Review Iconoclasts: Game Platform Retro yang Akan Membuat Kita Lupa Waktu

11 months ago
sumber: store.playstation.com

Game platform dengan visual 16 bit memang terdengar ketinggalan zaman di era game 3D yang semakin generik dan menjamur dewasa ini. Namun penggemar genre yang satu ini masih banyak ditemukan dan bahkan terus dikembangkan dengan peningkatan kualitas yang luar biasa. “Iconoclasts” adalah salah satu contoh game dengan gaya klasik namun dibuat dengan cita rasa modern serta menarik.

“Iconoclasts” dikembangkan sejak tahun 2010 oleh Joakim Sandberg, bisa dibilang ini merupakan proyek ambisius Sandberg. Sebelumnya Sandberg pernah membuat game platform yang bertajuk “Noitu Love 2: Devolution” pada tahun 2012. Game itu berhasil mendapatkan sambutan positif dari para gamer dan kritikus game. Lalu apakah “Iconoclasts” juga akan bernasib sama atau malah menciptakan pengulangan yang berujung pada hal membosankan?

Gameplay Biasa dengan Banyak Perkembangan Konten yang Segar

Sumber: www.gamespot.com

Sumber: www.gamespot.com

Seperti kebanyakan game platform pada umumnya, batasan ruang gerak permainan adalah tantangan tersendiri bagi Sandberg untuk membuat “Iconoclasts” tidak terjebak dalam hal yang membosankan. Kalau bro sis merupakan jenis gamer yang suka memainkan game platform, pasti akan merasa kalau “Iconoclasts” punya kombinasi dari beberapa game populer seperti “Ori and the Blind Forest”, “Valdis Story”, dan “Hollow Knight”.

Berjalan dan melompat dari satu platform  ke platform lainnya, menggunakan senjata jarak dekat berupa “kunci inggris” yang juga bisa digunakan untuk membuka sebuah pintu atau menyelesaikan sebuah puzzle, atau senjata berupa pistol, berenang dalam air, serta menyelesaikan banyak puzzle untuk bisa mencapai bos besar yang beragam akan membuat kita semua lupa waktu, di tambah lagi ruang lingkup dunia yang luas untuk di eksplor.

Sumber: www.giantbomb.com

Sumber: www.giantbomb.com

Kombinasi gameplay dalam “Iconoclasts” dirancang dengan sangat apik, puzzle yang disuguhkan juga dikemas dengan gaya yang menarik dan sedikit agak sulit, tapi tidak akan membuat gamer sampai frustasi.

Sedangkan untuk jenis musuh, beberapa bagian terasa berbeda, tergantung lingkungan dan lokasi yang dieksplor. Apalagi dibagian melawan bos besar, ruang gerak yang disediakan semakin sempit dengan penyesuaian lingkungan permainan yang harus digunakan untuk menemukan kelemahan dan mekanisme yang efektif dalam mengalahkan musuh besar.

Sumber: www.giantbomb.com

Sumber: www.giantbomb.com

Konten-konten seperti skill serta senjata yang bisa digunakan, tidak hanya untuk mengalahkan musuh tapi juga memecahkan puzzel adalah kombinasi yang menyegarkan. Salah satu contoh ialah senjata bom yang juga digunakan untuk menciptakan momentum agar sebuah platform bisa menjadi lift sehingga mencapai platform yang berada cukup tinggi jadi lebih mudah.

“Iconoclasts” bisa dibilang semacam labirin asik yang mengajak kita untuk tersesat lebih dalam hingga akhirnya merasa lega setelah menemukan berbagai jawaban dan kunci pemecah masalah. Tapi jangan tersesat ke hati orang ya, bro sis. Berabe. Hehe. Ini semacam game open world namun dengan desain antar muka 2D.

Cerita yang Berat dengan Dialog Ringan Didukung Oleh Visual 16 Bit

Sumber: blog.eu.playstation.com

Sumber: blog.eu.playstation.com

Cerita adalah unsur yang sangat penting. Lewat cerita, baik itu gameplay dan bermacam konten yang muncul akan terasa sangat selaras. Premis cerita dalam “Iconoclasts” bisa dikatakan cukup berat, karena tema cerita menyinggung tentang politik, kepercayaan, dan pengaruh bersosial yang terbentuk karena unsur politik serta kepercayaan tadi. Tentang sebuah sumber daya yang dimiliki oleh alam untuk menyeimbangkan dunia tapi di salah gunakan untuk kepentingan tertentu.

