Mengapa Sinetron ‘Law Procedural’ Tidak Ada Di Indonesia?

4 weeks ago
LawProcedural-thumb

Sinetron, atau sinema elektronik, merupakan bagian integral dari paket hiburan yang diberikan oleh sebuah televisi melalui production house dan channel yang ada di Indonesia. Tentu saja sinetron bukan merupakan produk ekslusif negara kita Indonesia, karena sinetron adalah produk global yang memiliki nama berbeda-beda di setiap negara. Jika di Amerika orang menyebutnya sebagai TV series/drama/show, kita menyebutnya dengan kata ‘sinetron’.

Benda yang sama, dengan penyebutan yang berbeda.

Sebagai produk tontonan dramatis, sinetron merupakan bentuk modern dari drama panggung di era pra televisi. Jika dulu sebuah drama dipentaskan di atas panggung (Broadway, Wayang Orang, Opera dll), maka kini semangat dan konsep yang sama dibuat untuk konsumsi yang lebih luas dan global.

LawProcedural-broadway

Panggung teater Broadway. (Sumber: JCJoel)

Tidak perlu pergi ke Broadway New York lagi untuk menikmati sebuah tontonan dramatis. Kini cukup menyalakan televisi dan pilih sendiri drama macam apa yang mau ditonton.

LawProcedural-nyalakantv

Sumber: YouTube

Pernahkah kamu memperhatikan kalau sinetron di televisi Indonesia tidak pernah mengangkat tema “edukasi-hukum-plus-hiburan” sebagai produk jualan mereka?

Sejak Orde Baru hingga hari ini, kita bisa lihat kalau tema sinetron televisi di Indonesia tidak pernah menyentuh bagian/tema soal hukum ataupun elemennya (polisi, tentara dll). Ingat sinetron bule “Hunter” (1984-1991)? Sepertinya hanya mereka yang pernah merasakan monopoli TVRI saja yang mungkin ingat sinetron tentang detektif jagoan Rick Hunter itu ya…

LawProcedural-Hunter

Sumber: YouTube

Sementara di era yang sama, sinetron Indonesia baru mulai marak dengan tema-tema ‘aman tentram’ seperti drama keluarga “Losmen” atau “Jendela Rumah Kita”, yang melambungkan nama Dede Yusuf ke deretan superstar Indonesia pada masa itu.

LawProcedural-Jendela Rumah

Sumber: YouTube

Ada kecenderungan kalau rumah produksi sinetron Indonesia, sejak jaman Orde Baru hingga hari, menghindari tema edukatif dengan dibalut kemasan hiburan di industri sinetron. Mengapa?

Di saat Amerika Serikat ‘mengajarkan hukum’ pada warganya melalui sinetron bertema pengadilan seperti “Law and Order” (1990-2010) atau “LA Law” (1986-1994), rumah produksi sinetron Indonesia malah lebih memberikan tontonan dengan tema ‘si kaya versus si miskin’.

Memang harus diakui, beberapa dari sinetron model ini ada yang bagus; sebut saja seperti “Sayekti dan Hanafi” dan “Keluarga Cemara”. Tapi keduanya ‘hanya’ memberikan sebuah pesan dan spirit perjuangan dalam menghadapi kesulitan dalam hidup. Bukan sebuah edukasi yang lebih spesifik, seperti gambaran lika liku sistem hukum pengadilan yang diberikan oleh “Law and Order” misalnya.

LawProcedural-law&order

Sumber: TV.Com

Seperti ada kecenderungan buat rumah produksi sinetron Indonesia untuk hanya memberi hiburan semu dan bahkan membodohi melalui sinetron-sinetron yang beredar di televisi Indonesia.

Komedi (slapstick) plus ‘variety show’ yang lebih berupa aksi seru-seruan/lucu-lucuan mendominasi televisi Indonesia. Sinetron drama? Ada. Tapi lebih ke gambaran ‘ultra unrealistic’ alias terlalu menjual mimpi manis. Kisah anak-anak sekolahan? Ada. Tapi jauh dari kata “berkualitas” karena hanya berputar di sekitar bully dari anak kaya ke anak miskin.

Bagian terburuk mungkin ‘sinetron’ eksploitasi orang miskin dengan narasi menyayat hati meminta belas kasihan lewat sebuah show televisi.

LawProcedural-MikrofonPH

Setiap hari Indonesia mendapatkan asupan seperti ini dari televisi. (Sumber: Liputan6)

Pernah ingat tidak sinetron Indonesia yang bertema jagoan seorang polisi cerdas seperti yang bisa dilihat di “CSI: Miami” (2002)? Atau soal dokter pengidap Messiah Complex seperti di sinetron bertema kedokteran “House, MD” (2004-2012)?

