Review Avengers: Endgame – Tanpa Spoiler (amiin)

7 months ago
review avengers: endgame

Dalam beberapa dekade terakhir, para moviegoers seluruh dunia telah menjadi saksi dari berbagai big event dalam dunia sinema. Bagaimana dunia dibuat takjub dengan Star Wars dan diselesaikan secara puas dengan Return of the Jedi. Bagaimana Fellowship of the Ring hanya jadi pembuka film kolosal The Lord of the Rings yang direkam selama tiga tahun lamanya dan berakhir di The Return of the King. Bagaimana anak-anak pecinta Harry Potter tumbuh sejak The Sorcerer’s Stone dan beranjak dewasa saat The Deathly Hallows muncul.

Saya pribadi bukan seorang pecinta film di masa kecil. Salah satunya memang karena waktu kecil saya lebih suka main game, tapi faktor terbesarnya adalah keluarga saya tidak punya privilege untuk bisa menjadi saksi event besar sinema dunia langsung di hari pertama. Pun juga bagaimana saya dan ayah saya lebih suka film-film action realistis bertema militer atau kriminal. Namun beranjak dewasa, saya mulai membayangkan bagaimana rasanya jika dulu saya bisa menjadi bagian dari orang yang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menonton Harry Potter. Saya merasa ketinggalan. Tapi untungnya, ada satu hal yang masih bisa saya perbaiki, biar setidaknya obrolan di sekolah nggak katrok-katrok amat.

Iron Man jadi awal dari Marvel Cinematic Universe. Sumber: IMDb
Iron Man jadi awal dari Marvel Cinematic Universe. Sumber: IMDb

Iron Man tayang perdana di tahun 2008. Film yang dibintangi Robert Downey Jr. ini jadi debut pertama sosok Tony Stark dan baju zirahnya dalam layar lebar. Di Indonesia saat itu, nama Iron Man belum sebesar Spiderman, X-Men, atau bahkan superhero dari DC seperti Batman dan Superman. Namun kemunculan Iron Man menjadi angin segar, dimana konsep superhero tidak harus selalu manusia dengan kekuatan super dan jago berantem. Tony Stark membuktikan bahwa dengan kecerdasan dan keberanian, seseorang juga bisa menjadi superhero.

Saya menonton Iron Man lewat DVD dan langsung merasakan bahwa film ini cocok banget dengan selera saya. Inilah film superhero yang nggak berasa superhero amat. Kostum spandex, jubah dan penjahat komikal? Kuno! Iron Man merupakan contoh bagaimana sebuah film superhero bisa dibawa ke dalam estetika realistis tanpa mengorbankan feel ala buku komik. Apalagi karena desain Iron Man yang sangat keren; modern, futuristik, namun utilitarian dan fungsional. Yang lebih mengejutkan dari film ini adalah bagaimana produser Kevin Feige punya visi dan misi yang sangat besar, dimana Iron Man ini hanya jadi roda gigi kecil dalam master plan mereka.

Nick Fury mengumpulkan superhero untuk Avengers Initiative. Sumber: Fandom
Nick Fury mengumpulkan superhero untuk Avengers Initiative. Sumber: Fandom

Ketika penonton kira film sudah selesai, kejutan hadir. Nick Fury muncul di hadapan Tony dan memperkenalkan Avengers Initiative. Adegan pendek inilah yang menjadi awal dari 10 tahun Marvel Studios dan lebih dari 20 film dan serial TV dalam naungan Marvel Cinematic Universe, dibagi-bagi ke dalam tiga fase berbeda. Berbagai superhero Marvel pun kebagian jatah film solo mereka. Captain America, Thor, hingga Hulk. Kisah mereka saling terhubung dan akhirnya bertemu dalam The Avengers, sebuah film crossover besar yang membayar janji Marvel di film Iron Man terdahulu. Namun sejarah terulang kembali, ketika film selesai dan penonton disuguhkan kejutan lainnya. Satu nama, yaitu Thanos.

Sang Mad Titan pelaku utama Decimation. Sumber: Gamespot
Sang Mad Titan pelaku utama Decimation. Sumber: Gamespot

Nama Thanos jadi momok menyeramkan bagi para penggemar MCU. Ambisinya melenyapkan separuh makhluk hidup di seluruh galaksi berhasil ia capai dalam Avengers: Infinity War. 10 tahun lebih perjalanan Marvel Studios merilis film-film superhero sukses, 10 tahun storytelling, hilang jadi abu dengan sebuah jentikan jari. Sang Mad Titan mengasingkan diri di sebuah planet, bertani dan hidup tenang karena misinya telah berhasil. Namun bagi separuh makhluk hidup lain, mereka harus move on meninggalkan para korban Decimation dalam kenangan mereka.

