Sensor TV Indonesia Terlalu Ketat: Apakah Benar Efektif?

7 months ago
Sensor visual yang absurd dari TV Indonesia. Sumber gambar: twitter.com/adrianreynald

Pertama saya harus ngaku dulu, kalau saya nonton televisi hanya untuk siaran sepakbola. Hehehe. Tapi saya cukup tahu (setidaknya dari cerita/screenshot/berita) tentang kondisi televisi Indonesia belakangan ini. Selain berita-berita politik tendensius dan perang opini, satu hal lain yang kini marak di televisi Indonesia adalah sensor tayangan televisi yang semakin hari terasa absurd.

Censorship. Sensor.

Ini adalah langkah yang bertujuan mengaburkan/menghilangkan satu aspek dalam tayangan. Secara umum, sebuah sensor merupakan langkah yang (dianggap) efektif untuk menyaring konten yang akan diserap masyarakat. Sensor biasanya dapat berupa pemotongan konten/durasi, atau dalam bentuk penambahan efek (seperti black bar, mozaik ataupun blur). Metode sensor seperti ini lazim digunakan di berbagai dunia.

Sensor pada penganti pria adat Jawa. Sumber gambar: solopos.com

Sensor pada pengantin pria adat Jawa. Sumber gambar: solopos.com

Walau secara umum saya setuju kalau sensor adalah solusi cepat (walaupun kadang terasa kasar) tapi saya rasa sensor televisi tidak akan berpengaruh banyak.

Sensor, terutama belakangan ini di televisi Indonesia, semakin merambah dan cenderung potensial “merusak” apa yang sebenarnya “biasa”.

Bro sis mungkin ada yang berkata “Ah dasar otak lu aja mesum” saat mengkaji kalimat itu. Biar saya akan kasih contoh yang mewakili kondisi “rusak” tadi.

Anime Doraemon. Jauh sebelum era millennium/reformasi/whatever, Doraemon merupakan anime yang memang dikategorikan Semua Umur. Sensor visual tidak pernah menghadang anime ini, karena memang kontennya tidak memiliki hal yang ditujukan untuk segmen usia tertentu. Tidak seperti anime Hentai, misalnya.

Tapi di jaman now ini? Karakter Shizuka, yang merupakan anak SD, mengalami sensor visual saat dia sedang mengenakan pakaian renang. Lihat screenshot ini:

Ini benar-benar sebuah perusakan nirfaedah. Sumber gambar: malesbanget.com

Ini benar-benar sebuah perusakan nirfaedah. Sumber gambar: malesbanget.com

Karena konotasi sensor visual adalah untuk “hal mesum/dewasa/kekerasan”, maka tak ayal impact dari konotasi itu jadi memprihatinkan saat diletakkan pada tayangan Semua Umur seperti Doraemon. Maksud saya, ayolah… Apa baju renang merupakan sesuatu yang sexually arousing di tayangan Semua Umur seperti Doraemon? Seriously?

Atau gimana menjelaskan sensor di acara liputan pertandingan olahraga voli pantai?

Ini… pertandingan olahraga pantai, lho.. Sumber gambar: tribunnews.com

Ini… pertandingan olahraga pantai, lho.. Sumber gambar: tribunnews.com

Dan bahkan akan aneh saat hal-hal yang bukan bersifat “explicit content” seperti rokok atau dress kebaya di televisi (atau portal berita berbahasa Indonesia) juga terkena sensor blur.

Sensor untuk dress kebaya apakah perlu? Sumber gambar: republikpos.com

Sensor untuk dress kebaya apakah perlu? Sumber gambar: republikpos.com

Saya akan setuju jika konten eksplisit bersifat kekerasan (seperti darah, mayat, hal-hal gore lainnya) mendapatkan sensor ketat karena efeknya yang bisa menimbulkan trauma. Tapi cleavage? Apakah iya orang akan trauma dengan melihat hal seperti itu?

