Marlina dan Ironi Kasus Pemerkosaan di Negeri Ini

3 months ago
00-marlina

“Dia bermotor, umur diatas lima puluh, su bisa jadi kakek-kakek. Berambut panjang, beuban, kerempeng, betato di sebelah tangan.”

“Kalau dia tua dan kurus, kenapa kau biarkan dia perkosa kau?”

Film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak memang sudah setahun berlalu, tetapi kasus yang ramai akhir-akhir ini membuat saya merasa bahwa sepertinya ada perlunya pembahasan ulang terkait film ini mengenai konteksnya yang sangat berhubungan dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Tapi sebelum itu, saya ingin mengapresiasi aktris utama dan sutradara film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak.

Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak Tampilkan Performa Terbaik Marsha Timothy

(Sumber: The Jakarta Post)

(Sumber: The Jakarta Post)

Marsha Timothy berhasil menemukan sisi lain dari aktingnya di film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, dimana menurut saya merupakan salah satu performa terbaik dari seorang aktris yang pernah saya lihat di sebuah film Indonesia.

Selain logat Sumbanya yang natural dan tidak kaku, hal yang membuat saya kagum adalah sorot tatapan matanya yang tajam dan menusuk, namun di beberapa saat juga mampu menunjukkan kerapuhan dan kesedihan Marlina, dan itu berlangsung dari awal sampai akhir film.

(Sumber: Variety)

(Sumber: Variety)

Performanya mengingatkan saya kepada performa Casey Affleck di Manchester By The Sea dimana film itu membuat Casey Affleck meraih piala Oscar untuk kategori Aktor Terbaik. Di film itu, Casey Affleck menunjukkan performa yang kurang lebih sama–datar dan tanpa ekspresi sepanjang film, namun beberapa kali menunjukkan kemurkaan dan kesedihannya.

 Dalam pemutaran film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak di festival-festival internasional pun, penampilan Marsha Timothy mendapatkan apresiasi, salah satunya dalam Sitges Film Festival dimana dia terpilih sebagai aktris terbaik, mengalahkan aktris-aktris terkenal dunia lainnya, salah satunya Nicole Kidman!

Penghargaan yang diterima Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak (Sumber: Instagram)

Penghargaan yang diterima Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak (Sumber: Instagram)

Landscape Sumba Mouly Surya

(Sumber: Vice Indonesia)

(Sumber: Vice Indonesia)

Selain performa Marsha Timothy, daya tarik lain film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak adalah bagaimana Mouly Surya (sutradara fiksi. Dan What They Don’t Talk About When They Talk About Love) menampilkan landscape sabana Sumba yang luas, membuat film ini mempunyai rasa western yang kental, bahkan beberapa kritikus film menyebut genre film ini sebagai satay-western.

Bukan saja memperkuat estetika film, hal itu pun mampu menaikkan pariwisata Sumba, apalagi film ini diputar di kancah festival internasional.

(Sumber: The Art Theater) 

(Sumber: The Art Theater)

Keberanian Mouly Surya menampilkan adegan eksplisit seperti kepala Markus yang dibawa oleh Marlina kemana-mana juga patut diapresiasi, itu bahkan menjadi semacam trademark film ini.

Baca Juga: Film Indonesia dari Sumba sampai Praha

Ketidakadilan Polisi Sumba, Ketidakadilan Penegak Hukum Negeri Ini 

(Sumber: SM)

(Sumber: SM)

Film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, seperti tertera pada judulnya, terdiri dari empat babak; Perampokan, Perjalanan, Pengakuan, dan Kelahiran. Saya akan membahas babak ketiga, adegan dimana Marlina akhirnya sampai di kantor polisi, melaporkan kasus pemerkosaan dan perampokan rumahnya, juga mengenai dua perampok lain yang masih berkeliaran (lima perampok yang mendatangi rumahnya sudah diracuni dan ditebas oleh Marlina).

Tapi polisi dalam adegan itu tidak memperlihatkan simpati sedikit pun kepada Marlina, mulai dari ketidakniatannya memeriksa dan mengolah TKP karena alasan ‘tidak ada kendaraan’, juga pernyataannya yang mengatakan bahwa ‘untuk membuktikan pemerkosaan diperlukan alat visum, kita belum punya, kalau mau cari dokter sendiri’.

Beberapa dialognya pun menunjukkan sesuatu yang tidak perlu yang justru menyudutkan Marlina sebagai korban pemerkosaan.

“Dia orang mau memperkosa saya”

“Tapi tidak jadi toh?”

Atau

“Dia bermotor, umur diatas lima puluh, su bisa jadi kakek-kakek. Berambut panjang, beuban, kerempeng, betato di sebelah tangan.”

“Kalau dia tua dan kurus, kenapa kau biarkan dia perkosa kau?”

Seorang teman saya, ketika saya ajak berdiskusi soal film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, mengatkan bahwa film ini menunjukkan keadaan di Sumba yang sangat patriarkis.

Tapi sepertinya ini bukan hanya tentang Sumba.

