Seni Kontemporer yang Diolok-Olok dalam Film The Square

10 months ago
Sumber: coproductionoffice.eu

“The Square” merupakan satu dari sekian banyak film yang tampil dengan genre satir, memiliki cerita yang berat namun menghiasinya dengan bumbu komedi cerdas. Ruben Ostlund selaku sutradara memang cukup terkenal dengan film ber-genre satir semacam ini. Sebut saja “Play” yang mencoba menciptakan intimidasi lewat sekelompok anak laki-laki, atau “Force Majeure” yang bercerita tentang keluarga harmonis namun berubah menjadi perpecahan mengerikan akibat terjebak badai longsor di penggunungan Alpen.

Lewat “The Square”, Ruben Ostlund mengangkat tema menarik tentang seni kontemporer yang sering kali rancu di mata sebagian orang. Pemahaman tentang benda seni yang dianggap punya nilai seni tinggi namun pada nyatanya berasal dari apa yang ada di sekitar kita. Misalnya, apakah sebuah bangku bisa dikatakan benda bernilai seni tinggi apabila diletakkan di dalam sebuah museum seperti museum kontemporer pada film ini? Hal ini menjadikan definisi seni itu sendiri menjadi sangat menarik untuk dipahami.

Sumber: www.singaporefilmsociety.com

Sumber: www.singaporefilmsociety.com

“The Square” sendiri diambil dari simbol museum yang menjadi setting utama film ini. Museum dalam film “The Square’ merupakan Istana Stockholm yang diubah fungsikan setelah adanya pengampunan dari Monarki Swedia.

Fokus cerita berkisah pada karakter Christian (Claes Bang), yang merupakan seorang kurator di museum tadi. Kesibukannya dalam persiapan untuk pembukaan pameran, harus dibumbui dengan banyak kesialan yang kadang mengundang tawa penonton.

Sebagai seorang kurator, Christian ingin menarik banyak perhatian orang-orang agar pada saat pembukaan museum, banyak pengunjung yang datang. Maka bersama tim promosi dia coba membuat sesuatu yang provokatif, contohnya yang bisa menciptakan hal yang kontroversi di media sosial.

Inti dari pesan yang ingin Christian sampaikan ialah tentang makna dari “The Square” itu sendiri. Sayangnya hal ini menjadi kacau karena dia terlalu percaya pada timnya dan malah sibuk mengurusi masalah pribadi yang sedang menimpanya.

Sumber: www.criterion.com

Sumber: www.criterion.com

Secara satir, film ini coba mengupas tentang sifat orang-orang barat yang hidup dalam dunia seni kontemporer. Mulai dari gaya hidup mereka, cara mereka berpikir, hingga pada retorika rumit tentang sebuah karya seni itu sendiri. Kita bisa melihat kritik awal tentang gaya berpakaian yang hadir lewat wawancara Christian dengan seorang jurnalis bernama Anne (Elisabeth Moss).

Anne bertanya tentang pakaian yang dikenakan oleh Christian, “siapa desainernya?”. Dan jawaban Christian memberikan kesan bahwa ia punya selera yang bagus. Padahal jelas sekali jawabannya sangat mengada-ngada. Hingga pertanyaan selanjutnya dari Anne tentang hal yang pernah ditulis Christian di halaman web museum tentang seni kontemporer. Jawaban Christian selalu menciptakan hal lucu, walau sebenarnya dia tidak sedang melucu. Setiap jawabannya memberikan kesan berbelit-belit, mencoba memberikan pemahaman untuk sesuatu yang sulit terjelaskan, dan pada nyatanya dia sendiri sulit untuk memahami hal itu.

Dari sekian banyak permasalahan yang muncul dalam “The Square”, konflik yang saya rasa menjadi pondasi utama film ini ialah ketika ponsel dan dompet Christian di curi. Cara pencuri mencuri dompetnya pun ditampilkan dengan gaya yang sangat cerdik, seperti sebuah drama pertunjukan penuh tipu muslihat.

Sumber: www.okcmoa.com

Sumber: www.okcmoa.com

Dengan bantuan seorang rekan kerjanya, Christian mencoba melacak kembali di mana keberadaan ponselnya lewat sebuah aplikasi. Di sinilah masalah mulai muncul, ketika mereka menemukan lokasi ponsel Christian, namun tidak mengetahui di ruang yang mana tepatnya ponsel itu berada. Mereka pun membuat semacam pesan ancaman yang di tinggalkan pada kotak surat setiap kamar di gedung yang diyakininya tempat pencuri tadi tinggal.

Memang apa yang Christian lakukan memberikan hasil yang bagus, karena ponsel dan dompetnya bisa kembali, namun bersamaan dengan itu juga masalah lain malah datang sebab surat ancaman itu juga diterima oleh banyak orang dan ada yang tidak terima dengan tuduhan tadi.

