Seberapa Kuat Tuntutan PUBG Terhadap Fortnite?

1 month ago
00-d-pubg-menuntut-fortnite

Apa reaksi kamu saat mendengar dan membaca berita laporan berbagai outlet berita gaming dunia yang mengabarkan kalau perusahaan publisher game PUBG, atau “PlayerUnknown’’s BattleGrounds”, melakukan tuntutan hukum kepada publisher game “Fortnite” dengan tuduhan ‘pelanggaran hak cipta’ di Korea Selatan?

Kalau saya sih saat itu langsung tertawa.

Tentu ada alasannya mengapa saya malah menertawakan kasus ‘serius’ ini. Yaitu karena saya tidak menyangka kalau PUBG Corporation bisa-bisanya mengambil langkah tuntutan hukum kepada game lain ber-genre sama dengan PUBG dengan alasan ‘pelanggaran hak cipta’. Ini hal luar biasa absurd!

Dilihat dari penampilan dan presentasi kedua judul game itu, satu-satunya yang dapat disebut ‘kemiripan’ hanyalah genre yang digunakan. Yaitu gameplay ‘Battle Royale’. Dalam kasus ini, PUBG Corporation menganggap Fortnite meniru konsep gameplay yang mereka buat di game PUBG. Disinilah letak ke-absurd-an tuntutan hukum yang mereka ajukan. Mengapa demikian?

Karena tidak ada yang berhak/bisa meng-klaim kepemilikan sebuah genre!

PUBG Corporation mungkin menganggap kalau game buatan mereka adalah ‘pemilik genre battle royale’. Itu jelas hal ngawur.

Istilah ‘Battle Royale’ sendiri bahkan bukan dipopulerkan oleh mereka, namun dari novel serta film Jepang klasik karya Koushun Takami “Battle Royale.” Jadi usaha PUBG Corporation yang berusaha meng-asosiasikan istilah (dan genre) ‘Battle Royale’ sebagai properties mereka itu nggak punya kekuatan hukum apapun.

pubg menuntut fortnite

Novel “Battle Royale.” Sumber: HaikaSoru

Mustahil PUBG menuntut Fortnite karena tidak mungkin meng-klaim kepemilikan sebuah genre

Kalau sebuah genre dapat dimiliki seseorang maupun korporasi, bayangkan kekacauan yang timbul. Kalau dilihat dari penggunaannya, game Arma II atau H1Z1 atau DayZ sudah duluan mengusung genre ‘bertempur rame-rame’ alias battle royale.

Sumber: KeenGamer

Sumber: KeenGamer

Terus gimana pula dengan genre 1st Person Shooting / FPS selepas Wolfenstein atau Doom? Apa keduanya meng-klaim sebagai pemilik genre FPS? Tentu tidak. Karena genre tidak bisa dimiliki. Genre tidak bisa dilindungi dengan hak cipta untuk individu ataupun kelompok.

Wolfenstein 3D. Sumber: NerdBurglars

Wolfenstein 3D. Sumber: NerdBurglars

Sesuatu yang umum tidak dapat dimiliki ‘hak cipta’ nya

Mungkin di antara kamu ada yang ingat kasus sengketa paten yang melibatkan nama “Kopitiam” yang di-klaim seseorang sebagai property dia. Sementara arti nama “Kopitiam” adalah “Warung Kopi”. Sesuatu kata yang bersifat umum. Kasus ngawur itu pernah terjadi di RI ini. Makanya saat membaca kalau PUBG menuntut Fortnite dengan alasan ‘hak cipta’ saya merasa lucu dan teringat kasus Kopitiam tersebut. Situasinya mirip.

“Warung Kopi” merupakan istilah umum. Seharusnya tidak dapat dimiliki siapapun. Sumber: HKINews

“Warung Kopi” merupakan istilah umum. Seharusnya tidak dapat dimiliki siapapun. Sumber: HKINews

Bayangkan kalau seseorang meng-klaim hak cipta ‘sepakbola’ atau ‘baseball’ sehingga setiap penggunaan kata itu di produk/karya harus membayar royalty ke pemilik kata. Kacau nggak situasinya?

Yang bisa dilindungi oleh ‘copyright/hak cipta’ adalah aset; Bukan genre

Dan jika ini yang jadi ‘senjata’ PUBG Corporation untuk menuntut Fortnite, mereka juga akan mengalami kesulitan menemukan dasar kekuatan tuntutan mereka. Misalnya dengan fakta kalau game PUBG menggunakan engine Unreal; yang mereka beli lisensi pemakaiannya dari perusahaan Epic Games. Epic Games sendiri merupakan…. developer dan publisher game Fortnite.

