Who Killed Captain Alex – Bukti Kalau Film Asyik Bisa Dibuat Dengan Dana Terbatas

4 months ago
header alex desktop

Akhir-akhir ini membaca berita tentang film yang nge-flop di pasaran bukan sebuah hal yang langka. Nggak jarang ada film berbudget tinggi dan hypenya besar, tapi dibanting skor review yang jeblok dan komentar miring para netizen. Budget besar, marketing kencang, staf berpengalaman, semua itu nggak ada artinya jika para fans tak terpuaskan.

captain alex star wars

Sejak diakuisisi Disney, Star Wars kini berada dalam sebuah era baru. (Sumber: The Colorless)

Dan masalahnya, baik karya macam film, game, dan segala macamnya yang dibuat belakangan ini justru sudah terlalu pretensius. Pretensius bagaimana? Ambil contoh deh, misalnya film Star Wars yang seyogiyanya jadi sebuah pengalaman langka yang entah kapan bakal terulang kembali, kini di tangan Disney jadi event tahunan di bioskop. Film-filmnya pun main aman dengan dalih agar bisa ditonton pemirsa seluruh umur.

captain alex avengers

MCU mengeset standar film superhero yang penuh aksi serius namun diselipi komedi sebagai pencair suasana. (Sumber: Kotaku)

Hal yang sama atau mungkin paling parah terjadi pada film-film Marvel Cinematic Universe. Untuk saat ini memang film MCU menjadi raksasa film superhero karena berhasil menautkan belasan film superhero Marvel ke dalam satu dunia yang sangat solid dan koheren. Namun, dengan banyaknya film MCU yang terbit (setidaknya 2 film setahun) justru mengurangi pengalaman nonton film MCU menjadi seperti menonton serial TV rutinan. Apalagi karena lagi-lagi Disney yang memproduksi filmnya, film MCU menjadi sangat formulaik dan begitu-begitu saja.

Belakangan ini, membuat film sudah bukan lagi demi film itu sendiri. Alih-alih menciptakan sebuah film yang punya kualitas merata, studio film lebih tertarik main aman untuk meraup untung. Studio tak mau ambil resiko dengan mendanai film-film eksperimental, kalau mereka bisa lebih sukses membantu film yang simpel dan punya elemen-elemen ngehit buat para penonton.

Lalu, apa nggak ada harapan lagi buat kita menonton film yang benar-benar fresh? Tentunya nggak demikian. Film yang bagus bukan selalu film berbudget besar dengan dukungan orang-orang jenius di belakangnya. Di luar sana ada banyak film-film yang diproduksi dengan dana terbatas dan kru minim pengalaman, tapi memiliki pengemasan yang apik serta selera arahan yang bagus. Malahan, film-film ini menjadikan kekurangan mereka sebagai nilai plus loh!

who killed captain alex

Dari poster saja sudah nggak main-main. (Sumber: Movie Forums)

Salah satu contoh film tersebut adalah film Who Killed Captain Alex. Film ini merupakan produksi independen Ramon Film Productions di Uganda sana. Wah, di Uganda ada industri film? Nggak perlu spesifik di Uganda, memang di Afrika ada industri film? Tentu saja ada!

captain alex district9

Sci-fi garis keras di tengah kumuhnya distrik isolasi Afrika Selatan. (Sumber: The Cinessentials)

Kalau bicara soal film Afrika Selatan, nama Neill Blomkamp jadi yang pertama kali teringat. Sutradara asal Johannesburg ini acap kali menjadikan kampung halamannya itu sebagai setting film sains fiksi buatannya. Dimulai dari film pendek pertamanya Alive in Joburg, hingga dua film blockbuster District 9 dan Chappie.

captain alex nixau

Sempat dikira mukjizat tuhan, botol Coca-Cola ini kemudian dianggap malapetaka setan. (Sumber: SuratKabar)

