Siapa Bilang Penulis Nggak Bisa Sekeren Komikus? Pede Aja Kali!

6 months ago
Sumber: Business Insider

Beberapa tahun terakhir, industri kreatif Indonesia memang berkembang cukup pesat, khususnya di bidang komik. Menjamurnya platform webtoon seperti CIAYO Comics membuat para komikus lokal terpicu untuk turun gunung dan memeriahkan industri komik lagi, seperti pada era Godam dan Gundala. Peluang sukses untuk terjun di bidang komik pun semakin menggiurkan, apalagi sistem webtoon menawarkan pembagian hasil yang setara dengan gaji kantoran.

Meski demikian, geliat komikus Indonesia ini ternyata tidak membuat semua orang nyaman. Perkembangan yang terlalu pesat dari dunia komik tentu membuat sejumlah pihak merasa minder, khususnya dari kalangan penulis/novelis. Pasalnya, dunia literasi sendiri memang tidak banyak berubah sejak dulu, khususnya jika ditilik dari segi monetisasi dan royalti. Di saat komikus lokal—baik yang pemula maupun veteran—sudah bisa merasakan perubahan, penulis seakan masih stuck di masa lalu.

Memang, saat ini masih sangat sedikit platform yang secara khusus mau menampung para penulis/novelis untuk berkarya layaknya webtunis, tetapi penulis tidak pernah kehilangan karismanya. Novel—yang merupakan counterpart dari komik di bidang literasi—punya pangsa pasarnya sendiri. Sehingga, salah besar jika kita menganggap bahwa keberadaan penulis akan tergerus oleh zaman.

Jangan sampai kita menganggap bahwa penulis itu kalah keren dengan komikus. Hei, semua yang berjuang di industri kreatif itu keren. Kami akan buktikan kalau penulis itu memang sama kerennya dengan komikus, baik di Indonesia maupun dunia. Check it out!

Novel Adalah Karya Keren yang Takkan Pernah Mati

Terlepas dari Pro dan Kontranya, Wattpad Berhasil Menghidupkan Komunitas Penulis. Sumber: Newsline

Terlepas dari Pro dan Kontranya, Wattpad Berhasil Menghidupkan Komunitas Penulis. Sumber: Newsline

Memang, kita harus mengakui bahwa pegiat literasi Indonesia agak terlambat dan kurang heboh untuk membuat inovasi yang setara dengan format webtoon, khususnya dari segi monetisasi. Sepengamatan kami, inovasi novel lokal yang paling mendekati sistem webtoon adalah Cabaca dan BBM Webcomics. Itu pun tidak seramai webtoon.

Di saat negara lain—seperti Korea dan Tiongkok—sudah punya sistem baru untuk para penulisnya, di Indonesia justru masih populer dengan sistem royalti lawas. Hal ini tak pelak membuat sejumlah penulis menjadi minder, bahkan ada yang jengkel, seperti Tere Liye dan Dee Lestari.

Walaupun kenyataan ini takkan berubah dalam waktu dekat, namun ada satu hal yang perlu kita pahami: bahwa novel akan selalu eksis di industri kreatif. Pangsa pasar novel tidak pernah berkurang, sebab bookworm tidak akan pernah hilang—sama halnya dengan pembaca komik. Berbayar atau gratis, novel akan selalu punya tempat di industri kreatif.

Bagaimana cara membuktikan hipotesis ini?

Tidak usah jauh-jauh membicarakan novel terbitan Gramedia, novel yang dirilis di platform gratisan seperti Wattpad pun punya kecenderungan untuk menjadi besar. Bahkan, sejumlah novel yang punya kualitas baik bisa dilirik oleh penerbit-penerbit besar atau malah diadaptasi menjadi film layar lebar.

Jauh sebelum era Wattpad, penulis—terutama yang suka menulis fanfiction—juga difasilitasi dengan adanya situs fanfiction.net. Situs yang berdiri pada tahun 1998 ini sudah sangat populer di kalangan pecinta fanfiction. Bahkan pada tahun 2001 saja, sudah tercatat hampir 100.000 cerita yang diposting disana. Ini angka yang fantastis, mengingat pembaca fanfiction juga sangat membludak.

Juga, cobalah main ke toko buku, kemudian perhatikan pengunjung di rak komik dan rak novel. Kedua rak itu biasanya punya pengunjung yang sama banyak. Artinya? Novel itu sama kerennya dengan komik. Nggak usah minder.

Butuh penyemangat tambahan? Lanjut ke bahasan berikutnya.

