Review Spider-Man: Into the Spider-Verse, Memasuki Dunia Spider-Man Versi Komedi

2 months ago
Spider-Man Into the Spider-Verse-Banner

Sejak Spider-Man: Into the Spider-Verse dirilis trailer-nya, antusias penonton pun sangatlah tinggi. Gaya animasi super keran dengan tone khas komik membuat semua orang penasaran. Cuplikan gambar yang sangat keren, pertarungan serta ledakan yang dinamis seolah meyakinkan bahwa ini adalah tolak ukur untuk menilai bahwa film animasi ini akan menjadi tontonan yang luar biasa.

Benarkah demikian? Berikut ulasannya:

Peter Parker Bukan Tokoh Utama di Spider-Man: Into the Spider-Verse 

Spider-Man: Into the Spider-Verse mengambil sudut pandang seorang bocah bernama Miles Morales yang hidup di Brooklyn, New York tempat Peter Parker sang Spider-Man beraksi. Kepopuleran Spider-Man pun langsung digambarkan lewat beberapa hal menarik yang kocak. Contoh sederhana saja, Spider-Man punya album natal. Yeah, Spider-Man sudah menjadi selebritis di New York.

Spider-Man Into the Spider-Verse -Miles Morales

Miles Morales (sumber: www.odeoncinemas.ie)

Tapi sekali lagi ini bukan kisah tentang Peter Parker, tapi tentang Miles Morales, walau pada mulanya Peter Parker lah yang menjadi pengantar cerita untuk film ini. Sangat menarik ketika kita disuguhkan kehidupan seorang anak yang mulai beranjak dewasa dan sedang melakukan pencarian jati diri. Sisi manusiawi ini lah yang membuat film ini terasa sangat dekat dengan kita dan mudah diterima oleh banyak orang.

Baca juga: Benarkah Spiderman Akan Muncul di Film spin-off ‘Venom’?

Menariknya screenplay Phil Lord dan Rodney Rothman berhasil merangkai konflik sederhana namun berdampak besar pada emosi penonton. Bahkan sosok penjahat Kingpin yang di versi komiknya merupakan pria nakal diberi sentuhan berbeda. Sangat menyenangkan ketika seorang penjahat punya alasan yang bisa diterima. Jadi “I want to take over the city for no reason” sepertinya sudah jadi kalimat yang sangat basi untuk saat ini.

Munculnya Tokoh – Tokoh Baru yang Semakin Meramaikan Spider-Man: Into the Spider-Verse 

Spider-Man Into the Spider-Verse-Universe

Spider-Man dari berbagai universe (sumber: www.dailydot.com)

Cerita tentang multiverse juga menjadi sangat menarik sebab kemunculan berbagai karakter baru tidak hanya sekadar menjadi sebuah alasan tertentu, tapi juga menggali karakteristik unik dari karakter-karakter itu sendiri. Sebut saja seperti Spider-Ham dengan hidung anehnya.

Cerita yang bagus, pengembangan karakter yang komplek tentu sudah menjadi nilai positif untuk film ini. Lalu bagaimana dengan visual yang terlihat luar biasa di trailer itu? Apakah akan sama mengesankan,? Masalahnya ini tentang dunia dengan banyak dimensi, dan setiap karakter yang muncul dari berbagai dimensi itu tetap mempertahankan desain karakter mereka. Apa benar gambar di dunia Miles Morales bisa menyatu dengan tone gambar karakter lainnya?

Secara visual, Spider-Man: Into the Spider-Verse memiliki banyak keunikan yang sering kali tampil brilian, ini seperti membaca sebuah komik tapi dalam versi yang dihidupkan. Warna-warna cerah, efek  glitch, lalu ada gelembung percakapan khas komik yang sesekali muncul, memberikan efek dramatis.

Spider-Man Into the Spider-Verse-Visual Keren

Visual unik yang keren (sumber: www.iamag.co)

Dan perbedaan tone gambar untuk setiap karakter dari dimensi berbeda sama sekali tidak merusak mood penonton, melainkan menambah kekayaan visual. Saya merasa meski tone ini cukup terlihat perbedaannya dengan sengaja dibuat ‘agak kasar’, hal ini malah menjadi gimik serta aksen khas yang kuat. Mungkin, kuncinya ada pada kefleksibelan gerakan tiap karakter yang menyatu dengan animasi lainnya.

Baca juga: 5 Game Spiderman Terbaik yang Pernah Dibuat

Hal paling membosankan dalam cerita saga Spider-Man adalah kisah yang berputar tentang seseorang digigit laba-laba lalu menjadi pahlawan super. Jadi film ini gak akan ada orang yang digigit laba – laba?