Nah lho… Lihat betapa awkward-nya situasi yang terjadi?

Dengan program/engine inilah PUBG dibuat. Sumber: UnrealEngine.Com

Dengan program/engine inilah PUBG dibuat. Sumber: UnrealEngine.Com

Aset-aset yang ditampilkan di PUBG dengan yang ditampilkan di Fortnite punya sedikit persamaan dan lebih banyak perbedaan satu dengan lainnya. Seperti misalnya jika PUBG memilih model grafis realistis maka Fortnite menggunakan model grafis yang lebih kartun. Tapi tetap saja jika Fortnite memakai grafis realistis sekalipun, PUBG juga tidak bisa menuntut mereka atas dasar ‘pelanggaran hak cipta’.

Grafis Fortnite (kiri) dan PUBG (kanan). Sumber: Forbes

Grafis Fortnite (kiri) dan PUBG (kanan). Sumber: Forbes

Jika itu terjadi mungkin game Winning Eleven/PES dari Konami harus menuntut game FIFA dari EA Sports dengan tudingan ‘pelanggaran hak cipta’. Tapi tentu Konami tidak segoblok itu.

Konsep ‘battle royale / last man standing’ yang diusung PUBG, dan Fortnite, merupakan sebuah genre yang sifatnya terbuka, umum, serta dapat digunakan siapa saja tanpa harus membayar royalti ke siapapun. Aset-aset dari tiap game juga tidak dapat dikatakan ‘si A meniru si B’ karena yang namanya senjata api dalam video game merupakan refleksi antara: (a) senjata api dunia nyata, dan (b) senjata api hasil imajinasi. Dan senjata di kedua game ini tidak memiliki persamaan apapun.

Senjata di PUBG. Sumber: Forbes

Senjata di PUBG. Sumber: Forbes

Senjata di Fortnite. Sumber: Forbes

Senjata di Fortnite. Sumber: Forbes

PUBG merupakan game besar serta sukses. Menuntut Fortnite hanya membuat mereka terlihat seperti iri dan cemburu melihat Fortnite yang secara statistik semakin banyak dimainkan orang belakangan ini. Dan langkah PUBG Corporation menuntut perusahaan pemilik engine yang dipakai untuk game PlayerUnknown’s BattleGrounds bisa jadi senjata makan tuan. Saya bisa bayangkan kalau Epic Games, sebagai pemilik engine Unreal, kini berpikir untuk mengakhiri lisensi yang mereka berikan pada PUBG Corporation.

Jika itu beneran terjadi, PUBG Corporation harus mencari engine lain untuk game mereka. Dan menciptakan engine sendiri bukan hal setahun dua tahun. Unreal Engine adalah pemain penting di bisnis video game saat ini. Perusahaan seperti Bandai Namco maupun Square Enix (disamping nama-nama beken lainnya) sering memanfaatkan Unreal Engine untuk game-game mereka.

Jadi langkah PUBG Corporation menuntut Fortnite sebenarnya sebuah langkah keliru berdasarkan rasa cemburu. Akibatnya bisa sangat fatal.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

00-ide-d

Muncul Ide Baru, Seonggok Ide Lama Diselingkuhi. Ide Lama: “Aku Tuh Nggak Bisa Diginiin!”

Sedang menggarap satu ide tapi kemudian langsung menggarap ide baru lainnya, sementara ide lama ditinggalkan begitu saja.. more

Youtube.com

Two Lights, Film Pendek Tentang Keindahan Non-Visual

Untuk kesekian kalinya dunia teknologi kembali hadir untuk membantu kehidupan manusia jadi semakin membaik. Sebuah film .. more

(duniaku.net)

Hikayat Vandaria: Frameless, Sosok Menakutkan Yang Mirip Manusia

Frameless? Apa tuh? Kenapa tanpa bingkai? Emangnya jendela? Berbeda dari mereka yang sering mendalami hikayat Vandaria, .. more

Final Fantasy paling fenomenal dalam sejarah Final Fantasy. Sumber gambar: thenerdstash.com

Final Fantasy VII, Bukan Final Fantasy yang Terbaik Tapi Paling Fenomenal

Baru tiga hari di rilis di Jepang, FF VII sudah terjual melebihi 2,3 juta unit. .. more

Sumber : life-is-strange.wikia.com

Life is Strange: Ketika Waktu Tidak Berpihak

Lho, kok baru di review sekarang sih? Yap, alasannya karena yang pertama, Game Life is Strange (LIS) lagi gratis di Stea.. more