Kisah tentang para pengemis yang berkeliaran di jalan pun hadir dengan sangat lucu tapi juga menyedihkan. Kebaikan hati Christian yang spontan, sering kali memunculkan masalah yang semakin rumit. Cara pandanganya yang ingin memunculkan sifat kerendahan hatinya pada para pengemis di patahkan oleh sifat si pengemis dengan penuh ironis.

Sumber: theplaylist.net

Sumber: theplaylist.net

Saya cukup terdistorsi tentang makna dari seni lewat film ini. Bahwasanya tampilnya sebuah karya seni ternyata tidak hanya soal seberapa baik dan tinggi nilai seni yang dimiliki oleh sebuah karya, tapi juga seberapa menguntungkan karya itu untuk menghasilkan uang bagi beberapa kalangan yang berada di belakangnya. Secara garis besar tidak ada yang salah dari sebuah karya seni, hanya saja orang-orang yang bergerak di dalamnya lah yang terkadang membuat nilai dari karya seni itu terasa tidak layak.

Hal menarik lainnya dalam film ini adalah, bagaimana Ruben Ostlund membandingkan manusia dengan monyet yang jelas membuat penonton merasa bahwa manusia adalah individu yang sangat cacat dari banyak segi dalam kontak sosial dibandingkan seekor monyet. Hingga pada adegan makan malam yang menampilkan seorang seniman bernama Oleg (Terry Notary) yang berakting sebagai gorila, muncul dengan banyak kejutan. Awalnya ini seperti lelucon yang mengundang banyak tawa, namun semakin lama hal ini malah menjadikan suasana tegang dan penuh kekacauan.

Sumber: www.rollingstone.com

Sumber: www.rollingstone.com

Ruben Ostlund coba memberikan pemahaman kepada kita bahwa seni modern saat ini tidak lagi memiliki konse yang jelas. Hal ini menjurus pada pernyataan bahwa apa pun bisa menjadi sebuah karya seni, bahkan untuk sesuatu yang hampa sekali pun. Hal ini memang terdengar sangat surealis, namun demikianlah adanya saat ini.

Ketimpangan karakter Christian yang egois namun berujung sesal sengaja dibuat tanpa pengampunan. Dampak renungan yang diberikannya pun jadi membuat penonton bertanya-tanya, seberapa pantas Christian menjadi seorang kurator untuk mengurusi sebuah museum? Gaya hidup, penampilan, sering kali menciptakan tipu daya pada banyak orang, sehingga ketika kita masuk begitu dalam ke kehidupan orang yang bersangkutan, kita merasa begitu bertolak belakangnya kenyataan yang ada.

“The Square” akan ikut bersaing dalam ajang Academy Awards tahun ini dalam kategori Best Foreign Language of the Year. Sebelumnya film ini berhasil memenangkan penghargaan di Channes Film Festival dalam kategori Palme d’Or. Sejauh ini sudah 34 nominasi dengan 21 kemenangan yang diraih “The Square” dalam banyak ajang penghargaan di tahun 2017 hingga 2018.

Apakah kalian mulai tertarik untuk menonton film ini? Saran saya cobalah untuk fokus saat menontonnya, karena film seperti ini butuh perhatian yang lebih. Cerita yang dimiliki ‘The Square” memang agak berat walau sering mengundang tawa. Tapi jika kalian bertanya apakah film ini sangat direkomendasikan? Maka saya bisa jawab dengan sangat yakin, film ini sangat direkomendasikan!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber: Mini en Monde

Cafe yang Wajib Kamu Kunjungi Kalau Kamu ke Jepang dan Korea!

Sebagai anak muda, kita pasti suka banget nongkrong buat ngabisin waktu bareng temen atau bahkan ngerjain tugas di kafe... more

00-d-roger-moore-james-bond

James Bond Versi Roger Moore: Dari Yang Terjelek Sampai Terbaik

Roger Moore adalah salah satu aktor James Bond populer karena konsistensinya. Film mana yang menampilkan James Bond terb.. more

Cobra Kai: Sekuel Karate Kid yang Awalnya Tidak Terduga

Sekuel film bukan hal aneh di industri perfilman. Terutama untuk film yang memang menghasilkan profit besar dan/atau rev.. more

00b-ciayo-comics-neocomix

CIAYO Comics Kerja Sama Dengan Platform Komik Korea Neocomix

CIAYO Comics menjajaki kerja sama dengan platform komik Korea Selatan, Neocomix, untuk mendistribusikan dan memproduksi .. more

Sumber: Don’t Feed The Gamers

Game Awards 2017 Sudah Usai, Siapa Saja Pemenangnya?

Siapa saja yang berhasil meraih penghargaan itu ya bro sis? .. more