Tenang aja, Spider-Man: Into the Spider-Verse tidak membuang ciri khas cerita ini, masih tetap memasukkan adegan itu adalah sebuah penghormatan. Namun Spider-Man: Into the Spider-Verse pelan-pelan menjadikannya bahan lawakan. Seolah memahami apa yang dirasakan oleh penonton bahwa cerita lama itu sudah cukup membosankan untuk diulang-ulang.

Spider-Man Into the Spider-Verse-Adegan Dinamis

Banyak adegan yang diambil dengan sudut-sudut dinamis (Sumber: www.techadvisor.co.uk)

Dari segi aksi. Spider-Man: Into the Spider-Verse sangat dinamis. Pembagian adegan pertarungan juga memberi ruang pada karakter lain untuk memperlihatkan aksi terbaik mereka. Dan ini penting walau tidak semua mendapat bagian yang cukup banyak seperti karakter Peter Parker dan Gwen dan Miles Morales tentunya sebagai karakter utama.

Saya rasa, Sony wajib berterima kasih kepada Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman selaku sutradara film ini. Sony akhirnya punya film Spider-Man yang benar-benar bagus dan kemungkinan bahwa Spider-Man: Into the Spider-Verse akan mendapatkan sekuel suatu hari nanti tentu menjadi harapan besar bagi para penggemar film ini.

Spider-Man Into the Spider-Verse-Dua Spider-Man

Dua Spider-Man dengan kepribadian yang bertolak belakang (Sumber: people.bfmtv.com)


Spider-Man: Into the Spider-Verse berhasil menjadi kejutan paling menggembirakan dari Sony untuk tahun ini. Karkater Miles Morales berhasil menjadi idola baru selain karakter Peter Parker yang mulai usang. Kekuatan naskah cerita memberikan ruang-ruang tidak terduga kepada banyak karakter, bahkan untuk karakter penjahat sekali pun dibuat punya latar belakang cerita yang bagus.

Pertumbuhan Miles Morales untuk menjadi seorang pahlawan super tidak terkesan dipaksakan. Semuanya tumbuh begitu alami dibarengi oleh konflik kehidupannya yang sangat manusiawi. Secara visual  Spider-Man: Into the Spider-Verse berhasil memunculkan penglamaan baru serta keluar dari hal-hal biasa yang sering muncul dalam gaya film-film Pixar pada animasi mainstream.

Baca juga: Spiderman Homecoming: Spiderman Millennial Ala Tom Holland (NO SPOILERS)

Tapi memasuki bagian akhir film Spider-Man: Into the Spider-Verse terasa sedikit agak melemah, mungkin karena ingin memfokuskan pada adegan pertarungan yang efik. Tapi film ini punya dialog paling menyenangkan serta mengharukan yang akan buat penonton merasa kangen, muncul lewat sosok seorang lelaki tua dengan suara khasnya. “I’m going to miss him. We were friends, you know,” ucapnya pada Miles Morales.

Kalau kamu mau baca komik bertemakan Fantasy atau Action, kamu juga bisa baca ceritanya di CIAYO Comics. 

Banner Komik Action

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber: irishfilmcritic.com

The Ritual, Atmosfer Luar Biasa untuk Cerita Usang yang Klasik

“The Ritual” merupakan contoh film horror yang punya skenario klasik dengan menampilkan atmosfer mencekam yang terja.. more

Sumber: Mini en Monde

Cafe yang Wajib Kamu Kunjungi Kalau Kamu ke Jepang dan Korea!

Sebagai anak muda, kita pasti suka banget nongkrong buat ngabisin waktu bareng temen atau bahkan ngerjain tugas di kafe... more

Teriakan Berdarah – File 005 Gejolak Dalam Diri

Jika saja aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku dan memberi batasan pada gejolak diriku yang lain ini, mungkin.. more

Sumber: mnl48

Mungkin Ini Penyebab Jepang dan Korea Mengalami Penurunan Angka Kelahiran

Baik di Jepang maupun di Korea, kedua negara tersebut sedang mengalami satu permasalahan yang sama. Yaitu penurunan angk.. more

(Sumber: youtube.com)

Manga Romance Comedy Watashi ni xx Shinasai Mendapat Adaptasi Serial dan Film Live-Action

Watashi ni xx Shinasai, manga bergenre romance comedy ala novelis yang siap untuk ditonton versi Live Action-nya!.. more