Saat Kecanduan Game Dianggap Sebagai Penyakit Mental, Perlukah Kita Bereaksi?

3 months ago
Kecanduan game

Pada awal tahun 2018 ini, organisasi kesehatan dunia WHO resmi memasukan gaming disorder ke dalam draft beta ICD-11 (International Certification Disease) yang merupakan suatu standar internasional tentang berbagai macam penyakit, termasuk didalamnya kesehatan jiwa.

Dari website resmi WHO ini dapat kita ketahui bahwa gaming disorder sengaja dimasukan ke dalam draft ICD-11 karena banyak para pakar dan ahli percaya gaming disorder semakin lama semakin meningkat jumlah penderitanya di seluruh dunia. Harapannya, dengan memasukan gaming disorder ke dalam daftar penyakit ‘resmi’, orang-orang akan mulai serius dalam mencegah, mengatasi dan membatasi gangguan kesehatan mental ini.

Tapi pertanyaanya, perlu gak sih kita sebagai masyarakat Indonesia bereaksi dengan adanya pengumuman ini?

Kecanduan Game, Beneran Ada?

Bagi seorang yang sudah bermain game sejak umur 6 tahun, saya sedikit sentimen dan meragukan tentang kebenaran dari istilah ‘kecanduan game’. Saya setiap hari bermain video games baik dari handphone dan komputer, bahkan game bisa dibilang merupakan salah satu kebutuhan utama saya untuk melepas penat.

Tapi saya sama sekali tidak merasa kecanduan ketika tidak bisa bermain game, begitu juga dengan teman-teman sepermainan saya yang punya jam main lebih banyak dari saya. Mereka semua baik-baik saja, tidak menjadi gila atau berperilaku diluar batas normal jika tidak bisa bermain game.

Nah, kondisi inilah yang mendukung opini orang-orang —terutama komunitas gamers — mengatakan bahwa kecanduan game itu tidak ada. Hanya istilah yang dilebih-lebihkan oleh para orang tua yang tidak mengerti tentang dunia game. Tapi percayalah, kecanduan game itu nyata, dan semakin lama semakin berkembang tanpa kita menyadarinya. Coba saja tanya negara China, yang sedikitnya ada 24 juta anak remaja yang menderita internet and gaming addiction.

Kecanduan game - warner

Sumber: gizmodo.com

Di China sendiri gaming addiction sudah mulai dianggap serius oleh banyak orang sejak tahun 2000an. Banyak kejadian diluar nalar yang mengakibatkan kematian seseorang, mulai dari remaja yang meninggal setelah bermain tanpa henti selama 3 hari hingga pembunuhan sepasang orang tua oleh anaknya sendiri, agar dia bisa tenang bermain video games tanpa diganggu. Mengerikan bukan?

Fenomena yang terjadi akibat gaming addiction ini juga membuat internet boot camp bermunculan mengobati para pecandu internet dan video games mulai banyak bermunculan di China. Para orang tua yang kewalahan mengatasi anak yang kecanduan game mengirim anaknya ke tempat ini, dengan harapan mereka dapat sembuh dan menghilangkan rasa kecanduan yang mereka miliki. Di tempat ini, para ‘internees’ (sebutan untuk para pecandu) digembleng dengan latihan fisik dan disiplin layaknya militer.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah China bahkan membuat klasifikasi tentang internet addiction yang dibagi menjadi 5 jenis : online games, pornografi, social networking, informasi internet dan belanja online. Pengklasifikasian sebagai intervensi dari pemerintah ini memang patut dilakukan, mengingat data dari China Information Internet Center mengungkap fakta bahwa 42% pengguna internet merasa kecanduan dan tidak bisa lepas darinya. Benar-benar angka yang sudah membahayakan.

Lalu, bagaimana dengan keadaannya di Indonesia?

kecanduan game - warnet jepang

Sumber: ubisnis.com

Beberapa kali kita mendengar dan melihat di berita tentang berita anak-anak yang terjerat masalah hukum karena game online. Ada yang ketahuan membolos, merampok, membacok, hingga membunuh orang lain gara-gara game online. Meskipun kejadian seperti ini tidak sesering di negeri China, tapi sudah seharusnya kejadian ini menjadi pengingat bahwa game addiction mulai merambat masuk dan berpotensi menjadi masalah yang serius.

