Resensi Novel Redfang: Kakak Bunuh Adik, Dikubur, Eh Si Adik Malah Muncul Lagi

1 year ago
(Vandaria Saga – Redfang)

Judul: Redfang (Vandaria Saga)

Penulis: Fachrul R.U.N

Halaman: 452 halaman

Terbit: December 2012

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 139789792290929

Bahasa: Indonesia

Seri: Vandaria Saga

 

Iya, judul artikelnya lucu ya.

Tapi, hei, puji Vanadis! Kolaborasi CIAYO Comics dan Vandaria Saga membuahkan komik baru yang nantinya akan meramaikan hikayat Vandaria, lho. Kabarnya nih, komik Vandaria akan mengambil waktu beberapa tahun setelah Redfang, novel karya Fachrul R.U.N. aka the King himself! Sambil menunggu tanggal terbitnya, yuk kita kunjungi lagi novel Redfang dan bernostalgia dengan resensi ini. Siap?

Cover buku Redfang. (Sumber: Goodreads)

Cover buku Redfang. (Sumber: Goodreads)

Mari kita buka dengan sinopsis Redfang:

Delapan tahun silam, Cassius Redfang menghabisi adiknya demi menyandang gelar warisan sang ayah. Sekarang, dipandu mimpi ganjil istrinya, Cassius menemukan fakta mengejutkan, sang adik telah kembali mewujud di dunia. Dilanda kebingungan, Cassius mulai mencoba menyingkap teka-teki di balik kebangkitan adiknya. Mukjizat para Vanadis-kah? Tipuan? Ataukah…. orang itu justru berhubungan dengan hawa gelap yang menyeruak perlahan di negeri Blackmoon? Segalanya serba gelap… 

Weits.

Ada yang menarik nih. ‘Membunuh adik sendiri demi gelar warisan sang ayah?’ Saya langsung kepikir, wah, fondasi plotnya kuat. Plot berdasar motivasi memang terbaik. Tapi setelah itu ditulis, ‘sang adik telah kembali mewujud di dunia’. Lho. Lha. Jangan-jangan alur cerita dan plot twist sudah bocor semua di sinopsis? Trus saya bakal baca apa?

Dan, Vanadis itu apa? Blackmoon itu apa? Sayur?

Iya, saya benar-benar buta soal Vandaria. Saya pengen tahu aja, bisa ngga novel ini dicerna oleh orang yang tidak tahu-menahu tentang Vandaria? Yuk mari dicek.

Pertama-tama mari kita bicara soal ilustrasi sampul.

Kesan pertama yang saya dapat dari sampul buku ini adalah: what anime is this? Agak aneh melihat ada bapak-bapak ketus digambar dengan gaya anime Jepang. Entahlah, saya kurang mengasosiasikan gaya anime begini dengan genre high fantasy. Pose para karakter di sini juga terbilang tidak eye-catching. Tapi saya akui, simbolismenya kuat. Karakter yang digambar jungkir-balik juga bikin tergelitik—satu garang, satunya ganteng (eh). Dualisme Cassius-Velius ya sepertinya. Sayangnya simbolisme ini baru bisa diapresiasi setelah usai baca buku. Jadi kesan cover ini bagi saya cuma hangat-hangat kuku aja.

Padahal oh padahal, saya jatuh sayang dengan ilustrasi di dalam buku. Selera memang subjektif. Tapi gaya ilustrasinya yang kaku dan tajam jadi benar-benar mengangkat topik novel ini. Secara tahulah, novel ini agak gelap, dengan banyak unsur psikologi dan alur cerita rumit. Bisa dibilang ilustrasi Redfang adalah salah satu poin plusnya, karena berhasil mendukung gaya cerita dan membuat pengalaman membaca jadi lebih immersive. Props to you, Miss Happy Mayorita!

Salah satu ilustrasi di dalam buku. (Sumber: Vandaria Saga – Redfang)

Salah satu ilustrasi di dalam buku. (Sumber: Vandaria Saga – Redfang)

Begitu dibuka, prolog menyambut. Alih-alih infodump, saya segera disuguhi akar plot dan kegalauan si Cassius tentang, errr, tahta, harta, dan wanita. Pembawaannya plot juga cukup dijaga sampai saya sendiri yang tidak familier dengan Vandaria bisa langsung mengikuti cerita. Jujur saya kaget. Tapi kaget senang. Iyalah, soalnya saya menyangka bakal langsung dicekik dengan latar belakang semestanya yang sarat sejarah. Ternyata engga. Ampun, hamba hanya awam yang kagok soal Vandaria.

Tapi saya ingin tanya satu hal. Kalau Vandaria ini tidak berlatar di dunia nyata, kenapa nama-nama di Canivius dimiripkan Kekaisaran Romawi?

Ayy, maaf, jadi nitpick. Tapi entah ya. Ini agak aneh untuk awam, apalagi tidak ada penjelasannya kenapa bisa mirip-mirip jaman Abad Pertengahan. Penamaan karakternya jadi terlalu pakem pada akhiran –us (atau –a kalau cewe). Siapa yang segitu kuatnya sampai bisa pindah dunia dan memboyong aturan penamaan Kekaisaran Romawi ke Valta?

Selain itu (kalau boleh nitpick lebih jauh) ada juga beberapa kalimat yang ukuran font-nya berbeda. Ada apa ini? Eh? Eh?

Untungnya saya langsung dihibur dengan diksi penulis. Diksinya luas! Bacanya jadi senang. Saya rasa struktur kalimat novel Redfang kurang bervariasi, tapi itu diringankan dengan diksi yang tidak bikin bosan. Plot juga cukup oke—kecurigaan saya habis baca sinopsis rupanya patah. Dari awal sampai akhir, plotnya cukup mengajak saya betah buka halaman selanjutnya. Hanya saya kurang sreg dengan penulisan beberapa bab terakhir. Kenapa tulisan dan plotnya jadi terburu-buru?

