Uwe Boll, Tersangka Utama Gagalnya Adaptasi Film Video Game

10 months ago
Sumber: Eze Nkiri

Kenapa ada anggapan kalau film adaptasi dari video game selalu jelek? Mungkin alasannya bisa ditanyakan ke sutradara yang satu ini.

Uwe Boll; itulah nama yang selalu disinonimkan oleh para gamer sebagai sutradara penghancur game favorit mereka. Bagaimana tidak, sutradara asli Jerman ini mentasbihkan diri sebagai “spesialis adaptasi film video game,” tapi semua film yang ia tangani tidak pernah meraih kesuksesan finansial. Bukan karena film buatannya terlalu niche dan sulit diterima pasar, namun karena memang jelek saja dalam berbagai level.

Boll lahir di Wermelskirchen, Jerman pada 22 Juni 1965 dan kini menetap di Ontario, Kanada. Ia menempuh studi di Universitas Cologne dan Universitas Siegen, dan meraih gelar doktorat di bidang literatur. Ketertarikan Boll pada dunia sinematografi berawal sejak usia belia 10 tahun, setelah menonton film Mutiny on the Bounty karya Marlon Brando.

Uwe Boll di set film originalnya, Rampage: Capital Punishment. (Sumber: The Telegraph)

Uwe Boll di set film originalnya, Rampage: Capital Punishment. (Sumber: The Telegraph)

Dua film debutnya adalah Blackwoods dan Heart of America, yang mendapatkan respons medioker. Pada titik inilah Boll mulai menjadi sutradara untuk film adaptasi video game, dan dimulailah legenda mengerikan seorang Uwe Boll dalam petualangannya menistakan video game yang bisa ia filmkan.

House of the Dead

Debut pertama Boll di film adaptasi game tidak semulus bayangannya. (Sumber: TVStoreOnline)

Debut pertama Boll di film adaptasi game tidak semulus bayangannya. (Sumber: TVStoreOnline)

Film adaptasi pertama karya Uwe Boll adalah House of the Dead di tahun 2003, adaptasi game arcade populer dari SEGA. Sekelompok mahasiswa hendak mendatangi sebuah rave party di pulau Isla de Morte. Mereka terlambat tiba di pelabuhan dan terpaksa berlayar bersama seorang pelaut yang diduga merupakan penyelundup. Begitu tiba di pulau, mereka menemukan bahwa seluruh penghuni di sana telah berubah menjadi zombie.

House of the Dead tak bisa dikatakan sukses karena walaupun untung, marginnya sangat kecil. Dengan budget US$ 12 juta, House of the Dead hanya mampu meraih untung US$ 10.2 juta di pasar domestik dan US$ 3.6 juta di luar negeri. Konsensus Rotten Tomatoes duduk di angka 3% berdasarkan agregasi 59 ulasan. Setidaknya IGN memberikan House of the Dead nilai 3/5 karena telah memenuhi tugasnya sebagai film B yang standar.

Alone in the Dark

Seharusnya ini jadi film thriller, tapi… (Sumber: Rotten Tomatoes)

Seharusnya ini jadi film thriller, tapi… (Sumber: Rotten Tomatoes)

Selepas House of the Dead, Uwe Boll kembali terlibat dalam produksi film adaptasi video game di tahun 2005. Kali ini giliran game Alone in the Dark produksi Eden Games yang beruntung (atau sial?) ditangani olehnya. Christian Slater berperan sebagai Edward Carnby, detektif spesialis kasus-kasus klenik dan supranatural. Ia memiliki indera ke-enam untuk merasakan fenomena gaib.

Penulis Blair Erickson menyiapkan naskah film Alone in the Dark. Ia mengkonsepkan film ini sebagai sebuah thriller dengan sentuhan ala H.P. Lovecraft untuk menggenjot nuansa horor kleniknya. Namun, Boll yang tak menyukai draft tersebut kemudian mengubahnya dengan bantuan timnya. Dikutip dari Something Awful, Erickson menyebutkan bahwa Boll menambahkan “portal ke dimensi lain, arkeolog berambut pirang, adegan seks, ilmuwan gila, monster anjing berlendir, pasukan militer untuk melawan monster anjing berlendir, aktris American Pie Tara Reid, tembak-tembakan slow motion ala The Matrix, dan kejar-kejaran mobil.”

