Waduh! Dana Kickstarter Untuk Game Project Phoenix Diduga Diselewengkan Untuk Membuat Game Lain!

12 months ago
Sumber: Polygon

Kickstarter seakan menjadi jalan pintas bagi para kreator untuk mewujudkan karya mereka. Bagaimana tidak, lewat Kickstarter mereka bisa menerima sumbangan dari masyarakat umum yang berminat mencoba dan mendukung pengembangan produk yang mereka sukai. Ada banyak game, buku, anime, gadget, dan berbagai barang lainnya yang berhasil diluncurkan ke pasar berkat bantuan Kickstarter.

Walaupun demikian, Kickstarter juga merupakan sarana beresiko tinggi karena tidak ada jaminan bahwa para kreator dapat menyelesaikan proyek mereka dengan dana yang terkumpul. Dalam proses pengerjaan sering kali mereka menghabiskan uang yang dikumpulkan sebelum proyeknya rampung. Pada akhirnya, proyek pun ditelantarkan tanpa kejelasan pengembalian uang. Ada juga yang berhasil merampungkan proyeknya, namun dengan kualitas yang jauh dibawah apa yang dijanjikan. Kasus seperti ini pun sama banyaknya dengan kisah-kisah kesuksesan Kickstarter.

Project Phoenix digadang-gadang bakal menjadi game strategi-JRPG indie yang menjadi standar baru produksi game dunia. (Sumber: Red Bull)

Project Phoenix digadang-gadang bakal menjadi game strategi-JRPG indie yang menjadi standar baru produksi game dunia. (Sumber: Red Bull)

Sangat disayangkan bahwa masih saja terjadi kasus-kasus penyelewengan dana dalam proyek Kickstarter. Belum lama ini, game Project Phoenix menjadi satu lagi kasus mengecewakan tersebut. Diduga, dana sebanyak US$ 1 juta yang berhasil terkumpul dari Kickstarter digunakan oleh developer Area 35 untuk membuat game lain yang tidak ada hubungannya dengan Project Phoenix.

Project Phoenix sendiri merupakan game strategi indie dengan bumbu JRPG, yang diproduksi oleh sekumpulan staf terbaik dari berbagai negara. Proyek ini dikepalai oleh Hiroaki Yura, produser dan sutradara pendiri Creative Intelligence Arts dan Area 35 yang terlibat dalam beberapa proyek game dan anime populer.

Hiroaki Yura juga merupakan seorang pemain biola yang mendirikan grup Eminence Symphony Orchestra, yang membuat soundtrack untuk beberapa judul anime dan game. (Sumber: Hello Asia!)

Hiroaki Yura juga merupakan seorang pemain biola yang mendirikan grup Eminence Symphony Orchestra, yang membuat soundtrack untuk beberapa judul anime dan game. (Sumber: Hello Asia!)

Beberapa staf penting dalam game Project Phoenix ini adalah game designer Vaughan Smith (LA Noire), penulis naskah Yoko Enoki (The Dragon and the Magician, The Black Knight), editor Bill Benfield, pengarah artistik Kiyoshi Arai (Final Fantasy III, XII, XIV), lead artist Gontaro (Tenchu), 3D modeller Steffen Unger (Halo 4, Crysis 3), komposer musik Nobuo Uematsu (Final Fantasy), sound engineer John Kurlander (trilogi The Lord of the Rings), pengisi suara Donna Burke (Metal Gear Solid), serta staf lainnya. Beberapa figur penting dirahasiakan namanya dan belum akan diungkap hingga akhir pengembangan game.

Diumumkan pada tahun 2013, Project Phoenix yang seyogiyanya diluncurkan tahun 2015 malah molor hingga 3 tahun, tanpa adanya opsi untuk refund. Lalu pada bulan April 2017, Yura mengumumkan akan memproduksi sebuah game baru yang nantinya akan digunakan untuk meyakinkan investor agar mereka mau membantu pengembangan Project Phoenix. Game tersebut adalah Tiny Metal, sebuah game strategi lain yang terinspirasi dari serial Advance Wars karya Nintendo. Tiny Metal yang seharusnya rilis minggu ini, lagi-lagi harus molor sampai tanggal 21 Desember nanti.

