Men Without Women: Pentingkah Perempuan di Mata Murakami?

9 months ago
Sumber: twitter.com/nbsalert

Bukan hal yang mengagetkan jika Haruki Murakami banyak menggali kesendirian, kesepian, dan kesuraman hidup, sebab biasanya buku yang ia tulis tidak jauh dari hal-hal semacam itu. Dan tiba-tiba “Men Without Women” muncul bagai harapan baru yang cukup membuat saya antusias untuk membacanya karena judulnya yang terkesan ingin meniadakan perempuan, malah membahas banyak hal tentang perempuan itu sendiri.

“Men Without Women” merupakan buku kumpulan cerpen yang terbagi atas tujuh cerpen super panjang. Buku ini bisa dikatakan seperti pengemasan kembali cerpen-cerpen lawas Murakami dalam satu jilid dengan satu tema. Tulisan Murakami yang sering kali mengarah pada hal surealis mencoba menjelaskan banyak hal realistis dengan gaya filosofis sederhana.

Tujuh cerpen yang terkandung dalam buku ini, hadir dengan satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan semua isinya, “keingintahuan”. Murakami membuat pembaca tidak bisa berhenti untuk menggali komponen cerita, hingga pada kata terakhir yang menutup setiap cerpennya. Ada banyak renungan panjang yang awalnya terasa remeh, tetapi justru malah menampar kita dengan fakta, bahwa demikianlah kehidupan bergerak.

Sumber: www.theguardian.com

Sumber: www.theguardian.com

Seperti cerpen pembukanya yang berjudul “Drive my Car” tentang seorang laki-laki bernama Kafuku yang memiliki lubang besar di dadanya tentang mendiang istrinya. Cerpen pembuka ini benar-benar menyiratkan kerapuhan dan ketidakberdayaan se,orang laki-laki setelah sang istri meninggal dunia.

Kafuku tahu bahwa selama hidup mereka sang istri sering kali berselingkuh. Hingga muncul pertanyaan mengapa perselingkungan itu terjadi? Apa yang membuat istrinya berpaling darinya? padahal Kafuku adalah seorang aktor yang cukup terkenal.

Rentetan pertanyaan itu terus mengusik Kafuku dan parahnya ia tidak lagi punya kesempatan untuk bertanya langsung pada sang istri.

Murakami mencoba menggali perasaan terpendam manusia dengan banyak keingintahuan yang tertanam di jiwa setiap orang, namun secara bersamaan juga menyiratkan kepada pembaca bahwa terkadang kita sebagai manusia yang “merasa beradab” terlalu banyak mengulur waktu untuk bertanya dan menghadapi kenyataan dari jawaban yang akan diterima.

Mungkin faktor ketakutan seperti takut ditinggalkan, takut hancur dan ketika semua waktu yang dimiliki sudah tidak ada lagi, kita akhirnya menjadi makhluk yang penuh sesal.

Sumber: www.ft.com

Sumber: www.ft.com

Kebiasaan Murakami memberikan solusi pada ceritanya biasanya diakhiri dengan banyak tanda tanya dan kadang ambigu. Walau nyatanya semua solusi yang ia tawarkan terletak pada dialog padat yang ia bangun dengan sangat cermen di bagian isi cerita itu sendiri. Seperti pada cerpen “Drive my Car” ini, Murakami mencoba memberikan solusi lewat karakter bernama Misaki, perempuan yang dipercaya oleh Kafuku untuk menjadi sopir pribadinya. Hingga akhirnya beberapa kabut yang selalu menghiasi kepala Kafuku tentang mendiang istrinya, tersingkap penuh pilu.

Ada juga cerpen yang berjudul “Scheherazade”. Iya, kalian gak salah baca. Judulnya memang “Sacheherazade”, seperti nama ratu Persia yang muncul dalam kisah 1001 malam. Mirip seperti 1001 malam, sosok  perempuan bernama Scheherazade dalam cerpen ini juga setiap malam membagikan cerita pada seorang laki-laki. Jika di 1001 malam cerita disampaikan untuk menghibur raja Shahrayar, maka dalam cerpen ini cerita itu dibagikan kepada seorang laki-laki bernama Habara.

Cerpen “Scheherazade” lebih kepada rasa penasaran seorang laki-laki pada perempuan yang sering ditemuinya, namun tidak benar-benar dikenalinya. Hal ini sudah sangat sering terjadi di kehidupan nyata. Kadang kita seakan mengenal seseorang dan merasa tahu banyak tentang orang itu, walau nyatanya kita tidak benar-benar mengenalnya.

