Sebenarnya, Apa Sih Peran ‘Anti-Hero’ Dalam Sebuah Cerita Komik?

5 months ago

Setelah film ‘Deadpool’ dan sekuelnya meraih sukses dan banyak penggemar, Sony akan merilis film spin-off ‘Venom’ yang dibintangi oleh Tom Hardy pada 2019 mendatang. Film yang bertemakan anti-hero sebelumnya memang sudah pernah dibuat, seperti Spawn, Blade, dan The Punisher yang sayangnya kurang mendapat perhatian dari banyak orang.

Salah satu alasannya adalah karena masih banyak orang yang belum mengetahui apa itu anti-hero, dan apa perbedaannya dengan superhero pada umumnya. Kebanyakan orang memang tidak suka dengan istilah anti-hero lantaran mereka menganggap kalau pemeran utama harus baik dan menjadi selalu pahlawan. Ada putih diatas hitam, ada baik melawan jahat.

Hmm, jadi peran apa sebenarnya yang dimainkan oleh para anti-hero ini? Mereka itu jahat atau baik sih?

Sejarah Munculnya Karakter Anti-Hero

Istilah anti-hero dipercaya sudah muncul sejak abad ke-17, pada sebuah karakter dari cerita drama Romawi kuno yang bernama Thersites. Dia adalah seorang tentara Roma pada perang Troya, namun dengan penampilan yang jauh dari kata gagah dan tegap.

Sumber: wikipedia.com

Thersites memiliki penampilan yang bisa dibilang jauh dari kata sempurna layaknya tentara. Punggungnya bungkuk, pundaknya masuk kedalam tubuh dan rambut yang tidak terawat dan menjalar begitu saja pada kepala. Sifatnya pun tidak jauh berbeda, Thersites adalah seorang yang selalu sirik dengan orang lain, memiliki ego tinggi, dan sering berkata dan bertindak secara vulgar. Belum lagi sifatnya yang sering berbuat onar dan bertindak semaunya, yang tidak jarang membuat rekan tentaranya geram.

Tapi walaupun demikian, Thersites tetaplah seorang tentara Romawi yang pada saat itu dikenal sebagai pekerjaan yang terpandang. Dia seorang tentara yang memiliki martabat, dan punya kekuatan yang lebih dari kebanyakan orang pada umumnya. Jadi dengan kata lain, Thersites adalah seorang tentara yang tidak memiliki sifat dan penampilan tentara, tidak peduli dengan kompas moral orang lain dan akan bertindak sesuai dengan jalan dan nilai yang dia miliki.

Sifat dari karakter Thersites ini kemudian mengalami evolusi akibat perkembangan zaman, dan mulai masuk ke dunia literatur modern. Anti-hero sekarang dianggap sebagai satu individu yang terasingkan oleh masyarakat sekitar, seperti yang ditulis oleh Michael Hardt dan Kathi Weeks yang berjudul “The Jameson Reader“.

Istilah ini kemudian mengalami perubahan kembali saat memasuki dunia film. Asal muasal karakter anti-hero dirubah drastis, ada yang karena muak dengan keadaan yang ada atau akibat suatu peristiwa yang tragis dan memaksa karakter tersebut ‘menggeser’ kompas moralnya. Hal ini bisa kita lihat dari karakter terkenal Michael Corleone dari film Godfather, yang diperankan secara brilian oleh sang legenda Al Pacino.

Sumber: longdicklaurance.deviantart.com

Michael Corleone adalah seorang anak dari Vito Corleone, seorang mafia Italia yang dipandang sebagai ‘Godfather’ bagi semua koleganya. Pada awal kemunculannya, Michael adalah seorang yang periang yang baru kembali setelah bertugas sebagai tentara Amerika Serikat. Dia memiliki sifat yang sangat loyal terhadap keluarganya, teman-temannya dan cenderung pendiam tidak seperti kakaknya.

Tapi setelah kembali kerumahnya dan siap menjalankan bisnis keluarganya, ada yang mencoba membunuh sang ayah, mengganggu bisnis dan mengancam seluruh keluarganya. Kakaknya pun akhirnya terbunuh saat mencoba membalas dendam, yang artinya semua keluarganya sekarang sudah tiada. Disinilah titik balik seorang Michael Corleone dimulai, dari seorang sarjana dan pahlawan perang menjadi mobster mafia yang membunuh banyak orang demi melindungi bisnis dan loyalitas kolega dan juga keluarganya.