Apa hasil dari permak naskah tersebut? Alone in the Dark menjadi box office bomb! Dengan budget sekitar US$ 20 juta, Alone in the Dark hanya meraup untung US$ 2.8 juta di minggu awal dan total hanya US$ 10.4 juta. Nilai Rotten Tomatoes juga hanya meraih nilai 1% dari agregasi 120 ulasan. “Tidak kompeten dalam berbagai tingkatan,” Alone in the Dark dikritik karena akting buruk, berbagai plot hole, special effect yang tak kalah buruknya, dan yang paling penting adalah tidak punya hubungan dengan serial video game yang diadaptasi.

Tapi kisah Alone in the Dark tidak selesai di sini saja! Ada juga film sekuel Alone in the Dark 2 di tahun 2008. Uwe Boll kali ini hanya menjadi produser saja, dan untungnya tidak seburuk film pertamanya (walaupun tetap saja diulas negatif). Peran Edward Carnby kini jatuh pada aktor Rick Yune yang populer di film Die Another Day dan The Fast and the Furious.

Bloodrayne

Alih alih adaptasi Bloodrayne, malah jadi Buffy the Vampire Slayer versi mesum. (Sumber: Letterboxd)

Alih-alih adaptasi Bloodrayne, malah jadi Buffy the Vampire Slayer versi mesum. (Sumber: Letterboxd)

Film selanjutnya dalam repertoir Uwe Boll adalah Bloodrayne, dari game action produksi Terminal Reality. Film tahun 2005 ini menampilkan banyak aktor populer seperti Kristianna Loken, Michael Madsen, Ben Kingsley, Michelle Rodriguez, dan masih banyak lagi. Berkisah tentang Rayne, seorang peranakan manusia-vampir yang disebut Dhampir. Ia berambisi membunuh ayahnya, raja vampir Kagan yang memperkosa lalu kemudian membunuh ibunya.

Bloodrayne juga menjadi sebuah box office bomb dan meraih keuntungan jauh lebih sedikit dari Alone in the Dark. Minggu pertama hanya bisa untung US$1.5 juta, sementara total keuntungannya hanya US$ 3.5 juta saja. Padahal budget film ini mencapai US$ 25 juta. Nilai Rotten Tomatoes mencapai 4%, dengan rincian dari 50 ulasan yang teragregasi hanya dua yang memberikan nilai positif. Bloodrayne bahkan tidak disukai oleh orang-orang yang berhubungan dengan film ini, seperti aktor Michael Madsen hingga pengisi suara Rayne di gamenya, Laura Bailey.

Jika RT menyebut Bloodrayne sebagai film absurd, maka mereka tepat sekali. Uwe Boll merekrut wanita tuna susila betulan sebagai figuran untuk menghemat budget. Penulis naskah Guinevere Turner pun punya komentar saat ia menyerahkan draft naskah Bloodrayne dua minggu melampaui jadwal. Alih-alih meminta Turner menulis ulang naskahnya, Boll malah menyetujui naskah itu dengan beberapa perubahan yang ia lakukan sendiri. Sisanya, Boll meminta para aktor untuk “berimprovisasi.”

Nah kan. (Sumber: Best & Worst Horror)

Nah kan. (Sumber: Best & Worst Horror)

Namun yang lebih absurd lagi adalah, dengan segala kegagalannya, film Bloodrayne masih terus dibuat! Baik film Bloodrayne 2: Deliverance tahun 2007 dan Bloodrayne: The Third Reich tahun 2011 merupakan film direct-to-DVD yang menampilkan Natassia Malthe sebagai Rayne. Keduanya pun mendapatkan ulasan negatif yang mengkritik naskah, akting, serta gaya direksi Boll.

Dungeon Siege

Membayangkan Jason Statham di abad pertengahan, saya jadi paham kenapa Uwe Boll mengadopsi konsep dunia lain di dua film Dungeon Siege selanjutnya. (Sumber: ISFC)

Membayangkan Jason Statham di abad pertengahan, saya jadi paham kenapa Uwe Boll mengadopsi konsep dunia lain di dua film Dungeon Siege selanjutnya. (Sumber: ISFC)

Entah puas atau tidak, sudah memproduksi 3 film adaptasi game bertema horror, kali ini Uwe Boll memalingkan perhatiannya pada film bertema high fantasy. Korbannya kali ini adalah game Dungeon Siege karya Gas Powered Games, namun lucunya film ini menggunakan judul utama In the Name of the King. Film ini mengisahkan sepak terjang Farmer, seorang pemuda yang saat kecil ditemukan di tengah peperangan dan kini tinggal serta berkeluarga di kota Stonebridge. Farmer dan para penduduk kota kini terjebak dalam peperangan baru yang melibatkan kerajaan Ehb dan pasukan monster Krug.