Concept art untuk game Tiny Metal. (Sumber: Gameranx)

Concept art untuk game Tiny Metal. (Sumber: Gameranx)

Di sinilah hal aneh mulai mengemuka: Tiny Metal diduga menggunakan dana yang seharusnya digunakan untuk memproduksi Project Phoenix.

Hal ini terungkap setelah salah satu pegawai Area 35 membajak halaman Project Phoenix di Facebook untuk menuturkan kejadian sebenarnya. Seorang manajer PR dan marketing bernama Tariq Lacy menuliskan segala keluh kesahnya selama bekerja di Area 35.

Tariq Lacy membajak akun Facebook Project Phoenix, sesaat sebelum dihapus. (Sumber: Dewe @ Facebook)

Tariq Lacy membajak akun Facebook Project Phoenix, sesaat sebelum dihapus. (Sumber: Dewe @ Facebook)

“Dua bulan setelah saya bekerja di Area 35, saya mengetahui bahwa perusahaan ini mengumpulkan dana untuk proyek ini dengan menipu lewat Kickstarter. Mereka mengumpulkan berbagai kreator terkenal untuk proyek bernama ‘Project Phoenix,’ dan kemudian menggunakan seluruh US$ 1 juta yang terkumpul untuk memproduksi proyek ‘Tiny Metal,’” tulis Lacy.

Ia kemudian menjabarkan bagaimana uang tersebut digunakan. Setelah dana Project Phenox terkumpul, Yura menutup perusahaan Creative Intelligence Arts dan mendirikan Area 35. Ia kemudian merekrut pegawai dan mengamankan aset perusahaan seperti kantor dan komputer, dengan uang dari Project Phoenix. Area 35 kemudian memfokuskan sumber daya mereka untuk memproduksi Tiny Metal, alih-alih merampungkan Project Phoenix.

Yura kemudian meminta Lacy selaku manajer PR dan marketing untuk menjelaskan bahwa Tiny Metal diproduksi dari dana sumbangan investor. Pada kenyataannya, Tiny Metal diproduksi dari dana Project Phoenix, dan investor baru dihubungi saat budget tersebut mulai menipis. “Saya menolak permintaan Yura untuk menulis cerita palsu yang bisa mengaburkan fakta dan menipu orang, sehingga saya meminta agar dia melepaskan saya dari Project Phoenix sehingga saya tidak terlibat lebih lanjut,” sambung Lacy.

Gameplay Tiny Metal. (Sumber: Gamer Assault Weekly)

Gameplay Tiny Metal. (Sumber: Gamer Assault Weekly)

Hasilnya, para penyumbang Project Phoenix semakin jarang mendapatkan perkembangan berita game itu. Yura sendiri harus menulis update dalam laman Kickstarter dan blog Project Phoenix untuk meredakan situasi. Namun dengan frekuensi update yang sangat sporadis dan isinya yang sangat ambigu, sangat jelas bahwa Project Phoenix tidak akan dirampungkan sampai kapanpun.

Admin laman Project Phoenix dengan cepat menghapus posting yang ditulis Lacy itu. Namun nasi sudah menjadi bubur, berita ini sudah kadung menyebar kepada para fans dan media.

Diklarifikasi oleh Kotaku, Hiroaki Yura menyanggah semua tuduhan Lacy. “Posting itu ditulis oleh staf yang kontraknya diputus karena ia membawa pengaruh buruk dan melecehkan karyawan wanita kami, serta masalah lainnya,” jawab Yura. Ia juga mengaku bahwa ada tiga saksi yang bisa memberikan keterangan terkait insiden tersebut, dan kini tengah mencari cara untuk menempuh jalur hukum.

Yura juga menggunakan kesempatan tersebut untuk meluruskan rumor tentang Project Phoenix. Menurutnya, seluruh dana yang terkumpul telah digunakan untuk memproduksi versi alpha dari Project Phoenix, yang sayangnya tidak diterima dengan baik.

