Saat Nintendo Menyerah Pada Popularitas Smartphone

11 months ago
Game Nintendo di smartphone itu nyata. Sumber gambar: techcrunch.com

Perusahaan video game Nintendo dari Jepang merupakan perusahaan yang menggunakan cara tradisional dalam menjalankan bisnis.

Sejak awal, Nintendo sudah menerapkan metode “semuanya kita kerjakan sendiri”. Dalam konteks, Nintendo mirip perusahaan Amerika Serikat, Apple.

Dimana letak kemiripan antara dua perusahaan (dari dua benua berbeda) selain sama-sama memiliki kekayaan yang luar biasa itu? Sebagai informasi: di tahun fiskal 2015 Nintendo memiliki cadangan cash 558.433.000.000 Yen dan asset sebesar 1.409.735.000.000 Yen, yang artinya Nintendo punya harta lebih dari $ 11.7 Milyar. Sementara Apple lebih tajir melintir dengan total duit di tahun 2016 sebesar $ 237.6 Milyar.

Selain sama-sama ber-dompet tebal, Nintendo dan Apple punya persamaan di manufaktur alias pembuatan hardware. Keduanya sama-sama membuat hardware sendiri (walau dengan cara outsourcing ke pabrikan di Asia seperti People’s Republic of China atau Taiwan). Dengan cara itu baik Nintendo maupun Apple dapat mengontrol produk mereka di semua level Quality Control. Dan imbasnya adalah produk yang solid serta sesuai dengan keinginan manajemen perusahaan.

Nintendo dikenal luas sebagai produsen home console kelas atas sejak era Famicom alias NES. Mereka juga merambah lini handheld portable gaming dengan produk mereka yang super ikonik di industri ini: Gameboy. Sejak diluncurkan ke pasaran tahun 1989, Nintendo terus mengokohkan posisi mereka sebagai pemimpin pasar handheld gaming dunia. Walaupun mendapatkan gempuran dan persaingan dari perusahaan lain (Sega Game Gear, Atari Lynx, NEC TurboExpress hingga Sony PlayStation Portable / Vita) namun Nintendo tidak tergoyahkan dari singgasana raja gaming handheld. Rekor penjualan handheld tersukses mereka, Nintendo DS, belum ada yang sanggup memecahkannya hingga hari ini. Nintendo DS terjual lebih dari 154.02 juta unit di seluruh dunia.

Handheld gaming tersukses di dunia. Sumber gambar: cnet.com

Handheld gaming tersukses di dunia. Sumber gambar: cnet.com

Dengan segala kekuatan mereka, jelas Nintendo menjadi sedikit sombong dan penuh percaya diri di bagian gaming handheld.

Jika fans game dan ikon Nintendo (seperti Mario, Luigi, Kirby dll) ingin memainkan game Nintendo, maka mereka wajib membeli salah satu dari produk gaming Nintendo. Nintendo sangat ketat menjaga IP/intellectual properties mereka sehingga IPs tersebut dijamin 100% hanya akan dapat dijumpai di salah satu produk gaming Nintendo saja.

Jangan harap memainkan game Mario di PlayStation secara resmi, misalnya. Tidak akan terjadi.

Namun jaman berubah. Teknologi bergerak cepat tanpa bisa dicegah. Era smartphone mendadak datang menyerbu. Orang kini dapat melakukan banyak hal dengan telepon genggam mereka. Jika sebelumnya hanya dapat bertelepon dan bermain game super duper sederhana (seperti Snake; ingat game Nokia itu?), di era smartphone orang kini bisa menonton film Full HD sekaliber Blu-ray dan memainkan game dengan grafis  yang tak kalah cakep jika dibandingkan dengan home console (apalagi handheld gaming).

Square Enix lebih dulu merambah ke smartphone. Misalnya dengan Final Fantasy Brave Exvius. Sumber gambar: finalfantasy.net

Square Enix lebih dulu merambah ke smartphone. Misalnya dengan Final Fantasy Brave Exvius. Sumber gambar: finalfantasy.net

Awalnya bukan dianggap sebuah ancaman, namun perlahan smartphone mulai menggerus pendapatan Nintendo dari sektor gaming handheld.

Business model game smartphone yang hampir semuanya menganut sistem “freemium” (gratisan untuk di download dan dimainkan namun memiliki ‘microtransaction’ untuk menjual aksesoris tambahan atau full version untuk game gratisan tersebut) terbukti mampu membukukan pendapatan tinggi buat penjualnya. Berbeda dengan game handheld konvensional yang “dijual putus” saat penjualan. Gamer beli game-nya, selesai. Itu konsep jualan game handheld konvensional. Berbeda dengan konsep freemium tadi.

