Kontroversi Disney dan Mental Korporat Raksasa

8 months ago
Sumber: The A.V. Club

Hanya dalam satu minggu saja, perusahaan hiburan raksasa Disney mencoreng namanya sendiri dengan tinta Cina yang meluber ke mana-mana. Semuanya gara-gara sikap petinggi Disney yang mengira mereka bisa melakukan segala hal demi keuntungan mereka sendiri, termasuk menindas media massa.

Dari mana kisah ini bermula? Semua dimulai saat surat kabar terkemuka The Los Angeles Times memberikan pernyataan singkat pada koran mereka yang terbit tanggal 3 November lalu. Dengan singkat, redaksi LA Times menyatakan tidak dapat mengulas film Thor: Ragnarok sebelum tanggal perilisannya, dan tidak akan menyertakan film itu serta Star Wars Episode VIII: The Last Jedi, dalam rubrik tahunan spesial Holiday Preview.

Surat kabar The Los Angeles Times dilarang menghadiri event dari Disney mulai dari pemutaran film hingga wawancara. (Sumber: AZ Family)

Surat kabar The Los Angeles Times dilarang menghadiri event dari Disney mulai dari pemutaran film hingga wawancara. (Sumber: AZ Family)

Mengapa bisa demikian? Ternyata, Disney selaku pemilik studio Marvel dan Lucasarts telah melarang LA Times menghadiri pemutaran film khusus pers yang mereka adakan. Larangan ini tidak hanya untuk film Thor dan Star Wars saja, melainkan juga berlaku untuk SEMUA film yang dirilis oleh Disney. Meski demikian, LA Times tetap mengulas Thor: Ragnarok setelah film tersebut rilis serentak di bioskop.

Usut punya usut, ternyata alasan pemblokiran LA Times dari pemutaran film terbatas itu adalah karena LA Times pernah menerbitkan sebuah fitur yang mendiskreditkan Disney. Fitur yang dimaksud adalah sebuah seri artikel sepanjang dua bagian yang terbit di bulan September lalu. Artikel itu mempublikasikan hasil penyelidikan terhadap praktik bisnis buruk yang dilakukan Disney di Anaheim, markas dari taman bermain Disneyland.

The Last Jedi, film ke-8 dari saga Star Wars adalah salah satu film Disney yang tidak bisa diulas oleh LA Times. (Sumber: Comic Book)The Last Jedi, film ke-8 dari saga Star Wars adalah salah satu film Disney yang tidak bisa diulas oleh LA Times. (Sumber: Comic Book)

The Last Jedi, film ke-8 dari saga Star Wars adalah salah satu film Disney yang tidak bisa diulas oleh LA Times. (Sumber: Comic Book)

Akibat itu, Disney pun melarang LA Times untuk menghadiri pemutaran film dan wawancara untuk semua film rilisan Disney; setidaknya sampai LA Times dapat menunjukkan itikad baik untuk menyajikan reportase berimbang.

Ini bukan masalah terkena ban untuk satu-dua-tiga film dari Disney, Marvel dan Lucasarts saja. Masalahnya Disney sendiri memiliki bagian dalam perusahaan film dan hiburan lainnya. Selain dua di atas ada juga Pixar, Disney–ABC Television Group, Walt Disney Television, ESPN, A&E Networks, Hulu, dan masih banyak lagi. Ban dari Disney berpotensi besar berlaku pula untuk perusahaan-perusahaan di atas.

CEO Disney, Bob Iger memilih untuk diam dan tidak menanggapi masalah ini. (Sumber: Ziggy Knows Disney)

CEO Disney, Bob Iger memilih untuk diam dan tidak menanggapi masalah ini. (Sumber: Ziggy Knows Disney)

Baik Disney maupun sang CEO, Bob Iger, tidak menjelaskan bagian mana dari artikel LA Times tersebut yang mendiskreditkan dan tidak berimbang. Bahkan hingga hari ini, Disney anehnya tidak meminta LA Times untuk menarik penerbitan artikel tersebut atau setidaknya meralat dan membuat pernyataan.

Dengan kejadian ini, kalangan pers dan industri bereaksi cepat untuk mengkritik tindakan Disney. Langkah yang mereka ambil tidak main-main.

