The Sims, Fantasi Kehidupan Sempurna, dan Membuang Waktu

2 months ago
00-m-the-sims

Rasanya mustahil banget kalau kalian (terutama sissy semua) belum pernah memainkan game simulasi hit karya Will Wright ini. Pasalnya, semenjak game pertamanya dirilis di tahun 2000 silam, The Sims, emang nge-hit banget.

Tentunya, salah satu alasan mengapa game yang dikembangkan oleh Maxis ini begitu digemari adalah dikarenakan game ini, memungkinkan kita untuk bisa  mewujudkan kehidupan super sempurna yang selama ini dikhayalkan.

Ya memang gak seluruhnya sempurna. Faktanya, layakanya seperti kehidupan nyata (real-life), sosok avatar kita jugalah menghadapi berbagai masalah seperti dimarahi bos, sleg sama teman, bahkan diputusin pacar.

Tapi ya secara keseluruhan, melalui game ini, kita bisa memilih bentuk wajah, desain rumah, pekerjaan dan tipe pacar sesuai keinginan kita selama ini. Dan tentunya ini sangat sempurna bukan? Karenanya, tidak heran sekali lagi apabila game ini super hit dan banyak dari kita yang menghabiskan waktu berjam-jam memainkannya.

The Sims yang bikin candu banget (sumber: SimsVIP)

The Sims yang bikin candu banget (sumber: SimsVIP)

Namun kalau dipikir, terlepas game ini sangat bikin candu selama berjam-jam, tak dipungkiri ketika kita telah memiliki rumah mewah, istri, anak, cucu, pokoknya sudah perfect deh hidup avatar kita, kita pastinya langsung merasa boring karena ya nantinya gameplay hanyalah berupa repetitif kegiatan yang itu-itu saja.

Kalaupun ada sedikit perubahan, itupun karena kita dalam memainkannya, kita rajin meng-upgrade karakter atau lingkungan kita. Memang, mungkin sebagaian besar dari kalian gak merasa bosan dengan tipe game ini. Atau malah mungkin, masih terus memainkan game-nya hingga detik ini.

Tapi kalau saya pribadi, semenjak “kenalan” dengan game ini di masa SMP-SMA dulu, tidak memerlukan 4-5 kali main untuk membuat saya langsung malas memainkan game ini. Karena ya bagi saya, The Sims adalah tipe game yang hanya membuang-buang waktu real-life saja.

Kenapa saya katakan demikian? Selain kita haru selalu “stay” memantau  kehidupan avatar kita dari hari ke hari, juga ya faktanya, game ini cuma begitu-begitu saja. Tidak ada misi / tujuan yang worth playing & waiting. Oke, memang ada misi.

Tapi misi yang ada adalah: Dapetin kerja, cari pacar, cari teman baru, dan misi-misi real-life related lainnya. Sorry to say, ya. Daripada saya harus menjalankan misi real-life dalam game, lebih baik saya menjalankan misi tersebut secara nyata.

Sim Theme Park (sumber: Emuparadise)

Sim Theme Park (sumber: Emuparadise)

Nah ketimbang saya menghabiskan waktu berjam-jam memainkan The Sims, lebih baik saya memainkan game simulasi (sim) bisnis. Entah itu bisnis taman hiburan, majalah, koran, roller coaster atau bahkan jualan minuman lemon, pokoknya yang berbasis bisnis AKA cari duit.

Memang, nantinya akan repetitif juga gameplay yang dimainkan. Tapi setidaknya yang kita mainkan berulang-ulang ini sekali lagi, adalah simulasi berbasis bisnis. Setiap harinya (baca: ketika main), kita secara tidak langsung ditantang untuk mencari cara bagaimana untuk mengelola bisnis kita dengan sebaik-baiknya.

Alhasil, secara tidak langsung lagi, kitapun juga jadi belajar tidak hanya cara berbisnis, namun juga cara mengelola (manage) keuangan (income / outcome) dengan baik dan benar. Kalau mungkin ketika membaca tulisan ini, kamu menganggap aneh atau tidak mungkin, percayalah tidak sama sekali. Karena saya telah merasakan efek tersebut.

The Sims 4 (sumber: ComicBook)

The Sims 4 (sumber: ComicBook)

Kalau memang cuma menghabiskan waktu, lalu kenapa Wright menciptakan game-nya ini? Loh itu hak Wright bukan? Lagipula kalau kalian masih ingat, latar belakang Wright ketika menciptakan The Sims bukanlah karena ingin menghabiskan waktu kita.

