Kampanye Keberagaman Hollywood yang Semakin Rancu

4 weeks ago
thumb-keberagamanhollywood

DC semakin keteteran mengejar ketertinggalan mereka atas Marvel di dunia sinema ketika beredar kabar sekitar sebulan lalu bahwa Henry Cavill putus kontrak dengan DC dan akan mengakhiri perannya sebagai Superman selama ini.

Salah satu alasannya adalah, niat DC untuk fokus terhadap Supergirl yang akan membuat franchise Superman dalam keadaan terombang-ambing, hal ini kembali menunjukkan bagaimana rancunya Holywood dalam menanggapi dan mempromosikan keberagaman yang sedang digembar-gemborkan di dunia politik dan sosial hari ini.

Kampanye Keberagaman atau Justru Diskriminasi?

The Greatest Showman dan L ‘Death Note’

greatestshowman-keberagamanhollywood

The Greatest Showman (sumber: Digital Spy)

Salah satu kerancuan itu muncul dalam film musikal The Greatest Showman.

Film kesukaan salah satu orang yang sangat saya sayangi karena menampilkan kisah tentang sebuah perhelatan sirkus ini, bercerita tentang bagaimana Barnum, seorang laki-laki ambisius di Abad Pertengahan, mengumpulkan orang-orang aneh dan unik–wanita berjanggut, pria jangkung, cebol, kembar dempet, dan yang lainnya.

Hal ini untuk mempromosikan pesan keberagaman–bahwa setiap orang bisa menjadi dirinya sendiri. Ini diperkuat dengan lagu This is Me yang menjadi salah satu soundtrack dalam film ini.

Yang ironis adalah, fakta tentang Barnum itu sendiri.

Barnum sendiri adalah tokoh yang diangkat dari seorang tokoh nyata, begitu pula pegelaran sirkusnya. Namun berbeda dengan Barnum dalam The Greatest Showman yang digambarkan sebagai malaikat pemersatu orang-orang yang unik dan berbeda, Barnum dalam dunia nyata adalah seorang pebisnis yang tamak dan licik.

Salah satu contoh mengerikannya adalah kasus Joice Heth—seorang perempuan buta yang tubuhnya lumpuh sebagian. Oleh Barnum, perempuan keturunan Afrika itu diklaim berumur 161 tahun dan merupakan pengasuh George Washington, Presiden Amerika Serikat. Selain dijadikan “bahan sirkus”-nya, mayat mendiang Heth diotopsi Barnum secara terbuka untuk ditonton orang-orang.

Barnum, dalam dunia nyata bukanlah orang yang mempersatukan orang-orang yang unik dan berbeda, melainkan justru orang yang mengeksploitasi mereka untuk keuntungannya sendiri. Mirip seperti tayangan reality show di televisi yang mempertontonkan kemiskinan justru untuk meruap untung dari rating.

Holywood justru memakai penokohan Barnum yang seperti itu untuk kampanye keberagamannya.

ldeathnote-keberagamanhollywood

L (sumber: Superstarfloraluk)

Lain lagi nasibnya dengan L, tokoh detektif dalam serial manga dan anime Death Note.

Holywood selama ini punya catatan buruk dalam mengadaptasi anime ke layar lebar, dan Death Note yang diadaptasi oleh perusahaan Netflix ini menambah catatan itu.

L dalam serial manga dan anime Death Note, merupakan seorang berkulit putih pucat dengan rambut panjang dan tatapan sinis yang mempunyai hobi jongkok sambil menggigit jari. Dalam adaptasi, penokohan L dirombak untuk kampanye keberagaman–L dalam adaptasi Netflix diceritakan sebagai orang yang berkulit hitam.

lnetflix-keberagamanhollywood

L dalam adaptasi Netflix (sumber: Youtube)

Hal ini tentu memicu kemarahan sebagian besar fans. Tentu saja, tidak ada masalah dengan hadirnya tokoh-tokoh yang berkulit hitam, tapi untuk mengkampanyekan keberagaman itu, tidak serta merta mengobrak-abrik sebuah tokoh yang sudah sangat lekat di ingatan penggemar. I mean like, seriously!? (sudah mirip anak Jaksel, belum?)

