Fantastic Beast :  The Crimes of Grindelwald — Dan Perang Magis Pun Baru Dimulai

4 weeks ago
The Crimes of Grindelwald Header

Tahun 1927, hujan deras turun menghujam. Ministry of Magic mulai bersiap memindahkan tahanan nomor satu didunia — Gellert Grindelwald — untuk diadili atas kejahatannya di Eropa. Dia dijaga dengan super ketat. Semua pintu sudah dikunci, semua sudah tempat dijaga, semua Auror awas waspada dan semua tongkat sihir mengarah padanya.

Grindelwald menatap kosong kedepan. Setiap orang mencoba menerka apa yang ada dipikirannya. Apakah dia mencoba kabur? Apakah dia berhasil melihat celah? Apakah para Auror sudah benar-benar mengamankannya?

Oh please, kalian tahu semua itu sia-sia bukan?

The Crimes of Grindelwald Adalah Sekuel Narasi, Bukan Fantasi

Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald — FB:TCOG — adalah film sekuel dari film berjudul sama sebelumnya. Film kali ini juga menceritakan sebuah babak baru dari kehidupan Newt Scamander, seorang penyihir yang geeky dan punya fetish pada binatang magis. Apakah plot cerita juga sama, menceritakan tentang perburuan binatang yang lepas dari koper Newt?

Oh tentu tidak Alfonso, karena kali ini plot cerita akan berkutat tepat setelah film pertama berakhir; saat ditangkapnya Gellert Grindelwald oleh Ministry of Magic. Saya pribadi merasa kalau FB:TCOG hanya punya sedikit kesamaan dengan film sebelumnya dari segi plot cerita, karena banyak fakta dan informasi baru yang belum pernah diberikan sebelumnya. Plot cerita kali ini bahkan terasa lebih gelap, lebih serius, dan lebih bernuansa politik ketimbang dunia sihir.

Sumber: BBC

Sumber: BBC

Film sebelumnya memang dibuka dengan banyak guyon dan tawa, banyak binatang ajaib dan adegan yang penuh dengan warna. Tapi kali ini, semua serba hitam dan serba gelap. Overture yang digunakan saja terlihat sadis, mirip dengan apa yang dilakukan sutradara David Yates pada film Harry Potter: Deathly Hallows. Penonton akan mulai menyerap cerita dengan perasaan awas, gelap dan serius. Beda banget bukan dengan film pertama?

Dan ga cuman intro saja yang terasa seperti itu, kita juga akan merasakannya sepanjang film. 80% adegan akan diisi oleh narasi antar karakter, banyak detail-detail cerita yang diselipkan, sehingga mau tidak mau kita harus mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut karakter. Bagi mereka yang mengincar banyaknya aksi magis dan rentetan spell dari para penyihir, mungkin akan kecewa dan merasa kalau film Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald membosankan.

Tapi kalau menurut saya, hal ini memang harus bin wajib untuk dilakukan. Jika film pertama bersifat mengenalkan, maka film kedua harus bersifat membangun pondasi cerita. Film kedua harus benar-benar bisa menjelaskan setiap elemen cerita yang dipakai, mulai dari sejarah, motivasi, backstory, asal-usul, dan tetek bengek lainnya. Dan betul saja, film FB:TCOG ini semua dijelaskan dengan apik dan ciamik lewat narasi cerita yang berkelas.

The Crimes of Grindelwald

Sumber: Screenrant

Tapi yah, tentu saja pengambilan sudut cerita seperti ini akan mengorbankan banyak hal. Hewan-hewan magis yang merupakan esensi dari film Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald hanya terkesan seperti filler, terkesan tidak niat ditunjukan dan tidak berhubungan langsung dengan plot utama cerita. Banyak juga sub-plot yang terkesan tidak penting dan tidak mendukung peran karakter utama atau benang merah cerita. Apakah untuk memainkan emosi penontonnya? Saya rasa tidak, karena saya tidak merasakannya sama sekali.

Namun saya bersyukur saat sutradara mengorbankan banyak hal ini demi keberlangsungan grand plot yang sudah dibangun dari film pertama. Dengan begini, pada akhir film penonton akan tahu secara jelas dua pihak yang sedang berperang; Grindelwald dengan pasukannya, dan Newt dengan pasukannya. Kita juga akan tahu setiap detail elemen cerita yang dibuat, mulai dari motivasi tentang apa yang dilakukan Grindelwald, apa hubungan Dumbledore dengan semuanya, apa peran dari Ministry of Magic dan semua detail informasi yang diperlukan sebelum mereka mulai berperang.

