Meluruskan Kesalahpahaman Kreator Zaman Now Terhadap Pekerjaan Editor

10 months ago
00 d salah paham editor

Dibalik kesuksesan sebuah karya, terdapat campur tangan seorang editor. Ya, peran editor di belakang layar penerbitan sebenarnya memegang bagian yang tak kalah penting dari proses terbentuknya suatu karya yang mendunia. Editor adalah sosok penting yang berjasa untuk menelurkan karya-karya fenomenal. Bahkan karya sekelas Harry Potter pun tak lepas dari kontribusi editor.

Sayangnya, tak jarang editor mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari para kreator, khususnya kreator pemula. Editor seringkali dianggap tidak kompeten akibat menolak ajuan naskah yang masuk ke dalam kotak surat penerbitan (e-mail atau pos). Padahal, ada alasan tertentu mengapa editor menolak karya yang kita ajukan. Dan hal ini belum tentu menunjukkan bahwa karya kita jelek.

Salah paham soal editor pun meluas, bahkan mulai jadi kebiasaan. Semenjak menjamurnya platform-platform modern seperti Wattpad dan CIAYO Comics, semakin banyak kreator yang merasa punya peluang lebih besar untuk menjadi kreator resmi. Benar, peluangnya memang semakin besar, tetapi arogansinya juga semakin besar. Ini berbahaya.

01 email

Contoh kreator arogan. Sumber: Facebook

Fenomena ini membuat para kreator—khususnya pemula—jadi merasa punya hak untuk menuntut dan memerlakukan editor secara sewenang-wenang. Padahal, pekerjaan editor di platform mana pun tetap sama, yakni memastikan bahwa karya yang masuk adalah karya yang bagus dan sesuai dengan kriteria.

Kreator-kreator yang salah paham seperti ini harus diluruskan cara berpikirnya. Menurut situs TheThoughtCo, setiap penulis/kreator setidaknya memerlukan MINIMAL seorang editor untuk mengoreksi karya mereka. Itu menunjukkan bahwa keberadaan seorang kreator takkan pernah lepas dari keberadaan editor, baik editor lepas, editor musiman (audiens), maupun editor resmi.

Lantas, apa saja yang perlu diluruskan dari segala kesalahpahaman ini? Simak ulasannya!

Pahami Dulu Pekerjaan Editor Secara Umum!

01 edit

Sumber: WordPress

Dalam KBBI, editor diartikan sebagai orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya.

Sedangkan menurut buku When Author Meets Editor yang ditulis oleh Luna Torashyngu dan Donna Widjajanto, editor adalah orang yang bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Meski demikian, pada zaman internet seperti sekarang, ada juga editor yang mengerjakan tugas mereka dari rumah, kafe, maupun tempat-tempat yang lain.

Akan tetapi, meskipun zaman telah berbeda, tugas editor tetap sama dari waktu ke waktu, yakni menyiapkan naskah mentah menjadi sesuatu yang lebih layak untuk diterbitkan dan dinikmati oleh khalayak. Pekerjaan ini mencakup proses editing, promosi, hingga penjualan.

Jadi, tidak seperti yang kita pikirkan, tugas editor ini sendiri sebenarnya lebih rumit dan lebih luas cakupannya dari dugaan kita sebelumnya. Singkatnya, mereka tidak hanya berbicara soal kualitas naskah, tetapi juga kelangsungan bisnis penerbitan. Bayangkan, itu tanggung jawab yang besar, lho. Apakah kreator—khususnya pemula—pernah memikirkan betapa rujitnya tanggung jawab ini?

Ini belum ditambah dengan fakta bahwa editor bisa menerima ratusan naskah hanya dalam rentang waktu satu bulan. Pekerjaan mereka menjadi lebih tak terbayangkan. Urusannya tidak lagi hanya pada kekuatan fisik, tetapi juga mental.

Jangan Marah Dulu Kalau Naskah Kita Dipotong!

