Review The Meg dan Pandangan yang Salah Terhadap Hiu

2 weeks ago
The Meg - review

Seekor hiu prasejarah sepanjang 75 kaki yang disebut Megalodon, yang diperkirakan telah lama punah, muncul dari kedalaman samudra di dua ratus mil dari pantai Cina, tepatnya di bagian bawah parit terdalam di Pasifik, menyerang sebuah kapal selam penelitian yang membuat para awak kapalnya terdampar. Seiring berjalannya waktu, seorang penyelam penyelamat laut dalam, Jonas Taylor (Jason Statham) direkrut oleh ahli kelautan China yan visioner, Dr Minway Zhang (Winston Cao) untuk membantu menyelamatkan para kru.

Bertahun-tahun sebelumnya, Taylor telah menghadapi makhluk menakutkan yang sama seperti ini. Sekarang ia harus bekerja sama dengan Suyin (Li Bingbing), dengan menghadapi ketakutannya dan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan seluruh orang yang terperangkap di bawah dan membawa dia untuk berhadapan sekali lagi dengan mahkluk dan pemangsa terbesar sepanjang masa.

Sampai disini, kita tahu bahwa ini adalah film Holywood kesekian setelah Jaws yang bercerita tentang satu hal: hiu (meskipun disini hiu itu adalah hiu purba yang sudah punah) yang digambarkan begitu mengerikan. Dibintangi Jason Statham (Spy, The Fate of The Furious) yang merupakan raja b-movie modern, film ini mempunyai budget produksi yang tidak main-main hingga mencapai 150 juta US Dollar.

Film Holywood dan Hiu

The Meg - Poster

The Meg (Sumber: Bleedingcool.com)

Setelah kesuksesan film Jaws yang disutradarai oleh Steven Spielberg dan meraih 3 piala Oscar, banyak film Holywood lain yang mencoba mengikuti kesuksesannya, sebut saja mulai dari Sharks Treasure, Deep Blue Sea, Open Water, The Reef, hingga kemunculan The Meg tahun ini.

Baca juga: Steven Spielberg Buktikan Dirinya Masih Raja Box Office dengan “Ready Player One”

Semua film-film itu menggambarkan kengerian hiu sebagai predator lautan yang dapat mengancam nyawa manusia, dan sebagaimana kata Hitler (ya, benar, pak kumis yang pernah menjadi diktator Jerman itu), bahwa film merupakan alat yang baik untuk mempengaruhi jalan pikiran banyak orang, bahkan kadang lebih baik dari buku.

Dan itulah yang terjadi, ketika mendengar kata ‘hiu’, yang terbayang oleh kita adalah rasa ngeri dan bagaimana membuaskannya makhluk tersebut, kita menempatkannya sebagai hewan yang menakutkan. Bahkan, ada orang yang memiliki fobia terhadap hiu. Fobia itu dinamakan galeophobia.

Baca juga: Steven Spielberg Akan Terlibat Di Film DC Comics; Tapi Tidak Seperti yang Dibayangkan

Pertanyaannya adalah, apakah benar rasa takut kita terhadap hiu?

Lebih Banyak Hiu yang Mati Karena Manusia 

Fakta pertama adalah, ternyata kematian manusia yang disebabkan hiu tidak sebanyak itu, bahkan menurut survei yang dilakukan oleh The Wake Project, kemungkinan seseorang meninggal karena terpeleset di kamar mandi lebih besar daripada kemungkinan terbunuh karena hiu.

Fakta kedua adalah, lebih banyak hiu yang mati karena manusia dibandingkan manusia yang mati karena hiu. Hiu membunuh sekitar 5-10 orang per tahun, sementara manusia membunuh kurang lebih 100 juta hiu per tahun, atau menurut salah satu survei, manusia membunuh 11,417 ekor hiu hanya dalam hitungan jamnya.

Bagian yang paling diincar terhadap hiu adalah siripnya, dimana beberapa negara Asia seperti Cina, Korea dan Jepang percaya bahwa sup sirip hiu mujarab untuk memberikan daya tahan seksual, merawat kulit, menambah energi, mencegah penyakit jantung hingga menurunkan kadar kolestrol (meskipun penelitian ilmiah menyatakan bahwa itu tidak benar).

Hal ini menyebabkan perburuan hiu dalam bentuk yang lebih mengerikan lagi yang disebut finning, dimana hiu dipotong siripnya lalu dikembalikan hidup-hidup ke lautan.

The Meg - Sirip

Ilustrasi pemotongan sirip hiu (sumber: Antara)

Sayangnya, film-film tentang hiu telah menaruh citra yang buruk terhadap hiu hingga menimbulkan ketidakpedulian kita terhadap makhluk tersebut.

Baca juga: Film Terbaru Bulan Agustus 2018 Sajikan Genre Lengkap! Ada Iko Uwais Juga!

Padahal, tidak semua hiu seperti yang digambarkan di film-film tersebut. Ada banyak jenis ikan hiu, ada hiu pigmi yang hanya berukuran 18 sentimeter, bahkan ada pula hiu herbivora pemakan plankton seperti hiu penjemur (basking shark) dan hiu paus (whale shark).

