Sicario Day of Soldado: Ketika Kejahatan dan Kebaikan Sama Kotornya

5 months ago

Saat sebuah film berhasil meningkatkan banyak hal dari seri sebelumnya, ini benar-benar menjadi sesuatu yang luar biasa. Kali pertama tayang di tahun 2015, Sicario tampil dengan gaya brutal, cerita berbobot, dan isyu yang begitu kontoversi. Kesuksesan film ini pun sampai membuatnya masuk dalam nominasi Oscar kala itu.

Berselang waktu 3 tahun akhirnya Sicario hadir lagi walau kali ini tidak digarap oleh Denis Villeneuve selaku sutradara film pertamanya, akan tetapi kepiawaian Stefano Sollima selaku sutradara di seri terbaru ini menghadirkan nuansa yang sama menegangkan dengan ciri khas yang kuat. Mungkin tidak tergelincirnya cerita Sicario karena naskah kedua film ini masih ditulis oleh orang yang sama, Taylor Sheridan.

Duet maut antara Benicio Del Toro dan Josh Brolin. (sumber: leonardmaltin.com)

Karakter Kate Macer yang diperankan oleh Emily Blunt memang tidak lagi hadir di Sicario: Day of Soldado akan tetapi film ini kembali menampilkan dua karakter paling ikonik yang memang punya ketreikatan secara emosional. Benicio Del Toro sebagai Alejandro dan Josh Brolin sebagai Matt Graber.

Sedari awal semua penonton diberikan gambaran tentang daerah perbatasan Amerika- Mexico yang memang bukan lagi rahasia umum, penuh dengan tragedi peyeludupan, mulai dari penyeludupan para imigran sampai dengan narkoba. Dan Sicario: Day of Soldado mencoba berdiri dengna pondasi ini.

Secara cerita film ini sangat rapi akan tetapi isyu tentang penyeludupan imigran gelap dari Mexico terasa tidak lagi up to date, sebab jika setting cerita mengambil masa sekarang jelas kebijakan Presiden Amerika, Donald Trump tentang kampanye peningkatan pengamanan imigran gelap di daerah perbatasan akan sangat berpengaruh dari segi pengamanan yang ketat, dan dalam film ini pengamanan malah terlihat cukup longgar. Tapi ini juga mungkin yang menjadi alasan mengapa penentuan tahun setting tidak di jelaskan secara jelas.

Ketika yang menodong lebih gugup daripada yang ditodong. (sumber: www.bleedingcool.com)

Angen CIA, Matt Graver mendapatkan tugas dengan gaya kotor untuk mengadudomba para penjahat kelas kakap yang sangat sulit diberantas. Tujuan menyulut perang antara dua kubu penjahat besar menjadi sesuatu yang cerdas di awal namun penuh masalah ketika dilaksanakan. Bersama dengan Alejandro, Graver kembali bernostalgia untuk menculik anak dari salah satu kubu dengan menyamar menjadi kubu lainnya. Ini seperti kisah klasik yang penuh lagenda tentang seorang putri atau pangeran yang diculik untuk memicu perang besar diantara dua kerajaan.

Alejandro yang memang punya kisah masa lalu kelam dengan salah satu kubu membuat emosi dalam film ini terasa begitu kental. Apalagi ketika adegan mereka menculik seorang anak perempuan bernama Isabela Reyes yang diperankan oleh Isabela Moner.

Melihat akting Isabela Moner saya jadi kagum dengan aktris muda satu ini, ia tampil sangat meyakinkan, kuat, tegar, dan juga penuh simpati. Saya sampai berpikir sepertinya Isabela Moner lebih bagus daripada Alicia Vikander jika ia memerankan karakter Lara Croft dalam film Tomb Raider.

Isabela Moner tampil sangat memukau. (sumber: remezcla.com)

Jika ditanya apa yang membuat Sicario: Day of Soldado berbeda dari film sebelumnya, maka jawabannya terletak pada adegan aksi yang jauh lebih banyak. Jika Sicario sebelumnya fokus pada drama yang menyentuh sisi kemanusiaan, maka Sicario: Day of Soldado akan banyak membuat semua penonton menahan nafas, tegang dan sedikit agak emosional.