Hermione yang Berkulit Hitam dan Kemauan Fans

blackhermione-keberagamanhollywood

Noma Dumezweni, pemeran Hermione di Harry Potter and The Cursed Child (sumber: Public Radio International)

Hal yang serupa tapi tak sama muncul dalam Harry Potter Universe (saya sebut universe karena Harry Potter bagi saya sudah bukan sekedar sebuah franchise dengan kemunculan Fantastic Beasts yang mengambil dunia yang sama dengan dunia Harry Potter).

Serupa tapi tak sama karena pertama, hal ini muncul bukan dalam layar lebar Holywood, tapi pegelaran teater yang bertajuk Harry Potter and The Cursed Child. Dan kedua, hal ini berlangsung tidak seburuk dua hal yang sudah saya sebutkan diatas.

Hal itu sendiri adalah penokohan Hermione dalam Harry Potter and The Cursed Child, yang digambarkan sebagai orang yang berkulit hitam. Tentu saja, selama ini Hermione sudah lekat di kepala kita dengan aktris Emma Watson yang berkulit putih.

Tapi ada satu poin yang membuat ini setidaknya sedikit lebih baik dibandingkan dua hal yang saya bicarakan sebelumnya–terutama penokohan L yang tentu saja merupakan kasus yang serupa. Dalam dunia fandom Harry Potter, rupanya sudah banyak intrepertasi atas tokoh Hermione sebagai orang yang berkulit hitam–begitu juga dengan tokoh Harry Potter itu sendiri yang bisa dilihat dari banyaknya kemunculan fanart-fanart buatan para penggemar yang menunjukkan hal ini.

fanarthermione-keberagamanhollywood

Salah satu contoh fanart Hermione yang dibuat oleh seorang penggemar, jauh sebelum pegelaran teater Harry Potter and The Cursed Child (sumber: Pinterest)

Ini tentu saja menunjukkan bahwa perubahan penokohan Hermione dalam pegelaran teaternya tidaklah menyalahi fandom, tapi mendukung fandom itu sendiri.

Memang, kontroversi tentu saja tetap muncul, tapi JK Rowling sendiri mengeluarkan pertanyaan dalam beberapa twitnya bahwa orang-orang yang mengkritik perubahan penokoh Hermione sebagai orang-orang idiot, dan mengatakan bahwa tokoh Hermione yang ia tulis di bukunya hanyalah seseorang dengan mata coklat, rambut bergelombang, dan cerdas. Tidak ada spesifikasi soal warna kulit.

Emma Watson sendiri mempublikasikan fotonya bersama Noma Dumezweni, dan menyatakan bagaimana ia menantikan Noma dalam pegelaran teater Harry Potter and The Cursed Child. Hal ini sedikit banyak meredakan kontroversi tersebut.

hermione-keberagamanhollywood

Hermione dan Hermione (sumber: Youtube)

 ***

Keberagaman merupakan isu krusial, termasuk di Indonesia sendiri dimana isu-isu rasial dimanfaatkan untuk keuntungan kelompok tertentu, tapi sebaiknya kampanye keberagaman tidak menjadi sesuatu yang rancu.

Bagaimana menurutmu?

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

Lukisan Salvator Mundi Seharga 6 Triliun Ini Awalnya Hanya Dijual Seharga 700ribu Rupiah!

Dinobatkan sebagai lukisan termahal di dunia, cucu dari pemilik awal lukisan ini awalnya hanya menjual Salvator Mundi de.. more

Trigger Junkie - CIAYO Comics

Trigger Junkie: Kenalan Sama Wanda, Yuk!

Buat yang suka baca Trigger Junkie, pasti kenal sama Wanda. Yuk, kenalan lebih lanjut!.. more

00-d-sensei-kunshu

Film Live Action Sensei Kunshu Tayang di Jepang Agustus Mendatang

Sensei Kunshu berkisah tentang seorang siswi SMA bernama Ayuha Samaru yang mendapat masalah di restoran Gyudon. Beruntun.. more

Hello Kitty, oleh perusahaan Sanrio. Salah satu maskot terpopuler di dunia. Sumber: wallpapercave.com

Hello Kitty X Godzilla: Crossover Terbaru Dari Hello Kitty

Hello Kitty. Siapa sih yang ga kenal sama karakter imut unyu satu ini Hello Kitty?.. more

felice blanc

Felice Blanc Hadirkan Karakter Buatan Sendiri ke Dunia Nyata

Saat CIAYO Comics berpartisipasi di event Mangafest Mythophobia November lalu, Maria Megayanti (MM) dari tim CIAYO Blog .. more