Russel Peters dan Menertawakan Stereotip

4 days ago
00-d-russel-peters

Selama hidup merantau di Uni Emirat Arab untuk belajar, saya hidup bersama orang dari berbagai bangsa–Benin, Thailand, Bangladesh.. dan ada satu orang Nigeria yang cukup dekat dengan saya, dimana tiap kami bertemu kami selalu berdebat soal siapa diantara kami yang lebih mirip Mesut Ozil.

Saya tidak merasa masalah mengungkapkan candaan yang cukup menyinggung terhadapnya, dan begitu pula dia. Sampai kemudian saya berkata (dalam bahasa Arab),

“Eh, mana ada Ozil item kayak elu!”

Atmosfer yang awalnya menyenangkan menjadi berubah, dan setelah kejadian itu pun, beberapa teman dari teman saya itu (yang mempunyai warna kulit yang sama) mendatangi saya dan menyatakan ketidaksukaan mereka atas hal tersebut.

Sejak itu, saya mencamkan dalam kepala saya, betapa berbahayanya humor atau candaan soal warna kulit, ras, dan sebagainya–candaan soal stereotip.

Tapi kemudian, beberapa tahun kemudian saat sedang mencari tontonan di Netflix, saya justru menemukan seorang komedian yang menjadikan humor soal stereotip sebagai candaan utamanya.

Humornya menyinggung orang Arab, orang Afrika, orang Filipina, orang Rusia, orang-orang kulit putih, bahkan termasuk orang India sendiri yang merupakan bagian dari komunitasnya.

Poster promosi pertunjukan Russel Peters di Riyadh tahun 2016 (Sumber: Twitter)

Poster promosi pertunjukan Russel Peters di Riyadh tahun 2016 (Sumber: Twitter)

Orang itu bernama Russel Peters, dan bukan hanya itu, dia bahkan menjadi salah satu stand-up comedian paling terkenal dan salah satu komedian berpenghasilan tertinggi. Pertunjukannya pun selalu dihadiri dengan orang-orang dari berbagai latar belakang–tentu saja termasuk orang-orang yang ia singgung dalam komedinya.

Dan dengan humornya yang sensitif itu, ia bahkan pernah diundang untuk tampil di Riyadh, Arab Saudi, bahkan sampai ditemui langsung oleh Pangeran Mahkota Kerajaan Arab Saudi!

Komedi Pasti Menyinggung

Coki dan Muslim (Sumber: Gitu Aja)

Coki dan Muslim (Sumber: Gitu Aja)

Coki dan Muslim dari Majelis Lucu Indonesia menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini karena candaan mereka yang dianggap tidak pantas, dan banyak orang yang menyesali bahwa ada beberapa topik yang harusnya dihindari oleh komedian dalam candaan mereka. Dua komedian tersebut sendiri pun akhirnya menyatakan permintaan maaf kepada publik dan menyatakan pengunduran diri dari Majelis Lucu Indonesia.

Tapi sebenarnya, komedi adalah sesuatu yang sudah pasti menyinggung.

Mengapa?

Karena pada hakikatnya, seperti dinyatakan oleh Sammy Not A Slim Boy dan Pandji, komedi selalu mengambil subjek untuk ditertawakan. Itu bisa dibagi dalam tiga subjek, yaitu diri sendiri, audiens, dan orang lain diluar audiens.

Raditya Dika (Sumber: Colours Indonesia)

Raditya Dika (Sumber: Colours Indonesia)

Raditya Dika, yang pernah mengatakan bahwa ia selalu membayangkan karya yang akan dibuatnya adalah sesuatu yang akan dinikmati seorang ayah bersama anak perempuannya, bisa diambil sebagai contoh komedi yang mengambil subjek diri sendiri sebagai bahan tertawaan. Sebagaimana kita ketahui, banyak dari humor Raditya Dika adalah menceritakan kesialan-kesialannya dalam hidup.

Dan ketersinggungan bukan hanya datang dari hal yang sensitif.

Kita ambil contoh dari Coki Anwar, salah satu kontestan Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV.

Dalam sebuah pembukaan materinya, ia berkata,

“Selamat malam orang-orang lemah yang menonton bioskop menghadap ke layar. Saya tidak, saya menghadap ke proyektor. Itu silau!”

Baca Juga: Woody Allen, Komedi = Tragedi + Waktu

Coki Anwar (Sumber: Youtube)

Coki Anwar (Sumber: Youtube)

Bahkan dengan humor sepele seperti itu pun ada orang yang tersinggung, dalam sebuah video Youtube di channel Kompas TV yang menayangkan proses close-mic Coki Anwar (yang berarti Coki Anwar tersingkir dari kompetisi), ada sebuah komentar yang menyatakan:

“Makanya jangan seenaknya ngatain orang lemah, close-mic kan lu. Mampus!”

