Tomb Raider Reboot: Penyelamat Terakhir Film Adaptasi Video Game?

10 months ago
00 d tomb raider reboot

Bagi bro sis yang gamer sekaligus moviegoers, pastinya sudah gak sabar banget untuk segera menyaksikan reboot film Tomb Raider yang bakal rilis pada bulan Maret 2018 mendatang.

Film yang disutradarai oleh Roar Uthaug (The Wave) dan dibintagi Alicia Vikander (Ex-Machina) sebagai sosok arkeolog seksi nan badass Lara Croft ini, tidak hanya akan menjadi reboot dari seri film Tomb Raider yang dulu dibintangi oleh Angelina Jolie (Salt), namun juga menjadi film kesekian dalam senarai film adaptasi video game.

Karenanya, tak bisa dipungkiri bahwa film ini bakal memikul tanggung jawab yang lumayan berat. Tak hanya harus melampaui ekspektasi film Tomb Raider versi Jolie, namun film reboot ini juga digadang-gadang sebagai “penyelamat” bagi film adaptasi video game.

Maklum, semenjak diperkenalkan dan populer di awal tahun 90an, genre film adaptasi video game hingga kini masih belum bisa menuai kesuksesan fantastis; baik di tangga box office, maupun di mata fans.

01 jolie

Sumber: Digital Spy

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentunya kita harus sedkit kilas sejenak untuk melihat reaksi sekaligus pencapaian dua film pertama Tomb Raider yang dibintangi oleh Jolie di awal milenium 2000-an silam.

Secara finasial, baik Lara Croft: Tomb Raider (2001) dan Lara Croft Tomb Raider: The Cradle of Life (2003) bisa dibilang sangat sukses. Film pertamanya sukses meraup untung sebesar $275 juta, sementara sekuelnya meraih untung $157 juta. Hasil raihan kedua film tersebut kala itu jauh lebih besar dari masing-masing budget produksinya, yang berarti secara teknis kedua film Tomb Raider ini sukses secara finansial.

Akan tetapi, kalau bicara soal kesuksesan dari sudut pandang audiens sekaligus fans gamenya, maka kedua film ini tidaklah terlalu berhasil. Pendapat terbagi antara mereka yang suka dan tidak suka. Mereka yang tidak menyukai film Tomb Raider (termasuk fans gamenya) beralasan bahwa kedua film tersebut, tidak menampilkan experience yang sama mengikat, seperti yang mereka dapatkan ketika memainkan gamenya dulu.

Jujur, secara pribadi saya tidak bisa memberikan komentar. Ketika film ini rilis, saya bukan seorang fans seri game buatan Core Design/Crystal Dynamics ini. Akan tetapi kalau dipikir-pikir lagi, bukankah memang itu masalah utama dari adaptasi video game selama ini?

02 mk

Sumber: iscfc.files

Yap. Experience alias sensasi/pengalaman yang kita dapatkan ketika memainkan gamenya. Fans tentunya ingin merasakan experience yang sama saat menyaksikan adaptasi layar lebarnya.

Kalau dipikir secara logis, film dan game adalah dua medium hiburan yang sangat berbeda. Film adalah media pasif, sedangkan game adalah media aktif yang membutuhkan partisipasi subjek/gamer. Tapi, bukan berarti film lantas tidak bisa menghidupkan experience yang ada dalam gamenya.

Kita ambil contoh adaptasi game fighting legendaris, Mortal Kombat. Kalau bro sis masih ingat, film yang disutradarai oleh Paul W.S. Anderson (Resident Evil) ini lumayan sukses secara finasial dan cukup disukai oleh fans gamenya. Hal ini tentunya karena Anderson sukses menampilkan elemen serta experience yang kerap dirasakan oleh gamer-gamer-nya selama ini, terlepas dari beberapa modifikasi di sana-sini. Nah, hal inilah yang menurut fans Tomb Raider tidak dimiliki oleh kedua filmnya.