Ini yang terus-menerus mengganggu saya setelah habis menelan 418 halaman novel Redfang. Pembawaan sudah bagus, build up mencekam, tapi ending datar. Iya. Red herring yang disemai penulis saya pikir sudah sangat hebat. Saya pikir si karakter anu itu biang kerok penyebab Velius bangkit lagi. Ternyata tidak! Senang deh bisa ditipu, haha. (yha)

Sayang cara penulis mengungkap plot twist agak sedikit mengesalkan. Pasalnya saya tahu potensinya bisa jadi sangat wah, tapi eksekusi dan penjelasan plot twist terkesan ditulis seadanya. Build up yang sudah menumpuk sejak awal jadi kurang nendang. Hmm, saya tahu menulis novel itu tidak gampang, jadi saya maklum. Sejak awal segala energi seperti sudah berpusat di detil plot yang baik. Sangat deskriptif, pula. Ujung-ujungnya, ending buku malah jadi kurang semangat karena diringkas dengan terlalu cepat. Ada juga plot hole lebar yang tidak dibahas penulis, jadinya… sebal. Seperti misalnya—hmm, sebentar, saya susun dulu biar ini tidak spoiler. Hmm. Oke. Gimana caranya hasil rakitan si antagonis bisa eksis dengan masuk akal? Iya deh, ada penjelasan si antagonis, tapi saya merasa ini agak-agak Ass Pull. Begitu pun dengan beberapa plot hole lain dari antagonis.

Padahal terus terang, protagonisnya sudah amat, sangat, kuat. Saya pikir malah kekuatan utama novel ini ada pada karakternya. Karakter protag, maksudnya. Semua bertindak dengan sangat manusiawi dan masuk akal (protagnya ya) (harap diingat). Terlebih sang Duke sendiri, Cassius Redfang. Hooo boy! Jelas ini tidak bermaksud memuji moralnya—sampah betul mas-mas satu ini—tapi dengan berbagai sampah pun, Cassius bisa jadi manusiawi. Mas Fachrul adalah satu dari sedikit penulis yang bisa menguraikan kelemahan karakter dengan piawai. Padahal ya, saya itu orang paling pertama yang geregetan kalau ketemu karakter utama tidak becus. Tapi di tangan penulis, Cassius Redfang malah tergambar dengan sangat… dare I say… relatable! 

Ngga, saya ngga lagi halusinasi. 

How bow dah. (Sumber: Tenor.com)

How bow dah. (Sumber: Tenor.com)

Karakter lain juga tidak kalah menarik. Penuturan penulis tentang kehidupan mereka benar-benar bikin saya sebagai pembaca jadi berpikir, orang-orang ini badass betul.  Ninh tentu saja badass, Irina juga badass, Fukhoy-ri pun badass, Silus kadang badass (cuma kadang sih), lalu Fabius ikut badass, aduh. Semua protagonis badass. Lantas, antagonis utamanya?

… kurang greget. Itu aja. Malah saya jadi menyimpulkan: antagonis Redfang yang sebenarnya adalah pikiran Cassius Redfang sendiri.

Jadi untuk ke depan, saya berharap Mas Fachrul bisa menulis karakter antagonis dengan lebih realistis dan lebih berwarna lagi. Soalnya, saya sudah terlanjur terpukau dengan kemampuan penulis menjabarkan protagonisnya dengan luar biasa apik. Mereka punya motivasi masuk akal, tapi tetap menyentuh.

So, pros and cons?

Pros

  • Diksi luas
  • Protag anti-mainstream
  • Plot mendalam
  • Psikologi karakternya!

Cons

  • Ilustrasi sampul
  • Ending terburu-buru
  • Antagonis datar
  • Teknis penulisan (ada beberapa typo, struktur kalimat berulang, dan font size)

Verdict?

Selesaikan novel ini sambil tenggak meadar!

Ini perintah langsung dari Velius Redfang, lho. Tunggu aja kelanjutan Vandaria Saga di situs komik online gratis CIAYO Comics!

About Author

Inri

Inri

Writer, musician, and a certified procrastinator, Inri is an elusive creature who writes once in a blue moon. The only known way to summon this mystical being is to call its name three times in front of a pizza. No one would come, but at least you have a pizza.

Comments

Most
Popular

Thoma - Novie - Luthfi

Interview: “The High” Komik Horor Yang Bikin Geli Pembacanya

Nggak banyak yang bisa menyalurkan idealismenya lewat karya. Tapi comic writer satu ini bisa terus menuangkan imajinasin.. more

As Long As I Lived: Cewek Introvert Gone Wrong!

Komik yang berhasil mengantarkan Duta Pi menjadi pemenang ini berjudul As Long As I Lived. Kira-kira gimana ya ceritanya.. more

Banner AFA 2017 Jakarta. Sumber: animefestival.asia

C3 AFA 2017 Jakarta: Perhelatan Akbar Para Penggemar Anime

Bulan Agustus telah tiba, yang artinya sebentar lagi akan digelar acara tahunan keren untuk para penggemar anime di Asia.. more

Duta Pi, Pemenang CIAYO Comics One Shot Challenge dengan ‘As Long As I Lived’

Setelah diumumkan sebagai pemenang One Shot Challenge Vol. 1, kini saatnya Duta Pi, author dari As Long As I Lived menda.. more

Sumber: mnl48

Mungkin Ini Penyebab Jepang dan Korea Mengalami Penurunan Angka Kelahiran

Baik di Jepang maupun di Korea, kedua negara tersebut sedang mengalami satu permasalahan yang sama. Yaitu penurunan angk.. more