Ibarat main catur, pion-pion berupa detail cerita sudah terpajang dengan rapih. Sekarang kita tinggal menunggu film ketiga; sebuah klimaks berupa perang klasik antara yang baik dengan yang jahat.

Romantinewt dan Detail Karakter Ciamik

Sedari pertama kali melihat Eddie Redmayne berperan sebagai Newt Scamander, saya selalu merasa dia akan berperan sangat baik dan emosional dalam film Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald. Karakternya yang unik dan diperankan oleh aktor yang unik jelas akan memberikan nilai tersendiri, sebuah nilai karakter yang saya sering menyebutnya sebagai gem character.

Gem character adalah karakter yang bersinar dengan cahayanya sendiri, tidak sama dengan karakter lain dalam filmnya, atau bahkan dari film lain. Dan di film sekuel ini, karakter Newt Scamander benar-benar memancarkan sinarnya yang unik dan beda dari yang lain. Dia berhasil memperlihatkan sisi romantinewt; sebuah sisi romantisme yang awkward dan spontan khas Newt Scamander. Jujur, saya tidak tahu bisa menemukan bisa menemukan romantinewt dimana lagi selain dari karakter Newt.

Baca Juga: 10 Mantra Harry Potter yang Memiliki Manfaat Besar Bila Digunakan di Dunia Nyata

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Selain Newt, hampir semua karakter didalam film Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald mendapatkan upgrade dan detail informasi yang dalam dan belum pernah terlihat. Karakter yang ada akan benar-benar terlihat kuat dari segi motivasi, sehingga penonton dapat dengan mudah melihat apa yang menjadi alasan sebuah karakter dalam melakukan suatu tindakan.

Saya bahkan merasa kalau film Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald mencoba ‘mencuci’ otak penontonnya, mencoba membuat penontonnya untuk setuju dengan nilai dan tujuan yang dimiliki oleh Grindewald. Persis seperti apa yang dilakukan pada film Infinity War; dimana penonton dicoba ‘diajak’ untuk mengerti alasan dan motivasi Thanos melakukan semua hal tersebut.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Dan pada akhirnya, penonton akan dibuat kaget dan sangat antusias menunggu kehadiran film ketiga akibat plot twist yang bersifat super klimaks. Semua memori, pengetahuan, dan detail cerita yang dibangun sedari awal film akan tumpah di penghujung film. Pada titik ini, kita akan menyadari kalau cerita baru saja akan dimulai; sebuah awal dari akhir cerita epik yang terjadi di dunia magis.

Duh, jadi ga sabar banget deh nunggu film ketiganya!

Banner Komik Fantasy

About Author

Ben

Ben

"Seorang penulis lepas amatiran yang tampan, muda, pemberani, dan mencoba menjadi idaman mertua. Kalau ketemu di jalan tolong teriak 'BENJO' yang kenceng ya!"

Comments

Most
Popular

Sumber gambar: pinterest.com

Sepuluh Nama Keluarga Jepang Dengan Maknanya

Berikut sepuluh nama keluarga di Jepang dengan makna dibaliknya. .. more

00-d-chvrches

CHVRCHES Rilis Video Klip Anime “Out of My Head”

Bersama grup Jepang Wednesday Campanella, CHVRCHES merilis lagu dan video klip Out of My Head yang bernuansa anime bange.. more

00-d-journal-of-terror

Journal of Terror – Komik Horror Sederhana Namun Bernuansa Mencekam

Journal of Terror berkisah tentang seorang anak bernama Prana yang mampu melihat apa yang tak selazimnya dilihat orang k.. more

Sumber: medium.com

J-WORLD Tokyo, Indoor Theme Park Yang Wajib Di Kunjungi Oleh Para Penggemar Anime

Buat bro sis para penggemar anime maupun manga di Jepang, mending buruan nabung buat ke Jepang! Karena di sana terdapat .. more

Sumber: Disney

Disney Tidak Senang dengan Bagaimana EA Menangani Star Wars

Reputasi EA sebagai perusahaan game raksasa yang rakus dan tak peduli dengan kemauan para gamer nampaknya semakin terlih.. more