Review The Escape: Pernikahan Yang Melelahkan Dan Menjemukan

3 months ago

Saya tidak tahu apakah di luar sana ada orang-orang yang mengalami hal sama seperti karkater Tara (diperankan oleh Gemma Arterton). Lelah hidup berkeluarga, menemukan titik kejemuan atas aktivitasnya, dan menginginkan perubahan yang bergitu revolusioner dalam hidup. Sekali lagi saya tidak tahu, walau dalam hati saya merasa sangat yakin ada banyak orang yang mengalami hal semacam ini.

Disutradarai dan ditulis oleh Dominic Savage, sutradara asal Inggris yang memang sering bermain di genre drama. The Escape  mencoba untuk berbicara tentang keinginan untuk bebas seorang ibu rumah tangga yang berada di ambang depresi karena dihantui oleh rasa bosan dan lelah.

Dominic Savage selaku sutradara. (Sumber: BBC)

Dominic Savage selaku sutradara. (Sumber: BBC)

Ini bukan kali pertamanya Dominic Savage berbicara tentang kebebasan, sebelumnya pada tahun 2005, ia pernah menyutradarai film berjudul Love + Hate yang juga berbicara tentang keinginan bebas dari kusut-marut lingkungan yang tidak nyaman.

Jika Love + Hate mengambil sudut pandang sepasang kekasih, maka The Escape lebih fokus pada satu sosok perempuan yang sulit dipahami dengna kata-kata tapi bisa dimengerti lewat jurang perasaannya yang tergambar baik dalam setiap adegan.

The Escape punya kedalaman tentang pisikologi ibu rumah tangga yang kerjaannya hanya di rumah, menghabiskan waktu mengurus rumah, suami, dan kedua anak. Film ini mengandung banyak pertanyaan eksistensial dengan keintiman yang sulit dibahasakan oleh setiap pasangan pada umumnya.

Gemma Arterton sebagai Tara. (Sumber: Israbox)

Gemma Arterton sebagai Tara. (Sumber: Israbox)

Setiap adegan bagaikan topografi emosional, disusun sedemikian rupa untuk membentuk adegan luar biasa yang membuat penonton merasakan sesuatu tidak benar dan menciptakan empati pada karakter Tara. Seperti urutan adegan di depan kaca jendela, bagun pagi dengan rutinitas sama, serta hal-hal yang membuat penonton merasa ada sesuatu yang tidak terjembatani antara seorang suami dan istri.

Depresi sebenarnya mulai terlihat ketika Tara sendirian di rumah. Adegan yang menonjolkan begitu terpencilnya perasaan Tara saat suaminya Mark (diperankan oleh Dominic Cooper) pergi berkerja dan kedua anaknya sekolah. Tara tersentak panik dan takut, ia tidak lagi mampu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Dominic Cooper sebagai Mark. (Sumber: Gotceleb)

Dominic Cooper sebagai Mark. (Sumber: Gotceleb)

Dominic Savage cukup cerdas mempermainkan plot cerita dengan tidak membiarkan Tara merasa terasingkan dan sendirian. Ia melibatkan Mark menjadi sosok yang mencoba mengerti walau ia tidak pernah mampu memahami apa yang diinginkan istrinya. Saya jadi teringat sebuah kutipan tentang perempuan, bahwa; “Perempuan terkadang tidak tahu apa yang mereka mau, namun mereka ingin dipahami oleh pasangan mereka.” Jelas ini menjadi sangat rumit. Memahami sesuatu yang tidak diketahui, bagaikan masuk ke dalam labirin, ingin keluar tapi tidak punya petunjuk jelas bagaimana caranya keluar.

Pergulatan emosi yang naik turun mencoba mempermainkan perasaan penonton, dan menciptakan dua sudut pandang yang sulit untuk dimaklumi. Pertama penonton dipaksa memahami apa yang dirasakan oleh Tara, tapi di sisi lain, penonton juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa Tara terasa begitu egois dengan mencoba memperlakukan suaminya tanpa kompromi. Ini bagai rasa simpati dan kebencian di aduk dalam wadah yang sama agar bisa menemukan rasa baru yang tidak menentu.