In the Name of the King merupakan film termahal yang pernah disutradarai Uwe Boll, dengan budget mencapai US$ 60 juta. Aktor yang terlibat pun bisa dibilang punya nama mentereng seperti Jason Statham, Ron Perlman, Ray Liotta, Burt Reynolds, dan lain-lain. Tidak ada yang absurd dalam proses produksinya yang diadakan di British Columbia, Kanada. Warga setempat bahkan turut dilibatkan sebagai figuran.

Film ini memiliki elemen CG yang sangat kuat untuk menguatkan unsur fantasinya, namun ini juga yang menjadi masalah karena kritikus menganggap Boll nampak ingin mengekor kesuksesan The Lord of the Rings. Hal ini pun diperparah dengan akting di bawah rata-rata dan kualitas produksi yang nampak murahan. Alhasil, In the Name of the King lagi-lagi menjadi box office bomb karena hanya bisa meraup untung US$ 13 juta. Boll kemudian menyatakan film ini sebagai film terakhirnya dengan budget tinggi.

Kalau ada yang protes soal anime isekai, kasih saja film In the Name of the King 2 dan 3. (Sumber: IMDb)

Kalau ada yang protes soal anime isekai, kasih saja film In the Name of the King 2 dan 3. (Sumber: IMDb)

Sama seperti Bloodrayne, In the Name of the King juga punya dua sekuel direct-to-DVD yang tidak saling berhubungan. Keduanya jauh lebih absurd karena melibatkan elemen isekai/pindah ke dunia lain. In the Name of the King 2: Two Worlds di tahun 2011 menampilkan aktor laga veteran Dolph Lundgren sebagai anggota pasukan militer yang tersedot ke abad pertengahan. Sementara itu di tahun 2014, In The Name of the King 3: The Last Mission menceritakan aksi terakhir pembunuh bayaran yang diperankan Dominic Purcell, berubah kacau setelah targetnya membuka portal ke dimensi lain. Dua-duanya juga diulas dengan negatif.

Postal

Nggak usah mikir terlalu keras kalau nonton Postal. Nikmati saja semua kegilaannya tanpa banyak tanya. (Sumber: Polygon)

Nggak usah mikir terlalu keras kalau nonton Postal. Nikmati saja semua kegilaannya tanpa banyak tanya. (Sumber: Polygon)

Di titik ini rasa-rasanya Uwe Boll sudah makin jengah dan berpikir, “masa bodo deh orang mau bilang apa.” Kalau mau dibikin hancur, hancurkan saja sekalian. Di tahun 2007, lahirlah Postal yang diadaptasi dari game berjudul sama karya Running With Scissors. Walaupun mengadaptasi game pertamanya, inspirasi justru berasal dari game Postal 2. Film komedi-aksi-satir ini mengisahkan tentang si Postal Dude dan pamannya yang pemimpin aliran sesat, dalam aksi mereka mencuri suplai boneka yang bernilai jual tinggi. Namun yang tak mereka ketahui, pemimpin teroris Al-Qaeda Osama bin Laden juga mengincar boneka tersebut untuk tujuan lain yang lebih jahat.

Absurditas cerita Postal juga sama absurdnya dengan bagaimana film ini dapat terwujud. Uwe Boll dikontak oleh fan club Postal di Jerman untuk menanyakan kemungkinan adaptasi film Postal. Tertarik dengan konsep dan pesan sebodo amat dalam game itu, Boll mengontak direktur Running With Scissors, Vince Desiderio, untuk membeli hak adaptasi Postal. Desiderio setuju, asal ia dilibatkan penuh dalam produksi filmnya.

Desiderio dan produser Postal 2 Steve Wik awalnya mengajukan ide cerita yang lebih serius dan gelap, namun Boll memutuskan tetap menggunakan konsep komedi aksi dengan tambahan satir politik. Usut punya usut, ternyata Boll juga menggunakan film Postal sebagai media untuk menyentil orang-orang yang senantiasa mengkritik karya-karya gagalnya!