Setelah cerita Michael Corleone pada film Godfather yang tayang pada tahun 1972, peran seorang anti-hero terus mengalami evolusi dan perubahan yang belum pernah muncul sebelumnya. Beberapa contohnya bisa kamu temui di beberapa film populer, seperti Jack Sparrow dalam franchise Pirates of Caribbean atau Dexter dalam film seri Dexter.

Karakter anti-hero tidak hanya masuk kedalam dunia seni peran, tapi juga berkembang masuk pada bentuk seni modern yang ada sekarang, seperti komik misalnya.

Karakter komik yang pertama kali menyandang gelar anti-hero sebenarnya masih dalam perdebatan. Tidak ada satu jawaban yang pasti dan absolut, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Tapi dari semua jawaban yang ada, banyak orang berpendapat bahwa karakter anti-hero pertama yang muncul dalam dunia komik adalah Lee Walter Travis atau yang lebih dikenal dengan nama Crimson Avenger.

Sumber: dc.wikia.com

Pertama kali muncul pada Oktober 1938, Lee Travis lahir sebagai pahlawan bertopeng pertama dari DC yang dibuat oleh Jim Chambers. Dia adalah anggota Abraham Lincoln Brigade pada saat Spanish Civil War, dan setelahnya menjadi orang yang memprakarasi Globe Leader, sebuah koran yang membahas tentang ide-ide yang progresif.

Lee Travis awalnya hanya pemilik dan penjual koran Globe Leader saja, tapi itu semua berubah ketika seorang wanita bernama Claudia Baker tertembak dan mati di pelukannya. Dia ditembak oleh para perampok yang mencoba masuk dan mencuri pada sebuah pesta, yang kemudian dikejar oleh Lee Travis. Dia mengejar dengan amarah sambil terus mengingat kata-kata terakhir Claudia Baker ‘Qui vindicet ibit’ yang berarti ‘the avenger will come’.

Setelah pengejaran dan baku tembak dengan komplotan perampok tersebut, Lee Travis akhirnya berhasil melumpuhkan mereka dan mengambil kembali uang yang berhasil mereka curi. Disaat inilah Lee Travis punya tujuan baru dan mulai menjadi Crimson Avengers, bersumpah menumpas kejahatan seorang diri tanpa bantuan penegak hukum.

Nah, dari sinilah kemudian muncul banyak karakter-karakter anti-hero yang punya latar belakang yang beragam. Seperti Superman contohnya, yang pada kemunculannya ‘dicoba’ untuk diorbitkan menjadi seorang anti-hero karena menolak bekerja sama dengan kepolisian dalam memberantas kejahatan. Begitu juga dengan Batman, Wolverine, Sub-mariner, hingga akhirnya muncul The Punisher, Deadpool dan banyak karakter anti-hero pada komik modern yang ada di zaman sekarang.

Tapi meskipun ada banyak sekali karakter anti-hero yang berbeda-beda, mereka memiliki satu kesamaan yang pembaca dapat terlihat dengan jelas. Mereka mempunyai satu sisi yang tidak cocok dengan sifat maupun pribadi seorang superhero, tapi memiliki satu nilai tujuan yang kurang lebih sama dengan peran antagonis utama dalam sebuah cerita.

Mengekplorasi Sisi ‘Gelap’ Para Pahlawan

Sumber: dangerzonecomic.org

Seorang pahlawan sering kali dianggap seseorang yang sempurna. Mereka memiliki nilai kebaikan yang lebih dibandingkan orang lain, punya karisma kuat, jiwa kepemimpinan yang tinggi dan kompas moral yang tidak akan pernah goyah walau diterjang cobaan yang paling berat sekalipun. Dengan kata lain, pahlawan adalah wujud dari kebaikan manusia yang sempurna.

Tapi coba kita pikirkan, apakah memang ada seorang manusia yang sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun? Bagaimanapun bentuk idealnya seorang manusia, dia pasti memiliki satu kekurangan atau ‘sisi gelap’ yang tidak mungkin dia bisa sembunyikan. Ibarat sebuah timbangan, manusia pasti memiliki sifat baik dan sifat jahat agar bisa seimbang.

Nah disinilah seorang anti-hero berada, di daerah abu-abu antara sisi kebaikan dan kejahatan. Mereka bisa saja berada sedikit lebih ke kiri menuju kejahatan, atau condong kesebelah kanan menuju arah para pahlawan. Semua tergantung dari pembuat cerita, ingin membawa karakter anti-hero ke arah yang mana. Untuk lebih jelasnya, coba kita lihat salah satu karakter anti-hero MARVEL yang terkenal, The Punisher.