Yura menjelaskan bahwa Project Phoenix disokong pula dari uang pribadi para staf. Yura bahkan mengaku bahwa gajinya selama bekerja di proyek game I Am Setsuna milik Square Enix dialokasikan untuk mengembangkan Project Phoenix.

Gameplay Project Phoenix (Sumber: Youtube)

Gameplay Project Phoenix (Sumber: Youtube)

Terkait Tiny Metal, Yura mengaku mengamankan asupan dana dari kelompok investor asal Australia, namun dana itu sendiri belum cukup untuk memproduksi Tiny Metal. Sisa dana yang dibutuhkan pada akhirnya berhasil tertutupi dari kesepakatan bersama Sony Music Entertainment.

Diklarifikasi balik oleh Kotaku, Lacy pun membantah semua pembelaan Yura. “Pernyataannya yang menuduh saya berpengaruh buruk dan melecehkan karyawan perempuan, itu semua tidak benar. Dia bereaksi dengan memfitnah saya,” sanggah Lacy. Kepada Kotaku, Lacy memberikan bukti screenshot dari chatroom perusahaan, yang sayangnya menurut Kotaku tidak relevan dengan permasalahan.

Dengan situasi saat ini, sulit untuk membuktikan siapa yang benar dan salah. Baik pihak Tariq Lacy dan Hiroaki Yura sama-sama menyangkal tuduhan yang dilayangkan kepada mereka. Konflik korporat seperti ini memang sangat pelik karena kenyataan sebenarnya tertutup di balik pintu perusahaan. Semua pihak punya bukti kuat yang mendukung mereka.

Namun yang paling penting, korban dari konflik seperti ini tetap saja kita sebagai gamer dan juga pendukung. Di saat kedua kubu berseteru hingga meja hijau, para gamer yang menyumbang dana kembali ditelantarkan tanpa bisa menuntut mereka. Tidak ada klarifikasi dan pertanggung jawaban yang jelas.

Harapannya ke depan, semoga Project Phoenix menjadi kasus terakhir yang muncul dari proyek game Kickstarter. Jangan ada lagi kasus penggelapan dana atau proyek yang underdeveloped. Karena dari setiap proyek yang digantung, berarti menggantung harapat ribuan gamer yang sudah menaruh kepercayaannya. Bukannya itu berkhianat namanya?

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

CIAYO Pictures

CIAYO Games dan Niji Games Berkolaborasi dalam Sebuah Games (Spoiler Alert)

Pada tangggal 15 September 2017, CIAYO Games bertemu dengan Niji Games untuk melakukan kolaborasi. Kedatangan Tim CIAYO .. more

Sumber: YouTube

Sisi Gelap Harajuku Style Yang Mengejutkan: Yami Kawaii Fashion Sebagai ‘Coping Mechanism’ Keinginan Bunuh Diri

Yami Kawaii adalah fashion style yang merepresentasikan sebuah kondisi depresi dan atau masalah kesehatan kejiwaan dalam.. more

Sumber gambar: FilmBuffOnline

Steven Spielberg Akan Terlibat Di Film DC Comics; Tapi Tidak Seperti yang Dibayangkan

Untuk fans ataupun yang mengikuti karir perfilman Steven Spielberg tentu menyadari kalau ada dua tema besar yang boleh d.. more

Sumber: IndieWire

The Shape of Water Menang Best Picture, Apakah Pihak Academy Awards Memang Telah Memberikan Keputusan Yang Tepat?

Film drama fantasi arahan sutradara Guillermo Del Toro (Hellboy) ini, diumumkan sebagai pemenang Best Picture A.K.A Film.. more

00-d-asosiasi-komik-indonesia-aksi

Asosiasi Komik Indonesia Resmi Dideklarasikan!

AKSI (Asosiasi Komik Indonesia) didirikan atas prakarsa perusahaan, organisasi, dan pelaku komik nasional. Tujuannya unt.. more