Sumber: www.theatlantic.com

Sumber: www.theatlantic.com

Biasanya saat kita mengenal seseorang, tanpa sadar kita akan mengingat apa saja yang pernah dia lakukan. Tapi setelah dipikir dengan benar, ternyata kita benar-benar tidak mengenal orang itu dengan baik. Mungkin jika bisa di konvers ke zaman sekarang ini, seperti kesok-tahuan kita pada hidup seorang artis yang pada nyatanya tidak benar-benar kita tahu.

Murakami punya selera humor yang agak aneh. Dia sering kali menyelipkan candaan tragis dalam kisah-kisahnya seperti dalam cerpen “An Independent Organ”. Kisah tentang seorang dokter kecantikan bernama Takai yang sedang jatuh cinta.

Cara Murakami mengolok-ngolok kehidupan dokter Takai terkesan lucu namun juga tragis secara bersamaan, yah ala-ala dark humor, gitu. Ada satu adegan ketika ia begitu kehilangan lalu berseru “I don’t care if they hit a pedestrain on the head and kill him.” Jelas ini berupa sindiran yang mencerminkan kepribadian seseorang, walau penghakiman seperti ini tidak bisa dinilai hanya karena satu kalimat yang begitu kasar disituasi yang tidak tepat. Hingga kalimat itu disambut dengan sebuah pengakuan yang tragis. “Who in the world am I?”.

Sumber: paddle8.com

Sumber: paddle8.com

Cerpen-cerpen dalam buku “Men Without Women” sama seperti kebanyakan karya Murakami yang selalu enak dibaca, aneh, dan tidak memuaskan (ini dalam konteks pembaca pasti berharap cerpen itu tidak berakhir). Jika ditanya apa yang membuat buku ini sangat menarik? Maka saya tidak bisa menjawab itu dengan pasti sebab tujuh cerpen yang terkadang di dalamnya punya kelebihan dan kekurangannya tersendiri.

Setelah membaca beberapa cerpen Murakami dalam buku ini terkadang saya merasa Murakami bukan pemberi solusi yang baik, namun ia penyaji cerita yang baik. Seperti cerpen berjudul “Kino” dan “Yesterday” yang memiliki cerita berputar-putar tentang pencarian jati diri baru dalam karakter-karakternya, seolah Murakami ingin menyampaikan bahwa  di dunia ini ada banyak orang hidup hanya karena bertahan dan menjalaninya tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka cari.

Sumber: twitter.com/yeaharip

Sumber: twitter.com/yeaharip

Buku ini ditutup dengan cerpen berjudul “Men Without Women”, seperti judul bukunya yang menjadikan cerpen ini sebagai cerpen pamungkas yang sangat berkesan. Seperti apa kisahnya, saya harap kalian benar-benar penasaran akan hal ini, jadi lebih baik kalian membacanya sendiri dan merasakan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Muakami tentang laki-laki jika tanpa perempuan.

Apa jadinya kita (laki-laki) tanpa perempuan? Sepertinya kita semua harus tahu tentang ini!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Dua raksasa industri komik superheroes Amerika. Sumber gambar: medium.com

DC Comics VS Marvel Comics: Dua Tetangga Yang Jarang Akur

Kemiripan dan persamaan yang terjadi dalam komik-komik DC Comics vs Marvel Comics membentuk kubu-kubu fans garis keras y.. more

00-d-ikkubaru-asia-rolling

Band Indonesia ikkubaru Tampil di Festival Musik Terbesar di Taiwan!

Band indie ikkubaru akan mewakili Indonesia di Asia Rolling Music Festival, sebuah festival musik terbesar di negara Tai.. more

cloverlines

Komik Cloverlines Akan Go International Lewat Kickstarter!

Cloverlines, komik Indonesia karangan Wednesday Ash, asteriesling dan nachocobana akan terbit secara internasional lewat.. more

00-d-crazy-rich-authors

Workshop Komik Ini Hanya Untuk Crazy Rich Authors!

Memang #tidakmurah, tapi Crazy Rich Authors Workshop bisa membantu para author komik meningkatkan skill mereka ke level .. more

Deretan produk di event Google San Francisco 2017. Sumber gambar: bgr.com

“Made By Google, Google Pixel Event”: Event Tandingan Dari Google Untuk Apple

Apple mengadakan event peluncuran smartphone terkini mereka, iPhone X beserta iPhone 8 dan 8 Plus, yang dikritik fans A.. more