The Room: Film Drama Jelek Namun Penuh Passion

4 months ago

The Disaster Artist adalah film arahan James Franco yang mengangkat cerita di balik salah satu film terjelek yang pernah dirilis, The Room. Rilis di bulan Desember 2017 lalu, The Disaster Artist berhasil meraup untung US$ 26 juta dari budget sebesar US$ 10 juta saja. James Franco pun meriah penghargaan Golden Globe lewat perannya di film tersebut. Kritikus turut memuji The Disaster Artist karena komedi dan kejujuran naskahnya. Rating agregasi dari Rotten Tomatoes-nya cukup impresif, 91%. Rating penonton pun tak kalah memuaskan: 89%, tak jauh dari rating agregasi RT.

06 disaster artist win

The Disaster Artist, diperankan oleh Franco bersaudara. (Sumber: A24)

Jika sebuah film drama komedi semi-dokumenter tentang sebuah film jelek bisa meraih rating dan ulasan memuaskan, seperti apa ya film asli yang menginspirasinya? Apa sih yang membuat seorang James Franco tertarik dengan sebuah film yang konon diklaim sebagai salah satu film terjelek dekade 2000-an?

01 the room

Poster film The Room. (Sumber: Pinterest)

Film The Room dirilis tahun 2003, merupakan buah karya dari Tommy Wiseau yang merangkap posisi sebagai aktor, penulis naskah, produser, serta sutradara. Tommy merupakan sosok misterius, baik di dalam maupun di luar layar film. Tak banyak yang tahu kehidupan pribadinya, bahkan hal-hal yang paling sederhana seperti usia, tempat lahir, dan pekerjaannya sehari-hari.

02 the room

Tommy Wiseau di film The Room. (Sumber: Youtube)

Bicara soal pekerjaan, hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar. Film The Room didanai sepenuhnya oleh Tommy, dan diduga uang yang telah dihabiskan adalah sekitar US$ 6 juta (8 juta jika menyesuaikan dengan nilai inflasi saat ini). Lucunya, sebagian besar dari budget tersebut digunakan untuk hal-hal yang dianggap mubazir. Misalnya saja membangun set untuk lokasi sederhana seperti atap gedung dan gang, merekam film dengan dua jenis kamera berbeda, dan bahkan Tommy bersikeras untuk membeli semua perlengkapan shooting alih-alih menyewanya!

Tommy sebagai pemain utama dalam seluruh proyek The Room justru sulit diajak bekerja sama. Ia senantiasa datang terlambat ke studio, melupakan semua dialognya, hingga menolak untuk memberikan fasilitas memadai bagi para kru. Dengan berbagai kekacauan yang terjadi dalam set film The Room, para aktor dan kru yakin bahwa film Tommy ini tak akan ditayangkan di bioskop.

Seluruh kejanggalan dalam The Room diabadikan dalam buku The Disaster Artist, yang ditulis oleh teman Tommy dan salah satu bintang The Room, Greg Sestero. Dalam buku yang ditulis bersama Tom Bissell ini, Greg menceritakan awal pertemuannya dengan Tommy hingga penayangan perdana The Room. James Franco menyadur buku tersebut menjadi film, yang bisa bro sis baca ulasannya di sini.

03 the room

Tommy dan tunangannya, Lisa. (Sumber: Film School Rejects)

Kembali ke topik awal, The Room menceritakan tentang drama asmara antara seorang bankir bernama Johnny (Tommy Wiseau) dengan tunangannya, Lisa (Juliette Danielle). Kehidupan mereka pun dihiasi oleh kehadiran Denny (Philip Haldiman), tetangga dan “anak angkat” Johnny. Bagi Johnny, kehidupannya saat ini tak bisa lebih baik lagi, namun Lisa mulai merasa bosan dengan percintaannya dengan Johnny. Diam-diam, ia berselingkuh dengan sahabat Johnny, Mark (Greg Sestero).

Di titik ini, kisah The Room jalan di tempat. Hampir setengah isi film dipenuhi oleh subplot yang tidak berhubungan dengan cerita utama, dan bahkan tidak diselesaikan dengan memuaskan. Ambil contoh subplot dimana ibu Lisa, Claudette (Carolyn Minnott) didiagnosa menderita kanker payudara; atau saat dimana Denny terlibat masalah dengan pengedar narkoba bernama Chris-R (Dan Janjigian). Subplot-subplot ini tidak memiliki pengaruh pada konflik utama, dan di akhir film tidak disinggung lagi. Ceritanya terus maju seakan-akan dua masalah itu tidak pernah ada.

04 the room

“Oh hai, Mark!” sapa Johnny setelah menyumpahi Lisa. (Sumber: inews.co.uk)

Bagaimana dengan aktingnya? Tommy Wiseau benar-benar “memukau” di sini. Ia berganti-ganti fase antara akting “datar dan tak bisa baca suasana,” dengan akting lebay dan melodramatis. Ekspresinya lurus, dipadukan dengan dubbing suaranya yang memiliki aksen unik. Saat Tommy mengekspresikan rasa sedih dan marahnya, ia justru malah membuatnya terlalu dramatis. Emosinya lebih mirip anak kecil yang tak dibelikan mainan.

05 the room

Karakter level sinetron lokal dimainkan dalam sosok Lisa. (Sumber: Rebloggy)

Lisa yang diperankan Juliette Danielle pun sama menyebalkannya. Lisa adalah sosok picik yang tak hanya egois namun juga labil. Ia berpindah-pindah antara memuji hingga menjelekkan Johnny selama situasinya menguntungkan baginya. Mark pun tak lebih baik layaknya protagonis anime harem. Ia berusaha menolak pendekatan Lisa karena ia tak mau melukai Johnny, namun hanya godaan setan yang didengar oleh batinnya. Mark tetap melanjutkan dan bahkan menikmati hubungan nistanya dengan Lisa.

