Membandingkan Desain Karakter Detective Pikachu dan Sonic the Hedgehog

3 weeks ago
detective pikachu

Hanya dalam waktu beberapa hari saja, film Detective Pikachu akan segera tayang di bioskop Indonesia. Film yang diadaptasi dari video game populer Pokemon ini akan menampilkan Ryan Reynolds sebagai Pikachu. Casting yang aneh memang, namun pemeran Deadpool ini mampu memberikan kharisma unik yang ditimbulkan dari suara lantang dan karakter Pikachu yang imut menggemaskan.

Hal yang sama ternyata tidak terjadi di film adaptasi game lainnya, Sonic the Hedgehog. Saat trailernya rilis sekitar seminggu yang lalu, fans merasa kecewa karena Sonic yang mereka lihat tidak sesuai dengan harapan mereka. Fans mencoba memperbaiki desain Sonic dengan kemampuan mereka sendiri, hingga akhirnya sang sutradara menyatakan akan mengganti desain si landak biru ini.

Serupa tapi tak sama. Sumber: EW
Serupa tapi tak sama. Sumber: EW

Pertanyaannya, kenapa terdapat dua perbedaan sikap dari para fans? Apa yang menyebabkan Detective Pikachu mendapatkan pujian, sementara Sonic the Hedgehog justru dicaci? Padahal, keduanya sama-sama film live action yang mengandalkan efek 3DCG untuk menghidupkan makhluk-makhluk unik di dunia nyata.

Mari kita lihat apa saja yang membuat Pikachu dan Sonic mirip. Keduanya dihidupkan dengan efek 3DCG, itu sudah pasti. Keduanya juga memiliki bulu-bulu yang menutupi tubuh mereka. Entah mengapa menambahkan bulu sudah jadi tradisi untuk membuat makhluk-makhluk seperti ini jauh lebih realistis. Keduanya juga merupakan karakter binatang yang bisa berbicara layaknya manusia. Jadi dari tingkah polah pun keduanya tidak jauh berbeda.

Detective Pikachu mempertahankan desain Pokemon asli. Sumber: Polygon
Detective Pikachu mempertahankan desain Pokemon asli. Sumber: Polygon

Di titik ini, desain antara Detective Pikachu dan Sonic the Hedgehog mulai melebar. Mari kita lihat Pikachu dulu. Apa yang kamu bayangkan saat melihat sosoknya? Mirip seperti dalam gamenya? Tepat! Para Pokemon yang muncul dalam Detective Pikachu mempunya diesain yang sangat dekat dengan versi gamenya. Pikachu yang kamu lihat di film sama seperti Pikachu yang ada di dalam game. Kuning, bulat, dan dengan segala karakteristik fisik yang membuatnya mudah diingat.

Baca Juga: Akankah Pokemon: Detective Pikachu Bernasib Sama Seperti Film Adaptasi Live Action Lainnya?

Sonic the Hedgehog menginginkan penampilan Sonic yang realistis. Sumber: IGN
Sonic the Hedgehog menginginkan penampilan Sonic yang realistis. Sumber: IGN

Lalu bandingkan dengan Sonic dalam filmnya. Ia kehilangan karakteristik khas kartun yang membuat siluet tubuhnya mudah dikenal. Sebaliknya, kita mendapatkan Sonic dengan bentuk tubuh gabungan antara landak dengan anak kecil berbadan bugar. Ekspresi wajahnya juga menjadi tidak menarik sama sekali.

Staf film Sonic the Hedgehog membela desain ini dengan argumen bahwa mereka ingin menyajikan sosok Sonic yang realistis dan bisa membaur dengan lingkungan nyata. Dalam satu dan lain hal, mereka berhasil memenuhi tujuan itu. Tapi dalam prosesnya, mereka justru mengasingkan para fans yang hanya ingin melihat aksi Sonic di layar lebar.