Wright menciptakan game ini setelah dirinya kehilangan rumah di tahun 1991 akibat badai api (fire storm) yang menimpa rumahnya dan seluruh rumah di daerah Oakland, California kala itu. Pasca peristiwa ini, Wright tentunya langsung berininisiatif untuk bangkit memulai kehidupan barunya.

Alhasil, dirinya pun mulai membeli rumah dan berbagai perabotan baru sebagai modal kehidupan barunya. Nah seluruh pengalamannya ini, menginspirasinya untuk mengadaptasikan  kehidupan mirisnya ini ke dalam game simulasi buatannya ini.

Selain itu, faktor latar lain yang menginspirasi, adalah Wright ingin menyindir budaya konsumtif (konsumerisme) rakyat Amrik yang seperti kita tahu, hingga kini masih sangat dominan.

The Sims sindir budaya konsumerisme rakyat Amerika. (sumber: Christian Today)

The Sims sindir budaya konsumerisme rakyat Amerika. (sumber: Christian Today)

Berdasarkan fakta tersebut, jadi ya memang game ini diciptakan untuk membuat kita merasakan bagaimana kalau kita harus memulai kehidupan kita dari nol lagi.

Namun, karena nature game ini memang menjalankan kehidupan avatar kita sehari-harinya, seperti kita di real-life, jadi ya permainannya seperti yang telah kita lihat selama ini dan terlihat seperti menghabiskan waktu saja.

Oleh karenanya, gak heran apabila The Sims ini hanyalah disukai oleh gamer tertentu saja. Alias yang memang suka dengan game simulasi yang tiada henti (endless). Bagi gamer tipe ini, mereka tidak merasa waktu real-life mereka terbuang.

Karena ya memang sudah suka / hobi banget, jadi ya mereka menganggap main The Sims adalah “ritual” yang harus dimainkan setiap harinya. Nah, ini sekali lagi tentunya berbeda jauh dengan tipe-tipe gamer seperti saya yang memang lebih ingin memainkan game ber-misi pasti dengan porsi waktu yang sangat pas.

Respek terhadap seluruh pemain Sims (sumber: Electronic Arts)

Respek terhadap seluruh pemain Sims (sumber: Electronic Arts)

Terlepas pandangan ini, bukan berarti saya tidak menghargai kamu yang memang fans berat game ini. Sebaliknya, saya justru super respek sama kalian. Saya respek karena kalian bisa betah banget memainkan game simulasi repetitif ini.

Saya respek karena kalian sanggup dan mau merelakan beberapa jam waktunya untuk memainkan game ini.Tapi sekali lagi, bagi saya, The Sims bukanlah game untuk saya. Dan bagi saya, saya tidak ingin berlama-lama menghabisakan waktu saya hanya untuk memainkan “manifestasi digital” saya selama berjam-jam.

Namun toh faktanya, walaupun masih lumayan banyak gamer seperti saya yang menganggap The Sims tidak lebih dari game ngabisin waktu, buktinya franchise ini masihlah akan terus ada dan dipastikan juga, akan terus mendulang emas yang sangat tinggi.

Nah sekarang, bagaimana pandangan kamu terkait pembahasan ini? Apakah kamu memang merasakan bahwa main The Sims, sama saja seperti menghabiskan waktu berharga kalian?

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

(Sumber: youtube)

Gaming Dengan Home Console vs Gaming Dengan PC, Pilih yang Mana?

Video game dulu berfungsi sebagai permainan hiburan di pusat perbelanjaan / keramaian. Yang sukses besar pada masanya ad.. more

Penampilan AKB48 di MAMA 2017 Menunjukkan Perbedaan Antara Idol Jepang Dan Korea Selatan

“Idol Korea Selatan lebih cantik dan punya gerakan dansa lebih baik,” “Sekarang aku mengerti kenapa idol group Kor.. more

Sumber: Google Play Store

Menilik Redupnya Games Musiman. Salah Satunya Ada Tiang Listrik!

Belakangan ini Indonesia diserbu dengan banyak sekali games seru. Tapi karena inovasi datang dari kejadian yang lagi “.. more

00 ditolak penerbit desktop

Jangan Ngambek! Ini Alasan Kenapa Karyamu Ditolak Penerbit!

Bro sis pernah ngirim novel atau komik ke penerbit, terus ditolak? Jangan keburu marah, soalnya penerbit punya alsannya .. more

00-intellectual-property-d

Belum Mengerti Tentang Intellectual Property? Itu Tandanya Kamu Harus Kenalan Lebih Dekat!

Kalau kamu masih belum mengerti konsep "intellectual property," maka artikel ini cocok banget buat kamu. Harus baca!.. more