02 cut

Sumber: CNN

Asumsikan bahwa naskah kita lolos seleksi, tetapi ternyata ada beberapa adegan “favorit” yang dipotong oleh editor. Rasanya pasti tidak enak, bukan? Pada momen ini, kita mungkin akan merasa “panas” dan melayangkan protes terhadap editor. Namun, jangan salah paham dulu, editor punya alasan kenapa mereka memangkas naskah.

Salah satu alasan utama pemangkasan naskah ini adalah karena adegannya tidak penting.

Kita, sebagai kreator, mungkin pernah membuat satu atau dua adegan filler yang tidak penting bagi kemajuan cerita. Nah, hal seperti inilah yang suka dihilangkan apabila tidak ada esensinya sama sekali. Proses ini diperlukan agar cerita yang kita buat menjadi lebih fokus kepada plot dan tujuan yang telah ditentukan.

Kalau dalam film, ada yang namanya deleted scenes, ini adalah salah satu contoh pekerjaan editor dalam memangkas adegan yang tidak penting. Hal ini tidak berarti deleted scenes itu berkualitas buruk, lho. Hanya saja kurang penting untuk ditampilkan ke public.

Sehingga, bro sis jangan sedih dulu jika editor tiba-tiba saja memotong salah satu bagian dalam naskah. Itu adalah salah satu cara agar cerita bro sis menjadi lebih fokus dan lebih keren.

Selain itu, pemangkasan adegan ini juga dilakukan untuk mengurangi jumlah halaman atau frame (dalam perfilman), agar tidak memakan biaya yang lebih besar.

Editor Adalah “Kiper” di Dunia Penerbitan

03 goal

Sumber: Wikipedia

Sebagaimana yang telah kami bahas di artikel yang sebelumnya, setiap editor sejatinya merupakan perwakilan dari pihak penerbit. Mereka mewakili sekaligus menjaga bisnis yang dijalankan oleh perusahaan penerbit.

Melihat dari kriteria tersebut, jangan heran jika editor hanya akan menanggapi naskah-naskah yang sesuai dengan gaya dan visi-misi perusahaan. Karenanya, jangan salah paham dan jangan buru-buru menghakimi editor sebagai orang yang tidak kompeten. Bisa jadi, naskah yang tertolak bukan karena kualitasnya jelek, tetapi karena tak sesuai dengan genre yang mereka anut.

Kita bikin studi kasus, deh. Katakanlah kita punya naskah bergenre action, tetapi mengajukan naskah tersebut ke penerbit yang bergerak di genre romance ala Korea. Coba pikirkan, apakah naskah kita akan diterima? Tentu saja tidak. Dari genrenya saja sudah berbeda jauh.

Oleh karenanya, sebagai kreator, kita juga harus peka dan memertimbangkan rumah penerbitan yang akan kita jadikan tempat untuk “bernaung”. Cari yang benar-benar pas, jangan ngasal. Riset sedikit melalui Mbah Google tidak akan membuat waktu kita terbuang sia-sia, kok.

Be Grateful! Editor Indonesia Masih Lebih Ramah daripada Editor Luar Negeri, Lho.

04 friend

Sumber: Youtube

Kreator di Indonesia ini harus banyak-banyak bersyukur, sebab editor di sini jauh lebih ramah dibandingkan dengan editor-editor senior di negara barat. Lebih istimewanya, ada banyak editor di Indonesia yang mau repot-repot membimbing kreator didikan mereka dari nol. Hal ini justru jarang ditemui di negeri barat.

Sebagaimana yang ditulis pada buku When Author Meets Editor, etos kerja di negara barat memaksa orang untuk selalu bersikap tegas dan menghargai waktu. Sehingga, melayani pengarang baru yang masih hijau akan dianggap membuang-buang waktu.

Daripada membimbing kreator-kreator pemula ini, editor di negeri barat akan lebih memilih untuk “membuang” kreator-kreator ini tanpa peringatan. Atau, cara yang paling lembut adalah dengan menyerahkan para kreator hijau ini kepada agensi yang memang khusus mau memertajam skill menulis seseorang.

