Red Sparrow: Bahkan Jason Matthews Pun Tak Mampu Mengawal Naskah Ini Untuk Jadi Baik

9 months ago
Sumber: www.hdwallpapers.in

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Jennifer Lawrence yang berperan sebagai Dominika Egorova adalah gaya tarik utama film ini. Kepiawaiannya dalam berakting sudah tidak bisa diragukan lagi, bahkan ketika dia berperan menjadi seorang istri muda dalam film “Mother!” pun, aura bintangnya tambah bersinar dan menciptakan kekaguman di mata banyak orang.

Saya tidak ingin bilang bahwa Jennifer Lawrence berperan buruk dalam “Red Sparrow”. Dia terlihat total, keras, brutal, sekaligus menggoda. Dia bisa menampilkan sosok seorang ballerina yang rapuh dan terjerumus ke dalam lubang hitam mengerikan. Namun semua usaha yang dilakukan oleh Jennifer Lawrence terlihat buruk ketika “Red Sparrow” sendiri punya cerita yang lemah dengan esplorasi tidak tepat.

Sumber: www.denofgeek.com

Sumber: www.denofgeek.com

Apakah yang ingin dicapai oleh Francis Lawrence untuk “Red Sparrow”? Sulit bagi saya untuk memahami hal ini, ditambah lagi novel Jason Matthews, “Red Sparrow” ini terbagi atas tiga buku. Dengan kata lain, film ini akan berlanjut ke seri berikutnya. Apakah ini akan menjadi seperti franchise “Fifty Shandes of Grey” yang membawa banyak hal buruk hingga ke seri terakhirnya?

“Red Sparrow” bercerita tentang perempuan bernama Dominika. Seorang ballerina yang punya kesempatan untuk bersinar di bidangnya, namun harus menutup itu semua dengan sebuah cidera pada kakinya. Bersamaan dengan hal buruk itu, ia  juga harus mencari cara untuk bisa membiayai pengobatan ibunya yang sedang sakit. Masalah ganda yang datang secara bersamaan ini akan menjadi alasan yang cukup memoralkan Dominika untuk melakukan hal tidak bermoral. Kita akan maklum sebab ia sedang berada di situasi yang terdesak.

Sumber: www.21cineplex.com

Sumber: www.21cineplex.com

Terjerumusnya Dominika kedalam kekacauan bermula pada pamannya, Vanya Egorov (Matthis Schoenaerts). Egorov bekerja untuk pemerintah Rusia dan saat itu meminta Dominika membantunya dalam sebuah misi. Ia disuruh merayu seseorang yang berujung pada adegan paling mengerikan serta sulit untuk diterima dalam film ini. Adegan pembunuhan kejam ini benar-benar mengganggu dan menjadi semacam pertanda bahwa film ini akan bergerak pada hal-hal mengerikan semacam itu.

Karena Dominika menjadi saksi sebuah pembunuhan maka ia diberi dua pilihan yang berat, kematian atau terus melakukan pekerjaan “merayu” sekaligus menjadi mata-mata Rusia. Pada mulanya saya berharap Jennifer Lawrence akan menjadi the next Angelina Jolie seperti pada film “SALT”, tapi hal ini ternyata semacam jebakan yang mengerikan dari sekadar adegan berdarah yang kejam.

Sumber: collider.com

Sumber: collider.com

Dominika dikirim kesebuah fasilitas pelatihan agen, yang lebih terlihat seperti sekolah untuk menjadi mesin seks sekaligus pembunuh dalam waktu bersamaan. Baik laki-laki atau juga perempuan yang tergabung dalam fasilitas pelatihan itu, di didik untuk merasakan begitu banyak rasa sakit dalam ruang lingkup pelecehan sehingga sifat kemanusiaan mereka mati.

“Red Sparrow” terlalu banyak menghabiskan waktu dengan adegan kekerasan seksual dari pada adegan keren ala mata-mata yang biasanya beraksi dengan peralatan canggih serta pertarungan sengit. Mungkin hal ini lah yang membuat penonton sulit untuk mencerna plot dengan baik sebab penonton tidak terlalu banyak dihibur oleh adegan menyenangkan. Menyoroti “seksisme” dan kekerasan memang bisa menjadi sebuah hiburan, tapi jika hampir semua bagian didera dengan adegan seperti itu, jelas ini akan jadi sesuatu yang mengganggu dan membuat penonton tidak nyaman.

