Trend Reboot Horor Klasik: Bentuk Penghormatan Atau Hollywood Sudah Habis Ide Untuk Menakut-nakuti Kita?

3 months ago
reboothoror-banner

Seperti kita perhatikan selama 1-2 tahun terkahir ini, Hollywood terlihat seperti sedang “demen-demennya” merilis reboot atau sekuel atau prekuel pembaharuan dari karya horor klasik favorit audiens.

Beberapa diantaranya yang sudah dirilis adalah seperti: It (2017), Poltergeist (2015), dan yang teranyar, Halloween (2018).

Sedangkan beberapa pembaharuan yang akan dirilis dalam beberapa tahun mendatang adalah seperti: Suspiria (2018), Child’s Play (2019), Killer Clown (2018), Jacob’s Ladder (2019), Grudge (2019) dan Pet Semetary (2019).

Baca juga: Deretan Film Horror Ini Siap Menemani Pertengahan Tahun 2018 Kamu!

Alasan Dibalik Trend Reboot Film Horor

Sekilas ketika melihat trend ini, kita mungkinmenganggap ini adalah upaya Hollywood untuk memberikan penghormatan (homage / tribute) terhadap karya klasik ini sekaligus, memperkenalkan kembali filmnya ke audiens zaman now. Namun apakah memang itu alasannya?

Atau jangan-jangan trend ini muncul dikarenakan Hollywood sudah tidak memiliki ide lagi untuk menakut-nakuti kita?

reboothoror-it

Sumber: Variety

Hmm, bagaimana kalau saya katakan alasannya dikarenakan gabungan keduanya? Ya jadi begini. Sangat jelas memang keputusan Hollywood yang kini rajin merilis sekuel, prekuel atau reboot horor klasik ini, adalah untuk memperkenalkan kisahnya ke generasi sekarang AKA “Zaman Now”.

Dan wajarlah. Hollywood dan mungkin beberapa generasi pre-milenial saat ini, ingin memberikan generasi milenial feel “old-school horror” yang sangat abadi itu. Bukannya mengatakan film horor zaman sekarang tidak memiliki tingkat memorable setinggi itu.

Tapi ya faktanya sekali lagi film-film horor rilisan pre-milenial memanglah jauh lebih berkesan nan abadi. Belum lagi fakta bahwa saat ini, masih banyak generasi pre-milenial yang ingin kembali merasakan momen-momen horor masa kecil itu.

Baca juga: Jangan Ngaku Punya Nyali Kalau Gak Berani Nonton Film Horror Klasik di Bawah Ini!

Alhasil, untuk memecahkan kedua polemik tersebut, Hollywood pun memutuskan untuk merilis versi reboot dari film-film klasik horor yang dimaksud. Dan bisa dikatakan hingga tulisan ini diturunkan, langkah ini sangatlah berhasil baik secara finansial maupun dalam memuaskan kedua audiens beda generasi tersebut.

Atas keberhasilan ini, maka tak heran apabila Hollywood hingga kini “nagih” untuk memproduksi reboot-reboot  horornya. Namun di saat yang sama ironisnya, kerajinan ini malah justru membuat mereka menjadi malas untuk menciptakan ide-ide seram binti segar untuk menakut-nakuti kita.

reboothoror-quietplace

Sumber: Eater

Eits jangan protes atau marah-marah dulu nih. Memang di saat yang sama, Hollywood juga masih lumayan banyak memproduksi film-film horor orisinil keren seperti Get Out (2017) dan A Quiet Place (2018) yang seperti kita ketahui, keduanya menjadi favorit audiens dan bahkan salah satunya memenangkan Oscar.

Tapi di saat yang sama, ya itu tadi. Melihat fakta bahwa proyek reboot / remake horor yang ada sangat sukses, alhasil mereka pun berlogika: “Untuk apa capek-capek mikirin ide baru kalau misalkan kita bisa menuai keuntungan dengan hanya me-remake filmnya?”

Dengan satu logika tersebut, alhasil logika ini dijadikan alasan utama “default” bagi seluruh sineas dan rumah produksi horor dalam menjalankan proyek reboot-nya.  Dan kalau dilihat secara logis pula, tentunya alasan / motif ini sangat mengesalkan.

Pasalnya mereka-mereka ini memiliki ide segudang yang sangat kreatif untuk menciptakan kisah-kisah seram baru. Tapi di saat yang sama, kalau kita menempatkan posisi di sepatu mereka, pastinya kita juga akan memberikan dalih atau melakukan hal yang sama bukan?

Toh yang penting masih dapat untung banyak bukan?

reboothoror-cewek

Sumber: IndieWire

Tapi di saat yang sama kita tidak bisa juga terus-terusan menyalahkan sineas-sineas tersebut. Pasalnya seluruh generasi milenial saat ini terlepas dengan berbagai gadget serta elemen-elemen super moderen yang ada, kalau kita perhatiakan secara seksama, jugalah memiliki minat super tinggi terhadap yang berbau jadul.