Boll bersama “Presiden Bush dan Osama bin Laden” di set dilm Postal. (Sumber: GameStar)

Boll bersama “Presiden Bush dan Osama bin Laden” di set dilm Postal. (Sumber: GameStar)

Berbicara tentang satir politik, film Postal tidak peduli dengan konsep political correctness dengan menampilkan adegan insiden 11 September. Aktor Dave Foley pernah berargumen dengan Boll tentang adegan itu. Dalam film Postal terdapat adegan di mana pembajak pesawat yang kecewa dengan imbalan yang dijanjikan Osama bin Laden, berniat membelokkan pesawat ke kepulauan Bahama. Namun ada seorang penumpang yang masuk ke dalam kokpit dan berusaha mengubah arah penerbangan sehingga menabrak gedung World Trade Center. Meskipun adegan itu diyakini merupakan fakta, Foley menganjurkan Boll untuk memotong adegan itu karena bisa dipastikan film Postal bakal dicekal penayangannya di Amerika. Boll memutuskan untuk menghiraukan permintaan Foley.

Firasat Foley ternyata menjadi kenyataan, karena 1500 bioskop menolak menayangkan Postal. Boll mengatakan bahwa ia bahkan tak bisa menyewa studio karena mereka “terlalu takut.” Pada akhirnya hanya ada 12 bioskop yang menayangkan Postal secara terbatas. Hal ini jelas berdampak parah pada pendapatan karena film Postal hanya bisa mendapatkan keuntungan menyedihkan sebesar US$ 146 ribu. Sangat kontras dengan budgetnya yang mencapai US$ 15 juta. Layaknya setiap film komedi satir kelas B murahan, Postal juga diulas negatif. Rotten Tomatoes memberikan skor 7% dari 42 ulasan teragregasi.

Satu lagi cerita aneh Postal, adalah Uwe Boll pernah mengirim email berisi ejekan dan hinaan kepada editorial Wired. Boll mengaku ia mengirim email itu bukan karena ulasan jelek yang mereka terbitkan, melainkan karena editor Wired secara pribadi mengaku menyukai Postal namun ternyata malah menerbitkan ulasan negatif.

Meskipun Postal merupakan sebuah film yang hancur lebur luar-dalam, Boll masih tertarik membuat kelanjutannya. Ia membuka laman Kickstarter di tahun 2013 untuk mendanai film Postal 2, yang sayangnya tidak memenuhi target.

Far Cry

Mungkin Til Schweiger terlalu santai untuk berlayar ke pulau yang ditinggali mutan buas. (Sumber: Theplace2)

Mungkin Til Schweiger terlalu santai untuk berlayar ke pulau yang ditinggali mutan buas. (Sumber: Theplace2)

Tahun 2008 nampaknya jadi tahun terakhir Uwe Boll mengadaptasi video game baru ke film, karena ke depannya ia fokus memproduksi film-film original serta sekuel Bloodrayne dan Dungeon Siege. Far Cry jadi filmnya yang terakhir untuk menandai peralihan tersebut. Hah, nggak salah baca? Yup, Uwe Boll ternyata sudah mendapatkan hak adaptasi film dari game FPS legendaris produksi Crytek dan Ubisoft ini, jauh sebelum gamenya terbit di pasaran. Produksi dimulai di tahun 2007 dan rilis tahun 2008, setahun setelahnya.

Film Far Cry mengadaptasi cerita dari game originalnya, di mana mantan tentara Jack Carver yang dikontak oleh jurnalis Valerie Cardinal, untuk menyelidiki sebuah pulau yang dikuasai pasukan misterius. Di dalamnya, Jack tak hanya menemukan pasukan bayaran, namun juga laboratorium eksperimen dan sekumpulan mutan haus darah.

Film yang dibintangi Til Schweiger ini, sekali lagi menjadi box office bomb. Dari budget US$ 30 juta, Far Cery hanya mampu mendapatkan keuntungan US$ 743 ribu saja. IGN mengklaim bahwa film ini benar-benar tidak setia dengan game aslinya. “Mungkin satu hari nanti perusahaan game akan lebih selektif dalam memilih sutradara untuk mengadaptasi game mereka di layar lebar,” tulis IGN.

