Rencana Penerapan Teknologi VAR di Piala Dunia 2018 dengan Segala Kelemahannya

3 weeks ago
(Sumber: youtube.com)

2018 adalah tahunnya sepakbola. Pendapat itu rasanya tidak terlalu berlebihan, sebab ada satu event sepakbola terbesar yang diadakan: Piala Dunia 2018. Di tiap penyelenggaraannya, Piala Dunia mampu membuat orang yang sebelumnya tidak menyukai sepakbola menjadi penggila, walau hanya sementara. Kehadiran acara sepakbola empat tahunan ini mampu menjadi topik perbincangan yang menyatukan setiap kalangan, tua ataupun muda, pria maupun wanita, dari yang kaya hingga .

Teknologi yang diterapkan dalam pertandingannya pun mampu menyedot perhatian. Kalian, yang pernah menonton Piala Dunia 2014 Brazil, tentunya masih ingat dengan teknologi vanishing spray yang digunakan untuk menandai titik tendangan bebas dan batas kawalan pagar betis. Spray yang hilang hanya dalam waktu tak sampai satu menit itu mampu membantu wasit sewaktu pertandingan Piala Dunia hingga akhirnya diterapkan di banyak negara.

Hal-hal yang dibantu teknologi VAR (Sumber: youtube.com)

Hal-hal yang dibantu teknologi VAR (Sumber: youtube.com)

Dalam persiapan menjelang Piala Dunia 2018 mendatang, FIFA telah memutuskan kalau akan menerapkan teknologi VAR untuk membantu kinerja wasit dalam mengambil keputusan. VAR (Video Assistant Referee) adalah teknologi yang menggunakan video tayangan ulang, bertujuan untuk membantu tugas wasit ketika mengambil keputusan mengenai gol, penalti, pelanggaran, dan kesalahan maupun keragu-raguan wasit dalam mengambil keputusan lain. Wasit, dibantu dengan pemantau pertandingan di studio VAR, bisa mengambil keputusan berdasarkan video rekaman pertandingan. Adanya teknologi ini supaya wasit bisa mengurangi keputusan kontroversi yang diambil.

Tahapan penggunaan VAR (Sumber: youtube.com)

Tahapan penggunaan VAR (Sumber: youtube.com)

Penerapan teknologi VAR pertama kali dimulai ketika laga persahabatan antara Italia melawan Perancis pada 1 September 2016, kemudian di uji coba di laga kompetitif sewaktu Real Madrid menang 4-2 atas Kashima Antlers di final Piala Dunia antar klub tahun 2016. Teknologi VAR yang diterapkan di dua pertandingan ini berhasil membantu wasit dalam menghindari keputusan-keputusan kontroversial.

Beberapa sudut pandang kamera saat teknologi VAR digunakan (Sumber: youtube.com)

Beberapa sudut pandang kamera saat teknologi VAR digunakan (Sumber: youtube.com)

Teknologi VAR kembali diterapkan di Piala Konfederasi 2017, tetapi kelemahannya terlihat di salah satu pertandingan yang melibatkannya. Seperti di pertandingan antara Cile menghadapi Kamerun, ada satu keputusan yang merugikan timnas Cile, tapi ada pula yang merugikan timnas Kamerun.

Posisi Vargas yang dianggap offside pada gol pertama (Sumber: youtube.com)

Posisi Vargas yang dianggap offside pada gol pertama (Sumber: youtube.com)

Pada babak pertama, Eduardo Vargas menjebol gawang Kamerun. Karena wasit ragu, keputusan diambil menggunakan bantuan VAR. Saat itu wasit memutuskan gol Vargas tidak sah karena telah berada dalam posisi offside. Namun, Cile diuntungkan ketika gol Vargas di akhir babak kedua justru dinyatakan sah oleh wasit, tentunya dengan bantuan VAR. Padahal sebelumnya asisten wasit menyatakan kalau pemain Cile itu sudah dalam posisi offside.

Proses gol kedua Cile yang mengandalkan teknologi VAR (Sumber: youtube.com)

Proses gol kedua Cile yang mengandalkan teknologi VAR (Sumber: youtube.com)

Kontroversi tidak hanya dalam pertandingan itu saja. Teknologi Hawkeye, salah satu penyedia teknologi garis gawang yang turut membantu VAR dalam mengambil keputusan, membuat kesalahan fatal dalam pertandingan Manchester United versus Hudderfield Town dalam putaran kelima Piala FA di Februari 2018 lalu. Juan Mata, yang mencetak gol kedua Manchester United, dianggap dalam posisi offside oleh teknologi itu. Golnya pun dianulir.

Video ulasan pakar mengenai gol Juan Mata (Sumber: youtube.com)

Video ulasan pakar mengenai gol Juan Mata (Sumber: youtube.com)

Tapi, ketika dilihat dari tayangan ulang, Mata sebenarnya tidak dalam posisi offside. Grafis yang disajikan oleh teknologi Hawkeye menggambarkan garis yang tidak lurus sehingga posisi Mata dianggap sudah terjebak offside. Namun, keputusan sudah diambil. Meski Manchester United tetap lolos ke babak berikutnya, perusahaan Hawkeye tetap meminta maaf atas kesalahan teknis pada grafis sehingga wasit salah mengambil keputusan.

