Review Wiro Sableng: Buang Segala Imajinasi Kalian Yang Berasal Dari Bukunya

3 months ago
00-d-wiro-sableng

Bukan hal yang aneh jika akhirnya film Wiro Sableng menjadi film paling ditunggu oleh penonton di Indonesia sebab sejak pertama kali teaser-nya muncul, gambar yang ditampilkan menyiratkan bahwa film ini digarap dengan sangat serius, apalagi fakta bahwa film ini berada di bawah naungan rumah studio besar bersekala Hollywood, 20th Century Fox. Jadi wajar saja jika penonton Indonesia berharap cukup besar pada kualitas film ini.

Disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, dirasa ini juga menjadi gaya tarik yang cukup besar, karena nama Angga sendiri terkenal telah menelurkan film-film berkualitas dengan gaya dan ciri khasnya sendiri, seperti film Surat Dari Praha, Bukaan 8, Filosofi Kopi, dan banyak lagi. Angga biasanya sering menampilkan tone yang lembut dengan sudut pandang gambar yang sangat indah. Lalu apakah sinematografi berkualitas khas Angga itu bisa dituangkan dalam film sejenis Wiro Sableng? Berikut ulasannya.

Unsur Duniawi dan Tuhan

Garis besar cerita Wiro Sableng (Vino G. Bastian) terbilang sangat sederhana. Layaknya formula film-film pahlawan super pada umumnya. Dimulai dari sebuah tragedi di masa kecil yang akhirnya membentuk Wiro menjadi sosok kuat. Wiro dilatih oleh seorang pendekar bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini) yang nantinya memberi titah kepada Wiro untuk meringkus mantan muridnya, Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) karena dianggap akan membawa keburukan di muka bumi.

Wiro Sableng dan Sinto Gendeng. Sumber: Lewatmana

Wiro Sableng dan Sinto Gendeng. Sumber: Lewatmana

Saya tidak terlalu bermasalah dengan garis besar ceritanya sebab ini merupakan film awal yang akan menjembatani film-film selanjutnya (mungkin!), dan menurut saya cerita Wiro Sableng bukanlah menu atau fiture utama yang menjadi senjata paling kuatnya.

Sulit untuk mengatakan bahwa Wiro Sableng adalah film yang jelek karena beberapa hal digarap dengan sangat serius dan menghibur. Adegan-adegan lucu tampil sesuai lakon Wiro yang memang kocak berhasil membuat tawa penonton pecah, apalagi ketika ia berjumpa dengan dua rekannya, Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi).

Secara visual Wiro Sableng  berusaha menampilkan hal-hal yang indah walau dengan keterbatasan yang dimilikinya. Seperti adegan pembuka; bulan berwarna merah, beberapa adegan yang memang membutuhkan visual efek. Untuk standar film Indonesia, Wiro Sableng sudah cukup berhasil menampilakn kemajuan yang lebih bagus dari sekian banyak film Indonesia yang menggunakan visual efek sejauh ini. Selain itu dari segi kostum juga digarap sangat serius dan detil, bahkan warna pakaian Wiro yang putih dan mencolok sempat dijadikan bahan candaan agar penonton tidak mempertanyakan hal serupa. Saya jadi teringat lelucon Wolverine tentang kostum X-Man berwarna kuning.

Wiro Sableng bersama Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti. Sumber: Sidomi

Wiro Sableng bersama Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti. Sumber: Sidomi

Selain kostum, make up juga digarap cukup detil, seperti penampilan sosok Sinto Gendeng yang sudah tua, atau make up karakter musuh yang dibuat gelap dan memberikan identitas kuat. Hal-hal detil seperti ini memang sangat perlu, apalagi untuk cerita yang bernuansa kolosal seperti film Wiro Sableng ini.

Ruang lingkup perkampungan yang menjadi setting cerita  juga dibuat tidak kalah rapi, mulai dari rumah-rumah penduduk, keadaan pasar, sampai pada detil bagian dalam kerajaan. Walau ada di beberapa bagian masih terlihat kasar, terutama di beberapa bagian yang menggunakan efek visual atau properti seperti bebatuan.

