Mengukur Penting Tidaknya Pengaruh Sebuah Review Di Video Game

1 year ago
Menjadi gamer yang punya prinsip. Sumber gambar: digitaltrends.com

Bro sis pernah nggak, memainkan atau membeli video game karena membaca/terpengaruh oleh sebuah review?

Review video game bukan hanya berasal dari komentar atau perkataan teman/kenalan kita, namun juga berasal dari situs/website berita yang fokus pada informasi video games. Ada banyak sekali tempat seperti itu, seperti misalnya Metacritic atau website berita gaming (Kotaku, IGN, Polygon, dll).

Beberapa orang memang memilih membaca review terlebih dahulu, sebelum memutuskan membeli atau memainkan sebuah video game. Sementara beberapa lainnya tidak peduli apa yang dikatakan/dinilai oleh para reviewers internet dan membuat keputusan mereka sendiri.

Sebenarnya penting nggak sih, sebuah review? Apa review memang berpengaruh pada pengambilan keputusan bro sis? Review dari seseorang merupakan kenyataan dan kepastian?

Buat saya sih tidak. Karena sifat dari sebuah review merupakan “selera pribadi”. Satu benda yang sama akan memberikan dua kesan yang berbeda dari dua orang yang berbeda pula. Plus, sebuah review terkadang dijadikan “bisnis” untuk mendongkrak (atau sebaliknya, menjatuhkan) gengsi sebuah judul produk sehingga penjualannya diharapkan meningkat.

Sebuah review video game merupakan pendapat/opini pribadi dari reviewer. Dan karena sifatnya itu, sebuah review lebih sering bersifat bias ketimbang balance. Karena apa? Masalah selera.

Dulu banget, saya “tertipu” dengan review sebuah game berjudul “Powerslave” untuk PlayStation One. Menurut review yang saya baca, game ini terkesan keren banget. Seru. Worth it. Dan saat itu, berbekal informasi tersebut, saya membeli game-nya dan mencoba main.

Review dan komparasi “Powerslave”. Sumber gambar: youtube.com

Review dan komparasi “Powerslave”. Sumber gambar: youtube.com

Apakah pendapat saya sama dengan reviewer tadi setelah memainkannya?

Unfortunately no. Tidak sama sekali. Walau saya akui game ini memang bukan genre yang saya sukai tapi grafisnya cukup keren (pada masanya). Di era itu, 1st person shooter di console baru mulai. Hasilnya tentu saja tidak sekeren Battlefield 1 ataupun Call Of Duty di era sekarang.

Game 1st Person Shooter keren “Battlefield 1”. Sumber gambar: dsogaming.com

Game 1st Person Shooter keren “Battlefield 1”. Sumber gambar: dsogaming.com

Review punya kekuatan seperti itu. Mempengaruhi calon pembeli.

Tentu ada review video game yang sesuai dengan selera kita. Tapi bro sis idealnya tidak boleh sangat mempercayai review sebuah video game.

Beberapa hari yang lalu, di Metacritic bermunculan review-review bernada positif mengenai game “Assassins Creed: Origins”. Review-review tersebut dicurigai sebagai review palsu atau buatan ‘bot engine’ karena banyak memiliki persamaan satu dengan lainnya. Plus bahasa yang digunakan merupakan ‘gibberish english’ atau bahasa Inggris yang ‘little-little I can lah’ alias bukan merupakan bahasa Inggris baku.

“Fake positive reviews” seperti ini menyesatkan dan tidak etis. Sumber gambar: kotaku.com

“Fake positive reviews” seperti ini menyesatkan dan tidak etis. Sumber gambar: kotaku.com

Review ‘pesanan’ seperti itu jelas merupakan usaha dagang. Usaha untuk menaikkan pamor/citra produk agar calon pembeli jadi yakin untuk membeli. Metode semacam ini semakin marak dilakukan para publisher video game demi penjualan produk mereka.

Review video game yang ideal adalah review yang mencantumkan plus minus game tersebut dari sudut pandang reviewer-nya. Tak melulu hanya mengangkat hal-hal oke namun juga hal-hal negatif dari game yang di-review. Dengan begitu, sebuah review akan memiliki kesan ‘non-blok’ alias tidak memihak sehingga kredibilitasnya terjaga, dan dapat mempengaruhi calon pembeli game tadi untuk mengambil keputusan.

Sebuah review bukanlah kepastian, tapi bro sis bisa menjadikannya sebagai sebuah masukan. Jangan langsung terpengaruh pada isi sebuah review, karena hampir pasti selera reviewer dengan selera bro sis berbeda. Apa yang dia sukai, belum tentu bro sis juga suka.

Buat saya, review video game perlu untuk mendapatkan gambaran kira-kira seperti apa game itu dari sudut pandang seseorang. Tapi keputusan akhir apakah game itu “keren atau tidak keren” ada di saya sendiri, karena yang akan memainkan game itu ya saya sendiri.

Game ini keren menurut reviewers. Teman juga bilang begitu. Setelah saya coba sendiri, ternyata emang keren banget. Must buy and play! Sumber gambar: store.steampowered.com

Game ini keren menurut reviewers. Teman juga bilang begitu. Setelah saya coba sendiri, ternyata emang keren banget. Must buy and play! Sumber gambar: store.steampowered.com

Review video game itu berpengaruh. Tapi tidak selalu harus berhasil mempengaruhi bro sis untuk membeli atau memainkan game yang di-review. Bro sis harus punya opini sendiri, walau sebenarnya memang setuju dengan sebuah review video game.

Kalau bro sis punya pengalaman seputar review video game, bisa share ya!

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

BEKRAF Game Prime 2017 Bakal Seru!

Bro sis ada yang tahu sama acara Game Prime? Itu loh acara konferensi, seminar, dan pameran game terbesar di Indonesia.. more

CIAYO Comics Club #2

CIAYO Comics Club #2: CIAYO Comics Belum Kehilangan Taji

CIAYO Comics Club #2 jadi tempat buat merayakan ulang tahun kedua CIAYO Comics sekaligus mengapresiasi karya para author.. more

00-d-ponimu-egoist-festival

Sambut Kedatangan EGOIST Dengan Diskon Ponimu EGOIST Festival!

Lewat EGOIST Festival, Ponimu memberi diskon streaming anime. Potongan harga ini hanya terbatas dalam 3 hari saja!.. more

Sumber: pinterest.com

Istilah ‘Kabedon’ yang Populer Namun Berbahaya Jika Dilakukan di Kehidupan Nyata

Kabedon ini risky dan berbahaya kalau dicoba dalam kehidupan nyata karena..... more

Fireworks ini adapatasi dari drama Jepang di tahun 1953 (Sumber: tumblr)

Anime Fireworks: Sebuah Kisah Tentang Perbedaan Perspektif (Should We See from the Side or the Bottom)?

Film anime Fireworks alias Uchiage Hanabi mengisahkan hubungan antara sepasang remaja dan perbedaan perspektif di antara.. more