Berkaca pada Novel di Negara Tetangga

Novel Naver. Sumber: Korean Notebook

Novel Naver. Sumber: Korean Notebook

Kalau mau melihat bagaimana inovasi novel di luar negeri, kita harus berkaca pada Korea Selatan dan Tiongkok yang telah mengembangkan sistem modern untuk para penulisnya. Kami juga mengundang para pegiat literasi untuk membaca subbab ini agar pikiran kita lebih terbuka soal inovasi sistem.

Di Korea Selatan, novel punya tingkatan yang setara dengan webtoon/komik. Hal ini dibuktikan dengan adanya platform besar Naver Novel (http://novel.naver.com) yang sangat fenomenal. Semua karya yang diposting di platform tersebut berbasis tekstual. Artinya, penulis di sana sama berjayanya dengan komikus, tidak ada minder-minderan.

Pada tahun 2014, jumlah pembaca dari novel official sendiri telah mencapai angka 3,6 milyar pembaca. Angka ini meningkat 163 persen hanya sejak satu tahun sejak platform ini membuka pelayanannya. Dan tercatat pada tahun 2016, platform ini sendiri telah menaungi 109 penulis official dan 110.000 penulis amatir.

Ini belum ditambah dengan fakta bahwa pada tahun 2015, tujuh penulis official Novel Naver mampu meraih keuntungan sekitar 100 juta won dari platform ini. Dan sekitar sebelas webnovel juga telah diangkat menjadi film atau tv show.

Tunggu dulu, kita belum selesai. Mari beralih ke negara lain. Tiongkok, kali ini.

Di Tiongkok, setidaknya ada dua platform webnovel raksasa, yakni WuxiaWorld dan Qidian. Dua platform ini—saking besarnya—sampai pernah berantem untuk memperebutkan penulis maupun translator. Dari sini, bisakah bro sis bayangkan betapa profesi penulis di Tiongkok dianggap terlalu keren sampai diperebutkan dua “kaisar”?

Sumber: SupChina

Sumber: SupChina

Menurut Forbes, webnovel di Tiongkok mempunyai penggemar yang sangat masif dan sangat menguntungkan para penulisnya. Hal ini karena Qidian—brand literasi milik Tencent—berhasil membuat terobosan sistem penerbitan novel online bebas pembajakan. Pembaca senang karena muncul novel setara premium yang bisa dinikmati secara online, penulis dan penerjemah senang karena dibayar secara proporsional.

Pada tahun 2016, Qidian sendiri telah membayar para penulisnya dengan total nilai 147 juta USD sebagai uang kontribusi. Jika dibagikan kepada 1.000 penulis, jumlah itu masih sangat luar biasa. Silakan hitung sendiri jika dikonversi ke dalam rupiah.

Dengan adanya beberapa data di atas, kini kita tahu bahwa penulis di negara tetangga punya karisma yang dahsyat, bahkan sangat dihargai di negara mereka.

Kami rasa perusahaan maupun pegiat literasi di Indonesia perlu belajar tentang bagaimana Novel Naver dan Qidian mampu mengapresiasi para penulis ke tingkatan yang lebih tinggi. Jika tidak, bisa jadi suatu hari Naver atau Tencent akan datang ke Indonesia untuk mengambil pasar yang menurut mereka potensial. Yeah, penulis Indonesia bisa saja “pindah kubu” ke platform negara tetangga.

Beberapa fakta di atas juga membuktikan bahwa penulis itu memang keren. Masih merasa minder? Lanjut ke bahasan selanjutnya, deh.

Ingat, Tidak Semua Komikus Pandai Membuat Cerita!

Sumber: Things Kevyn

Sumber: Things Kevyn

Dalam komik, tidak semuanya bergantung pada keindahan gambar. Cerita menjadi salah satu aspek yang juga penting, sebab esensi dari komik adalah menyampaikan cerita dengan gambar. Ya, cerita dan gambar, artinya ada dua elemen yang perlu digabungkan.

Jadi apa solusinya? Kolaborasi adalah jawabannya.

Jangan salah, di dunia komik itu ada yang namanya profesi comic writer. Komikus yang tidak pandai merangkai cerita, biasanya bekerjasama dengan orang-orang dari profesi tersebut. Comic writer sendiri pada dasarnya punya prinsip yang sama dengan penulis pada umumnya. Perbedaannya, mereka menulis cerita untuk komik.

Ada banyak komik yang lahir dari hasil kolaborasi antara komikus dan penulis (comic writer). Contoh paling terkenalnya adalah manga Bakuman yang dikaryakan oleh duo Tsugumi Ohba (story) dan Takeshi Obata (ilustrasi). Manga yang juga bercerita kolaborasi di dunia komik ini pun berhasil mencuri perhatian para penikmat manga di seluruh dunia.