Penerbit mayor di sana memang sudah terkenal hanya mau menerima penulis yang telah well informed. Ini kembali lagi pada konsep bisnis penerbitan yang telah berkali-kali kami ingatkan. Penulis well informed biasanya sudah mempunyai basis audiens, sehingga penerbit hanya tinggal “mengipasi apinya” agar menjadi lebih besar lagi.

Hal ini jelas jauh berbeda dengan para editor di Indonesia yang seringkali bersikap ramah kepada penulis baru, bahkan mau membimbing dari hal-hal yang paling kecil. Budaya ini harus kita syukuri. Dibimbing sama editor berpengalaman, siapa yang tidak mau?

Editor adalah Guru, Dengarkan dan Hormati Mereka!

05 sifu

Sumber: melty.fr

Terlepas dari “kesan” judes dan arogan, tidak dapat kita pungkiri bahwa seorang editor—khususnya yang sudah bertahun-tahun bekerja di penerbit mayor—memang memiliki pengetahuan yang luas dan insting yang tajam untuk dapat menerka karya seperti apa yang akan meledak di pasaran.

Karenanya, sebagai kreator yang bermartabat, ada baiknya kita tetap memandang editor sebagai sosok guru. Dengarkan koreksi yang mereka berikan, hormati posisi mereka sebagai wakil penerbit, kemudian pelajari agar skill kita dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Bertanya tentang kekurangan yang kita punya jauh lebih baik daripada misuh dan melontarkan umpatan. Manner atau etika juga menjadi salah satu pertimbangan bagi para editor untuk menerima naskah kita, lho. Berhati-hatilah. Masa depan karir berkarya kita bisa dipertaruhkan kalau kita bersikap tidak sopan.

Setelah membaca penjelasan panjang dari kami, apakah bro sis sudah paham kan betapa besarnya tanggung jawab seorang editor? Editor juga manusia, perlu dihargai, perlu dihormati. Mereka akan memerlakukan kita sebagaimana kita memerlakukan mereka. Bersikaplah sopan dan ambillah pelajaran-pelajaran penting dari tugas yang mereka emban.

Penutup dari kami: perbanyak berkarya, kurangi drama.

About Author

S09 Gruppe

S09 Gruppe

S09 Gruppe adalah circle penyedia konten kreatif. Motto kami adalah Care the Creativity, yang berarti kami peduli pada pertumbuhan kreativitas Indonesia. Berkenaan dengan motto tersebut, kami akan selalu memberikan insight-insight kreatif terbaru serta penyemangat untuk berkarya.

Comments

Most
Popular

00-d-beta-ray-bill

Saudara Kembar Thor Tapi Kuda? Mari Kenalan Dengan Beta Ray Bill!

Thor punya saudara, tapi lebih mirip kuda? Beta Ray Bill adalah karakter superhero sekaligus supervillain yang merupakan.. more

Despicable Me 3 (Sumber: Universal Pictures)

DESPICABLE ME 3: Banyak Kejutannya!

Kegagalannya menangkap Balthazar Bratt, villain baru Despicable Me menyebabkan Gru (Steve Carell) dan Lucy (Kristen Wiig.. more

Sumber gambar: himi.wpblog.jp

[Museum Ninja Hattori] Kampung Halaman Pencipta Ninja Hattori Kini Jadi Pusat Wisata!

Jadi mangaka “Fujiko Fujio” adalah sebuah team yang terdiri dari dua orang berbeda dan menghasilkan karya-karya yang.. more

Lightstick

World War Z atau Fanwar, Lebih Seram Mana?

Bro sis punya idola? Atau kepikiran untuk menjadi seorang artis? Biasanya ketika kita mengidolakan seorang idol atau art.. more

Kulari Ke Pantai dan Generasi Wicis

Film keluarga terbaru karya Riri Riza yang kembali berhasil memanjakan para penggemar. .. more