Mark mencoba menangkan Tara. (Sumber: Digital Spy) 

Mark mencoba menangkan Tara. (Sumber: Digital Spy)

Garis besar cerita The Escape sungguh terkesan sederhana dari permukaan, tapi memiliki konflik berlapis akan isinya. Sikap Tara yang ambivalensi terhadap anak-anaknya menciptakan ke egoisan yang akan membuat penonton mengutuk kelakuannya. Namun beberapa dari penonton mungkin bisa jadi menjadikan Tara sebagai simbol keberanian para ibu rumah tangga untuk menciptakan langkah yang banyak dari mereka ingin lakukan, akan tetapi terikat oleh adab dan tata krama. Jelas permasalahan seperti ini ujung-ujungnya berimbas pada seberapa bagus moral seseorang.

Saya menemukan kecendrungan khas Dominic Savage untuk film-film yang ia garap. Ia suka bermain banyak hal secara tersirat, mengkritik pandangan umum tentang bagaimana seseorang bisa dikatakan memiliki moral yang baik. Dan aturan-aturan dari lingkungan serta masyarat yang tidak pernah tertulis. Pengadilan kasat mata yang bernama pengucilan di lingkungan masyarakat jelas menjadi sesuatu yang sangat ditakuti. Oleh sebab itu banyak akhirnya orang memilih untuk menjalani sesuatu karena takut terkucuilkan meskipun mereka tidak bisa merasakan kebahagian.

the escape

Tara Mencari Kebebasan. (Sumber: Naekranie)

Dari apa yang bisa saya tangkap, Dominic Savage ingin menyampaikan pada banyak orang, mungkin saja apa yang kalian jalani selama ini bukanlah apa yang kalian inginkan. Dan mendapatkan sebuah kebahagiaan jelas merupakan hak setiap manusia.

The Escape tidak menciptakan situasi yang baik-baik saja. Film ini bergerak dengan kejujuran yang menusuk dan menenggelamkan orang-orang dalam perasaan mereka sendiri. Mungkin sulit memang untuk diakui jika ada moment tertentu ketika seseorang ingin menangis tanpa sebab dan ia sendiri tak paham mengapa ia harus menangis. Dan saya rasa setiap penonton pasti akan menemukan diri mereka dari karakter Tara yang diperankan oleh Gemma Arterton dengan sangat luar biasa bagus.

Hal lain yang juga menarik di ungkap dalam film ini adalah tentang kesetiaan, dukungan moral, dan cinta seorang suami pada istrinya. Saya begitu terkesan dengan karakter Mark yang tanpa menyerah terus mencari jalan agar istrinya bisa kembali bahagia. Terkadang frekuensi semacam ini tidak bisa bertahan dalam hubungan rumah tangga, dan jelas ini bisa menjadi petaka yang berujung pada luka dengan kemungkinan sulit untuk diobati.

Saya ingin meminjam istilah lama yang menyebut genre film semacam ini sebagai film kitchen-sink drama. Sebuah drama dapur yang menenggelamkan.

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Pennywise. Sumber: mirror.co.uk

Film IT: Pennywise, Wujud Mimpi Buruk Tiap Anak

Sudah pernah baca novel fiksi karya Stephen King berjudul ‘It’ belum? Nah, Film It sudah dirilis di berbagai negara .. more

Presiden Amerika Serikat fiktif dari game “Metal Wolf Chaos”. Sumber gambar: twitter.com/devolverdigital

Presiden Amerika Serikat Fiktif Dalam Pop Culture, Yang Mana Favoritmu?

Presiden Amerika Serikat sering digambarkan dalam pemberitaan sebagai karakter penting dunia... more

solo-a-star-wars-story-desktop

Review Solo: A Star Wars Story – Kisah Han Solo Baru Dimulai

Kisah Han Solo berakhir di The Force Awakens. Namun perjalanan hidupnya tetap abadi lewat film prekuel Solo: A Star Wars.. more

Sumber: myanimelist.net

Kurang Berselera Makan? Anime Bertema Kuliner ini akan Membangkitkan Selera Makanmu

Hampir segala ide bisa diangkat menjadi suatu cerita dalam anime, termasuk kuliner. Ini dia list anime-anime bertemakan .. more

Sumber : CIAYO Comics

Rock in Peace, Gak Selamanya Gangster Itu Buruk

Jadi gangster gak selamanya jahat, loh. Buktinya kayak Rocky cs ini. .. more