Awalnya agak ragu dengan Sicario: Day of Soldado sebab ditakutkan karena terlalu fokus pada adegan aksi takutnya cerita yang ada malah melemah. Memang dari segi cerita Sicario: Day of Soldado masih tidak sedalam film sebelumnya, akan tetapi berbagai adegan sinematis yang dipandu oleh Dariusz Wolski dengan kombinasi musik Hildur Guonadottir, mampu menghadirkan peningkatan yang jauh lebih bagus dari film sebelumnya.

Adegan paling ikonik yang sulit untuk dilupakan. (sumber: www.slashfilm.com)

Banyak plot twist yang akan membuat penonton berdecak kagum sehingga hal-hal minor kecil yang sebenarnya cukup banyak jadi tersamarkan. Saya tidak bisa menangkap bahwa ide mengadudomba dua kubu penjahat adalah sesuatu yang benar-benar baik, bahkan karakter Graver pun mengakui hal itu dengan berucap bahwa apa yang akan dilakukannya merupakan sesuatu yang sangat kotor. Ia mengungkapkan bahwa semua itu hanyalah pencitraan pemerintah pada publik sehingga kemenangan yang diidamkan bukanlah hal penting.

Jangan berpkir bahwa siapa yang jahat siapa yang baik sebab Sicario: Day of Soldado memberikan sudut pandang tentang begitu kotornya banyak hal dilakukan dengan mengatas namakan kebenaran itu sendiri. Secara keseluruhan Sicario: Day of Soldado masih memiliki nuansa original yang penuh kekerasan, gelap, dan tanpa ampun. Apakah para kriminalitas adalah sebuah kejahatan dan penegak hukum merupakan simbol kebenaran? Saya rasa melihat kedua hal ini dari segi kemanusiaan jelas membuat semua orang berpikir bahwa siapa pun mereka dan di kubu mana pun berada, semuanya bekerja dalam gerakan yang sangat “kotor”.

Tahun ini memang miliknya Josh Brolin. (sumber: www.imdb.com)

Isyu Sicario: Day of Soldado akan terasa lebih segar jika film ini dibuat beberapa tahun yang lalu, mungkin lima atau tiga tahun yang lalu, ketika kebijakan pemerintah Amerika belum berubah seperti saat ini, akan tetapi walau pun demikian semua aspek yang dimiliki oleh Sicario: Day of Soldado tetap saja punya kualitas yang sangat bagus, bahkan jika ditanya apa film terbaik bulan Juni, maka Sicario: Day of Soldado bisa dibilang merupakan film yang memberikan pengalaman terbaik sejauh ini dari beberapa film lainnya.

Jika kalian sudah menonton film pertamanya, maka kalian wajib menonton seri terbarunya ini. Namun Sicario: Day of Soldado juga bisa berdiri sendiri sebab beberapa bagian penting yang menghubungan kisah ini dengan kisah sebelumnya dijelaskan kembali lewat beberapa dialog yang menggambarkan mengapa hal-hal tertentu jadi sangat penting dan menyentuh penonton secara dalam.

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber gambar: Inverse

Kolaborasi Unik DC Comics: Injustice vs He-Man and the Masters of the Universe

Komik Injustice vs He-Man and the Masters of the Universe mulai terbit 18 Juli 2018. Sudah tahu kisahnya?.. more

Sumber: techraptor.net

Final Fantasy XV Poket Edition, Versi Mobile yang Merangkum Versi Konsolnya

Mungkin banyak para gamer yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Square Enix sehingga mengeluarkan ver.. more

komikomen 2.0

Komikomen 2.0 – Webcast yang Apresiasi Komik Indonesia!

Web series Komikomen 2.0 menyajikan diskursus dasar mengenai industri komik Indonesia dan persinggungannya dengan budaya.. more

Hatsune Miku Menjelma Menjadi Boneka pada Hina Matsuri di Jepang

Hmm, karakter anime dipadukan ke dalam festival tradisional, yes or no?.. more

00-d-fix-you

Fix You: Kehebohan Bengkel Robot di Pedesaan

Fix You mengisahkan Guidi yang bermimpi menjadi pembuat robot, namun malah terdampar di bengkel robot di kampung sebagai.. more