03 ac

Sumber: Variety

Tapi jangan salah juga, bro sis. Terkadang ada juga adaptasi film yang telah menampilkan seluruh experience dari gamenya, tapi ujung-ujungnya tetap gagal total juga. Film Assassin’s Creed adalah contoh sempurna dari kasus ini. Film yang disutradarai oleh Justin Kurzel (Macbeth) ini harus diakui sudah habis-habisan menyertakan elemen serta experience yang ada di seri gamenya. Hal ini diperkuat oleh dukungan dua aktor top seperti Michael Fassbender (X-Men: First Class) dan Marion Cotillard (The Dark Knight Rises) yang menjadi bintang utamanya.

Lalu kenapa Assassin’s Creed masih tetap gagal? Jawabannya sangat simpel: Tidak semua film adaptasi video game otomatis sama suksesnya dengan versi game. Dalam kata lain, experience Assassin’s Creed memang lebih cocok dinikmati di video game dibandingkan dengan di layar lebar.

04 tomb raider reboot

Sumber: Empire

Berdasarkan dua studi kasus di atas, apa hubungannya dengan film Tomb Raider reboot ini? Secara kualitas, tentunya kita belum bisa menilai. Pasalnya film ini sendiri baru akan rilis di bulan Maret 2018. Tetapi kalau bicara soal experience, menurut saya kemungkinan besar film ini bisa memuaskan para fans gamenya. Malah, saya bisa pastikan reboot ini akan jauh lebih oke dari dua film milik Jolie sebelumnya.

Pasalnya, kisah film ini bakal diadaptasi langsung dari game reboot Tomb Raider yang dirilis tahun di 2013 silam. Selain merupakan game yang best-selling, game reboot Tomb Raider juga merupakan seri Tomb Raider yang lebih “membumi” dan realistis dibanding game-game Tomb Raider yang sudah ada. Game reboot ini cocok diadaptasi ke layar lebar, karena hampir kebanyakan film adaptasi game atau komik, kini mengambil pendekatan realistis.

05 tomb raider reboot

Sumber: fortressofsolitude

“Wah, berarti film ini bakal jadi film adaptasi video game pertama yang sukses dong?” Sori, saya nggak bisa jamin juga, bro sis.

Berdasarkan experience dari trailer yang sudah pernah ditayangkan, Tomb Raider reboot ini mungkin bisa memuaskan fans. Tapi ingat, kata kunci di sini adalah FANS. Orang awam belum tentu bakal menyukai film ini. Oke, anggap penonton biasa dan fans sama-sama suka. Berarti tinggal menunggu saja total pendapatan box officenya. Karena seperti kita tahu, tolok ukur kesuksesan sebuah film pada akhirnya kembali ke pendapatan box office.

Kalau memang nantinya film ini mendulang keuntungan besar, maka Tomb Raider reboot bisa dipastikan akan menjadi penyelamat dari genre yang kerap diremehkan banyak orang. Tapi kalau misalkan masih gagal juga, maka Hollywood sepertinya harus rehat sejenak, atau benar-benar menyerah untuk mengadaptasi adaptasi video game sebelum terpuruk lebih jauh lagi.

Barusan itu adalah pendapat saya. Kalau pendapat bro sis sendiri bagaimana? Langsung tulis di kolom komentar, ya!

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

Sumber: dontfeedthegamers.com

Keren! Game Ini Paling Banyak Masuk Nominasi Di DICE Award 2018

Dari sekian banyak video game, ada beberapa video game yang paling mencuri perhatian di DICE Award tahun ini. Ada “Hor.. more

Love Sucks

Kenalan Yuk Sama Author Love Sucks!

bro sis penasaran gak sih, siapa sosok dibalik terciptanya karakter Logan dan Eli... more

BEKRAF Game Prime 2017, Hari Raya Bagi Gamers dan Insan Kreatif

BEKRAF Game Prime 2017 sukses digelar. Tahun ini Badan Ekonomi Kreatif Indonesia bekerjasama dengan Duniaku Network dan .. more

00-d-hanebado-review

Hanebado Bawa Drama Pertandingan Badminton Ke Dunia Anime

Hanebado mampu menyuguhkan intensitas ala pertandingan final badminton ke media anime, tanpa mengurangi unsur fun dan dr.. more

 (Sumber: youtube.com)

Anime Gamers: Penuh dengan Kesalahpahaman dari Awal Hingga Akhir

Gamers, anime romance comedy yang ditayangkan di musim panas 2017 ini mencoba mengambil konflik roman yang terjadi di ka.. more