Dan yang paling mencuri perhatian dari sekian banyak hal di film ini adalah, koreo disetiap pertarungan. Ini merupakan bagian paling banyak dinanti sebab keterlibatan Yayan Ruhian dalam film ini tentu akan memberikan nilai positif mengingat sosok Yayan punya catatan bagus, baik dalam film The Raid sampai pada skill bela diri yang dimilikinya.

Yayan Ruhian sebagai Mahesa Birawa. Sumber: Newsmusik

Yayan Ruhian sebagai Mahesa Birawa. Sumber: Newsmusik

Adaptasi Setia Buku Wiro Sableng?

Lalu apakah semua nilai positif itu bisa membuat Wiro Sableng sebagai film yang punya kualitas jempolan, aplaagi banyak juga yang berkomentar bahwa film ini punya kualitas setara film Hollywood?

Wiro Sableng tidak bisa terlepas dari hal-hal minor yang ternyata cukup banyak. Mengingat Wiro Sableng diadaptasi dari novel berjudul sama karya Bastian Tito (ini cukup menarik karena faktanya Bastian Tito adalah ayah dari Vino G Bastian, pemeran Wiro Sableng dalam film ini), maka dari segi cerita seharunya film ini bisa punya cerita yang lebih bagus dan tidak dibuat sesederhana ini.

Para pembaca novel pasti akan sangat kecewa, sebab ada banyak perombakan yang dilakukan dan bahkan film ini tidak benar-benar mengikuti cerita saga dari Wiro Sableng itu sendiri. Memang seri novel Wiro Sableng sangatlah banyak, dan usaha untuk merangkum semua itu ke dalam satu film bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi perlukah merangkum semua ceritanya dalam satu film, mengapa tidak mengambil satu event yang dianggap sangat penting saja?

Novel-novel Wiro Sableng karya Bastian Tito. Sumber: Pocer

Novel-novel Wiro Sableng karya Bastian Tito. Sumber: Pocer

Seakan latah, Film ini berusaha untuk memunculkan banyak karater ikonik dalam novelnya namun dengan cara yang tidak maksimal. Terutama untuk karakter musuh yang sangat banyak yang bahkan dalam novelnya tidak pernah saling berjumpa. Musuh-musuh besar dan hebat dalam novel dibuat hanya menjadi kroco pengganggu yang tidak penting. Saking banyaknya karakter musuh yang ditampilkan, sampai-sampai tidak semuanya mendapatkan ruang yang nyaman untuk diperkenalkan sehingga tidak bisa memberikan kesan yang bisa diingat oleh penonton.

Selain itu kemunculan beberapa karakter seperti Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) juga terkesan sangat dipaksakan. Tidak ada alasan yang kuat mengapa karakter ini harus muncul, dari mana asalnya juga tidak dijelaskan. Mungkin bagi pembaca novelnya mereka sudah punya gambaran, lalu bagimana dengan penonton baru yang tidak tahu menahu tentang kisah Wiro Sableng?

Untuk visual, film ini tampil bagus akan tetapi juga penuh paksaan di waktu yang bersamaan. Ada beberapa adegan yang saya rasa tidak terlalu penting untuk menggunakan efek visual. Semisal adegan pohon dipinggir jurang, mengapa tidak diganti dengan adegan lain saja yang tidak perlu efek visual, atau adegan Wiro Sableng turun gunung, meloncat seperti Naruto. Beberapa adegan itu seharusnya bisa diganti dengan adegan sederhana yang lebih menonjolkan sinematografi daripada efek visual. Saya rasa Angga mampu melakukan itu dengan sangat bagus.

Ada juga dialog tentang tembok setinggi 13 tombak yang ternyata bisa dipanjat hanya dengan tiga kali melompat saja. Apakah Angga sedang membuat lelucon tentang hal itu, ini benar-benar tidak lucu.