Beberapa peneliti dari Australia yang bekerja sama dengan Universitas Tarumanegara bahkan melakukan riset dengan judul ‘The Development of Indonesian Online Game Addiction’ yang menggunakan 1.477 orang sebagai sumbernya, yang tersebar di kota Medan, Manado, Pontianak dan Yogjakarta. Hasilnya cukup mengejutkan dan tidak diperkirakan sebelumnya, dimana hasil riset menemukan fakta bahwa 10.15% narasumber memiliki gejala game addiction, jauh dari korea dengan angka 2.4% dan hampir mendekati angka 13.7% di China.

Tapi meskipun memiliki angka yang tinggi, game addiction ini seakan menghilang dibalik layar dan hampir tidak pernah dibicarakan dengan serius. Masyarakat seolah menganggap fenomena ini hanyalah angin lalu yang kurang penting untuk didengar, apalagi ditanggapi dengan serius. Padahal kalau kita perhatikan, dampak dari game addiction ini dapat menjadi sangat serius jika kita terus mengabaikannya.

Gejala yang (Sengaja) Tak Disadari

Banyak para gamers yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sudah masuk dalam tahap kecanduan. Memang sih, ga ada rasa dingin dan menggigil layaknya orang kecanduan narkoba, tapi sebenarnya mereka masuk kedalam kategori tersebut dengan bentuk yang berbeda.

Kecanduan game - addiction

Sumber: Wikipedia

Menurut American Psychiatric Association, kebanyakan pecandu tidak menyadari bahwa mereka mengalami ketergantungan terhadap suatu benda atau aktivitas. Ada yang menyadari bahwa hal tersebut membuat hidupnya bermasalah, mereka mencoba keluar tapi selalu gagal dan kembali lagi melakukannya.

Seseorang bisa dikatakan menjadi pecandu bukan hanya karena dia sakau dan penampilan tubuh yang berubah, tapi lebih kepada kelakukan dan aktivitas yang dilakukan orang tersebut. Karena pada dasarnya pecandu — baik benda maupun aktivitas apapun — punya satu hal yang serupa : rela berkorban demi mendapatkan ‘candu’ yang mereka miliki. Dan dalam kasus ini, candu yang digunakan adalah video games.

The Illinois Institute for Addiction Recovery mengatakan bahwa ada beberapa tanda seseorang menjadi kecanduan internet dan video games :

  1. Harus selalu online, yang dipikirkan sepanjang hari hanyalah kapan mereka bisa online, dan tidak ingin pergi selama mungkin.
  2. Jika mereka tidak sedang online atau bermain video games, mereka akan merasa sangat bosan, marah, panik, moody, bahkan merasa depresi yang berlebihan.
  3. Sifat mereka menjadi agresif dan meledak ketika ada orang lain yang datang dan mengganggu saat mereka sedang bermain. Agresifitas bisa ditunjukan melalui fisik maupun verbal.
  4. Mengorbankan pekerjaan, hubungan, dan kewajiban lainnya hanya untuk bermain game sampai benar-benar lupa waktu.
  5. Rela melakukan apa saja untuk kepentingan bermain game yang mereka butuhkan, termasuk diantaranya tindakan yang melawan hukum.

Singkatnya, seseorang yang menderita gaming addiction akan dengan sengaja melakukan sesuatu yang merusak tubuh dan hidupnya sendiri, yang juga biasa disebut dengan self-destructive pattern. Sebenarnya tindakan seperti ini bisa dibilang diluar nalar, tapi mereka rela melakukannya demi candu video games yang mereka butuhkan.

Coba kita lihat beberapa contoh kasus yang terjadi akibat permainan puzzle Candy Crush. Sebuah permainan yang menyenangkan dan sederhana bukan? Tapi siapa sangka kalau permainan ini juga pernah memakan korban. Ada yang merusak jari tendon pada jempolnya karena bermain selama 8 minggu tanpa henti, ada juga yang kehilangan pacar, pekerjaan, dan uang ribuan Poundsterling karena bermain 18 jam setiap hari. Beneran di luar nalar banget deh.

