The Shape of Water Menang Best Picture, Apakah Pihak Academy Awards Memang Telah Memberikan Keputusan Yang Tepat?

7 months ago
Sumber: IndieWire

Jujur-sejujur-jujurnya, saya merasa super kaget ketika film drama fantasi arahan sutradara Guillermo Del Toro (Hellboy) ini, diumumkan sebagai pemenang Best Picture A.K.A Film Terbaik di ajang 90th Academy Awards, 4 Maret 2018 lalu.

Pasalnya, dari awal, saya merasa yakin kalau Three Billboards outside Ebbing, Missouri yang akan memenangkan penghargaan puncak tersebut. Namun toh pada akhirnya, kenyataan berbicara lain. Saya sempat sedikit berharap, bahwa ketika duo pembaca kategori tersebut, Warren Beatty & Faye Dunaway (Bonnie and Clyde), mengumumkan The Shape of Water sebagai pemenang utamanya, sama seperti di penghargaan Oscar tahun lalu, keduanya lagi-lagi salah sebut nama pemenang.

Tapi, setelah melihat Del Toro me-ricek ulang sendiri kebenarannya di atas panggung, barulah saya benar-benar percaya kalau The Shape of Water, memanglah merupakan film yang berjaya di event tersebut.

Elisa Esposito (Hawkins) & Manusia Amfibi (Doug Jones) di The Shape of Water (sumber: IndieWire)

Elisa Esposito (Hawkins) & Manusia Amfibi (Doug Jones) di The Shape of Water (sumber: IndieWire)

Alhasil atas hal tersebut, saya pun langsung bergumam nan bertanya sendiri dalam hati, “Apakah pihak akademi memang sudah benar-benar yakin nan mantap ketika memutuskan film ini sebagai pemenangnya ketimbang Three Billboards?’

Sekilas kalau dilihat dari pernyataan-pernyataan saya tersebut, saya terlihat seperti membenci The Shape of Water. Tapi bisa saya pastikan kalau hal tersebut tidak benar sama sekali. Malah, film ini bisa dibilang adalah salah satu film ter-favorit saya di sepanjang tahun 2017 lalu. Kalau mau bukti yang lebih lagi, silahkan kalian baca saja review saya terhadap film ini.

Tapi dikarenakan disini kita membicarakan kategori pemenang film terbaik sekali lagi, FILM TERBAIK, di ajang piala Oscar, sudah jelas bahwa dari 9 film yang dinominasikan di kategori paling prestisius tersebut, Three Billboards lah yang menurut saya, sangat memenuhi kriteria untuk memenangkan penghargaan tersebut.

Woody Harrelson & Frances McDormand di Three Billboards outside Ebbing, Missouri (sumber: The Atlantic)

Woody Harrelson & Frances McDormand di Three Billboards outside Ebbing, Missouri (sumber: The Atlantic)

“Memangnya kriterianya seperti apa sih?”

Well, kalau berdasarkan pengamatan saya yang sudah sering menyaksikan dan juga sering memprediksi calon-calon pemenang penghargaan ini, pada umumnya, film yang dipilih sebagai pemenang, adalah film yang memiliki tema kisah yang setidaknya relevan dengan overall keadaan yang sedang terjadi di dunia nyata pada saat ini / saat itu.

Dan seperti kita tahu, plot Three Billboards yang berpusat pada perjuangan seorang ibu yang menuntut keadilan terhadap kematian putrinya yang tewas dibunuh secara misterius, hingga detik ini masih sangat relevan alias masih sering terjadi.

Sedangkan, The Shape of Water, kalau kita liat, film ini hanya mengisahkan kisah percintaan khayal antara wanita manusia dengan mahluk amfibi. Dan tentunya, hal ini tidaklah pernah atau sedang marak terjadi di dunia nyata.

Berdasarkan argumen tersebut, gak heran  apabila saya langsung kaget, kecewa dan marah-marah sendiri ketika Three Billboards yang notabene memiliki kisah yang lebih terlihat realistis, kalah dengan kisah milik Del Toro yang super ngeyel tersebut.

Akan tetapi setelah saya menenangkan hati dan pikiran  yang kemarin-kemarin sudah sangat meledak-ledak tersebut, ternyata, keputusan pihak Akademi untuk menganugerahkan penghargaan film terbaik ke The Shape of Water memanglah keputusan yang sangat tepat.

The Shape of Water (sumber: Tirto.id)

The Shape of Water (sumber: Tirto.id)

“Loh kok bagaimana ini?”

Memang sekali lagi, kalau mau bicara kerealistisan yang benar-benar tampak, maka ya, Three Billboards yang wajib memenangkan penghargaannya.

Tapi, kalau kalian telaah lagi, cermati lagi, terlepas diperlihatkan secara abstrak, justru The Shape of Water lah yang jauh lebih relevan dengan keadaan saat ini. Well, relevan disini tentunya bukan karena sudah ada manusia perempuan dan mahluk amfibi yang juga saling berpacaran.

Melainkan, kalau kalian sadari, kisah percintaan freak ini, adalah sebuah metafora dari mencintai seseorang tanpa harus memandang kelainan atau kecacatan fisik yang dialami orang tersebut.