Sumber: kotaku.com

Frank Castle alias The Punisher adalah seorang karakter anti-hero yang bisa dibilang memiliki latar belakang yang tragis. Dia adalah mantan tentara yang sudah menjalani banyak latihan yang berat. Pada suatu ketika, Istri dan kedua anaknya dibunuh oleh anggota Mafia karena melihat aksi pembunuhan yang mereka lakukan. Frank pun hampir mati, tapi berhasil selamat dan bangkit menjadi seorang Punisher yang haus darah, brutal, dan bersumpah membasmi semua kejahatan dengan tangannya sendiri.

Kita bisa melihat kompas moral milik Frank Castle mulai bergeser akibat satu peristiwa tragis yang mengubah hidupnya, mirip dengan Michael Corleone di film Godfather. Tapi dalam kasus ini, nilai yang dimiliki oleh Frank sebagai Punisher jauh lebih kuat dan lebih kongkrit ketimbang Michael : yaitu membunuh setiap kriminal yang dia temui, kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun.

Nilai dan tujuan dari Frank memang terlihat brutal, tapi pada esensinya tujuan tersebut memiliki nilai yang baik. Dia mencoba menghilangkan segala kejahatan yang ada di dunia agar tidak ada lagi yang menjadi korban seperti istri dan kedua anaknya.

Karakter anti-hero memang sedikit banyak didesain untuk mendapatkan simpati pembacanya, memaksa kita untuk setuju dengan nilai dan tujuan yang coba dikejarnya. Mereka juga memiliki satu cacat atau kekurangan yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Motivasi dan alasan mereka bergerak menuju tujuannya jelas, yang salah satunya pasti berasal dari cacat atau kekurangan yang mereka miliki.

Ada satu contoh yang menarik jika ingin melihat sifat anti-hero secara lebih dalam. Coba kita lihat seri Civil War yang terbit pada tahun 2006, sebuah seri komik yang menjadi pondasi cerita untuk film Captain America : Civil War.

Sumber: inshare.com

Buat kamu yang tidak mengikuti seri ini, Civil War adalah satu cerita dimana para superhero MARVEL terbagi menjadi dua kubu akibat memiliki paham yang berbeda tentang superhero registration act, suatu perjanjian dimana setiap superhero harus bekerja dibawah pengawasan agar tidak ‘kebablasan’ dalam menggunakan kekuatan mereka. Sisi yang mendukung perjanjian ini adalah Iron Man, dan yang menolak adalah Captain America.

Iron Man, Spiderman dan superhero lain yang mendukung perjanjian berperang dengan Captain America dan timnya yang menolak perjanjian. Captain America terpaksa mundur, dan kehilangan beberapa anggota timnya setelah tewas di tangan tim Iron Man.

Sumber: marvel.com

Melihat Goliath — anggota tim Captain America — tewas di tangan tim Iron Man, Peter Parker alias Spiderman menyadari kalau selama ini dia berada di tim yang salah. Dia membelot dari tim Iron Man, mencoba kabur dan bergabung dengan tim Captain America. Tapi naas, usahanya gagal karena tim Iron Man ternyata juga merekrut para villain yang kejam dan penuh dendam terhadap Spiderman.

Setelah berlarian dan diserang habis-habisan, Spiderman yang hampir mati dihujani bom akhirnya terselamatkan setelah Frank Castle datang dan membunuh para villain tersebut. Frank kemudian mengangkut Spiderman yang sudah sekarat, berlari menuju markas operasi tim Captain America untuk meminta pertolongan.

Sumber: marvel.com

Setelah menolong Spiderman, The Punisher pun mengutarakan keinginannya untuk bergabung dengan tim Captain America. Alasannya jelas : untuk melawan tim Iron Man yang telah merekrut para perampok, pencuri, dan pembunuh berdarah dingin dengan alasan mendukung perjanjian.

Mendengar ucapannya ini, banyak anggota tim Captain America yang ragu dengan kehadiran The Punisher yang brutal dan haus darah. Steve Rogers selaku pemimpin pun bahkan harus berpikir dua kali sebelum memutuskan The Punisher bergabung dengan timnya.

Tapi begitu mendengar ada dua penjahat — Plunderer dan Goldbug — yang mencoba berlaku ‘baik’ dan bergabung dengan tim Captain America, kompas moral milik Frank Castle mulai bekerja kembali seperti seharusnya : membunuh setiap kriminal yang dia temui, kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun.