Baca Juga: Trailer Sonic the Hedgehog Rilis, dan SEGA Kurang Menyukai Desain Mata Sonic

Pikachu melawan Charizard. Sumber: The Verge
Pikachu melawan Charizard. Sumber: The Verge

Bandingkan saja dengan Detective Pikachu. Para stafnya mengabaikan unsur realisme untuk menampilkan para Pokemon di dunia nyata. Hasil akhirnya memang membuat para Pokemon terlihat terlalu menonjol. Kualitas 3DCG nya pun membuatmu sempat mengira bahwa film ini diproduksi di Cina. Tapi mereka mempertahankan desain dari game originalnya, desain yang sudah akrab menghiasi benak para fans. Hasilnya, fans bisa lebih nyambung saat menikmati filmnya.

Tingkat kepedean Sonic tidak berbanding lurus dengan keyakinan penonton. Sumber: IGN
Tingkat kepedean Sonic tidak berbanding lurus dengan keyakinan penonton. Sumber: IGN

Realisme memang sebuah elemen penting dalam film, dan bertujuan untuk menampilkan pengalaman menonton film yang mendekati kenyataan. Namun dalam beberapa kasus, realisme ternyata dapat membatasi kreativitas, imajinasi, dan fun factor dari film itu sendiri. Tidak semua film harus terasa dark dan gritty demi mengejar realisme. Jika seseorang mencoba membuat film live action Tom & Jerry dengan mengedepankan “realisme” berat, hasil akhirnya tidak akan bagus karena kehilangan efek kartun yang jadi ciri khasnya.

Pikachu bersanding dengan aktor manusianya. Sumber: Kylie’s Entertainment
Pikachu bersanding dengan aktor manusianya. Sumber: Kylie’s Entertainment

Hal inilah yang dijadikan kekuatan dalam Detective Pikachu. Ia mengambil artistic license untuk bisa lepas dari realisme Hollywood. Mereka fokus pada elemen yang bisa membuat sebuah film menyenangkan untuk ditonton. Baik itu dari desain Pokemon atau pertarungannya, para staf tahu bahwa film ini hadir untuk menghibur. Mungkin pendekatan ini sangat sesuai dengan filosofi Nintendo selaku pembuat game Pokemon. “Game harus menyenangkan. Jika tidak, buat apa?” Begitu ucap mantan dirut Nintendo Reggie Fils-Aime.

Setidaknya Sonic masih punya banyak waktu sampai 7 November untuk memperbaiki desain Sonic. Untungnya para staf berkomitmen untuk menyajikan Sonic yang sebenarnya, jadi mari kita tunggu hasil akhirnya. Sementara itu, Detective Pikachu akan tayang tanggal 8 Mei 2019 di Indonesia. Siapa Pokemon favorit kamu? Kamu lebih suka Sonic atau Pikachu? Beri tahu di kolom komentar ya!

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

Sumber: comicvine.com

Benarkah Hawkeye Akan Berubah Menjadi Ronin di Avengers: Infinity War?

Belakangan ini kita sering kali melihat meme-meme yang menyindir Hawkeye karena dia tidak terlihat di poster Avengers: I.. more

theater of life

Theater of Life: Panggung Sandiwara yang Melebur Dalam Kenyataan

Murid baru Ryan tertarik pada sosok Novi yang cuek bebek tapi memendam bakat akting memukau. Inilah panggung sandiwara T.. more

Sumber gambar: wareable.com

Smartwatch: Masihkah Mereka Relevan Untuk Dibeli?

Masihkah mereka relevan untuk dibeli saat ini?.. more

Astro Boy dan Osamu Tezuka (dailygeekshow.com)

Osamu Tezuka, “The Godfather Of Manga”

Sebagai pecinta komik sejati, Kamu perlu kenalan sama seorang sensei yang keren banget. Siapa dia? Tidak lain dan tidak .. more

(Sumber: www.jobnjoy.com)

Model Plus-Sized Asal Korea Selatan: No More Body Shame!

Untuk jadi model, kamu ga harus punya tubuh yang kurus loh. Gak percaya? Nih, Plus Sized-Model asal Korea Selatan, Yeom .. more