Merespon film Far Cry versi Boll, Ubisoft memutuskan untuk membuat film Far Cry mereka sendiri. Dilaporkan di tahun 2013, Ubisoft berencana memproduksi adaptasi game Far Cry 3 bersama dengan film Watch Dogs dan Raving Rabbids. Sejauh ini, Ubisoft Motion Pictures baru merealisasikan Raving Rabbids sebagai serial TV, serta film Assassin’s Creed yang dibintangi Michael Fassbender.

Apa Tanggapan Uwe Boll?

Sebenarnya film-film Uwe Boll di luar ranah video game tidak begitu jelek, malah satu-dua film di antaranya berhasil menyabet penghargaan. Berbeda sekali dengan film-film game miliknya yang menjadi langganan nominasi Golden Raspberry Awards serta daftar film terjelek versi Rotten Tomatoes dan majalah Time.

Percaya atau tidak, Warcaft hampir saja disutradarai oleh Uwe Boll. (Sumber: Kotaku)

Percaya atau tidak, Warcaft hampir saja disutradarai oleh Uwe Boll. (Sumber: Kotaku)

Hal yang sedikit disayangkan (atau harus disyukuri?) adalah Boll tidak jadi menyutradarai film Warcraft. Blizzard selaku pengembang Warcraft terang-terangan menolak tawaran Boll menjadi sutradara. Boll, yang nampak tertarik kembali mengadaptasi video game lagi namun sudah sadar dengan reputasinya, menerima alasan tersebut karena kerugian film Warcraft bisa merembet ke game online World of Warcraft.

Lalu, bagaimana respon Boll sendiri terhadap suara sumbang yang ditujukan pada film-film adaptasinya?

Uwe Boll mengenakan t-shirt Atari untuk memikat hati para gamer. (Sumber: Promiflash)

Uwe Boll mengenakan t-shirt Atari untuk memikat hati para gamer. (Sumber: Promiflash)

Uwe Boll ternyata tidak takut menghadapi kritik pada filmnya. Menurut Boll, banyak fans game yang ia adaptasi merasa kecewa karena film yang ia buat jauh dari harapan ideal mereka. Boll pun membela diri, mengklaim bahwa ia berusaha menampilkan nilai-nilai dari game itu apa adanya. Terkait House of the Dead, Boll menyebut film itu berhasil menduplikasi sensasi dan kehebohan dari gamenya.

Boll juga tak ragu untuk mengkritik perusahaan game, atau malah mengkambing hitamkan mereka. Menurut Boll, ia tak mendapatkan dukungan penuh dari perusahaan game, seakan-akan ia hanya diberi hak adaptasi dan setelahnya perusahaan game lepas tangan. Boll merasa bahwa ini adalah salah satu alasan kenapa adaptasi video game tidak bisa sukses, yang mana saya harus akui merupakan alasan yang cukup masuk akal.

Pertandingan tinju Uwe Boll yang diberi judul Raging Boll ini ternyata mampu menarik promotor dan para pejudi. (Sumber: Vimeo)

Pertandingan tinju Uwe Boll yang diberi judul Raging Boll ini ternyata mampu menarik promotor dan para pejudi. (Sumber: Vimeo)

Mungkin satu hal yang benar-benar aneh dari Uwe Boll adalah ia pernah menantang kritikus film yang mencela filmnya untuk bertanding di ring tinju. Syaratnya adalah sang kritikus harus menerbitkan dua ulasan jelek untuk filmnya, entah lewat media cetak atau online. Beberapa hasil pertandingan tinju ini dijadikan bonus dalam rilisan DVD filmnya. Ada 5 kritikus yang dihadapi Boll, dan ia memenangkan semua pertandingan tersebut.

Uwe Boll bahkan pernah memberikan tantangan yang sama kepada sineas lain, seperti Quentin Tarantino, Roger Avary, serta Michael Bay. Bay sendiri tidak ambil pusing dan memilih menghiraukan tantangan Boll. Dia tahu Boll hanya mencari sensasi demi menaikkan pamornya.

Sekarang, Apa?

Mungkin ini terdengar anti klimaks, namun saat ini Uwe Boll sudah pensiun dari dunia film. Kegagalannya yang beruntun serta kesulitan finansial menjadi alasan kuat baginya untuk undur diri.

Sebelumnya sudah ada petisi yang dibuat fans untuk menghentikan Uwe Boll menistakan lebih banyak game dalam filmnya yang gagal total itu. Boll menanggapi santai dan mengklaim bakal ada petisi pro-Uwe Boll yang ditandatangani jutaan orang. Petisi itu memang ada dan dibuat, namun hanya menjaring 7 ribuan tanda tangan saja.