Dan hingga kini, kita memang masih sering melihat bukan wanita atau pria yang hanya mencintai seseorang karena melihat fisiknya yang rupawan atau faktor benefit menguntungkan lainnya? Atau dengan kata lainnya disini, saat ini, kita sudah sangat jarang melihat wanita atau pria yang mau mencintai pasangannya atau calon incarannya apa adanya.

Elisa Esposito (Hawkins) & Col. Richard Strickland (Michael Shannon) (sumber: SkyNews)

Elisa Esposito (Hawkins) & Col. Richard Strickland (Michael Shannon) (sumber: SkyNews)

Aspek kerelevansian lainnya yang tidak kalah penting yang juga diperlihatkan di film ini, adalah aspek pelecehan seksual (sexual harassment) yang kini sedang marak-maraknya terjadi di Hollywood.

Di film ini diperlihatkan bahwa atasan Elisa (Hawkins), Richard Strickland (Michael Shannon), mencoba untuk memanfaatkan kebisuan yang diderita oleh Elisa untuk melepaskan hasrat seksualnya. Untungnya, terlepas kekurangan fisik yang dideritanya tersebut, Elisa tetap bisa melawan sosok kolonel yang menyebalkan ini.

Relevan disini bukanlah hanya mencakup peristiwa pelecehan yang sekali lagi, sedang marak terjadi di industri perfilman dunia, namun tentunya juga terhadap peristiwa pelecehan seksual di luar Hollywood, yang masih kerap dialami oleh wanita lugu atau memiliki kelainan fisik di luar sana.

Guillermo Del Toro berjaya di Oscar 2018 (sumber: CBC.ca)

Guillermo Del Toro berjaya di Oscar 2018 (sumber: CBC.ca)

Namun jangan salah, kemenangan yang didapatkan film yang telah dikembangkan semenjak tahun 2011 ini, bukan hanya difaktori oleh faktor “agenda” kerelevansian sosial itu saja.

Faktor “internal” sekaligus “personal” juga turut menjadi pertimbangan pihak akademi. Spesifiknya disini, adalah faktor dari seorang Del Toro. Seperti kita tahu, terlepas telah diakui sebagai salah satu sutradara sci-fi terhebat di Hollywood, sayangnya sutradara kelahiran Guadalajara, Mexico ini, baik dirinya dan filmnya, belum pernah sama sekali mendapatkan satu piala Oscar sekalipun.

Oleh karena itu ketika di ajang Oscar kemarin, dirinya sukses memenangkan kategori sutradara terbaik, maka logika dari pihak akademi, sekalian saja memberikan penghargaan ke filmnya ini.

Keputusan ini dapaat dipastikan, diputuskan oleh pihak akademi tidak hanya untuk memotivasi sutradara berkacamata ini agar ke depannya bisa  menampilkan karya-karya yang lebih fantastis lagi, namun tentunya juga atas dasar untuk menyenangkan seluruh fans-nya. Dan seperti kita tahu, Del Toro memiliki jumlah fan base yang lumyan besar.

Momen The Shape of Water memenangkan flm terbaik di 90th Academy Awards (sumber: today)

Momen The Shape of Water memenangkan flm terbaik di 90th Academy Awards (sumber: today)

Metafora demi metafora yang ditampilkan sangatlah relevan dengan peristiwa-peristiwa tidak terpuji yang hingga kini, masih terus terjadi di sekitar kita. Namun sekali lagi, bukan berarti Three Billboards tidak demikian juga.

Terbukti, bahwa terlepas film arahan Martin McDonagh (Seven Psychopats) tersebut gagal menyabet penghargaan film terbaik di ajang prestisius ini, kemenangan demi kemenangan yang diraih di ajang Golden Globes, BAFTA dan SAG, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau film ini juga tidak kalah relevan dan tidak kalah kerennya dengan karya Del Toro tersebut.

Namun seperti kalimat ikonik yang diucapkan di film klasik 80an, The Highlander (1986), “There can be only one”, pada akhirnya, tidak peduli apakah sama relevan atau sama kerennya, terbukti, bahwa The Shape of Water lah yang tetap berdiri tegak di akhir pertempuran.

Nah, kalau kalian sendiri bagaimana nih reaksinya ketika The Shape of Water diumumkan sebagai pemenangnya? Apakah kalian juga kaget? Atau malah justru telah memprediksikannya?

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

Sumber: Detik.com

Brawl Stars: Game Top Down Shooter Besutan Supercell

Siapa nih penggemar Clash Of Clans atau Clash Royale disini?  Kedua game keluaran Supercell tersebut sempat mengguncang.. more

(Sumber : Koleksi Foto Dhiqi Hasbi)

Kangen sama ASO? Ngobrol Bareng sama Author Komik ASO Dulu Yuk!

Komik ASO itu based on true story bukan ya?.. more

Sumber gambar: 2ch.hk

Shinji Mikami: Tokoh Dibalik Kesuksesan Genre “Survival Horror” Seperti Resident Evil

Dunia harusnya berterima kasih pada Shinji Mikami 三上 真司 ... more

00-d-menggambar-komik-webtoon

Menggambar Komik Webtoon Dalam 3 Hari? Apa Rahasianya?

Komikus webtoon dituntut bisa menggambar komik webtoon dengan cepat. Ada yang bisa mengerjakan satu episode dalam 3 hari.. more

youtube.com

Metal Slug series: Game Seru & Familiar Untuk Semua Gamers

Sudah coba Metal Slug Series? Jangan lewatkan game yang satu ini, ya. .. more