Kebiasaan-Kebiasaan Buruk James Wan dan Kritik Terhadap Insidious: The Last Key

9 months ago
James Wan (sumber: https://id.pinterest.com/pin/397161260861982008/)

“Ternyata biasa aja, ya”

“Ceritanya bagus, sih. Tapi hantunya gak nyeremin”

“Ngagetin jump scarenya doang”

Kira-kira begitulah respon-respon yang saya dengar setelah film Insidious: The Last Key usai.

Saya menonton sekuel keempat film yang diciptakan oleh James Wan dan Leigh Whannel ini dengan perasaan sudah siap dikecewakan. Hal ini karena sekuel Insidious ini tidak lagi ditangani oleh James Wan yang sibuk menyutradarai Aquaman walaupun ia masih duduk di bangku produser.

Dan ternyata benar, saya cukup kecewa, meskipun ternyata film yang menempatkan fokusnya terhadap cenayang bernama Elise Rainier ini tidak sejelek yang saya bayangkan.

Elise Rainier (sumber: movfreak.blogspot.com)

Elise Rainier (sumber: movfreak.blogspot.com)

Sebelum berbicara lebih jauh soal kebiasaan buruk James Wan, saya ingin membicarakan kekurangan sekuel keempat Insidious ini dibandingkan dua film pertamanya yang masih ditangani James Wan.

1. Terlalu mengandalkan jump-scare

Mengagetkan bukan berarti menyeramkan. Itu hal yang disadari oleh James Wan, dan tidak disadari Adam Robitel, sutradara untuk Insidious: The Last Key.

Dalam Insidious: The Last Key, jump-scare dengan suara berdebum muncul nyaris di setiap kehadiran hantunya, bahkan ketika hantunya hanya numpang lewat pun penonton dikagetkan dengan jump-scare berdebum. Jump-scare pun akhirnya berujung bukan hanya tidak menyeramkan, tapi juga menyebalkan.

Berbeda dengan James Wan, yang walaupun tentu saja tetap mengandalkan jump-scare, tapi juga memberikan banyak adegan senyap namun mendebarkan yang membuat penonton menahan nafas, sehingga ketika jump-scare muncul, kemunculannya datang disaat yang tepat dan tidak terbuang sia-sia.

Contohnya adalah adegan ketika kereta bayi bergerak sendiri, atau ketika Woman in White bermain piano di dalam rumah dan menghilang begitu saja yang bisa dilihat di trailer Insidious 2.

Trailer Insidious 2:

2. Tidak ada musik menyayat Joseph Bishara

Musik menyayat Joseph Bishara sudah menjadi ciri khas Insidious maupun The Conjuring, tapi ciri khas itu ditiadakan begitu saja dalam Insidious: The Last Key.

Dalam Insidious 1 dan 2, musik menyayat Joseph Bishara sangat mendukung untuk membangun suasana yang mencekam. Dalam Insidious 3, musik Joseph Bishara masih menjadi pemanis, dan dalam Insidious: The Last Key, meskipun Joseph Bishara masih mengisi posisi komposer, musik menyayat itu ditiadakan.

Joseph Bishara, komposer Insidious dan The Conjuring (sumber: zimbio.com)

Joseph Bishara, komposer Insidious dan The Conjuring (sumber: zimbio.com)

3. Hantu yang begitu mudah dilupakan

Kemunculan hantu yang menghantui masa kecil Elise Rainier (Lin Shaye), begitu mudah terlupakan, bahkan sejenak setelah saya keluar dari gedung bioskop.

Berbeda dengan Insidious 1 dan 2, dimana hantu-hantunya ikonik hingga melekat di ingatan saya bahkan sampai sekarang, mulai dari The Woman in White yang tiba-tiba ditemukan Renai Lambert bermain piano di rumahnya, The Bride in Black yang merasuki tubuh John Lambert, juga The Smiling Family yang ditemukan John Lambert saat pergi ke The Further.

The Woman in White (sumber: movfreak.blogspot.com)

The Woman in White (sumber: movfreak.blogspot.com)

The Bride in Black (sumber: movfreak.blogspot.com) 

The Bride in Black (sumber: movfreak.blogspot.com)

Padahal hantu-hantu itu muncul hanya dengan tata rias yang sederhana, tidak seperti hantu yang menghantui masa kecil Elise yang justru lebih terlihat seperti monster dibandingkan hantu. Dan tentu saja, mudah terlupakan.

***

Sekarang kita berbicara tentang kebiasaan buruk James Wan: yaitu tidak fokus terhadap proyek yang ia mulai, atau bahasa puitisnya; tidak menyelesaikan apa yang ia mulai. Kebiasaannya ini berakibat buruk terhadap kelanjutan franchise-franchise yang justru membuat ia terkenal.