Pagi hari tanggal 7 November, 4 hari setelah LA Times merilis pernyataan kontroversial itu, 4 organisasi kritik film mengusulkan agar Disney diblok dari ajang penghargaan film bergengsi. New York Film Critics Circle, Los Angeles Film Critics Association, Boston Film Critics Association, dan National Society of Film Critics, bersama-sama menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan nominasi untuk film Disney dalam acara penghargaan film manapun, sebelum Disney mengangkat ban yang ditimpakan pada LA Times. Sementara itu, Toronto Film Critics Association dan Television Critics Association pun mengecam aksi semena-mena Disney tersebut.

Sementara itu dari kalangan media, portal The A.V. Club, Flavorwire, Boston Globe, dan New York Times menolak untuk datang menonton pemutaran film awal untuk film-film Disney, sebagai bentuk solidaritas kepada LA Times.

Akhirnya, kurang dari sejam setelah New York Times mengeluarkan pernyataan tersebut, Disney mengangkat ban mereka terhadap LA Times. Surat kabar asal Los Angeles tersebut dapat kembali mendatangi event pemutaran film dari Disney. Namun, apakah keadaan memang kembali seperti semula?

Mungkin bagi Disney, jawabannya tidak. Nasi sudah menjadi bubur. Sejak awal, Disney sudah salah langkah dengan mengaitkan pelarangan LA Times ini dengan artikel yang konon mencoreng nama mereka. Justru dengan musibah ini, perhatian massa malah akan teralihkan pada praktik bisnis buruk Disney yang diberitakan LA Times.

Taman bermain Disneyland dan mungkin juga Disney secara keseluruhan, sepertinya tidak seindah yang terlihat dari luar. (Sumber: TripSavvy)

Taman bermain Disneyland dan mungkin juga Disney secara keseluruhan, sepertinya tidak seindah yang terlihat dari luar. (Sumber: TripSavvy)

Kejadian selama seminggu ini telah membuka borok Disney yang ternyata bertindak semena-mena terhadap perusahaan lain yang lebih kecil darinya. Disney sudah berkembang dan tumbuh terlalu besar, dan dengan itu mereka berpikir bisa melakukan apapun demi keuntungan mereka sendiri. Disney melarang LA Times untuk menghadiri event mereka bukan karena LA Times menerbitkan ulasan jelek untuk film Disney, melainkan untuk alasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan film-film Disney.

Disney tidak akan rugi jika ada satu-dua media yang menerbitkan ulasan jelek untuk film mereka. Disney juga tidak akan rugi apabila ada satu-dua media yang tidak menerbitkan ulasan film mereka. Toh penonton awam tetap akan menonton film Disney karena mereka korban hype dan marketing yang digenjot nonstop. Dan karena alasan itulah, Disney melancarkan serangan kepada LA Times yang dianggap sangat cemen dan tidak berkelas.

Berawal dari studio animasi bentukan maestro Walt Disney, menjadi sebuah korporasi raksasa yang punya berbagai trik culas agar bisa semakin ‘cuan’. Walaupun sudah terlambat, semoga Disney bisa memetik sesuatu dari insiden kontroversial ini. Itu pun jika para pemangku kepentingan di sana masih punya malu dan mau meninggalkan ego mereka barang sebentar saja.

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

Wanita Yakuza. Sumber: pinterest

Ternyata Beginilah Peran Wanita Yakuza di Jepang!

Tapi tahukah kamu, kalau gak semua yakuza itu berisikan laki-laki loh. Meski hal ini kurang populer, namun Yakuza juga m.. more

Faza Meonk & Walikota Seoul, Park Won Soon (pionicon.com/blog)

Faza Meonk, Duta Pariwisata Kehormatan Seoul

Kalo yang udah follow Instagramnya, pasti tahu dong timeline nya kemaren-kemaren. Faza main ke Korea!.. more

Hati Hati Techno Menggabungkan Musik EDM Dengan Keimutan Grup Idol Jepang

Datang dari Jepang, dan diproduseri Kevin Aprilio. Hati Hati Techno mencoba untuk menggebrak pasar musik pop Indonesia l.. more

(i1.wp.com)

5 Anime yang Digemari Perempuan 90-an

Perempuan yang lahir tahun 90-an, uda jelas donk gak asing sama film-film kartun yang menumbuhkan mimpi dan imajinasi ma.. more

Sumber: Gamerant

Pokemon GO Genap Satu Tahun, Habis Ini Apa?

Pasti bro sis salah satunya yang pernah keranjingan muter-muter komplek buat main Pokemon GO kan? Game ini memang cukup .. more