Beli cartridge game-nya, dan selesai. Konsep normal game handheld/console. Sumber gambar: terapeak.com

Beli cartridge game-nya, dan selesai. Konsep normal game handheld/console. Sumber gambar: terapeak.com

Manajemen Nintendo awalnya tetap bersikukuh kalau mereka masih tidak menganggap game smartphone sebagai ancaman serius untuk lini bisnis mereka. Namun bulan demi bulan berlalu, dan harum profit dari game smartphone akhirnya membuat pihak manajemen dan pemegang saham Nintendo ‘khilaf’ juga.

Di awali dari demand kuat fans Nintendo yang juga penggemar smartphone, Nintendo akhirnya menyerah pada popularitas smartphone.

Nintendo akhirnya membuat game untuk smartphone; sesuatu yang sampai hari ini masih terasa mengherankan mengingat kuatnya dulu penolakan mereka untuk menjual IP mereka di luar console/handheld mereka sendiri. Tapi perusahaan mana yang menolak potensi profit besar yang sudah terbukti dari ranah smartphone? Nintendo sekalipun tidak akan kuat mengabaikannya.

Sampai saat ini setidaknya ada dua game buatan Nintendo untuk platform smartphone. “Super Mario Run” dan “Animal Crossing: Pocket Camp”. Keduanya ada di platform iOS Apple (Super Mario Run juga tersedia untuk Android Google). Untuk fans Nintendo, dua judul ini pastinya tidak asing lagi.

Screenshot Super Mario Run. Sumber gambar: polygon.com

Screenshot Super Mario Run. Sumber gambar: polygon.com

Flyer Animal Crossing untuk smartphone. Sumber gambar: telegraph.co.uk

Flyer Animal Crossing untuk smartphone. Sumber gambar: telegraph.co.uk

Jika dulu untuk memainkan kedua game tersebut gamers wajib melakukannya di console/handheld Nintendo, maka kini mereka hanya perlu men-download game itu secara gratis (di Apps Store / PlayStore) di smartphone mereka dan bisa langsung bermain.

Gratis.

Namun tentu saja ada “tapi” nya. Yaitu game tersebut hanya gratis di stage-stage awal saja. Untuk dapat melanjutkan permainan, gamers perlu membelanjakan uang mereka dalam format microtransaction di dalam game tersebut.

Cara ini seharusnya manjur memberikan Nintendo profit, namun hal tersebut masih perlu pembuktian lebih lanjut. Karena dari 78 juta gamers smartphone yang men-download Super Mario Run, baru sekitar 4 juta orang saja yang membayar microtransaction untuk men-unlock full game nya. Setidaknya itulah data hingga Maret 2017 lalu.

Apakah Nintendo akan meneruskan petualangan di smartphone, atau balik kanan dan kembali fokus di handheld mereka? Hanya waktu yang akan membuktikan. Menurut bro sis sendiri gimana? Jika ada opini bisa disampaikan di bagian komentar. Happy gaming!

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

00-d-world-of-warcraft

Gold di Game World of Warcraft Nilainya 7 Kali Lipat Uang Venezuela!

Krisis moneter di Venezuela semakin memprihatinkan. Hiperinflasi menyerang mata uang Bolivar sampai-sampai mata uang Wor.. more

00-ultra-space-battle-brawl

Ultra Space Battle Brawl Jadi Salah Satu Game Indonesia Pertama Yang Hadir di Switch

Toge Productions merilis game Mojiken Studio berjudul Ultra Space Battle Brawl yang sekarang bisa dibeli untuk Nintendo .. more

Indonesia Comic Con 2017 Bertabur Cosplayer Dalam dan Luar Negeri, Mana Yang Paling Bagus?

Perhelatan Indonesia Comic Con 2017 telah selesai dilaksanakan. Acara yang diadakan di Jakarta Convention Center, Sabtu .. more

Sumber: irishfilmcritic.com

The Ritual, Atmosfer Luar Biasa untuk Cerita Usang yang Klasik

“The Ritual” merupakan contoh film horror yang punya skenario klasik dengan menampilkan atmosfer mencekam yang terja.. more

maghfirare

Adelia Maghfira : Berkarya dengan Tujuan ‘Berkarya’, Bukan untuk Nyari Uang

Bro sis suka baca komik strip di Instagram ? Pastinya udah tau akun Instagram-nya Maghfirare, kan. .. more