Pasca “Skandal Cambridge Analytica”, Facebook Mulai Goyah?

3 months ago
(Sumber gambar: HealthThoroughfare)

Saat ini dunia sedang dikuasai (atau katakanlah ‘sangat terikat’) oleh yang namanya media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan berbagai jenis social media lain yang berkeliaran di internet. Jika dulu internet lebih ke sebuah hal ekstra dalam kehidupan, kini ceritanya sudah berbeda. Internet kini sudah jadi kebutuhan reguler.

Media sosial sukses menciptakan sebuah dunia dengan interkoneksi yang luar biasa luas dan nyaris tanpa batasan. Semua orang jadi dapat punya dua (atau lebih) kehidupan yang bisa dia jalani sehari-hari. Yaitu kehidupan di dunia nyata, serta kehidupan di dunia maya alias di internet.

Facebook masih jadi media yang terbesar, dengan pengguna aktif di kuartal ke-4 tahun 2017 sebesar 2.2 Milyar akun!

Facebook masih yang paling laku. (Sumber gambar: TechCrunch)

Facebook masih yang paling laku. (Sumber gambar: TechCrunch)

Itu catatan pengguna aktif bulanan, lho. Dan walau memang belum tentu semua akun Facebook merupakan akun manusia asli (banyak akun bot dan ‘hantu’ di media sosial), tapi setidaknya itu mengindikasikan kalau Facebook merupakan pilihan utama dalam ber-media sosial untuk banyak kalangan.

Saat Mark Zuckerberg masih merupakan mahasiswa universitas bergengsi Harvard tahun 2004, dia membuat sebuah proyek kecil-kecilan yang dia beri nama kode “The Facebook”. Dia berhasil mendapatkan dan mengelola data pribadi (seperti foto, alamat email, dan berbagai informasi pribadi penting lainnya) lebih dari 4.000 peserta proyek The Facebook tersebut.

Sebuah hal mengherankan; bahkan untuk dirinya sendiri. Sampai-sampai saat seorang temannya bertanya “Gimana caranya kamu mendapatkan informasi berharga seperti itu dengan mudahnya?”, Zuckerberg menjawab “Nggak tahu. Mereka kasih begitu saja. Mereka percaya sama gue. Orang-orang goblok”.

Mark Savage. (Sumber gambar: PoliticalCorrectness)

Mark Savage. (Sumber gambar: PoliticalCorrectness)

Percakapan itu, yang dilakukan melalui aplikasi chat, bocor ke publik dan menuai kecaman. Mark Zuckerberg sendiri mengaku menyesal akan kata-katanya itu saat diwawancarai oleh majalah New Yorker tahun 2010.

“Saya semakin tumbuh dewasa dan belajar banyak hal pasca kejadian memalukan tersebut” akunya.

Tapi sepertinya Mark tidak juga belajar soal bagaimana menghargai privasi orang yang memakai program buatannya.

Ini terlihat dari kehebohan “pencurian data pribadi” lebih dari 50 juta pengguna Facebook yang mengakibatkan kemarahan tidak hanya dari pemakai Facebook tapi juga investor (karena Facebook tercatat di bursa saham, yang artinya mereka adalah perusahaan publik seperti halnya Apple). Kejadian itu juga membuat pemerintah (regulator dan pembuat undang-undang) Amerika Serikat mulai mempertanyakan kebijakan Facebook dalam menjalankan bisnis, yang ditengarai mengabaikan aspek keamanan data.

“Skandal Cambridge Analytica” merupakan masalah terbaru buat Facebook. Dan sepertinya yang paling buruk sepanjang mereka berdiri sebagai perusahaan.

Jadi headline berita internasional. (Sumber gambar: CNBC)

Jadi headline berita internasional. (Sumber gambar: CNBC)

Sederhananya, Cambridge Analytica (sebuah firma data analisa politik yang berbasis di United Kingdom / Inggris Raya) secara tidak sah dan berhak berhasil mendapatkan data-data pribadi sebanyak 50 juta lebih pemilik akun Facebook di Amerika Serikat. Semua dilakukan tanpa sepengetahuan maupun ijin tertulis dari pemilik akun. Dan data-data ini kemudian dijual ke team kampanye capres Donald Trump pada pilpres Amerika Serikat, dengan tujuan memetakan karakteristik dan kebiasaan calon pemilih sebagai target kampanye.

Alexander Nix. CEO Cambridge Analytica. (Sumber gambar: Rediff)

Alexander Nix. CEO Cambridge Analytica. (Sumber gambar: Rediff)

Cambridge Analytica menggunakan metode “Kuis Kepribadian / Personality Test Quiz” yang merupakan metode mendapatkan data berbalut tampilan permainan Facebook. Kejadian tersebut terjadi di tahun 2013 melalui sejumlah aplikasi di Facebook. Pemain kuis tidak mengetahui/menyadari kalau data mereka sedang ‘ditambang’ saat menjalankan kuis serta aplikasi, dimana kemudian data itu dijual ke pihak lain untuk kepentingan politik.

