You Were Never Really Here : Saat Keadilan Membuat Hidup Penuh Luka

3 months ago
sumber: www.youwereneverreallyhere.movie

Tema tentang keadilan saya rasa sudah sangat sering diangkat ke dalam film, namun membicarakan tentang keadilan sering kali menciptakan ketimpangan pesfektif yang tidak pernah bisa dikatakan adil. Dalam sebuah film aksi, kita sering kali diracuni dengan tindakan brutal manusia untuk membunuh manusia lain atas nama keadilan, dan anehnya kita sebagai penonton bisa menerima paradigma semacam itu, seolah-olah membunuh seorang penjahat adalah sesuatu yang lumrah dan tidak meninggalkan bekas berupa luka atau tekanan batin pada karakter yang kita yakini sebagai protagonis.

You Were Never Really Here” mencoba memperbaiki pandangan kita tentang makna dari sebuah keadilan. Kita akan dibawa pada kisah hidup seorang lelaki bernama Joe (Joaquin Phoenix). Joe hidup dengan banyak bekas luka yang tertoreh disepanjang hidupnya.

sumber: www.nofspodcast.com

sumber: www.nofspodcast.com

Seperti yang saya jelaskan di atas, bahwa biasanya jika seorang protagonis membunuh atau melakukan sesuatu mengerikan pada karakter antagonis maka hal itu terasa wajar saja. Hal ini tidak berlaku pada film ini, Laynne Ramsay selaku sutradara sekaligus penulis skenario menjadikan semua itu sebagai senjata utama yang akan membuat penonton merasa bahwa keadilan tidak pernah terlihat sederhana.

Emosi karakter Joe yang dibangun menciptakan keruntuhan psikologis. Sungguh sesuatu yang sangat murung bisa melihat seorang yang mencoba berjalan di jalur kebenaran akan tetapi dihantui oleh perasaan bersalah serta luka yang melekat dan membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

sumber: www.imdb.com

sumber: www.imdb.com

Hal menarik lainnya yang dimiliki oleh “You Were Never Really Here” ialah, fakta bahwa Joe hanyalah manusia pinggiran terabaikan yang hidup dilingkungan keras, di mana keberutalan manusia hadir setiap harinya. Sisi kemanusiaan yang dimiliki film ini membuat kita bisa menelusuri kehidupan kumuh yang membentuk sebuah karakter karena faktor lingkungan dan keadaan yang memaksa.

Fakta lain bahwa Joe juga merawat ibunya yang sudah sangat tua sembari memiliki misi penyelamatan terhadap gadis-gadis yang hilang, berhasil memberikan rasa simpatik mendalam pada penonton bahwa selalu ada alasan bagi Joe untuk terus bertahan walau sesungguhnya ia sudah hampir menyerah atas hidupnya sendiri.

sumber: www.thetimes.co.uk

sumber: www.thetimes.co.uk

Plot utama “You Were Never Really Here” dimulai ketika Joe mencari putri seorang politikus yang hilang, dan ternyata  terjebak dalam dunia eksploitasi sadis. Saya rasa film ini hadir dengan banyak unsur yang lengkap untuk sebuah film ber-genre; drama, misteri, dan thriller. Hadir dengan cerita yang provokatif, penuh konspirasi, banyak aksi, luka dan balas dendam, dan tentunya punya twish yang tidak tertebak.

Akting Joaquin Phoenix sungguh menampilkan kemampuan terbaiknya, bagaimana ia membawa karakter Joe dengan keseimbangan antara kerapuhan dan kemarahan sungguh perlu mendapat apresiasi lebih. Diawal kita diperlihatkan bagaimana sosok Joe yang coba menahan semua emosi sehingga ia terlihat seperti sosok kalah atas mentalnya sendiri. Lalu ketika memasuki bagian tidak terduga, semua letupan bom waktu yang coba dihitung sedari awal meledak dengan banyak hiburan. Mungkin saya bisa menyebut ini sebagai cara seorang yang punya luka mendalam di dalam dirinya untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

sumber: www.thedailybeast.com

sumber: www.thedailybeast.com

Mungkin sampai di sini kalian akan mengira bahwa “You Were Never Really Here” semacam film yang lebih menitik-beratkan adegan menyedihkan daripada aksi. Saya rasa itu sungguh penilaian yang salah. Lynne Ramsay seakan tahu bahwa semua penonton perlu lebih dari sekadar cerita bagus, tapi juga hiburan yang mengasikkan untuk ditonton. Dan film ini bergerak dengan kekuatan yang maksimal menuju semua kesimpulan cerdas tanpa harus mengorbankan adegan aksi yang keren.

sumber: anygoodfilms.com

sumber: anygoodfilms.com

Para penggemar film aksi dengan sentuhan misteri dan thriller wajib menonton film ini. Sebuah sajian yang bisa dipastikan akan membuat kalian semua sulit untuk melupakan jalur ceritanya yang benar-benar bagus. Walau hanya bergerak dalam rentan waktu 89 menit, akan tetapi film ini berhasil mengisi setiap menit dari durasi yang ada dengan adegan penting tanpa sedikit pun celah kesia-siaan.

Saya bisa menjamin, inilah salah satu film yang sebenarnya sedang kalian cari selama ini!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber: Justice League

Menanti Versi Blu-ray Justice League yang Senasib dengan Batman v Superman: Dawn of Justice

Fans mau tidak mau dipaksa harus beli Blu-ray film DCEU untuk melihat film DCEU secara utuh tanpa potongan... more

Mangafest Mythophobia, Festival Budaya Populer Jepang Besutan HIMAJE UGM

Mangafest UGM adalah festival budaya populer Jepang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang (HIMAJE) UGM. Ta.. more

(Sumber: Themarysue.com)

Spiderman Homecoming: Spiderman Millennial Ala Tom Holland (NO SPOILERS)

Terdapat sedikit keraguan saat pihak Marvel mengumumkan bahwa Tom Holland lah yang akan memerankan tokoh utama di film S.. more

CIAYO Pictures

Dari Challenge Hingga Official, Wonder Sweet

CIAYO Comics One Shot Challenge sudah selesai digelar. Event ini gak hanya meramaikan CIAYO Comics aja, tapi juga mengas.. more

00-d-his-barcode-tattoo

His Barcode Tattoo: Melihat Kematian Dari Barcode Misterius

Dimanakah His Barcode Tattoo si Sehyun? Dakota mampu melihat tanda barcode di leher semua orang yang menandakan tanggal .. more