Saya bukan mengatakan kalau sensor itu tidak perlu/tidak harus ada lho, bro sis. Tidak sama sekali. Sensor, at some extent, memang harus ada untuk proteksi pemirsa. Hanya saja saat sensor diterapkan secara forceful/dipaksakan di semua bagian yang, secara umum, tidak perlu maka sensor akan menjadi hal yang menyebalkan. Merusak display. Mengerdilkan kemampuan berpikir dan menyaring konten dari pemirsa tayangan.

Sensor TV akan lebih baik jika dibarengi dengan klasifikasi usia di tayangan.

Oke saya tahu hal ini sudah diterapkan di televisi kita, tapi saya juga tahu kalau hanya 0.01% saja yang mematuhi klasifikasi ini. Tak hanya di televisi! Saat bro sis nonton film bioskop yang bukan rating Semua Umur seperti Thor: Ragnarok misalnya, pasti ada penonton anak-anak di bawah umur yang dibawa orang tua mereka ke dalam ruangan teater. Rasanya ngeselin ‘kan?

Sensor (dan klasifikasi tayangan televisi sesuai usia) hanya bisa efektif kalau ada peran kontinu orang tua. Orang tua bertugas memberikan pengertian/ajaran/doktrin pada anak-anak mereka agar hanya menonton tayangan yang sesuai dengan usia mereka.

Hal mudah dan sepele di atas kertas, namun di kenyataan terlihat seperti berat banget untuk dijalankan para orang tua Indonesia.

Kalau alasan adanya sensor TV yang sangat ketat seperti sekarang adalah untuk hal-hal mulia seperti menjaga moralitas dan sejenisnya, jadi bagaimana dengan kids zaman dulu yang tayangan televisi mereka tidak mendapatkan sensor blurry secara excessive seperti yang didapatkan kids zaman now? Apakah moralitas mereka lebih buruk?

Pengajar moral paling efektif adalah keluarga terdekat. Orang tua. Guru. Dan ajaran moralitas, jika diajarkan dengan metode yang tepat/akurat, akan menghasilkan hasil yang baik pula. Kuncinya adalah keterbukaan, diskusi sehat serta pikiran terbuka.

Sensor super ketat hanya akan menimbulkan keingintahuan tinggi, dan akan celaka kalau keingintahuan itu dicari lewat mesin pencari di internet. Karena internet adalah belantara tanpa penjaga.

Saya akan lebih mendukung klasifikasi usia, pemisahan jam tayang serta edukasi kontinu pada anak dan generasi muda untuk tayangan televisi dan hal-hal entertainment/educational lain di TV ketimbang sensor yang efektifitasnya juga tidak lebih baik dan hanya merusak tampilan tayangan. Atau bro sis punya opini lain soal sensor TV Indonesia yang terlalu ketat ini? Bisa share pemikirannya di sini.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

universitas multimedia nusantara desktop

Asyiknya Menonton Animasi Pendek Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara

Universitas Multimedia Nusantara menayangkan 32 film pendek karya mahasiswa prodi film dan animasi. Semuanya menampilkan.. more

Kafetaria khusus untuk makhluk dunia lain (Sumber: alchetron.com)

Hiii~ Di Jepang ada Restoran yang Khusus Melayani Makhluk Dunia Lain!

Kafetaria ditutup setiap hari sabtu dari publik karena di hari itu mereka memang hanya buka untuk melayani tamu khusus... more

00-d-rediscover-yourself

Rediscover: Yourself

CIAYO Comics Challenge Vol. 3 semakin dekat. Jika kamu masih belum punya konsep untuk komikmu, maka post kali ini bisa m.. more

(from : jurnalotaku.com)

3 Cosplayer Imut dari China Ini Bikin Heboh Comifuro 9

Bagi kalian nih guys, yang demen banget sama video game ataupun film bertema anime, pastinya udah gak asing lagi dong de.. more

Hobi Otaku Bisa Hasilkan Pendapatan Jutaan Rupiah, Begini Caranya!

Terkadang hobi itu bukan merupakan hal yang mudah, loh. Walaupun begitu, selama Kamu senang-senang aja dengan pengeluara.. more