Jonghyun SHINee Meninggal: Sebuah Pesan Untuk Fandom K-Pop

10 months ago
SM

Belasan grup K-Pop dibentuk dan bubar setiap tahunnya, namun bagi SHINee hal ini bisa dikatakan sebuah pengecualian. Debut tahun 2008, grup boyband K-Pop SHINee masih terus bertahan dengan anggota originalnya, setidaknya hingga tahun ini. Grup beranggotakan Taemin, Jonghyun, Key, Minho dan Onew ini nampak sangat solid menjelang ulang tahun mereka ke 10. Anggota SHINee lengket satu sama lain bagaikan lem. Dengan berbagai grup seangkatan mereka, bahkan para senior mereka yang perlahan mulai tumbang, SHINee tetap bertahan dengan 5 anggota asli mereka. Seakan-akan hanya kematian yang bisa memisahkan mereka.

Ironisnya, hal itulah yang terjadi. Malam hari, 18 Desember, menjadi berita yang menggemparkan seisi komunitas K-Pop dan juga dunia musik Korea. Jonghyun, salah satu anggota SHINee, ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya. Ia ditemukan pukul 6 petang di dekat briket dan arang.

Berbagai media melaporkan bahwa Jonghyun segera dilarikan ke rumah sakit, namun usaha untuk menyelamatkan nyawanya tidak membuahkan hasil. Kepolisian Gangnam mengkonfirmasikan kematian Jonghyun. Dokter juga memastikan bahwa ia keracunan karbon dioksida dari briket tersebut.

SHINee merupakan segelintir grup K-Pop yang mampu bertahan dengan anggota aslinya hingga hampir 10 tahun. (Sumber: Billboard)

SHINee merupakan segelintir grup K-Pop yang mampu bertahan dengan anggota aslinya hingga hampir 10 tahun. (Sumber: Billboard)

Tak lama berselang, SM Entertainment, agensi hiburan yang menaungi Jonghyun serta SHINee, memberikan keterangan resmi terkait meninggalnya Jonghyun. “Rasa sedih yang kami rasakan tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh keluarga Jonghyun yang harus mengucapkan salam perpisahan kepada sosok anak dan kakak yang hebat.” SM Entrertaiment menyatakan bahwa prosesi pemakaman Jonghyun akan diselenggarakan tertutup dan terbatas untuk keluarga dan staf agensi. Mereka juga meminta kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan rumor yang tidak bertanggung jawab.

Meski demikian, kabar burung tak bisa dibendung. Kematian Jonghyun seakan menjadi sebuah konsensus bahwa anggota SHINee tersebut memilih untuk mengakhiri hidupnya. Di detik-detik terakhir hidupnya, para fans masih menggantungkan harapan bahwa Jonghyun masih bisa diselamatkan. Mereka masih berada dalam fase denial, belum mampu menerima kenyataan.

Namun, semua sudah terkonfirmasikan. Adik perempuan Jonghyun mengatakan bahwa kakaknya bunuh diri. Bahkan temannya, Nine dari grup boyband Dear Cloud, memiliki surat wasiat yang ditulis langsung oleh Jonghyun.

Jonghyun meninggalkan “surat terakhir” sebelum meninggal. (Sumber: Kpople)

Jonghyun meninggalkan “surat terakhir” sebelum meninggal. (Sumber: Kpople)

“Aku rusak dari dalam. Depresi yang melahapku perlahan kini telah menelanku bulat-bulat, dan aku tak bisa mengalahkannya,” buka Jonghyun dalam surat tersebut. Dalam lanjutan surat tersebut, Jonghyun mengeskpresikan perasaan yang selama ini tertahan dan ditepis oleh orang lain. Selama ini ia merasa sendirian, tidak dihargai, tidak ada yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan dalam titik terbawahnya, Jonghyun merasa tidak ada yang mampu memahaminya. “Kenapa aku tak bisa mengakhiri semuanya dengan keinginanku sendiri?” tanya Jonghyun dalam surat tersebut.

Kim Jonghyun menambah satu lagi public figure asal Korea Selatan yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan tragis. Di dalam budaya kerja Korea Selatan (atau bahkan Jepang sekalipun) yang sangat intens dan keras, bunuh diri memang dianggap sebagai jalan pintas untuk bisa lepas dari segala jerat penderitaan yang melanda. Namun masalahnya tidak segampang melihat bunuh diri sebagai sebuah jalan pengecut. Bahkan Jonghyun mengatakan hal itu dalam suratnya. “Ketika suara lembut itu menyalahkan perbuatanku, aku hanya berpikir, ‘Jadi dokter itu mudah sekali ya?’”

Untuk memahami jalan pikiran Jonghyun, mari kita telisik seperti apakah hidup seorang bintang K-Pop? Banyak orang melihat kalau jadi seorang bintang K-pop berarti punya hidup mewah dengan segala pakaian gaya Hypebeast dan mobil-mobil mahal. Kenyataannya? Gak sesederhana itu. Jauh dari sekedar menjalani hidup jet-set yang materialistis.