Spongebob di Episode ‘Candaan Tupai’

Komedy Krab (Sumber: Spongebob Wikia)

Komedy Krab (Sumber: Spongebob Wikia)

Setelah kita tau bahwa sebuah komedi pasti menyinggung, maka justru pertanyaan itu semakin besar, bagaimana bisa Russel Peters mengangkat salah satu topik yang paling menyinggung, yaitu humor stereotipikal, sebagai bahan komedinya, bahkan menjadikannya salah satu stand up comedian paling terkenal di dunia?

Jawabannya mungkin bisa kita temui di tontonan masa kecil kita, yaitu Spongebob Squarepants.

Dalam salah satu episode, diceritakan bahwa Krusty Krab menjadi sebuah klub komedi malam, dan Spongebob menjadi salah satu pengisi materi.

Spongebob yang kebingungan dan sempat dicemooh penonton pun kemudian menjadikan Sandy, teman tupainya sebagai bahan candaan, dan kemudian itu berjalan mulus dan ia pun membawakan materi itu kembali di malam berikutnya.

Baca Juga: Yuk, Nostalgia Bareng Film Kartun Nickelodeon ini!

Spongebob menjadikan gigi tupai Sandy sebagai bahan candaan (Sumber: Upost)

Spongebob menjadikan gigi tupai Sandy sebagai bahan candaan (Sumber: Upost)

Tapi hal itu menjadi momok bagi Sandy karena sikap orang-orang Bikini Bottom menjadi sinis terhadap dirinya, padahal selama ini ia dikenal sebagai tupai yang pintar. Bahkan dalam sebuah adegan saat Sandy sedang berjalan di minimarket, seorang ibu ikan melarang anaknya untuk mendekati Sandy yang seorang tupai.

Sandy pun kemudian memberikan pelajaran kepada Spongebob dengan mengundangnya ke rumahnya dan bertingkah idiot sebagaimana digambarkan Spongebob dalam materi komedinya, dan membuat Spongebob kapok karena Sandy sampai mengambil helm airnya dengan bertingkah seolah-olah itu adalah vas bunga dan membuatnya kehabisan napas.

Di malam berikutnya, dia berhenti melakukan candaan soal tupai, sebaliknya, ia mulai melakukan candaan mengenai ikan (yang merupakan kebanyakan penontonnya), kepiting (yang merupakan bosnya sendiri, yaitu Tuan Krab), dan spons (yang merupakan dirinya sendiri).

Inilah yang membuat candaan stereotipikal Russel Peters laku keras tanpa menyinggung, ia tidak hanya membahas soal orang Arab saja atau orang-orang kulit hitam saja, tapi ia juga membahas orang Rusia, Filipina, orang-orang kulit putih, termasuk orang-orang India yang merupakan komunitasnya sendiri.

Hal ini pun pernah ditegaskan Russel Peters dalam sebuah wawancara,

“..orang-orang merasa baik-baik saja saat menertawakan orang lain tapi bermasalah saat dirinya ditertawakan. Saya rasa ini saatnya orang-orang juga mulai menertawakan dirinya sendiri.”

Di pertunjukan stand-up Russel Peters, penonton bukan hanya “ditertawakan”, tapi lebih ke diajak “tertawa bersama”.

Bagaimana menurutmu?

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

Sumber: www.ciayo.com

Patrick Jonbray: Komik Saya Paling Gak Ada Faedahnya

Sebagai penulis komik Komplek Tanpa Faedah, komiknya sukses bikin kita senyum tanpa arti, Kira-kira orangnya absurd juga.. more

SM

Jonghyun SHINee Meninggal: Sebuah Pesan Untuk Fandom K-Pop

Malam hari, 18 Desember, menjadi berita yang menggemparkan seisi komunitas K-Pop dan juga dunia musik Korea. Jonghyun, s.. more

sumber: www.aintitcool.com

Wildling: Sebuah Urban Legend dengan Intro Terbaik dari Debut Sutradara Fritz Bohm

Wildling merupakan film horror, fantasy yang didasarkan dari sebuah urban legend... more

Sumber: Duniaku.net

Breaking News: CIAYO Corp Akan Garap Komik, Game, dan Film Animasi Vandaria Saga

Melanjutkan pengumuman tentang logo baru CIAYO Corp,langkah strategis perdana yang dilakukan oleh CIAYO Corp ini adalah .. more

Sumber gambar: hawaiihome.me

Kue Panjang Umur Jepang Ini Dapat Menyebabkan Kematian Mendadak

Kue penyebab kematian mendadak di Jepang... more