The Meg - Hiu Penjemur

Meskipun terlihat mengerikan, hiu penjemur adalah pemakan plankton dan tidak membahayakan bagi manusia, sayangnya hiu ini justru salah satu hiu yang terancam punah karena perburuan manusia (sumber: Daily Star)

Untuk sekedar informasi tambahan, bahkan Peter Benchley, penulis novel Jaws yang diangkat menjadi film oleh Steven Spielberg itu, sekarang menjadi aktivis advokasi hiu dan menyesali apa yang ditulisnya beberapa dekade lalu.

Perlindungan Hiu untuk Ekosistem Laut

The Meg - Hiu Gambar

Ilustrasi hiu (sumber: Merdeka)

Pertanyaannya adalah, untuk apa melindungi hiu? Apalagi dengan pengaruh film-film tentang hiu yang saya sebutkan di atas, mungkin banyak orang berpikir lebih baik hiu mati saja daripada nantinya memangsa manusia.

Padahal, hiu sangat berperan besar dalam kehidupan ekosistem laut, sebagai predator tingkat atas selain pari, hiu berperan menjaga kelangsungan rantai makanan. Karena jika salah satu rantai makanan terputus, itu akan berdampak terhadap menipisnya jumlah ikan-ikan kecil yang akan memengaruhi ketahanan pangan dari sektor perikanan.

Hiu juga mencegah penyebaran penyakit antar makhluk laut, dimana ia biasanya memakan ikan-ikan kecil yang sakit dan tidak lagi gesit.

Selain itu, jumlah hiu di lautan sendiri tidak sebanyak jumlah ikan-ikan lain, hiu hanya bereproduksi sekitar 8-10 tahun sekali dan hanya menghasilkan 20 anak yang belum tentu semuanya hidup. Karena itu perburuan terhadap hiu rentan terhadap kepunahan makhluk tersebut.

Pertanyaan kedua, bagaimana perlindungan terhadap hiu di Indonesia?

Di Indonesia, terutama di kota-kota besar di Jawa bisa ditemukan restoran-restoran yang menyediakan sup sirip hiu sebagai menunya, meskipun mahal, menu ini tetap banyak dinikmati, apalagi saat perayaan Imlek. Hal ini, seperti dinyatakan oleh WWF Indonesia, menyebabkan praktek finning terjadi pula di Indonesia.

Lalu, berbicara soal regulasi, regulasi hiu di Indonesia yang melindungi hiu terancam punah pun sering diakal-akali oleh pengusaha, dimana modusnya adalah antara lain menukar hiu yang tidak dilarang dengan hiu yang dilarang dalam kontainer setelah pengecekan oleh otoritas terkait, belum lagi korupsi yang sering terjadi di kalangan birokrat.

***

Masih banyak orang yang tidak peduli terhadap keberadaan hiu, dan salah satu penyebabnya adalah film-film Holywood yang terlalu menggambarkan hiu sebagai musuh atau monster yang mengerikan.

Baca juga: Rasakan Kembali Kerennya Era 90an dengan Film-Film Ini!

Padahal, melihat fakta bahwa lebih banyak hiu yang dibunuh oleh manusia dibandingkan manusia yang dibunuh oleh hiu, belum lagi praktek finning dimana hiu diambil siripnya lalu dibuang hidup-hidup ke lautan, monster yang mengerikan itu mungkin sebenarnya bukan hiu, tapi diri kita sendiri.

The Meg - baby shark

Baby Shark yang berpotensi mengubah stereotip kita terhadap hiu (sumber: Youtube)

Kalian juga bisa menemukan tingkah hiu kocak di komik Arif & Imam Polsek Benhil, hanya di CIAYO Comics. Dijamin gak akan takut lagi sama yang namanya hiu. Ingat, yang menakutkan itu cuma satu, di chat mantan “I mis hi(you)”.

Ciayo Comics

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

Sumber: Pinterest

Gak Selalu Happy Ending, Film Drama Romantis Ada yang Berakhir dengan Kematian

Pada umumnya, film drama romantis selalu berakhir dengan adegan indah tentang menyatunya kedua pasangan. Namun pada keny.. more

Sumber: Disney

Disney Tidak Senang dengan Bagaimana EA Menangani Star Wars

Reputasi EA sebagai perusahaan game raksasa yang rakus dan tak peduli dengan kemauan para gamer nampaknya semakin terlih.. more

Zero Cosplay Indonesia

Zero Cosplay Indonesia, Jagonya Cosplayer Jakarta

Nama komunitasnya Zero Cosplay Indonesia. Seru juga tuh bahas tentang komunitas cosplay yang aktif dan cukup eksis di Ja.. more

instagram : zipcy

Illustrator Ini Menggambarkan Keintiman Sepasang Kekasih Lewat Karyanya

Yang Se Eun, seorang illustrator berumur 29 tahun asal Korea bakalan membuat kamu ngerasa pingin untuk jatuh cinta terus.. more

Sumber: heyeonni.com

Patut Dicontoh! Berikut Strategi Korea Untuk Meningkatkan Minat Membaca Masyarakatnya

Sebenarnya ada strategi menarik yang bisa dicontoh lewat drama Korea... more