“Banyak orang yang telah move on, namun kami tidak.” Sumber: Inverse
“Banyak orang yang telah move on, namun kami tidak.” Sumber: Inverse

Namun tidak bagi para pahlawan hebat bumi: Steve Rogers, Natasha Romanoff, James Rhodes, Clint Barton, Okoye, Rocket, dan lainnya. Mereka berusaha keras mencari Thanos dan Infinity Gauntlet untuk mengembalikan para korban Decimation. Sementara itu, Tony dan Nebula terperangkap di luar angkasa tanpa harapan untuk bisa kembali ke bumi. Bicara soal terperangkap, Scott Lang yang tersasar di alam kuantum selama 5 jam akhirnya kembali dan menemukan bumi telah berubah drastis. Dalam keadaan tercerai berai, para pahlawan dan superhero harus menyatukan kekuatan untuk bisa memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan Thanos dan membalas dendam para korbannya; cocok seperti nama mereka, Avengers.

Ketika Dr. Strange, salah satu korban Decimation berkata, “Ini Endgame-nya,” dia tidak main-main. Avengers: Endgame menjadi penutup dari konflik internal berbagai karakter ikoniknya. Kisah ini nampak jelas pada hampir semua tokoh sentral dalam film ini. Bagaimana mereka bisa menyeimbangkan antara konflik pribadi dan keadaan dunia paska kehancuran yang dibawa Thanos? Sebagian mencoba untuk move on dan memulai hidup baru. Sebagian lari dari kenyataan. Dan sebagian lain mencoba mencari cara untuk memperbaiki keadaan.

Dinamika unik Natasha dan Clint kembali dieksplor dalam Avengers: Endgame. Sumber: Beritagar
Dinamika unik Natasha dan Clint kembali dieksplor dalam Avengers: Endgame. Sumber: Beritagar

Paruh awal Avengers: Endgame dimulai secara rapi, terstruktur, namun sangat profound. Russo bersaudara sebagai sutradara seakan ingin menunjukkan seberapa parah ending Infinity War mempengaruhi para karakter kuat MCU. Perlahan-lahan, para karakter ini mencoba untuk bangkit dan kembali ke kondisi prima mereka untuk menghadapi pertarungan paling epik sepanjang sejarah film MCU.

Menuliskan review Avengers: Endgame memang sulit karena saya mencoba untuk tidak membocorkan plot utama dari film ini. Tapi bagi kamu yang sudah sejak lama mengikuti film-film MCU, momen seperti Endgame akan sangat lebih baik jika kamu sendiri yang merasakannya. Russo bersaudara tidak hanya menyajikan sebuah konklusi dari 22 film MCU, namun mereka juga ingin membawa kita untuk mengingat bagaimana semua ini bermula. Mereka ingin kamu, sebagai penonton, merasa kagum, tertawa, hingga terharu.

“Setiap perjalanan pasti ada akhirnya.” Sumber: MileniaNews
“Setiap perjalanan pasti ada akhirnya.” Sumber: MileniaNews

Pada akhirnya, Avengers: Endgame akan dikenang sebagai salah satu event perfilman terbesar bersama dengan Star Wars, Harry Potter, dan film-film lainnya. 22 film bukan sebuah komitmen main-main. Entah berapa banyak waktu dan uang yang didedikasikan untuk menciptakan sebuah cerita panjang yang saling berhubungan membentuk sebuah narasi yang sangat besar dan megah. Selepas Spider-Man: Far from Home yang bakal jadi last hurrah untuk film MCU fase 3, saya tidak tahu bagaimana Marvel akan menciptakan film crossover sebesar ini. Apa yang terjadi di Endgme akan memiliki dampak besar bagi film-film MCU ke depannya, dan bisa jadi akan memunculkan sebuah perubahan radikal.

Tapi berbahagialah, setidaknya bagi kamu yang sudah menonton Avengers: Endgame, apalagi di hari-hari pertamanya. Jika belum, segera cari teman dan nonton bareng karena menonton Endgame akan lebih asyik jika kamu dan teman kamu bisa berbagi keceriaan saat menontonnya. Dan tentu saja momen ini bisa jadi cerita untuk siapapun di masa depan, lalu dengan bangganya kamu bisa mengatakan, “Aku menyaksikan sendiri film pamungkas Avengers.”

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

00-d-hideaki-anno

Hideaki Anno Kesal Pada Hayao Miyazaki Gara-gara Walkman!

Apa jadinya jika seorang sutradara anime veteran Hideaki Anno marah kepada sutradara legendaris Ghibli, Hayao Miyazaki?.. more

Sumber: imdb.com

Review: The Lego Batman Movie

Udah pada nonton The Lego Batman Movie belom? Yang penasaran, nih Sultan Beny bakal kasih review nya. Cekidot! .. more

CIAYO Comics Club #2

CIAYO Comics Club #2: CIAYO Comics Belum Kehilangan Taji

CIAYO Comics Club #2 jadi tempat buat merayakan ulang tahun kedua CIAYO Comics sekaligus mengapresiasi karya para author.. more

CIAYO Pictures

Ternyata Musik Tradisional Indonesia Bisa Dipadukan dengan Kesenian Jepang, Loh!

Hayo, bro sis yang kemarin hadir di acara Bonenkai ke 12 di Hotel Salak Heritage Bogor tunjuk tangan! Kalian pasti setuj.. more

Sicario Day of Soldado: Ketika Kejahatan dan Kebaikan Sama Kotornya

Kali pertama tayang di tahun 2015, Sicario tampil dengan gaya brutal, cerita berbobot, dan isyu yang begitu kontoversi. .. more