Dapatkah kalian mengingat semua nama musuh yang ada di film ini? Sumber: Imdb

Dapatkah kalian mengingat semua nama musuh yang ada di film ini? Sumber: Imdb

Dari segi dialog, Wiro Sableng mencoba tampil tidak kaku seperti yang terjadi dalam film Buffalo Boys, akan tetapi tetap saja beberapa bagiannya terdengar tidak nyaman ditelinga. Entah apa yang terjadi dengan bahasa Indonesia ketika digunakan dalam sebuah dialog? Saya tidak tahu apa yang salah, mungkin ritmenya, tata bahasanya, atau waktu pengucapannya? Ini selalu jadi kendala besar dalam film Indonesia sejauh ini.

Dan terakhir yang sangat menjadi sorotan adalah adegan pertarungan. Sejak awal menonton saya memang berharap lebih, pada adegan pertarungan. Sebab untuk sebuah film yang diadaptasi dari novel silat, tentu adegan pertarungan harus tampil maksimal dan bisa menjadi nilai jual paling utama.

Wiro Sableng memang punya adegan pertarungan yang bagus, tapi tidak disemua bagian. Apalagi ketika adegan pertarungan tapi diambil dengan sudut kamera yang terlalu dekat. Ini benar-benar membuat seni pertarungan tidak bisa dilihat detil. Tapi paling tidak pukulan matahari sempat muncul dan sedikit menghibur.

Secara keseluruhan Wiro Sableng bukanlah film yang buruk, atau lebih tepatnya film yang berusaha untuk tidak tampil buruk, semua bagiannya dikerjakan penuh usaha. Mengingat film ini berada di bawah naungan 20th Century Fox, maka kemungkinan akan rilis secara Internasional terbuka sangat besar. Paling tidak orang di luar Indonesia akan tahu bahwa di Indonesia ada seorang pendekar yang bernama Crazy Wiro: Fire Dragon Axe Warrior.

Kesimpulan

Ceritanya terlalu disederhanakan dan agak keluar dari cerita saga-nya. Efek visual masih menjadi kendala besar dan dipaksakan untuk beberapa adegan. Koreo pertarungan punya potensi yang bagus walau pengambilan gambar secara dekat sangat mengganggu dan membuat detilnya jadi tidak maksimal. Banyak karakter dipaksa muncul tapi tidak mendapat ruang yang cukup untuk diperkenalkan. Dan sekarang kita semua tahu apa fungsi dari Kapak Maut Naga Geni 212 walau kita semua penasaran di mana sebenarnya Wiro menyembunyikan kapaknya itu selama tidak digunakan. Oh iya, tolong jangan dibahas tentang batu hitamnya juga!

Jangan lupa juga untuk cek berbagai komik aksi dari CIAYO Comics! Kamu bisa pilih komik aksi yang serius banget maupun yang sama kocaknya seperti Wiro Sableng! Klik link di bawah ini untuk mencari semua komik aksi favorit kamu!

Banner Komik Action

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

youtube.com

Fans Membuat Petisi Untuk Me-Remake Film Star Wars: The Last Jedi; Perlu Atau Tidak?

Petisi yang menuntut remake The Last Jedi demi menebus karakter.. more

Sumber: CIAYO Comics

Rika Si Preman Sekolah Siap Menghancurkan Masa Indahmu!

Berandalan sekolah Rika dan kawan-kawan siap tarung dengan sekolah sebelah di komik Rika Si Preman Sekolah... more

Sazae san, anime terpanjang asal Jepang. Sumber: crunchy-rollSazae san, anime terpanjang asal Jepang. Sumber: crunchy-roll

Anime Ini Dinobatkan Sebagai Anime Nasional Jepang dan Alasannya Bikin Melongo!

Jepang sebagai negara penghasil anime memang sudah sukses menjadikan anime sebagai gaya hidup. Hampir di tiap negara pas.. more

felice blanc

Felice Blanc Hadirkan Karakter Buatan Sendiri ke Dunia Nyata

Saat CIAYO Comics berpartisipasi di event Mangafest Mythophobia November lalu, Maria Megayanti (MM) dari tim CIAYO Blog .. more

Sumber gambar: youtube.com

Game Nintendo Switch & 3DS Yang Akan Menyerbu Pasar Tahun 2018

Game-game baru Switch & 3DS untuk tahun 2018 antara lain adalah:.. more