Kerja Keras vs Bakat, Siapa yang akan Menang? [Part 2]

12 months ago
Kerja keras vs bakat

Ilusi Bakat & Rahasia Kerja Kerask

Ada satu konsep filosofi yang berasal dari filsuf Persia terkenal yang selalu menempel di benak saya. Konsep tersebut dinamakan ‘tabula rasa’ yang dicetuskan oleh Ibn Sina. Konsep ini adalah ide epistemologika yang mengatakan bahwa setiap manusia, setiap orang, dan setiap individu lahir dalam keadaan bersih tanpa punya bakat alami. Semua hal (baik itu yang ‘terlihat’ seperti bakat) didapatkan dari persepsi dan pengalaman.

Banyak orang bilang kalau orang berbakat punya kesempatan lebih banyak untuk sukses. Mereka punya ‘sesuatu’ yang mendorong mereka lebih cepat mencapai tujuan yang sangat jauh. Padahal kalau kita lihat dari riset dan penelitian, bakat bisa dibilang sebagai ‘ilusi’ yang sama sekali tidak menentukan tingkat kesuksesan seseorang. Setidaknya, itulah yang dapat disimpulkan dari hasil riset yang dilakukan oleh Robert Pool, seorang peneliti tentang bakat dan penulis buku yang berjudul “Peak — Secrets from New Science of Expertise”.

Kerja keras vs bakat - musik

Sumber: threepanelsoul.com

Dari banyak riset yang dilakukan oleh banyak peneliti, kemampuan yang dianggap sebagai bakat ini didapatkan dari kombinasi kerja keras, kemauan untuk belajar, dedikasi, dan komitmen untuk menjadi ahli. Saat kita melihat seseorang yang terbilang ahli, kita tidak dapat melihat perjuangan dan kerja keras yang mungkin sudah dia lakukan selama bertahun-tahun.

Dengan kata lain, bakat hanya sebuah ilusi yang tercipta dari rahasia kerja keras. Mereka yang hanya melihat skill akhir yang sudah terbentuk sempurna mungkin akan mencapnya sebagai bakat alami yang dipunyai sejak lahir. Hampir semua riset menemukan fakta yang serupa, mulai dari riset dari Northwestern University, jurnal Psychological Review, hingga penelitian dari Florida State University. Semua menunjukan bukti bahwa dedikasi dan kerja keraslah yang menentukan kesuksesan seseorang, bukan bakat alami.

Mau bukti? Coba kita lihat gambar berikut ini :

Kerja keras vs bakat -- gambar

Sumber: boredpanda.com

Bagi saya yang buta warna dan merasa tidak punya ‘bakat’ untuk menggambar, saya dapat bilang kalau gambar tersebut merupakan gambar yang sangat bagus. Lightning nya pas, proporsi dan pose yang normal serta ekspresi muka yang dapat terlihat dengan jelas menandakan kalau orang yang menggambar pasti sudah ahli, dan memang punya bakat di dunia seni lukis sejak lahir.

Tapi ternyata, gambar bagus yang dapat dijual mahal tersebut adalah hasil proses latihan, kerja keras, dan komitmen untuk menjadi lebih baik. Sang penggambar membutuhkan waktu 5 tahun untuk mendapatkan skill gambar sebaik itu, yang bisa kamu lihat prosesnya di bawah ini :

kerja keras vs bakat - tahun ke tahun

Sumber: boredpanda.com

See? Gambar yang ditunjukan di akhir memang sangatlah bagus, berbeda jauh dengan saat dia menggambar pertama kali pada tahun 2005. Kita bahkan bisa menilai dan sedikit meragukan jika yang menggambar dua gambar ini adalah orang yang sama, karena memang perbedaannya yang sangat jauh.

Semua orang yang menjadi legenda melakukan ini, melakukan proses terus menerus tanpa henti untuk menjadi ahli dan punya skill yang lebih baik. Michael Jordan melakukan latihan one-on-one selama 15 tahun lebih untuk membentuk tubuh dan refleknya, pelukis legendaris Cezzane membuat lebih dari 100 sketsa untuk sebuah lukisan, dan Leonardo Da Vinci berlatih lintas subjek sekaligus bekerja di sebuah studio selama masa kecilnya.

kerja keras vs bakat - tahun

Sumber: boredpanda.com

Hal inilah yang kadang tidak dilihat oleh orang-orang, mereka lupa bahwa dibalik topeng ‘bakat’ yang mereka punya ada komitmen dan proses kerja yang begitu keras. Mereka lupa kalau hasil akhir yang sempurna hanya bisa diraih oleh komitmen kerja keras, yang didorong oleh keinginan menggebu untuk menjadi lebih baik.

Pada kesimpulannya, bakat adalah sebuah ilusi yang dihasilkan dari proses kerja dan latihan yang sangat keras. Tidak ada yang menang antara bakat atau kerja keras, karena memang sejatinya mereka berdua adalah hal yang sama namun berbeda bentuk.

Jadi, lupakan persepsi bahwa kamu tidak bisa melakukan satu hal hanya karena tidak memiliki bakat. Coba saja hal-hal yang ingin kamu coba, lihat prosesnya, perbaiki yang salah, dan terus menerus melakukan proses untuk menjadi lebih baik. Dan jika ragu, ingat dan selalu ingat pepatah berikut ini :

“If a man can make it, I can do it”

Setuju?

About Author

Ben

Ben

"Seorang penulis lepas amatiran yang tampan, muda, pemberani, dan mencoba menjadi idaman mertua. Kalau ketemu di jalan tolong teriak 'BENJO' yang kenceng ya!"

Comments

Most
Popular

Movie Marathon: Diantara Aksi Penghematan dan Sungguhan Movie Maniacs

Pernah gak kalian memikirkan lagi makna sesungguhnya dari kegiatan movie marathon ini? Spesifiknya, apakah kegiatan ini .. more

Karakter di Film Deadpool 2 Akan Dibuat Film Solonya!

Saat ditanya dalam acara BBC Radio 1, Ryan Renolds mengungkapkan bahwa kemungkinan besar beberapa karakter dalam film De.. more

Bleach: Shonen Manga Populer Yang Tidak Bertahan Lama

Manga karangan Tite Kubo ini menceritakan tentang perjalanan seorang pemuda bernama Ichigo Kurosaki yang secara tidak se.. more

sumber: www.traileraddict.com

The Vanishing of Sidney Hall, Kebrutalan dalam Bentuk Dialog Minim Visual

“The Vanishing of Sidney Hall” membuka kisah dengan sebuah narasi liar yang dibacakan oleh Sidney Hall (Logan Lerman.. more

(viz.com)

Eiichiro Oda: Tolong Dukung Luffy dan Kawan-Kawan Sedikit Lebih Lama Lagi

Ucapan terima kasih kepada para fans terlontar dari mulut Eiichiro Oda, sang maestro di balik kesuksesan manga One Piece.. more