Sumber: marvel.com

Tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri, The Punisher langsung mengeksekusi dan menembak mati dua penjahat tersebut. Tanpa basa-basi dan tanpa kompromi. Dan tentu saja, tindakannya ini membuat geram Steve Roger selaku pimpinan dan Captain America yang menolak dengan sangat suatu tindak pembunuhan.

Sumber: marvel.com

Captain America langsung melumpuhkan The Punisher, pukulan demi pukulan disarangkan ke tubuh dan muka sang algojo. Steve gelap mata, seakan-akan melihat teman baiknya atau anggota timnya terbunuh oleh penjahat yang baru dihabisi sedetik yang lalu. Dan saat ditanya alasannya, The Punisher pun menjawab dengan jawaban yang sederhana :

Sumber: marvel.com

Ya, sekuat inilah kompas moral dan nilai tujuan yang dimiliki oleh The Punisher. Setiap kriminal harus dibasmi, sekalipun mereka mencoba menjadi ‘baik’ dan ingin membantu tim Captain America melawan tim Iron Man. Frank Castle tidak percaya dengan istilah ‘enemy of my enemy is my friend’, karena dia sudah bersumpah untuk membunuh siapapun kriminal yang dia temui sepanjang perjalanannya.

Motivasi dan kompas moral yang serupa juga bisa kita temui di karakter milik DC, Rorschach dari seri Watchmen. Dia memiliki moto ‘never compromise, not even in the face of Armageddon’ yang artinya hampir sama dengan moto milik The Punisher yang berbunyi ‘All criminals must die’.

Layaknya The Punisher, Rorschach termasuk seorang anti-hero yang tidak menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keadilan layaknya superhero pada umumnya. Contoh aksinya bisa kamu lihat cuplikan film Watchmen (2009) berikut ini:

Sadis bukan? Rorschach menolak untuk membawa sang pembunuh tersebut ke meja pengadilan karena dia merasa hal tersebut tidaklah setimpal. Dia kemudian menghujamkan golok ke kepala si pembunuh, demi nilai ‘keadilan’ yang dia anut sekaligus meluapkan emosi dan sisi gelap dalam dirinya.

Karena hal inilah kenapa karakter anti-hero sering kali dibilang sebagai penjahat. Mereka tidak memiliki nilai keadilan damai yang universal layaknya seorang superhero, tapi lebih menuruti naluriah dasar seorang manusia yang penuh emosi.

Gabungan antara kompas moral, motivasi kongkrit dan nilai ‘keadilan’ yang tidak tergoyahkan memang merupakan resep utama dari seorang anti-hero. Kita pun sebagai pembaca pada akhirnya akan kagum dengan kuatnya nilai yang kompas moral yang mereka miliki, yang tidak jarang membawa mereka menuju kematiannya.

Psst, mau tau kelanjutannya? Baca aja di sini.

About Author

Ben

Ben

"Seorang penulis lepas amatiran yang tampan, muda, pemberani, dan mencoba menjadi idaman mertua. Kalau ketemu di jalan tolong teriak 'BENJO' yang kenceng ya!"

Comments

Most
Popular

(gameranx.com)

Bakalan Keren Kalo Karakter-Karakter Ini Jadi DLC di TEKKEN 7!

Sebelumnya, udah pernah dibahas di sini kalo kemunculan Akuma, Eliza, dan Geese Howard membuka kemungkinan untuk TEKKEN.. more

Sumber: fr.ign.com

Lagi Cari Tema Komik yang Asik? Cobain Deh Tema Komik Anti-Mainstream ini!

Kalau kamu merasa bingung dan mumet pikirannya saat menentukan tema komik yang akan di pakai, cobain deh bikin komik den.. more

Preview Anime Musim Panas 2018: Kyoto Teramachi Sanjo no Holmes

Dalam anime, cerita bertema detektif terkenal seperti Conan, Kindaichi, ataupun grup detektif yang ada di Dan Detective .. more

Sumber: Glyphs.Co

Kerja Bareng Studio Ghibli Katanya Mirip Skripsi

Salah dikit langsung dicoret-coret. Kayak skripsi ya?.. more

Pasar Komik Bandung 6. (Fanpage Pakoban)

Liputan: Pakoban (Pasar Komik Bandung) 6

Tanggal 13-14 Mei 2017 jadi tanggal yang sangat berkesan di dunia komik Indonesia, karena di tanggal inilah acara Pasar .. more