Grafis aneh yang menganggap Juan Mata dalam posisi offside (Sumber: youtube.com)

Grafis aneh yang menganggap Juan Mata dalam posisi offside (Sumber: youtube.com)

Tak hanya keputusan esensial seperti urusan gol saja, ada pula urusan pelanggaran yang membuat wasit meragu, akankah dihitung pelanggaran ataukah tidak? Keputusan itu hadir pada laga Brighton & Hove Albion melawan Crystal Palace di babak ketiga piala FA, sebagai debut teknologi VAR dalam kompetisi kompetitif di sepakbola Inggris.

Saat itu, para pemain Crystal Palace protes karena gol kedua Brighton yang dicetak oleh Glenn Murray dianggap dihasilkan menggunakan tangannya, sehingga seharusnya terjadi pelanggaran handball. Namun, wasit bergeming dengan tetap mengesahkan gol tersebut. Belakangan pun diketahui kalau wasit mengambil keputusan yang benar meski tidak melihat langsung ke dalam kamera VAR.

Walaupun begitu, keputusan VAR mengenai pelanggaran akhirnya menimbulkan kontroversi dalam pertandingan persahabatan antara timnas Inggris dengan Italia di akhir Maret lalu. Awalnya, wasit mengacuhkan insiden pemain Inggris James Tarkowski yang menginjak kaki Federico Chiesa. Namun, wasit mengubah keputusannya setelah mengamati rekaman pertandingan di kamera VAR. Wasit pun memberikan hadiah penalti untuk Italia dan menghasilkan gol. Italia pun lolos dari kekalahan. Namun, Chiesa sebenarnya sudah kehilangan keseimbangan sebelumnya sehingga terjatuh dan mengenai kaki Tarkowski.

Keputusan pelanggaran dalam pertandingan Inggris versus Italia (Sumber: youtube.com)

Keputusan pelanggaran dalam pertandingan Inggris versus Italia (Sumber: youtube.com)

Dari beberapa pertandingan yang sudah disebutkan, terlihat kalau teknologi VAR bisa memberikan keuntungan secara tidak langsung kepada salah satu tim dan menimbulkan kondisi bertanding yang tidak ideal apabila semangat bertanding tim yang dirugikan menjadi runtuh. Proses pengambilan keputusan yang memakan waktu hingga 3 menit juga dinilai terlalu lama karena berakibat pada tertundanya laga yang sedang dimainkan.

Di balik segala kekurangan itu, teknologi ini tetap dianggap mampu mengurangi keputusan kontroversial dalam suatu pertandingan sepakbola. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu, apakah teknologi ini mampu berjaya di Piala Dunia mendatang ataukah justru akan di evaluasi dan di sempurnakan lagi demi kenyamanan menonton sepakbola?

Jangan sampai sepakbola kehilangan sisi manusiawinya karena penerapan teknologi yang berpotensi menimbulkan masalah baru. Bagaimana dengan pendapat kalian sendiri? Ingin tetap menonton sepakbola dengan segala kekurangannya ataukah bersedia pertandingan ditunda beberapa menit demi keputusan yang lebih baik? Silakan berbagi pendapat kalian ya.

Bagi para pecinta sepakbola dan bisa membuat komik bergenre action bertema sepakbola, coba ikut sertakan komik kalian dalam CIAYO Challenge mulai April ini. Hadiah total ratusan juta menanti, lho.

About Author

Saya Grad

Saya Grad

Menyukai May’n, anime, dan film Jepang. Bisa dihubungi melalui laman Facebook Saya Grad ataupun Twitter @grad_11

Comments

Most
Popular

pinterest.com

Otaku’s World, Mengoleksi Action Figure

Salah satu hobi yang biasa dimiliki oleh otaku adalah mengoleksi action figure dari karakter kesukaannya. Figures atau m.. more

Sumber: Instagram TrueOG.kicks

Sneakers Zone di Indonesia Comic Con 2017, Ada yang Sampai 35 Juta!

Indonesia Comic Con selalu menghadirkan hal-hal baru di tiap tahun pamerannya, kali ini yang jelas berbeda adalah kehadi.. more

Sumber: pinterest.com

Chronestesia: Mesin Waktu Dalam Otak Manusia

Film dan buku fiksi yang memakai tema balik ke masa lalu atau tokoh yang punya kekuatan teleporter bisa pergi ke suatu m.. more

Hati Hati Techno Menggabungkan Musik EDM Dengan Keimutan Grup Idol Jepang

Datang dari Jepang, dan diproduseri Kevin Aprilio. Hati Hati Techno mencoba untuk menggebrak pasar musik pop Indonesia l.. more

Tiada Thanksgiving Day tanpa kalkun panggang. Sumber gambar: huffpost.com

Tradisi Kalkun Panggang Di Thanksgiving, Kenapa Harus Kalkun?

Kenapa harus kalkun? Ada kisah dibaliknya, bro sis... more