Mengapa Angka Kelahiran Jepang Semakin Menurun Tiap Tahunnya?

6 months ago
Semakin minimnya angka kelahiran di Jepang (Sumber: Reuters.com)

Angka kelahiran di Jepang menunjukkan penurunan drastis. Apalagi di tahun 2016, yang di mana merupakan angka terendah semenjak tahun 1899. Data pemerintah di tahun 2016 menunjukkan hanya  976,979 bayi yang lahir di Jepang, angka kelahiran yang kurang dari satu juta ini menjadi concern serius bagi pemerintah Jepang. Semakin menurunnya jumlah populasi tersebut dikhawatirkan akan berakibat pada minimnya jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Padahal berbagai macam program sudah dilakukan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe dalam meningkatkan angka kelahiran, tapi tetap saja tidak membuahkan hasil. Sebenarnya apa sih yang menyebabkan penurunan drastis ini bisa terjadi?

(Sumber: deviantart.net)

(Sumber: deviantart.net)

 

Grafik birth rate di Jepang (Sumber: Washington post)

Grafik birth rate di Jepang (Sumber: Washington post)

Dalam sebuah keluarga Jepang, biasanya laki-laki berperan sebagai tulang punggung keluarga dan perempuan tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Namun, dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat saat ini, anak muda Jepang cenderung lebih memilih untuk hidup mandiri saja. Karena, jika tidak terikat dan membangun sebuah hubungan, mereka merasa tidak wajib untuk menanggung beban hidup sebuah keluarga. Apalagi dalam membangun sebuah hubungan tak menutup kemungkinan akan mendatangkan berbagai permasalahan, seperti keuangan.

Kebanyakan anak muda di Jepang lebih memilih karir dibanding berumah tangga. (Sumber: polskatimes)

Kebanyakan anak muda di Jepang lebih memilih karir dibanding berumah tangga. (Sumber: polskatimes)

Hasil pemikiran anak muda itulah yang mengakibatkan angka kelahiran semakin menurun. Banyak anak muda terutama wanita yang lebih memilih untuk mengejar karir dan kebebasan dibandingkan dengan punya pacar, settle down, menikah, ataupun punya anak. Kehidupan anak muda di Jepang juga diisi dengan banyaknya pekerjaan dan kesibukan, membuat mereka gak ada waktu memikirkan tentang kekosongan dari minimnya koneksi dengan manusia lain.

Kehidupan di Jepang yang strict dan sibuk, membuat mereka tidak punya waktu untuk memikirkan rumah tangga (Sumber: independent.co.uk)

Kehidupan di Jepang yang strict dan sibuk, membuat mereka tidak punya waktu untuk memikirkan rumah tangga (Sumber: independent.co.uk)

Ditambah lagi dengan banyaknya berita mengenai kasus perceraian dan masalah dalam rumah tangga yang membuat anak muda enggan untuk menikah. Seperti yang kita tahu, masyarakat Jepang sangat memikirkan masa depan mereka dengan matang agar tidak menyesal nantinya dan menghabiskan masa muda mereka dengan membuang waktu. Belum lagi dengan tingginya biaya hidup di Jepang, membuat anak muda berpikir beribu kali sebelum memutuskan untuk menikah dan memiliki anak. Saat suatu keluarga memutuskan untuk memiliki anak, itu berarti sang ibu harus siap merawat anaknya di rumah sepanjang waktu. Sementara dengan perubahan gaya hidup saat ini serta feminism yang semakin digalakkan, membuat banyak wanita memilih meneruskan karir mereka dan berkarya dibandingkan stay di rumah.

(Sumber: dailymail)

(Sumber: dailymail)

Hal ini juga terjadi di Korea Selatan, di mana angka kelahiran terlihat menurun setiap tahunnya. Pemerintahan dari Korea Selatan bahkan menawarkan kebijakan bersalin, dengan memberikan uang saku dan baju untuk bayi yang baru lahir. Tapi setiap usaha yang dilakukan tetap saja menuai komentar negatif seperti komentar bahwa wanita bukan mesin untuk membuat bayi. Sulit dan mahalnya biaya kebutuhan hidup dan pendidikan membuat banyak orang berpikir kalau berhenti kerja untuk merawat anak merupakan keputusan yang sulit untuk dilakukan. Alasan tersebutlah yang membuat anak muda di Jepang dan Korea memilih untuk tidak menikah dan hanya ingin punya satu anak atau bahkan tidak sama sekali.

About Author

Lisa

Lisa

Lisa is a journalist student from Jakarta who always find writing as a very amusing hobby. She believes that even when the writer's soul is staying, a writing can travels anywhere. Lisa is on her way to achieve a bachelor degree and her own life bucket list."

Comments

Most
Popular

(from : otakukart.com)

Meski Kalah Rating, One Piece Tetap Terpopuler

Jika kita membicarakan tentang kepopuleran, tentu saja anime One Piece lebih populer karena selalu mendapatkan rating ya.. more

Asal Usul Seragam Sekolah Sailor Khas Jepang, Seifuku

Ingatkah kalian dengan seragam siswi sekolah Jepang yang dikenakan pada film animasi sailormoon dulu? Film ini banyak di.. more

Sabrina – Chapter 13: The Name on the Glass

Sabrina terbangun dan langsung membuka laptop. Ia merevisi beberapa detail, menambah aksen di sana-sini, dan voila!.. more

Sumber: Duniaku.net

Breaking News: CIAYO Corp Akan Garap Komik, Game, dan Film Animasi Vandaria Saga

Melanjutkan pengumuman tentang logo baru CIAYO Corp,langkah strategis perdana yang dilakukan oleh CIAYO Corp ini adalah .. more

Yogadanu: Di Balik Kesuksesan Soekirman, Mbok De dan Galaxin

Ga cuma pinter bikin cerita, tapi pria kelahiran Bogor ini memang pandai dalam mengelola Intellectual Property... more