Hal ini terbukti sekali dan sudah banyak dicontohkan melalui rilisan film atau seri saat ini yang justru 90% berlatar di era pre-milenial seperti: 50’s-90’s. Lalu kalau dipikir mengapa generasi milenial justru lebih senang terhadap yang jadul-jadul ketimbang yang berbau moderenitas seperti saat ini?

Saya tidak tahu secara persis berhubung saya sendiri jugalah merupakan generasi milenial. Tetapi kalau menurut pengamatan saya pribadi, banyak generasi saat ini yang secara perlahan tapi pasti mulai menyadari kalau segala sesuatu yang berasal dari jadul entah itu, film, musik atau fashion, jauh terasa lebih abadi dan keren.

reboothoror-jejaktangan

Sumber: lifethedog.pixnet

Nah dikarenakan melihat prefrensi jadul yang dimiliki oleh sebagian besar generasi tersebut, hal ini jugalah yang akhirnya memotivasi seluruh studio dan sineas untuk semakin rajin memproduksi remake atau reboot horor jadul.

Baca juga: Pengabdi Setan Jadi Film Horor Terseram di Indonesia?

Lalu setelah melihat seluruh aspek / alasan ini, jadi apakah trend perilian reboot atau remake horor klasik ini adalah sebuah hal yang buruk? Tergantung kalian melihat dari sisi mana dan tentunya kalian berasal dari generasi yang mana.

Saya katakan demikian karena tentunya dua sudut pandang tersebut memiliki mind set yang berbeda pula. Apabila kalian melihatnya  dari sisi finansial dan sisi penghormatan (homage), tentunya trend reboot horor klasik ini sebuah trend yang positif.

Hal yang sama juga bisa dikatakan apabila kalian berasal dari generasi saat ini. Pasalnya reboot horor klasik ini membuat kalian menjadi semakin ter-edukasi dengan keseluruhan seluk-beluk atau perkembangan film horor baik dari segi naskah maupun segi grafis-nya.

reboothoror-kucing

Sumber: studentedge

Namun apabila kalian dari generasi pre-milenial, mungkin kalian sudah merasa lelah atau bahkan muak.

Pasalnya, kalian geram karena film horor klasik yang memorable diberikan treatment pembaharuan secara begitu saja. Namun ya saya juga sering melihat banyak juga generasi pre-milenial yang tidak berkeberatan sama sekali dengan trend ini.

Ya terlepas kalian pro atau kontra dengan trend ini, yang jelas sekali lagi ini membuktikan bahwasanya trend ini memang terlahir dari rasa “nyaman” dan “enak” yang sudah didapatkan berkali-kali oleh proyek-proyek sebelumnya.

Trend ini memanglah bukan sesuatu yang buruk. Tetapi, apabila tidak diimbangi benar-benar oleh karya yang bersifta orisinil, maka jangan kaget sama sekali apabila cap atau pandangan, “Hollywood sudah kehabisan ide menyeramkan” akan terus terpatri dan terngiang hingga beberapa tahun mendatang selanjutnya.

Psst, kalau kamu mau liat yang horor lagi, coba deh baca komik – komik horor kayak The Other Side atau The Librarian hanya di CIAYO Comics. 

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

Sumber: www.bandainamcoent.com

Review Game Dragon Ball FighterZ: Saatnya Melakukan Combo Yang Super Dahsyat

Baru-baru ini pihak developer asal Jepang, Arc Sistem Works baru saja merilis game pertarungan terbaru dari Dragon Ball .. more

00-d-level-up-kl-2018

Dua Game Indonesia Raih Penghargaan Level Up KL 2018

Coffee Talk dan She and The Light Bearer yang diterbitkan Toge Productions memenangkan penghargaan tingkat Asia Tenggara.. more

Sumber: Toys Frontier 2019

Toys Frontier 2019 Dihadiri 80 Ribu Pengunjung

Toys Frontier 2019, pameran mainan dan pop culture oleh JTOKU Indonesia sukses digelar. Lebih dari 80 ribu pengunjung me.. more

00-d-subject-09-cofe-break

Webnovel Subject 09 Terbitkan Cerita Agen Rahasia Berdarah Sunda

Webnovel spionase Subject 09: Coffee & Break akan menampilkan kisah agen rahasia asli Sunda yang menyamar sebagai penja.. more

Dragon Ball dan One Piece (Sumber: qygjxz.com)

Dragon Ball & One Piece – Dua Anime Yang Masih Bertahan Dari Era Awal Millennium

Jika bro sis membaca artikel sebelumnya soal anime Bleach yang tidak bertahan lama, disana saya ada menyebutkan soal “.. more