LawProcedural-MIDHouse

Sinetron drama medis yang BAGUS BANGET WAJIB NONTON! (Sumber: CyrilDason)

Sama. Saya juga tidak bisa ingat.

Tak hanya sinetron soal hukum, medis atau  hal-hal edukatif publik lainnya. Tema patriotisme juga seperti dihindari oleh rumah produksi sinetron Indonesia. Tak perlu jauh ke Amerika Serikat; untuk bagian ini kita bisa lihat ke Korea Selatan saja. Ingat sinetron soal tentara Korea “Descendants of the Sun”? Tema seperti ini seperti sebuah alergi bagi produsen sinetron Indonesia.

LawProcedural-DOTS

Descendants of the Sun. (Sumber: Soompi)

Apa yang Salah Dari Law Procedural?

Secara umum, dapat dikatakan kalau sinetron televisi Indonesia tidak menggunakan tema-tema berat seperti law procedural / berhubungan dengan hukum ataupun ‘dramatic action’ yang melibatkan aksi para penegak hukum seperti polisi, jaksa maupun pengacara. Bahkan dalam format komedik sekalipun; seperti misalnya sinetron tentang sebuah kantor polisi / Polres “Brooklyn Nine Nine” (2013). Di sinetron tentang kehidupan sekelompok polisi itu, situasinya adalah komedi dicampur drama dan aksi.

LawProcedural-brooklyn99

Sumber: Affinity Magazine USA

Jadi memang sulit untuk menemukan jawaban definitif “mengapa sinetron dengan tema lebih edutainment tidak dibuat di Indonesia”.

Pihak produser dan rumah produksi biasa berkelit dan membuat alasan kalau sinetron seperti itu tidak akan laku di pasaran. Karena penonton Indonesia senangnya yang lucu-lucu, yang norak, menghibur tanpa harus membuat berpikir. Jadilah mereka membuat sinetron yang memenuhi permintaan pasar tersebut.

Tapi buat saya jawaban dari situasi tadi adalah karena mereka, para produser sinetron Indonesia, memang tidak punya niatan untuk membuat bangsa Indonesia mampu berpikir maju, taktis, logis dan memahami hal-hal penting dalam kehidupan sosial seperti ‘due process’ maupun sebuah prosedural lewat produk sinetron.

Secara singkat: mereka tidak ingin bangsa besar ini menjadi pintar dan mampu berpikir.

Harus diakui kalau televisi merupakan sarana dan medium terbaik dalam menyampaikan informasi dan hiburan ke publik selain internet. Ingat dulu di jaman Orde Baru ada stasiun televisi yang mencoba menggarap bidang edukasi + entertainment bernama “Televisi Pendidikan Indonesia / TPI”? Itu sebuah terobosan bagus yang sayang sekali tidak dilanjutkan karena berbagai alasan.

LawProcedural-TPI

Konsep maju televisi dari jaman Orde Baru yang kalah bersaing dengan program non edutainment. (Sumber: Agenda18)

Saya tidak tahu apakah suatu hari industri sinetron Indonesia akan mulai beranjak ke tema-tema yang lebih memberi penonton Indonesia suatu hiburan yang juga informatif tentang berbagai hal penting kehidupan sosial; seperti prosedur pengadilan, dunia medis maupun pemecahan kasus kejahatan lewat aksi petugas forensik kepolisian seperti sinetron luar negeri. Tapi saya harap saya masih hidup saat masa itu tiba.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

00-d-dawn-animation

Dawn Animation Tayangkan Animasi Lokal di Ponimu

Animasi Lukisan Nafas dan WachtenStaad karya studio lokal Dawn Animation kini bisa disaksikan di situs anime Ponimu seca.. more

00-volt-d

6 Tahun Volt Dan Mimpi Marcelino Lefrandt Membangkitkan Superhero Lokal

Di bulan Maret 2018 ini, superhero Indonesia Volt merayakan ulang tahunnya ke-6. Diciptakan oleh Marcelino Lefrandt, Vol.. more

Game Dari Indonesia Ini Di-review Sebagai Game Casual Terbaik Di Russia

Indonesia patut berbangga, karena dewasa ini, game-game buatan anak bangsa mulai dilirik pasar Internasional. Industri y.. more

Pokemon Game

Ingin Coba Main Pokémon? Kamu Harus Mulai dari Game Ini!

Setelah merasakan fenomena Pokémon selama lebih dari 15 tahun di sekeliling kita, mungkin bro sis penasaran, sebenarnya.. more

solo-a-star-wars-story-desktop

Review Solo: A Star Wars Story – Kisah Han Solo Baru Dimulai

Kisah Han Solo berakhir di The Force Awakens. Namun perjalanan hidupnya tetap abadi lewat film prekuel Solo: A Star Wars.. more