“Iconoclasts” tampil dengan dunia kelam, di mana kehidupan orang-orang dibayangi oleh politik yang kotor serta perbuatan tidak terpuji yang menggunakan kepercayaan sebagai senjata untuk memperkuat kekuasaan. Tema semacam ini sangat relevan untuk dunia saat ini, bahkan untuk Indonesia sekali pun.

Sumber: blog.eu.playstation.com

Sumber: blog.eu.playstation.com

Premis yang cukup berat itu bisa menjadi mudah diterima karena tampilan 16 bit yang segar penuh warna-warni dikombinasi dengan dialog dan narasi yang mudah dicerna serta menghibur. Beberapa humor serta sudut pandang dari banyak jenis karakter NPC yang ditemukan merangkai kesatuan cerita mengejutkan.

Sungguh sebuah pengalaman tidak terduga bisa menemukan tema semacam ini dalam sebuah game platform yang imut serta jenaka seperti ini.

Jenis Musik Berbasis Chiptune yang Identik

Sungguh tidak disangka Sandberg punya selera musik yang bagus. Meskipun setiap musik tampil dengan gaya chiptune, namun beberapa nada akan membuat kalian semua teringat dengan musik-musik klasik populer yang legendaris. Satu contoh musik dalam game ini berjudul “Success”, kombinasi permainan piano dengan hentakan bit chiptune yang riang dengan unsur nada Canon Rock yang terasa familiar di telinga.

Kurang lebih ada 9 musik yang akan menemani keseruan bermain “Iconoclasts”, mulai dari musik sederhana yang santai, hingga pada musik menegangkan yang penuh dengan hentakan drum yang dikombinasi dengan piano elektro.

~

Tujuh tahun pengorbanan Sandberg dalam merancang game ini bukanlah hal yang sia-sia. Meskipun dilakukan hanya sendiri, ia berhasil memberikan predikat kepada dirinya sendiri bahwa ia punya kemampuan yang gak bisa dianggap remeh oleh para developer besar.

Semua unsur yang dimasukkan oleh Sandberg ke dalam “Iconoclasts” menjadikan game ini terasa sangat sempurna walau beberapa hal minor sangat kecil masih tetap ada. Dedikasi Sandberg yang luar biasa menghidupkan kembali genre platform, patut mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi.

Game ini sudah mulai rilis di Playstation 4 dan Steam (untuk PC) pada tanggal 23 Januari 2018. Sejauh ini, “Iconoclasts” berhasil masuk ke dalam daftar game platform yang wajib dimainkan. Apakah kalian tertarik untuk mencoba game yang satu ini? Tunggu apa lagi!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

00-d-venom

Trailer Venom Rilis, Fans Menanyakan Keberadaan Spider-Man!

Paska rilisnya trailer film Venom, para fans mempertanyakan keberadaan musuh bebututan si alien Symbiote, Spider-Man!.. more

(source 1: m.korea.net)

Seberapa Penting Olympic Winter Games untuk Korea Selatan?

Korea Selatan lagi giat-giatnya mempromosikan Olympic Winter Games yang ke-23. Kompetisi olahraga ini nantinya bakal dia.. more

superherohype.com

Film Alita Hadir dengan Tokoh Menyerupai Karakter Anime

James Cameron, director film Avatar dengan Robert Rodriguez, director film Sin City, membuat film dengan genre sci-fi te.. more

00 delorean desktop

Kembali Ke Masa Depan Lewat Manga Back To The Future

Film Back To The Future akan disadur menjadi manga yang dikarang oleh mangaka One Punch Man dan Eyeshield 21, Yusuke Mur.. more

Sumber: WikiHow

Hati-hati, Attitude Jelek Bisa Menghancurkan Karir Berkarya!

Attitude, inilah satu hal yang tidak boleh gagal kita pahami dalam kehidupan berkarya... more