Puncaknya ada pada tahun 2015, saat Uwe Boll mengupload sebuah podcast Youtube yang penuh arti.

Dan akhirnya, pada tahun 2016, Uwe Boll merilis Rampage: President Down, yang menjadi film pamungkasnya. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Boll menyebutkan kesulitan finansial sebagai alasan utamanya mundur.

Boll sendiri menyebutkan bahwa ia mendanai separuh atau seluruh film-film buatannya lewat dana pribadi. Boll menyebutkan bahwa ia memiliki tax shelter di Jerman, di mana jika ia menginvestasikan uang untuk film di Jerman, maka pemerintah akan mengembalikan dananya sebesar 50%. Boll juga mendapatkan kritik karena metode pendanaan filmnya memanfaatkan celah dalam hukum perpajakan, yang untungnya sudah ditutup oleh pemerintah pada tahun 2006. Dengan ini, mendanai film-filmnya menjadi semakin sulit.

Uwe Boll nampak bahagia menjalani bisnis restorannya, mungkin karena ia sekarang tidak lagi diganggu para kritikus menyebalkan itu. (Sumber: Birth.Movies.Death)

Uwe Boll nampak bahagia menjalani bisnis restorannya, mungkin karena ia sekarang tidak lagi diganggu para kritikus menyebalkan itu. (Sumber: Birth.Movies.Death)

Selepas karirnya di dunia film, kini Uwe Boll merintis bisnis restoran bernama Bauhaus. Restoran yang dibuka di kota Vancouver ini untungnya mendapatkan ulasan positif dari kritikus masakan. Mungkin salah satu alasannya adalah karena bukan Boll sendiri yang memasak, melainkan seorang koki dengan bintang Michelin bernama Stefan Hartman.

Itulah dia, kisah seorang sutradara penuh ego yang tak peduli dengan kata orang dan terus melaju membuat film sesukanya sendiri. Pada akhirnya, Uwe Boll menjadi seorang martir dalam dunia film; memberikan peringatan kepada studio film dan perusahaan game untuk berhati-hati dalam mengadaptasi sebuah video game ke dalam film bioskop. Yah meskipun begitu, kegagalan Boll memang datang dari dirinya sendiri.

Tidak ada jaminan jika film adaptasi video game masa kini bakal menjadi sebuah box office hit. Namun sekali lagi, Uwe Boll memberikan sebuah pelajaran berharga tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam mengadaptasi IP milik orang lain. Seperti yang ditulis oleh Rob Vaux dalam ulasan Alone in the Dark miliknya di Flipside Movie Emporium, “Film ini akan membuat sutradara film jelek lain merasa lega. ‘Tenang saja,’ ucap mereka dalam hati. ‘Setidaknya aku bukan sutradara Alone in the Dark.’”

Film adaptasi video game mana yang jadi favoritmu? Mana pula yang tidak kamu sukai? Tulis di kolom komentar ya!

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

QuirkByte

Sama-Sama DC, Tapi Kenapa Arrow-verse Jauh Lebih Dipuja Ketimbang DCEU?

Walaupun dunia sinematik DC dan ranah serial TV DC, Arrowverse, sama-sama properti DC, namun kenyataannya, Arrowverse le.. more

Smartphone adalah bagian kehidupan harian. Sumber gambar: cnet.com

Alasan Kenapa Android Menguasai Pasar Smartphone Dunia

Hampir dari kita semua pasti rata-rata pengguna smartphone (baik berbasis iOS, Android, dll) dalam genggaman. Mungkin 99.. more

Kontrol Analog Vainglory Ternyata Nggak Sekedar Niru Mobile Legends dan AoV!

Setelah Mobile Legends dan Arena of Valor, sekarang giliran Vainglory yang dapat panggilan beken "MOBA kok analog?".. more

Game Uncharted: Lost Legacy Meneruskan Tradisi Uncharted­­

Serial game Uncharted merupakan  sebuah game aksi petualangan dari Naughty Dog yang sangat populer di kalangan gamers d.. more

00-d-power-rangers

Serial Power Rangers Dibeli Oleh Hasbro

Sebelumnya Saban sudah pernah kehilangan lisensi Power Rangers yang diamnbil oleh Disney pada tahun 2000-an... more