Terlepas dari berbagai keajaiban dalam filmnya, serta penampilan pas-pasan dari para aktor, The Room pada akhirnya rilis di tahun 2003. Performa box officenya menyedihkan, karena hanya mampu meraup US$ 1800 ($2395 jika disesuaikan). Bayangkan, film berbudget 6 juta, hanya meraih untung tidak sampai satu persennya. Saya bakal ngamuk seperti Johnny di dalam The Room jika membuat film dengan hasil demikian.

Namun di salah satu penayangan The Room, hadir Michael Rousselet dari 5-Second Films yang menemukan humor dari segala kejanggalan The Room. Kabar burung pun beredar, dan mendekati akhir penayangannya di bioskop, penonton The Room pun mulai membludak. Di hari akhir, para penonton The Room memberikan penghormatan terakhir ala pemakaman Viking, dengan melempar garpu plastik dan bola rugby. Kedua benda merupakan motif unik yang bisa ditemukan dalam film The Room.

Tercatat hingga hari ini, film The Room masih terus ditayangkan dalam beberapa acara midnight screening. Melempar sendok dan bola rugby menjadi sebuah ritual yang tak pernah absen. Para penonton tertawa dan terus berteriak, beberapa dari mereka bahkan ber-cosplay sebagai Johnny dan karakter lainnya.

06 the room

Cosplay Johnny dari The Room. (Sumber: Deviantart)

Apa yang menyebabkan film terjelek ini mendapatkan banyak sekali fans?

Mungkin karena fans bisa menangkap sebuah hal tersirat dari segala kekacauan yang ada dalam The Room. Ada sebuah passion yang kuat dalam setiap detiknya. Dengan segala keterbatasan pengetahuan Tommy tentang produksi film (bahkan termasuk sikap sembrononya itu), Tommy tetap bersikeras memproduksi film tersebut. Tommy menerapkan sebuah perspektif baru dalam proses kreatif film; perspektif yang asing dan tidak biasa bagi kita. Hasilnya? The Room menyajikan sebuah pengalaman yang unik dan tak bisa ditemukan dalam film jelek lainnya.

The Room bukan sekedar film jelek biasa. Bro sis harus nonton filmnya dengan mata kepala sendiri, karena pengalaman menonton The Room hanya bisa dinikmati dengan menontonnya langsung. The Room menjadi satu bukti bahwa film jelek sekalipun dapat dinikmati jika ada variabel-variabel rumit yang mendukungnya.

Namun, apakah legenda The Room berakhir sampai sini saja? Berakhir sampai The Disaster Artist? Tidak! Ternyata Tommy Wiseau dan Greg Sestero masih punya satu misi terakhir yang harus mereka kerjakan bersama. Misi itu, bernama Best F(r)iends. Ini adalah film kedua yang dibintangi oleh Tommy dan Greg sejak The Room, dan terlebih dahulu ditayangkan dalam beberapa festival film sepanjang tahun 2017.

07 the room

Best F(r)iends, film kedua Greg dan Tommy. (Sumber: Book My Show)

Best F(r)iends akan menuturkan cerita seorang gelandangan bernama Jon Kortina (Greg Sestero) yang menjalin persahabatan dengan pengurus makam bernama Harvey Lewis (Tommy Wiseau). Keduanya menjalankan bisnis gelap bersama-sama untuk dapat hidup lebih baik. Namun di tengah jalan, persahabatan mereka terancam oleh rasa cemburu dan kerakusan masing-masing.

Film drama ini akan dibagi ke dalam dua bagian, dimana bagian pertama baru akan rilis di bulan Maret 2018, sementara bagian kedua menyusul di bulan Mei. Best F(r)iends nampak bakal menjadi sebuah film drama yang bagus, alasnnya karena ia tidak terjebak dengan popularitas The Room. Film ini dikerjakan dengan tepat, dengan konsep matang, tanpa hal-hal aneh yang terjadi dalam The Room. Best F(r)iends menjadi sebuah testamen, perayaan dari persahabatan erat dua orang yang menjadi tokoh sentral di balik salah satu film terjelek yang pernah ada. Tentunya film ini patut dinantikan.

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

Sabrina – Chapter 3: Berkenalan Dengan Pria Mapan

“Itu, Om Setyo punya temen. Baik orangnya, udah mapan juga. Pengen dikenalin ke siapa gitu.”.. more

(Sumber: youtube.com)

Manga Romance Comedy Watashi ni xx Shinasai Mendapat Adaptasi Serial dan Film Live-Action

Watashi ni xx Shinasai, manga bergenre romance comedy ala novelis yang siap untuk ditonton versi Live Action-nya!.. more

Inktober

Inktober 2017 Sepi? Ini Kata Para Artist

Selain merayakan hari Sumpah Pemuda dan Halloween, buat para penggambar (artist) pasti tau sama Inktober. Sudah diadakan.. more

Sumber: Vazurea Studio

Segera Hadir, Visual Novel Produksi Indonesia-Amerika, Our Feelings!

Dengan semakin banyaknya rilisan VN lokal di kancah internasional, membuktikan bahwa skena game indie lokal kita masih d.. more

Sumber gambar: littleanimeblog.com

Fist of the North Star & Girls’ Last Tour: Dua Pendekatan Berbeda Untuk Kisah Dunia Post Apocalyptic

Dari begitu banyak judul, di tulisan ini saya akan fokus pada dua judul manga yang sama-sama bertema post apocalyptic na.. more