Kebiasaan buruk James Wan ini berawal dari film Saw dimana ia meninggalkan begitu saja kursi penyutradaraan untuk sekuel film Saw dan membiarkan Saw ciptaan dia dan Leigh Whannel diobrak-obrik hingga tidak berfokus ke cerita dan banyak diejek kritikus sebagai ‘torture porn’.

Hal ini berlanjut dalam spin-off The Conjuring yang menceritakan tentang boneka menyeramkan bernama Annabelle, boneka yang sudah berwujud menyeramkan dan mengingatkan orang akan Billy The Puppet (tokoh ikonik dalam film Saw) itu justru ia percayakan kepada sutradara John R. Leonetti yang berujung kepada olok-olok kritikus (lagi) yang mengatakan bahwa Annabelle adalah trashy horror.

Kemudian kebiasaan buruk ini berlanjut dalam sekuel (atau prekuel? Timeline Insidious sebenarnya cukup membingungkan) film Insidious.

James Wan sendiri sebenarnya sudah menyadari hal buruk yang ia lakukan ini sejak Saw, dimana dalam sebuah wawancara ia mengatakan bahwa ia tidak menyukai sekuel film Saw, dan itu menjadi alasan mengapa ia tetap menjadi sutradara untuk sekuel Insidious yang kedua.

If anyone’s going to f**k up my franchise, it might as well be me.”, katanya dalam sebuah wawancara bersama Complex Magazine ketika ditanya soal Saw dan kembalinya ia dalam kursi penyutradaraan Insidious.

Namun pada akhirnya, hal buruk yang ia lakukan terhadap franchise Saw itu, seperti yang saya katakan diatas tadi, terulang terhadap franchise The Conjuring dan Insidious, dimana ia membiarkan “karyanya” itu diobrak-abrik dan justru sibuk terhadap proyek lain seperti Fast Furious 7 dan Aquaman.

Memang, ia tidak sepenuhnya melakukan hal yang sama seperti ia lakukan terhadap franchise Saw, ia tidak benar-benar membiarkan franchisenya begitu saja; Insidious 3 ia percayakan kepada Leigh Whannell, penulis skenario franchise itu sendiri meskipun ternyata dia hanya bagus dalam penulisan dan tidak dalam penyutradaraan. James Wan pun meskipun tidak duduk dalam kursi sutradara, tetap duduk dalam kursi produser

Leigh Whannel yang dalam film Insidious juga berperan sebagai Specs (sumber: imdb.com)

Leigh Whannel yang dalam film Insidious juga berperan sebagai Specs (sumber: imdb.com)

Yah, semoga James Wan menyadari bahaya yang akan menimpa terhadap franchise-franchisenya jika dibiarkan terus seperti ini, dan kembali ke kursi penyutradaraan untuk spin-off The Conjuring lainnya yaitu The Crooked man dan The Nun (yang bercerita tentang Valak) maupun kelanjutan dari Insidious yang kabarnya akan dibuat cross-over dengan Sinister.

Atau setidaknya menyerahkan kursi penyutradaraan ke sutradara yang benar-benar bisa dipercaya seperti David F. Sandberg (sutradara Lights Out, juga anak didik James Wan) yang mengembalikan nama baik Annabelle lewat Annabelle: Creation.

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

Logo CLAS:H (matsurisurabaya.wordpress.com)

CLAS:H Cosplay Live Action 2017 Hadir di 5 Kota di Indonesia

Buat yang udah malang melintang di dunia pe-cosplay-an, pasti udah nggak asing sama Cosplay Live Action Show: Hybrid (CL.. more

app ciayo comics

App CIAYO Comics Versi Terbaru Punya Fitur Ala Medsos!

Baca komik di app CIAYO Comics kini jadi semakin nyaman. Sekarang ada fitur cek jadwal terbit komik serta notifikasi kom.. more

The Beatles on The Abbey Road (sumber: Bussiness Insider)  

Hey Jude, Lagu Cinta Lain Maknanya

Ada lagu-lagu yang sebenarnya bukan lagu cinta, tapi akhirnya dibuat menjadi lagu cinta agar penikmatnya merasakan terhu.. more

Black Panther 2 Tengah Disiapkan; Akan Tampilkan Donald Glover

Aktor dan rapper Donald Glover (alias Childish Gambino) dibidik sutradara Ryan Coogler untuk bermain di Black Panther 2... more

CIAYO Comics

Ada Fitur Baru di CIAYO Comics

Bro sis sadar ga sih kalau ada yang baru dari CIAYO Comics? Yup, ada beberapa fitur baru yang berhasil dikembangkan seir.. more