The Titan, Bumerang Netflix yang Menawan namun Malah Menyerang Balik

1 year ago
sumber: cultfix.co.uk/

“The Titan” bisa dikatakan merupakan debut film berskala besar pertama Lennart Ruff sebagai sutradara. Beberapa film pendeknya tergolong sukses, sebut saja “No Spacial Incidents” pada tahun 2009 yang berhasil memenangkan Best Short Fiction Film di ajang Dresden Film Frstival.

Secara garis besar, “The Titan” punya ide cerita yang bagus. Bercerita mengenai seorang militer yang memilih berpartisipasi dalam eksperimen untuk mempercepat evolusi genetik menusia agar bisa merelokasi kehidupan manusia ke bulan terbesa di Satrunus, Titan.

sumber: www.superpoweredfancast.com

sumber: www.superpoweredfancast.com

Gaya tarik film ini juga muncul dari daftar cast yang membawa nama-nama besar seperti Sam Worthington (Avatas, Terminator Salvation, Clash of the Titans trilogi), Taylor Schilling (Argo dan seris Orange is the New Black), dan aktor tua Tom Wilkinson.

Namun semua unsur pendukung yang saya sebutkan di atas tadi, tidak bisa dimaksimalkan dengan tepat sehingga original film dari Netflix kali ini terasa cukup mengecewakan. Kisah berlatarkan tahun 2060 dengan kejadian besar yang seharusnya bisa dikembangkan dengan bagus malah terjebak dalam sebuah ruangan yang membosankan.

sumber: www.ign.com

sumber: www.ign.com

Kisah tentang Rick Janssen (Sam Worthington) mantan pilot Angkatan Udara yang menjadi relawan dalam ekspreimen evolusi genetik agar generasi selanjutnya bisa pergi meninggalkan bumi yang sekarat dan pindah hidup di Titan. Saya tahu apa yang dilakukan Rick adalah perbuatan mulia dan Rick juga merupakan pria baik hati, tapi alasan itu terasa sangat universal tidak menyentuh sisi personalnya sehingga emosi tentang pengorbanan dirinya terasa hambar. Saya berharap Rick akan punya alasan yang kuat sehingga ia mau menjadi relawan.

sumber: www.joblo.com

sumber: www.joblo.com

Hal hambar ini tidak hanya berakhir sampai di sini saja. Bahkan istri Rick, Dr. Abigail Janssen (Taylor Schilling) mendapatkan pengembangan karakter yang jelek. Seorang perempuan dengan beban kerja yang berat hadir lewat kehidupan Rick sebagai kisah cinta yang minim penjelasan. “The Titan” butuh pendekatan emosional dan sedikit backstory beberapa karakter untuk mempertegas cerita utamanya. Opsi untuk menampilkan kehidupan Rick dan keluarganya sebelum menyetujui semua proses itu seharusnya bisa menjadi percakapan intim yang penuh emosi, namun Max Hurwitz selaku penulis skenario malah menyingkirkan itu semua.

sumber: www.gigazine.net

sumber: www.gigazine.net

Cerita “The Titan” hanya berfokus pada misi utama tanpa muatan yang manusiawi. Bermacam tes dan proses perubahan manusia menuju kemampuan yang lebih kuat untuk bisa bertahan di Titan. Jauh memang jika harus membandingkan dengan film “Intersteller” karya Nolan yang punya misi besar tentang penyelamatan kelangsungan hidup manusia tapi tidak melupakan pendekatan emosi karakternya, apalagi jika harus membandingkan film ini dengan film “Avatar” yang punya pondasi cerita karakter yang sangat kuat. “The Titan” hanya menjadi sebuah proses yang harus dilalui tanpa mencoba memberi makna yang mendalam selain bahwa manusia sedang sekarat.

sumber: http://cinemaeafins.com

sumber: cinemaeafins.com

Saya rasa kali ini Netflix terlalu bersemangat membangkitkan animo genre sci-fi dengan melemparkan sebuah bumerang menawan dan mencuri banyak perhatian yang akhirnya malah berbalik menyerang mereka sendiri. Sekali lagi ide cerita yang awalnya terdengar luar biasa bisa menjadi sangat buruk apabila dieksekusi dengan cara yang tidak tepat. Setelah ini sebaiknya Netflix harus lebih selektif dalam menggarap sebuah film, terutama untuk film original mereka yang punya embel-embel ekslusif.

Genre sci-fi tidak hanya tentang ilmu pengetahuan atau perjalanan menembus langit, tapi juga tentang karakter-karakter yang hidup di dalam ceritanya, dan lewat karakter-karakter itulah seharusnya sebuah film bisa menyentuh penonton dengan rasa kemanusiaan yang bagus.

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

iPhone X, Simbol Kegagalan Inovasi Apple?

Siapa sih yang gak mau punya gadget bagus? Apalagi buat handphone, soalnya jaman sekarang kan apa-apa dilakukan pake han.. more

vandaria anthology

Vandaria Anthology: 3 Komik Vandaria Rilis Serentak di CIAYO Comics!

Nggak hanya satu komik, tapi tiga komik baru! Vandaria Anthology adalah kumpulan komik Vandaria Saga ciptaan komikus yan.. more

Sumber gambar: digitaltrends.com

Dipatok Hingga Ratusan Juta Rupiah, VERTU Menjual Kemewahan Dalam Gadget

Pasar yang Vertu bidik adalah golongan the haves. Kelompok berduit. Orang kaya... more

Steven dan Millie menjadi Captain America dan Agent Carter sumber: Facebook.com/cosplayparents

Manisnya, Apa yang Dilakukan Pasangan ini Setelah Pensiun Benar-Benar Tidak Wajar!

Kira-kira apa yang akan kamu lakukan ketika kamu pensiun nanti?.. more

Mas Is, Teh Alti, dan Kang Ario di event Anime Matsuri (CIAYO Pictures)

Bagaimana Perkembangan Industri Komik Indonesia di Tahun 2018? Yuk, Simak Pendapat Para Kreator!

Perkembangan industri komik di Indonesia terus berkembang tiap tahunnya. Bagaimana perkembangan indutri komik Indonesia .. more