Seorang bintang K-Pop telah dibidik sejak usia muda. Mereka menjalani pelatihan dalam agensi untuk waktu yang sangat lama. Gak heran kalau banyak dari mereka yang harus mengorbankan masa muda, demi mengejar harapan untuk bisa menjadi seorang bintang.

Itu pun masih sekedar harapan, karena demi bisa debut saja perjuangannya akan sangat berat. Hukum rimba sudah berlaku, bahkan di tingkat latihan. Bisa saja mereka yang sudah lama latihan, malah gak jadi debut. Sekalipun berhasil, ceritanya gak akan selesai hanya sampai di situ saja.

Agensi pasti tak mau membakar uang cuma-cuma demi melatih satu grup boyband/girlband. Namanya juga bisnis, mereka mau uang mereka kembali. Sejak masa latihan, setiap agensi sudah menekan kontrak eksklusif yang mengikat artis dengan agensi tersebut. Sesuai kontrak, agensi berhak mengatur kehidupan para artisnya hingga hal-hal terkecil sekalipun. Ini artinya jadwal harian, porsi latihan, bahkan hingga apa yang di makan, semuanya haruslah berdasarkan kehendak agensi.

Nine Muses punya rahasia gelap untuk menjaga image fisik mereka. (Sumber: Kpop Wikia)

Nine Muses punya rahasia gelap untuk menjaga image fisik mereka. (Sumber: Kpop Wikia)

Perjanjian yang ada dalam kontrak pun terkadang nampak tidak masuk akal. Girlband Nine Muses misalnya, mengungkapkan diet ekstrim yang harus mereka jalani. Di mana makanan yang mereka santap satu kali harus muat di dalam satu paper cup berukuran kecil. Di Jepang pun sama gilanya. Supergrup AKB48 punya aturan yang tidak boleh dilanggar apapun alasannya. Di mana anggotanya tidak dibolehkan berpacaran. Di tahun 2013, Minegishi Minami memangkas rambutnya hingga licin, selicin kepala Deddy Corbuzier, karena ketahuan menghabiskan satu malam bersama pacarnya.

Dan panjang kontrak ini pun sama absurd-nya. Grup boyband TVXQ yang populer di Korea dan Jepang menuntut SM Entertainment, agensi mereka, atas kontrak 13 tahun yang gak manusiawi. Bayangin aja, 13 tahun! Sementara grup K-Pop yang ada saat ini untuk bisa menjalani 5-6 tahun tanpa bongkar-pasang anggota saja sudah terhitung lumayan solid.

Akhirnya, kontrak-kontrak yang ditawarkan oleh agensi K-Pop distandarisasi dan dibatasi hingga 7 tahun saja. 7 tahun, dan ini masih terhitung panjang. Lebih miris karena penyataan dari seorang staf agensi K-Pop menyebutkan hanya 40% agensi K-Pop di seluruh Korea yang menggunakan kontrak yang sudah distandarisasi.

Setelah bertarung di dalam dan di luar meja hijau, TVXQ kini hanya menyisakan dua orang anggota saja. (Sumber: Koreaboo)

Setelah bertarung di dalam dan di luar meja hijau, TVXQ kini hanya menyisakan dua orang anggota saja. (Sumber: Koreaboo)

Pada akhirnya, artis K-Pop akan terus dieksploitasi oleh agensi mereka. Lalu apa yang terjadi jika mereka mencoba untuk melawan? Kontrak akan melawan balik! Hal ini dirasakan oleh TVXQ, begitu pula dengan EXO. Disebutkan dalam kontrak bahwa jika kontrak diputus di tengah jalan, maka agensi berhak meminta ganti rugi berdasarkan nilai keuntungan yang diproyeksikan selama jangka kontrak. Memang nampak jelas bahwa agensi tidak menginginkan bintangnya pergi tanpa balas budi kembali. Sekali lagi, semua karena bisnis.

Lantas apakah semua kesalahan harus ditimpakan kepada agensi? Tidak sepenuhnya. Agensi K-Pop memang sudah terlalu kejam dengan mengeksploitasi artisnya, namun fans juga punya andil. Masyarakat sudah terlalu terbiasa dengan image K-Pop yang dipoles sempurna tepat di hari pertama mereka debut. Fans bersorak di balik merdunya suara dan keindahan koreografi bintang K-Pop, namun mereka juga bakal sama ributnya ketika ada satu saja skandal menerpa idola kesayangan.