Dari Indonesia, kita bisa melihat komik JITU karya Yudha Negara Nyoman dan Haryadhi. Atau komik Sampana, karya duo Akhmad Fadly dan Widi Krisna yang saat ini masih mengudara di platform komik CIAYO, yang berhasil menyabet penghargaan Action of the Year tahun lalu.

Tidak perlu malu berkolaborasi. Berkolaborasi tak menandakan kita lemah. Justru sebaliknya, dengan kolaborasi, sesuatu yang hebat tercipta. Sebagaimana yang dikatakan oleh Walikota Bandung periode 2013-2018, Ridwan Kamil, “Kurangi berkompetisi, perbanyak berkolaborasi.”

Masih ragu juga kalo penulis itu memang keren? Kalau begitu kami keluarkan jurus terakhir, deh!

Minder Itu Pertanda Terlalu Banyak Ekspektasi

Sumber: officentric

Sumber: officentric

Penulis-penulis minderan biasanya punya ekspektasi yang berlebihan terhadap cita-cita mereka, misalnya berpikir akan menjadi penulis best seller secara instan atau menjadi kaya berkat hasil tulisannya—seperti Andrea Hirata, misalnya. Ekspektasi-ekspektasi semacam ini adalah sesuatu yang justru akan menghancurkan rasa percaya diri di masa mendatang.

Kenapa demikian? Sebab, ekspektasi adalah hasil akhir yang kita harapkan, bukan proses yang akan kita jalankan. Banyak penulis yang akhirnya memutuskan untuk berhenti akibat tidak kuat dengan realitas industri. Tumbang akibat terlalu sering membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain dan mengambil ekspektasi yang terlalu jauh.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang perlu bro sis perhatikan sebagai penulis agar tidak minderan:

  1. Niatkan menulis untuk berkarya, untuk menuangkan ide, dan untuk menghibur pembaca.
  2. Jangan terfokus pada keuntungan, sebab mindset ini bisa menjadi bumerang apabila bro sis tidak terbiasa dengan pola pikir industri.
  3. Jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, khususnya apabila bro sis termasuk penulis yang sering mengalami anxietas (kecemasan berlebih). Membanding-bandingkan diri bisa jadi pedang bermata dua; bisa jadi motivasi atau justru demotivasi.
  4. Jangan memasang standar/ekspektasi yang terlalu tinggi. Setiap orang punya pace, momen, dan keterampilan uniknya masing-masing. Hargai standarmu sendiri sebelum menghargai standar orang lain.
  5. Novel punya marketnya sendiri, jangan dibandingkan dengan komik. Tenang saja, kalau bro sis konsisten, karya tekstual bro sis juga akan sukses seperti komik pada waktunya. Iya, kuncinya adalah konsisten.

Bagaimana? Sudah cukup “tersentil” oleh tulisan kami? Semoga apa yang kami paparkan di artikel ini bisa menambah semangat bro sis sebagai penulis, ya. Semangat selalu dan salam kreatif!

About Author

S09 Gruppe

S09 Gruppe

S09 Gruppe adalah circle penyedia konten kreatif. Motto kami adalah Care the Creativity, yang berarti kami peduli pada pertumbuhan kreativitas Indonesia. Berkenaan dengan motto tersebut, kami akan selalu memberikan insight-insight kreatif terbaru serta penyemangat untuk berkarya.

Comments

Most
Popular

Sumber gambar: interactive.org

Mengenal Sosok Penting Desainer Hardware Nintendo: Genyo Takeda

Desain yang bagus akan menjadikan sebuah video game menarik. .. more

Sumber: tripzilla.com

Permasalahan Sajaegi dalam Industri Musik Korea

Kalau musimnya boyband dan girlband di Korea Selatan sedang comeback atau merilis lagu baru, muncul deh kesempatan skand.. more

Sumber: mangamon.id

Tips Buat Dapetin Free Entry (TIKET GRATIS) ke Indonesia Comic Con 2017!

Masuk Comic Con 2017 tanpa bayar? Gimana caranya tuh?.. more

Daftar Anime

Daftar Anime dengan Rating Terbaik Sepanjang 2017. Adakah Anime Favorit Kalian?

Kali ini penulis ingin merangkum anime rating 2017 yang mengesankan bagi pengguna situs myanimelist.net sehingga mereka.. more

Gal Gadot Menyelamatkan Wonder Woman dari Patty Jenkins

Wonder Woman sudah sepantasnya dibuat sempurna. Saya akan menulis review film Wonder Woman garapan Patty Jenkins sesuai .. more