Review Film Loveless: Pudarnya Seorang Anak Akibat Rasa Sakit yang Dicipta Orangtuanya

4 months ago
Sumber: variety.com

Bagi sebagian orang yang tidak mengikuti perkembangan film-film Eropa, mungkin akan merasa sangat asing dengan nama Andrey Zvyagintsev. Sutradara asal Rusia yang punya segudang prestasi ini, selalu punya banyak kejutan yang tidak terduga disetiap film yang pernah dibuatnya. Hebatnya lagi, setiap film itu selalu saja berhasil masuk ke dalam banyak nominasi dan meraih penghargaan di berbagai ajang penghargaan film.

Sumber: themoscowtimes.com

Sumber: themoscowtimes.com

Perkenalan pertama penulis dengan Andrey adalah lewat film “Elena” (2011) yang berhasil memenangkan 21 penghargaan dalam beberapa ajang berbeda. Jelas hal ini membuktikan kualitas film yang dimiliki oleh Andrey. Sejak saat itu, penulis mulai mencari film-filmnya yang lain seperti, “The Return” (2003), “Leviathan” (2014), dan yang paling terbaru adalah “Loveless”

Ciri khas film-film Andrey terlihat jelas dari segi gaya penceritaan yang tidak terburu-buru, sederhana, namun memberikan dampak yang begitu besar pada pola pikir penonton. Dia akan memberikan gambaran kehidupan nyata yang agak rumit dengan balutan dialog ringan tapi tepat sasaran. Tema-tema sosial dan kehidupan urban menjadi menu andalannya.

Sumber: www.hollywoodreporter.com

Sumber: www.hollywoodreporter.com

“Loveless” juga masih bergerak dalam tema yang tidak jauh dari film-film Andrey lainnya. Hanya saja kali ini suasana yang dibangun lebih rumit dengan pendalaman karakter yang lebih bagus dan sedikit agak gila. Premis cerita “Loveless” berkisar tentang kehidupan keluarga kecil yang berada di ambang kehancuran. Kisah seorang Ibu yang tidak menginginkan keberadaan anaknya namun tak tega membuangnya sebab masih merasa keterkaitan darah. Lalu tentang seorang ayah yang tertekan karena ulah istrinya dan menemukan perempuan baru yang membuatnya terikat.

Depresi seorang bocah laki-laki dalam menghadapi peliknya kehidupan kedua orangtuanya memberikan gambaran yang sangat nyata tentang apa yang sering kali terjadi pada zaman sekarang. Rasa tidak diinginkan, diabaikan, disakiti, adalah semua emosi yang berhasil dimunculkan dengan apik dalam film ini. Jelas ini merupakan keritik yang sangat baik pada banyak orangtua bahwa anak mereka butuh kasih sayang dan perhatian.

Sumber: themoscowtimes.com

Sumber: themoscowtimes.com

Di bagian awal film, penonton dihadapkan dengan muramnya potret kehidupan warga Rusia di lingkungan sederhana. Lalu penonton diperkenalkan pada seorang perempuan bernama Zhenya (Maryana Spicak) yang terjebak dalam kehidupan itu tapi dengan gaya yang dipengaruhi oleh obsesi menjadi orang kaya lewat media sosial.

Seperti yang kita tahu, media sosial memang seperti racun yang bisa membinasakan kehidupan nyata seseorang. Contoh paling sederhana yang diperlihatkan dalam film ini adalah tak pernah terjadi komunikasi yang mendalam antara Zhenya dengan anaknya, Alyosha (Matvey Novikov) untuk mengetahui masalah seperti apa yang dihadapi oleh sang anak. Zhenya terlalu sibuk dengan kehidupan mayanya yang mungkin sejenak terlihat bahagia.

Sumber: www.hollywoodreporter.com

Sumber: www.hollywoodreporter.com

Lalu sosok ayah yang bernama Boris (Aleksey Rozin), lelaki serba salah yang bingung harus berbuat seperti apa walau sebenarnya semua masalah itu berawal dari perilakunya sendiri. Boris dihantui oleh ketakutan diberhentikan dari pekerjaan karena ketahuan bercerai, sebab di perusahaan ia bekerja, perceraian dilarang. Selain itu masalah lainnya adalah ia harus dihadapkan dengan kekasih yang banyak tuntutan serta sedang hamil besar.

Semua konflik yang tampil begitu apik terus meningkat dan mencapai puncaknya ketika Alyosha menghilang entah kemana.

Film ini akan membuat penonton mengalami pergulatan emosi tentang sifat paling bijak yang harus dilakukan sepasang suami istri ketika berada di ambang kehancuran. Kejutan-kejutan yang diberikan lewat plot yang mengalir tanpa membosankan, mencipta setitik misteri yang berujung dengan fakta ironis.

Sumber: beta.latimes.com

Sumber: beta.latimes.com

Pada akhirnya kehidupan harus berlanjut walau dengan banyak luka dan kisah-kisah menyakitkan di masa lalu.

“Loveless” berhasil membawa pulang 13 penghargaan dalam 28 nominasi di ajang yang beragam.  Salah satu nominasi yang dirasa tidak pernah absen bagi Andrey Zvyagintsev adalah Best Motion Picture – Foreign Language di ajang Golden Globe 2018, walau sangat disayangkan “Loveless” tidak berhasil menang dan malah dikalahkan oleh “In the Fade” film asal Jerman yang disutradarai oleh Fatih Akin.

Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama bagi orangtua dan orang-orang yang kelak menjadi orangtua. Apa kalian tertarik untuk menonton film ini? Akan ada banyak pelajaran yang bisa diambil lewat film ini. Jadi mungkin bro sis harus menyiapkan waktu khusus untuk menontonnya supaya langsung mendapat pesan yang ada. Dijamin sangat bermanfaat!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber: CelebMix

10 Kekreatifan Video Klip Band OK Go Ini Akan Membuatmu Tercengang!

Selain karena diproduksi secara low budget, konsep video klip yang ditampilkan OK Go sangatlah kreatif dan sekilas rumit.. more

Si Bedil (CIAYO Comics)

Yuk Kenalan Sama Si Bedil, Marbot Dadakan Mesjid Al-Ikhlas

Ada yang baru nih! Udah kenal sama Si Bedil, Marbot dadakan Mesjid Al-Ikhlas? Apa yang unik dari dia?.. more

00-d-call-of-duty-black-ops-4

4 Hal Ini Bikin Call of Duty Black Ops 4 Beda Dari CoD Sebelumnya!

Call of Duty Black Ops 4 punya fitur-fitur baru dan radikal yang membuat fans terkejut dan antusiasi di saat bersamaan... more

CIAYO Comics X Si Juki & Mang Awung (CIAYO Pictures)

Kedua Kreator Yang Berbalasan Status Facebook Ini Berbuah Manis

Menulis status di facebook dapat membawa manfaat kebaikan ataupun mudharat keburukan bagi facebooker. Nah yang ini kayak.. more

(Sumber gambar: HealthThoroughfare)

Pasca “Skandal Cambridge Analytica”, Facebook Mulai Goyah?

Skandal Facebook baru-baru ini memang bikin heboh. Tapi apa kira-kira pengguna Facebook masih bisa "percaya"?.. more