Salah satu oknum elit Kepolisian Republik Indonesia, dalam sebuah wawancara mengatakan, bahwa dalam kasus pemerkosaan, ia memerintahkan anak buahnya agar bertanya dulu kepada korban, apakah korban menikmati atau tidak. Baginya, pemerkosaan yang dinikmati bukanlah sebuah pemerkosaan.

Beberapa kasus yang sedang hangat akhir-akhir ini juga menunjukkan hal itu.

Agni dan Baiq Nuril

Pernyataan sikap #KitaAgni oleh para aktivis (sumber: Harian Jogja)

Pernyataan sikap #KitaAgni oleh para aktivis (sumber: Harian Jogja)

Kasus Agni dan Baiq Nuril menunjukkan sisi absurd lain penegakan hukum di negeri ini jika mengenai kasus pemerkosaan.

Dalam kasus Agni, dia nyaris diperkosa oleh teman laki-lakinya saat sedang menjalani KKN. Tapi pihak kampusnya (yang tidak akan saya sebutkan disini) justru acuh tak acuh terhadap kasus yang membuatnya mengalami trauma besar tersebut.

Salah satu pihak elit kampus bahkan menyatakan pernyataan yang cukup menyakitkan,

“Ibarat kucing kalau diberi ikan asin, pasti kan setidak-tidaknya akan dicium-cium atau dimakan”

Pernyataan yang harusnya mustahil keluar dari mulut seseorang yang berpendidikan, dan merendahkan tubuh wanita dengan menyamakannya dengan ‘ikan asin’.

Dalam kasus Baiq Nuril lebih aneh lagi, selama setahun ia mengalami pelecehan seksual secara verbal, baik langsung dan melalui panggilan telpon oleh kepala sekolahnya, ia kemudian memutuskan untuk merekam salah satu panggilan itu untuk melaporkannya ke Dinas terkait.

Yang terjadi justru Baiq Nuril yang dituntut oleh kepala sekolah tersebut karena dianggap telah mencemarkan nama baik, dan dituntut atas dalih UU ITE, dan sempat mengalami penahanan atas tuntutan tersebut.

Marlina Feminis Secara Naluri

Adegan dimana Marlina dipaksa menyiapkan makan malam bagi para perampok rumahnya (sumber: Medium)

Adegan dimana Marlina dipaksa menyiapkan makan malam bagi para perampok rumahnya (sumber: Medium)

Ada salah satu keunikan Marlina secara penokohan ketika film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak berbicara tentang feminisme atau kesetaraan gender. Tokoh Marlina berasal dari pedalaman, ia tidak pernah membaca buku-buku feminisme Barat ataupun menghadiri seminar-seminar kesetaraan gender, ia bahkan mungkin tidak tahu apa yang dimaksud dengan patriarki.

Tindakan Marlina meracuni dan menebas kepala perampok yang memperkosanya, juga melapor ke polisi adalah sebuah sikap untuk bertahan hidup.

Itu pula yang ditegaskan Mouly Surya dalam salah satu wawancara, ia mengatakan bahwa Marlina bukanlah tipikal feminis borjuis yang tiap hari menyebarkan awareness soal kesetaraan gender lewat insta stories mereka, ia seorang perempuan yang bergerak mencari keadilan berdasarkan nalurinya.

Banyak kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual yang tidak terungkap karena ketidakberanian korban dalam melaporkannya, baik karena malu ataupun stigma yang berlaku terhadap korban pemerkosaan, maka penokohan Marlina adalah sesuatu yang cukup kuat.


Mari kita semua berdoa, dan juga ikut ambil bagian, agar penegakan hukum di negeri ini dalam menghadapi kasus pelecehan seksual berbenah lagi. Dan tentu sikap kita sebagai masyarakat yang kadang juga menyudutkan korban pemerkosaan juga perlu diubah.

Saya, kamu, kita semua berharap. 

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

Popularitas K-Pop dalam Dunia Musik Amerika

Sekitar lima atau tujuh tahun yang lalu muncul banyak opini dan artikel dengan pertanyaan “bisakah trend musik K-pop m.. more

Sumber: irishfilmcritic.com

The Ritual, Atmosfer Luar Biasa untuk Cerita Usang yang Klasik

“The Ritual” merupakan contoh film horror yang punya skenario klasik dengan menampilkan atmosfer mencekam yang terja.. more

Sumber: Polygon

Waduh! Dana Kickstarter Untuk Game Project Phoenix Diduga Diselewengkan Untuk Membuat Game Lain!

angat disayangkan bahwa masih saja terjadi kasus-kasus penyelewengan dana dalam proyek Kickstarter. Belum lama ini, game.. more

Cargo, Menarik Di Atas Kertas Dengan Ide Unik Untuk Sebuah Film Zombie

Mungkin akan banyak orang salah kaprah terhadap film Cargo. Terutama untuk orang-orang yang suka film bertema zombie dan.. more

00-volt-d

6 Tahun Volt Dan Mimpi Marcelino Lefrandt Membangkitkan Superhero Lokal

Di bulan Maret 2018 ini, superhero Indonesia Volt merayakan ulang tahunnya ke-6. Diciptakan oleh Marcelino Lefrandt, Vol.. more