulang!” yang diubah menjadi “Assalamualaikum!” , mengingat Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim.

Saduran dan Pertukaran Budaya

Saduran memang kadang diperlukan untuk mengadaptasikan sebuah karya agar lebih dimengerti, tapi kadang juga tidak diperlukan karena kita juga memerlukan sesuatu yang bernama pertukaran budaya.

Seperti kata “Tadaima!” (“Aku pulang!”) yang lebih baik diterjemahkan sebagai “Aku pulang!” dibandingkan “Assalamualaikum!”, atau “Ittadaikimasu!” (“Selamat makan!”) yang lebih baik diterjemahkan menjadi “Selamat makan!” dibandingkan “Allahumma bariklana..” karena disitulah kita menangkap sebuah budaya Jepang saat mereka masuk rumah dan sebelum makan, dibandingkan memaksakannya untuk menyesuaikan dengan keberadaan Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim, padahal kita tahu bahwa Ibu Nobita tidak berjilbab.

Untungnya, dalam terjemahan Doraemon yang terbaru, penerjemahan seperti ini sudah diubah. Jaiko tidak lagi bernama Rita, dan ayah Nobita tidak lagi mengucapkan Assalamualaikum.

Bagaimana menurut kalian?

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

(news.marvel.com)

Pakai Kostum Superhero Favorit Bisa Ikutan Costoberfest 2017???

Hellooo buat kalian para pecinta cosplayer, saatnya unjuk gigi untuk menampilkan kostum pahlawan Marvel terbaik kalian d.. more

Sumber: Eze Nkiri

Uwe Boll, Tersangka Utama Gagalnya Adaptasi Film Video Game

Kenapa ada anggapan kalau film adaptasi dari video game selalu jelek? Mungkin alasannya bisa ditanyakan ke sutradara yan.. more

Dua rival sistem operasi mobile saat ini. Sumber gambar: curzonhomecinema.com

Mengapa Fans Apple Sangat Loyal?

Mengapa mereka seloyal itu? Apa yang membuat mereka rela melakukan hal yang banyak dicibir orang di luar fans produk App.. more

Sumber: The Japan Times

Funkot: Musik Dance Rasa Dangdut Yang Mengudara Hingga Jepang

Indonesia boleh berbangga karena memiliki ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke, batik yang mendunia, kuliner yang bik.. more

Sumber: twitter.com/nbsalert

Men Without Women: Pentingkah Perempuan di Mata Murakami?

Bukan hal yang mengagetkan jika Haruki Murakami banyak menggali kesendirian, kesepian, dan kesuraman hidup, sebab biasan.. more