Sering Digunakan Sebagai Caption, Tere Liye Larang Netizen Gunakan Quotes-nya

7 months ago
Tere Liye

Penggunaan caption sebagai pelengkap konten kita di media sosial kayaknya sekarang udah menjadi hal yang penting. Rasanya gak lengkap kalau postingan kita gak ada caption-nya. Ide pembuatan caption ini bisa dari mana saja. Curahan hati, tulisan dari buku sampai mengutip kalimat seseorang.

Belakangan ini, caption yang digunakan masyarakat Indonesia pada akun pribadi media sosial mereka diambil dari quotes dari Fanpage Facebook salah satu penulis ternama Indonesia, Tere Liye. Namanya juga penulis, jadi gak aneh kalau tulisannya sanggup menginspirasi para pembaca. Ibaratnya nih, tulisan Tere Liye sesederhana apapun itu udah bisa mewakili perasaan masyarakat.

Sayangnya, beberapa hari yang lalu media sosial sempat dihebohkan oleh salah satu postingan Tere Liye di Fanpage Facebook-nya.

Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter

Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter

Ternyata hal ini disebabkan oleh keresahannya terhadap masyarakat yang selalu menggunakan quotes-nya untuk pelengkap postingan di media sosial. Menurutnya banyak sekali postingan yang tidak nyambung dengan maksud dari quotes yang sudah dikutip.

Banyak orang yang mengunggah foto selfie, momen makan bersama teman dan sebagainya lalu mencomot quote dari Tere Liye seperti “Inilah hidupku, dst dst – Tere Liye” sebagai caption. Tere Liye menganggap orang-orang yang melakukan hal itu seperti pamer namun bersembunyi dibalik kalimat sederhana. Seakan-akan mereka tidak melakukan apa-apa.

Namanya juga media sosial, netizen yang mulia, langsung ramai memberi komentar. Dari mulai pro dan kontra, semua ada. Kebanyakan menilai kalau apa yang sudah ditulis di media (dalam hal ini Facebook) harusnya sudah menjadi milik bersama. Penulis sudah bukan pemegang kekuasaan lagi.

Sesuatu yang ditaruh di media sosial sudah lumrah jadi bahan konsumsi masyarakat. Kalau gak mau dipakai orang lain ya jangan di taruh. Bahkan ada yang sampai mempermasalahkan gambar dari cover Fanpage Facebook Tere Liye .

Tulisannya sih “Menulis Adalah Berbagi” tapi kok giliran sudah digunakan malah marah? Gimana ya? (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Tulisannya sih “Menulis Adalah Berbagi” tapi kok giliran sudah digunakan malah marah? Gimana ya? (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Banyak yang bilang kalau cover Fanpage Facebook dari Tere Liye tidak mencerminkan apa yang dia tulis selama ini. Memang Tere Liye di media sosial lebih dikenal dengan kata-katanya yang bijak namun juga menusuk di satu waktu. Gak heran kalau komentar-komentar “nyinyir” berdatangan.

Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter

Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter

Gimana tanggapannya? (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Gimana tanggapannya? (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Mba ini sepertinya emosi sekali. (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Mba ini sepertinya emosi sekali. (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Gak cuma mempermasalahkan cover Fanpage Facebook aja, tapi bahkan sampai pemakaian nama pena Tere Liye pun jadi ikut disinggung karena kejadian ini.

Hem, kira-kira gimana nih, Mas Tere Liye? (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Hem, kira-kira gimana nih, Mas Tere Liye? (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Oh iya, bro sis yang belum tau, Tere Liye itu adalah nama pena dari Om Darwis. Walaupun terdengar seperti nama seorang wanita, Tere Liye sebenarnya adalah sosok laki-laki sederhana. Dibalik kata-katanya yang terkadang menusuk, Tere Liye sampai saat ini sudah mempunyai 28 judul buku. Keren banget ya, bro sis! Gak heran kalau beliau sangat “menjaga” tulisannya. Tere Liye bahkan masih sempat untuk menyindir orang-orang yang merasa tesinggung dengan tulisannya di Facebook lewat salah satu bukunya yang berjudul “Negeri Para Bedebah”.

Sumber: www.facebook.com/tereliyewriter/

Sumber: www.facebook.com/tereliyewriter/

Gak cuma kontra aja kok, banyak juga netizen yang setuju dengan pesan dari Tere Liye. Mereka paham walaupun kata-katanya tajam tapi Tere Liye hanya tidak ingin menjadi salah satu faktor buruk untuk masyarakat.

Bijak sekali ya tanggapannya (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Bijak sekali ya tanggapannya (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter

Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter

Yah, intinya kita jangan jadi generasi micin ya, bro sis. Kita juga harus bisa bijak dalam memakai konten apapun di media sosial. Sebebas apapun konten itu, kadang ada semacam “hak cipta” yang melindungi. Dan pastinya bro sis harus pintar-pintar posting sesuatu agar isinya sesuai dengan yang dimaksud, ya.

Hmm, sangat Tere Liye sekali, ya. (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Hmm, sangat Tere Liye sekali, ya. (Sumber: Fanpage Facebook @tereliyewriter)

Nah, tapi kalau untuk kejadian ini kira-kira bro sis mendukung Tere Liye atau gak? Menurut bro sis bener gak sih Tere Liye? Atau bener kata netizen kalau apa yang ada di media sosial sudah jadi “milik semua orang” alias bebas digunakan? Atau bro sis ditengah-tengah aja? Mendukung Tere Liye tapi juga meminta dia untuk lebih halus dalam menyampaikan sesuatu?

About Author

Chika

Chika

"I'm a bowling pin, even when I fall, I'll always stand back up" - Jay Park

Comments

Most
Popular

Sumber: pinterest.com

Para Atlet Pyeongchang Winter Olympic yang Mencuri Perhatian Netizen

Perlombaan Winter Olympic di Pyeongchang tahun kini gak hanya ramai dibicarakan di Korea Selatan aja. Dijamin para atl.. more

Sumber: youtube.com

Hari ini, Si Juki The Movie Akhirnya Dirilis!

Hari ini, 28 Desember 2017 Falcon Pictures akhirnya secara resmi merilis ‘Si Juki The Movie - Panitia Hari Akhir’!.. more

Mighty Morphin Power Rangers - Hendry Prasetya

Power Rangers Buatan Indonesia. Seriously?

Siapa di sini yang nggak kenal Power Rangers? Ternyata komiknya dibikin sama orang Indonesia... more

Mobil Bruce Wayne di Justice League Ini Hanya Bisa Dikemudikan di Video Game! Hanya Satu di Dunia!

Bruce Wayne, miliuner rangkap superhero serba bisa, membayar Mercedes-Benz untuk mewujudkan mimpinya mengemudikan mobil-.. more

Joged Bumbung, Warisan Budaya yang Dicap Negatif. Mengapa Bisa Demikian?

Pernah dengar Joged Bumbung? Mengapa orang tua yang seharusnya mengawasi anak-anaknya, malah membiarkan anaknya ikut men.. more