Tapi sebenarnya, seseorang bisa dikatakan sebagai pecandu ga harus menunggu sampai level segitunya lho. Kita bisa termasuk dalam kategori yang sama jika rela melakukan sesuatu yang merusak tubuh dan hidup. Mulai dari menyelip uang SPP sekolah, membolos kerja atau kuliah, merasa sangat marah ketika diajak berbicara saat bermain, atau lebih memilih berdiam diri ketimbang bersosialisasi dengan keluarga atau teman sekalipun.

Kecanduan game - headphone

Sumber: mid-day.com

Inilah yang saya sebut dengan gejala yang sengaja tidak kita sadari. Kita menjadi seseorang yang denial, menolak ada yang salah dengan diri kita dan terus membiarkan kebiasan buruk ini yang semakin lama semakin besar. Mending kalau kita setidaknya sadar dan mencoba merubahnya, kalau tidak?

Beruntung Hidup di Indonesia

Melihat banyaknya anak-anak China yang terkena gaming addiction, saya merasa beruntung bisa hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Masyarakat yang santun, gotong royong, perhatian dengan tetangga, dan tidak sungkan menolong jika diminta. Meskipun ga semua orang seperti ini, tapi tetap tidak dipungkiri kalau kita masih merasakannya dimanapun kita berada.

Kita juga cukup beruntung hidup dimasyarakat dimana hubungan orang tua dan anak masih terjaga, bahkan hingga anaknya tua sekalipun. Peran orang tua, tetangga, guru dan sekolah yang bersifat sebagai pembimbing dan penjaga juga masih berjalan dengan baik, yang setidaknya dapat menjaga seorang anak agar tidak keluar ‘jalur’ terlalu jauh. Masyarakat juga masih terasa berperan aktif dalam menjaga lingkungannya tetap kondusif, seperti tidak memperbolehkan warnet untuk melayani pelanggan yang berseragam sekolah.

Kecanduan game - anak

Sumber: jateng.tribunnews.com

Fenomena gaming addiction di Indonesia sendiri menurut saya pribadi bukanlah hal yang belum perlu dikhawatirkan dengan sangat serius. Perlu penjagaan, bimbingan dan alternatif solusi bagi para pemuda yang serius ingin menjadi gamer profesional agar tidak kecanduan. Untungnya, Indonesia mulai menaruh perhatian pada dunia e-sports yang mungkin akan semakin berkembang kedepannya.

Tapi kalau ngomongin soal gaming addiction, rasanya belum perlu untuk kita membuat boot camp semacam di negara China. Secara statistik korban gaming addiction memang belum terlalu parah, dan harus kita tetap jaga agar tidak meningkat atau bahkan menurun jika bisa. Anggap saja status mental disorder yang disebatkan WHO pada komunitas gamers ini sebagai peringatan.

Setuju?

About Author

Ben

Ben

"Seorang penulis lepas amatiran yang tampan, muda, pemberani, dan mencoba menjadi idaman mertua. Kalau ketemu di jalan tolong teriak 'BENJO' yang kenceng ya!"

Comments

Most
Popular

Mata-mata Super Splinter Cell Kembali Hadir Di Game Ghost Recon

Sam Fisher, agen rahasia dari game Splinter Cell, hadir sebagai karakter dalam game Ghost Recon: Wildlands. Bantu Sam me.. more

00-d-film-joker

Apa Jadinya Kalau Dua Film Joker Dibuat Bersamaan?

Jared Leto akan jadi peran utama di film Joker. Tapi Joaquin Phoenix juga akan memainkan peran Joker di film berbeda! Ke.. more

Wubba Lubba Dub Dub! McDonald’s Rilis Ayam Szechuan di Indonesia!

McDonald's Indonesia menyajikan menu ayam Szechuan. Tahukah kamu, McDonald's sebelumnya pernah membuat sensasi dengan sa.. more

Sebenarnya, Apa Sih Peran ‘Anti-Hero’ Dalam Sebuah Cerita Komik?

Setelah film ‘Deadpool’ dan sekuelnya meraih sukses dan banyak penggemar, Sony akan merilis film spin-off ‘Venom.. more

Mengungkap Hal Tabu dalam Anime Cardcaptor Sakura

Cardcaptor Sakura bakal ditayangkan lagi tahun depan loh! Bro sis udah dengar beritanya belum?.. more