Sumber: www.nydailynews.com

Sumber: www.nydailynews.com

Karena ini adalah film tentang agen rahasia ,jadi beberapa twist yang muncul di beberapa bagian sudah menjadi hal yang lumrah. Untuk hal ini, “Red Sparrow” cukup punya hal bagus. Tapi sekali lagi sulit untuk menyebut film ini bagus secara keseluruhan.

Apa yang salah dengan naskah cerita film ini? Itu juga menjadi tanda tanya besar bagi saya. Justin Haythe selaku screenplay, saya rasa punya rekam jejak yang bagus untuk menjadikan naskah ini lebih baik. Kita bisa mengingat film di mana ia menjadi screenplay yang baik seperti “Revolutionary Road”, “Snitch”, dan “A Cure for Wellness”.

Ditambah lagi kehadiran Jason Matthews, sang penulis novel “Red Sparrow”, sebagai sosok yang dipercayakan oleh Francis untuk menjadi penasehat teknis agar film ini bisa terjaga dengan benar dan memberikan kesan nyata pada penonton. Lalu dua sosok ini malah tidak bisa memberikan batasan yang nyata untuk membuat “Red Sparrow” menjadi nyaman ditonton.

Sumber: www.mynewplaidpants.com

Sumber: www.mynewplaidpants.com

Hal lain yang juga tidak kalah mengganggu dalam film ini adalah beberapa aktor Inggris yang memerankan orang Rusia. Saya jadi bertanya-tany,a tidak adakah aktor Rusia yang layak memerankan para karakter itu? Sehingga mereka harus memilih aktor Inggris yang memerankannya. Logat Rusia bukanlah hal yang mudah, serta menghapus logat Inggris juga bukan hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Dan logat Inggris yang sangat terasa pada karakter seorang Rusia, benar-benar menjadi semacam lelucon yang tidak menarik untuk ditertawakan.

Kehadiran Joel Edgerton sebagai Nate Nash memunculkan sebuah harapan bahwa bisa saja ia menjadi penyelamat dalam film ini. Ia tidak begitu buruk, sama seperti Jennifer Lawrence yang berperan apik. Akan tetapi kemistri Joel Edgerton dan Jennifer Lawrence berjalan tidak terlalu mulus.

Melihat banyak hal buruk yang di alami “Red Sparrow”, kesempatan film ini untuk berlanjut keseri berikutnya hanya bergantung pada pendapatan box office saja. Mungkin saja “Red Sparrow” bisa menjadi next “Fifty Shades of Grey” yang bisa bertahan hingga seri terakhir karena pendapatannya yang terbilang bagus. Paling tidak “Red Sparrow” jika benar-benar berlanjut bisa belajar dari kesalahan yang mereka alami saat ini. Yeah, saya masih saja berharap lebih!

Jadi apa hal yang bisa mendorong seseorang untuk prgi ke bioskop dan menonton “Red Sparrow”? Jawabannya hanyalah beberapa twist yang cukup menarik dan Jennifer Lawrence tentunya. Kapan lagi bisa melihat Jennifer Lawrence dalam adegan-adegan “seperti itu”!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber: Don’t Feed The Gamers

Game Awards 2017 Sudah Usai, Siapa Saja Pemenangnya?

Siapa saja yang berhasil meraih penghargaan itu ya bro sis? .. more

[LIPUTAN] Kemeriahan Indonesia Comic Con 2017

Siapa yang tidak tahu Comic Con, pameran pop culture yang sudah dihelat di berbagai negara ini diselenggarakan juga di I.. more

Sumber: m.korea.net

Maraknya Tren Film dan Drama Korea yang Diadaptasi dari Komik Webtoon

Setelah melihat banyaknya kesuksesan drama tv maupun film di Korea Selatan yang mengadaptasi cerita dari  komik digital.. more

Sumber: Arstechnica.com

GDQ, Menggalang Dana dengan Speedrun Game

Ada banyak acara penggalangan dana yang menggunakan game sebagai tema utamanya, seperti Extra Life dan Gamers For Giving.. more

Extinction - review

Review Film Extinction – Mencoba Bertahan Dengan Misteri

Extinction, film bergenre thriller dan sci-fi buatan Netflix yang siap menghantui mimpi-mimpimu. .. more