Skandal yang menimpa satu anggotanya efektif menamatkan karir GLAM secara keseluruhan. (Sumber: Morethangangnam)

Skandal yang menimpa satu anggotanya efektif menamatkan karir GLAM secara keseluruhan. (Sumber: Morethangangnam)

Satu skandal K-Pop yang masih bisa kita ingat hingga hari ini adalah apa yang berdampak pada seluruh anggota GLAM. Mereka debut di tahun 2012, setelah sebelumnya berkolaborasi bersama beberapa artis K-Pop kenamaan seperti 2AM dan Lee Hyun. Bahkan, salah satu anggotanya Kim Dahee sudah lebih dulu terkenal.

Namun masalahnya Dahee juga menjadi salah satu dalang dibalik bubarnya GLAM. Dahee dilaporkan oleh aktor Lee Byunghun karena diduga telah memerasnya bersama satu tersangka lain. Dahee pun mengaku bersalah dan akhirnya dihukum penjara satu tahun. Bersamaan dengan pembacaan dakwaan Dahee, agensi GLAM mengumumkan bahwa kontrak anggota GLAM lain tidak diperpanjang alias bubar.

Sedikit apapun usaha kita, sangat berarti untuk menyelamatkan idola K-Pop yang mengalami depresi seperti Jonghyun. (Sumber: Fresh Radio)

Sedikit apapun usaha kita, sangat berarti untuk menyelamatkan idola K-Pop yang mengalami depresi seperti Jonghyun. (Sumber: Fresh Radio)

Meninggalnya Jonghyun menjadi pesan bagi kita semua, bahwa bintang K-Pop tetaplah manusia layaknya kita. Situasi saat ini terlihat bagaikan menaruh gerobak di belakang kuda. Kita seakan tidak melihat gambaran besarnya, bahwa di luar sana masih ada banyak bintang K-Pop yang mengalami hal yang sama dengan Jonghyun. Mereka tidak senantiasa menampakkan kesulitan mereka di wajah publik, namun begitu pula dengan Jonghyun. Sebuah tanda kelemahan, yang mengotori kesempurnaan dan image mereka. Seorang bintang K-Pop haruslah ganteng, cantik, cool, jaim, dan berkharisma.

Memenuhi tuntutan tersebut, bukan sebuah perkara mudah. Mereka menjalani hidup orang lain, hidup yang bahkan mereka tidak inginkan. “Hidup dalam popularitas bukanlah untukku. Alasan itu sudah cukup untuk menjelaskan kenapa aku menderita. Kenapa aku memilih hidup ini? Lucu sekali, aku heran kenapa bisa bertahan sekian lama,” tulis Jonghyun, masih di dalam surat tersebut.

Lalu, bagaimana caranya kita menolong para bintang K-Pop yang menjalani masa-masa depresi layaknya Jonghyun? Kita tak bisa menciptakan sebuah demonstrasi raksasa hanya untuk menuntut agensi memperhatikan artis-artis mereka lebih baik. Kalau boleh jujur, mereka tidak peduli selama para fans terus menggelontorkan uang demi grup kesukaan mereka.

Hal terkecil yang bisa kita lakukanadalah dengan mengubah sudut pandang kita dalammemandang bintang K-Pop. Sebelum melihat mereka sebagai seorang idola, ada baiknya kita melihat mereka sebagai manusia apa adanya. Manusia yang bisa merasa senang, sedih, serta butuh tempat berharap dan pengakuan. Pada akhirnya, hanya itu yang ingin Jonghyun dapatkan.

“Katakan bahwa aku telah berusaha dengan baik. Katakan aku telah melakukan yang terbaik. Katakan aku telah berjuang keras,” tutup Jonghyun dalam suratnya.

Mungkin saat ini sudah terlambat bagi Jonghyun, namun bagi idola K-Pop lain, masih ada harapan.

#RosesforJonghyun

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

(pixabay.com)

Lowongan Kerja Remote atau Magang Jadi Jurnalis dan Blogger!

Buat yang suka menulis tentang pop culture (komik, game, film animasi), dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, K.. more

Manga Terpopuler di Indonesia - Youtube

Dari Daftar Manga Terpopuler di Indonesia pada 2018, Adakah Manga Favoritmu?

Kalau ditanya apa manga favorit kalian, mungkin langsung bisa dijawab. Tapi kalau manga terpopuler di Indonesia? Hmm, s.. more

Sumber; tokyoghoul.gamesamba.com

Game Mobile Tokyo Ghoul: Dark War Rilis English Version, Tertarik Untuk Memainkannya?

Bukan lagi menjadi rahasia umum, jika manga yang diadaptasi menjadi anime pada akhirnya juga akan diadaptasi ke dalam vi.. more

00-d-nintendo-switch-online

Nintendo Switch Online Diluncurkan September 2018

Buat kamu pemilik Nintendo Switch, siap-siap untuk Nintedo Switch Online, layanan pesain PSN dan Xbox Live!.. more

(zerochan.net)

Kisah Nyata Kelompok Shinsengumi Jepang di Anime Samurai X

Kalian tahu gak sih guys, ternyata kisah Samurai X ini diambil dari kisah nyata yang ada di Jepang. Sang author, Watsuki.. more