Model diagram kuis yang dilakukan Cambridge Analytica. (Sumber gambar: Medium)

Model diagram kuis yang dilakukan Cambridge Analytica. (Sumber gambar: Medium)

Kecaman datang bertubi-tubi dan Facebook kembali dalam situasi yang membutuhkan penanganan segera.

Biasanya, Mark Zuckerberg akan membuat sebuah status panjang (mirip essay) di akun Facebook pribadi dia saat muncul masalah. Dan biasanya dia cepat melakukannya. Namun dalam kasus ‘data breach Cambridge Analytica’, Zucker tidak melakukannya. Setidaknya tidak segera melakukannya. Hal itu menimbulkan spekulasi kalau masalah yang terjadi lebih besar dan pelik dari yang sudah-sudah.

Dibuat 21 Maret 2018. (Sumber gambar: BrandChannel)

Dibuat 21 Maret 2018. (Sumber gambar: BrandChannel)

Salah satu indikatornya adalah jadwal pemanggilan Mark Zuckerberg dan jajaran eksekutif Facebook oleh United States Congress (semacam pemanggilan oleh DPR-RI pada WNI untuk dimintai keterangan) Senate Judiciary Committee tanggal 10 April 2018. Ini jelas hal besar.

Di tengah-tengah kekacauan ini, wajar kalau ada pihak yang ikut meramaikan. Salah satunya boss Apple, Tim Cook. Dalam wawancaranya dengan MSNBC, Cook meyentil situasi yang dialami oleh Facebook. “Privasi adalah hak asasi manusia” kata Cook. Dia menambahkan “Kami di Apple bisa mendapatkan uang milyaran dollar jika kami me-monetasi data pelanggan kami. Tapi tentu hal itu tidak akan pernah kami lakukan. Memastikan keamanan pelanggan adalah hal yang kami lakukan selama bertahun-tahun”. Mark Zuckerberg sendiri menanggapi komentar Tim Cook dengan dingin. “Apa yang terlihat tidak seperti yang sebenarnya terjadi” sebut Zuckerberg saat diwawancarai oleh Vox menanggapi komentar CEO Apple soal Cambridge Analytica.

CEO Apple, Tim Cook. (Sumber gambar: ReCode.Net)

CEO Apple, Tim Cook. (Sumber gambar: ReCode.Net)

Bukan sekali ini saja Facebook mengalami masalah berkenaan soal privasi penggunanya, dan skandal Cambridge Analytica mungkin bukan yang terakhir kali. Tapi yang jelas, skandal ini yang paling menyita perhatian publik karena berkaitan dengan Presiden terpilih Amerika Serikat, yang saat ini dicurigai mencurangi hasil pemilihan dengan bantuan pemerintah Russia. Sesuatu yang kerap jadi bahan komedi di acara talkshow “The Late Show with Stephen Colbert”.

Apakah Facebook mampu meraih kembali simpati publik? Melihat diagram di bawah, sepertinya tidak sulit. Saya yakin mereka akan mampu stabil kembali. Karena melepaskan diri dari ketergantungan akan Facebook masih sulit dilakukan untuk banyak penggunanya. Termasuk saya. Menyedihkan memang.

(Sumber gambar: Variety)

Sumber gambar: Variety

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

Sumber : CIAYO Comics

Pakdhe & Geng Bhinneka, Problematika Indonesia yang Dikemas dengan Santai

Pakdhe dan Geng Bhinneka, komik lokal yang membahas problematika di Indonesia. .. more

00-d-rediscover-yourself

Rediscover: Yourself

CIAYO Comics Challenge Vol. 3 semakin dekat. Jika kamu masih belum punya konsep untuk komikmu, maka post kali ini bisa m.. more

Sumber gambar: gonintendo.com

Game Nintendo Switch & 3DS Yang Akan Menyerbu Pasar Tahun 2018, Part. II

Berikut beberapa judul game untuk Nintendo Switch dan Nintendo 3DS yang akan menyerbu pasar game dunia. [PART II].. more

Dragon Ball Super 123: Kekuatan Maksimal Super Saiya Jin Blue!

Pembuka episode diawali dengan adegan terkaparnya Vegeta setelah diserang oleh Laser Merah dari Jiren... more

Sumber: coproductionoffice.eu

Seni Kontemporer yang Diolok-Olok dalam Film The Square

The Square memberitahu kita, bahwa seni bisa datang dari mana saja. Khususnya seni kontemporer. .. more