Selain film-film Neill Blomkamp, ada juga seri film The Gods Must Be Crazy serta Mr. Bones. Dua film komedi yang populer di stasiun TV lokal ini memiliki premis yang mirip-mirip, yakni melibatkan karakter utama dari suku pedalaman yang bersentuhan dengan peradaban modern. Selain itu masih ada lagi film-film Afrika Selatan yang populer seperti Invictus, reboot Judge Dredd, hingga Kite yang diadaptasi dari anime berjudul sama.

captain alex caged

Nggak di Indonesia nggak di Nigeria, opera sabun sama semua. (Sumber: Youtube)

Kalau Afrika Selatan bisa disebut Hollywood-nya Afrika, bagaimana dengan negara-negara Afrika lain? Di Nigeria ada sebutan Nollywood untuk industri film negara tersebut. Namun alih-alih mirip Hollywood, Nollywood justru lebih mirip Bollywood di India, karena komunitas sineasnya terbagi-bagi berdasarkan daerah dan budaya sekitar. Kualitas filmnya juga masih di bawah rata-rata dan belum bisa menyamai film-film Afrika Selatan yang dananya juga masih datang dari Hollywood.

Di bawah Nollywood pun masih ada lagi, dan di sinilah masuk Who Killed Captain Alex. Film ini digagas oleh sutradara dan pendiri Ramon Film Productions, Nabwana IGG. Ia adalah seorang sineas yang mempelajari ilmu sinematografi secara otodidak dengan peralatan terbatas. Bagaimana tidak, karena Nabwana berasal dari Wakaliga, sebuah daerah kumuh di ibukota Uganda, Kampala. Berangkat dari kecintaannya akan film-film aksi Hollywood dan silat, Nabwana pun menciptakan industri filmnya sendiri yang kini mendapat julukan Wakaliwood.

captain alex heli

Helikopter CG ikonik dari film Who Killed Captain Alex. (Sumber: Wakaliwood)

Film Who Killed Captain Alex diproduksi di tahun 2010 dengan dana hanya sekitar 2.6 juta Rupiah saja. Kamera yang digunakan pun adalah kamera model tua, dengan peralatan seperti prop dan jib yang dibuat dengan barang-barang seadanya. Para aktor yang terlibat merupakan warga sekitar Wakaliga yang memiliki pengalaman akting terbatas. Namun, banyak dari mereka mendalami ilmu bela diri untuk menyajikan adegan aksi yang oke.

Kisah Who Killed Captain Alex bermula saat presiden Uganda mengutus sang Captain Alex serta pasukan militernya untuk memberangus kelompok kejahatan bernama Tiger Mafia. Pasukan Captain Alex melaksanakan operasi militer yang berujung penangkapan adik dari pemimpin Tiger Mafia, Richard.

captain alex richard

Richard menembaki tentara Uganda dengan membabi buta. (Sumber: Slash Films)

Richard yang marah pun menyusupkan seorang mata-mata untuk mendekati dan menangkap Captain Alex, namun sebelum misi itu berhasil Captain Alex sudah keburu dibunuh oleh sosok misterius. Konflik antara militer Uganda dan Tiger Mafia pun semakin panas, yang kemudian diperparah dengan kemunculan saudara Captain Alex yang ingin membalas dendam.

Who Killed Captain Alex awalnya diedarkan secara terbatas melalui rilisan fisik di Uganda saja. DVD-nya dijajakan dari desa ke desa dalam bungkus sleeve plastik ala-ala film bajakan di sini. Nggak ada yang namanya produksi ulang, karena file master-nya harus dihapus dari komputer Nabwana kalau membuat film baru. Disimpan pun, file-nya juga rentan rusak kalau komputernya mati karena pemadaman listrik atau force majeur lainnya.

Film-film Wakaliwood nampaknya tidak bakal terdengar ke seantero dunia kalau Nabwana tidak meng-upload trailer Who Killed Captain Alex ke Youtube di tahun yang sama. Seisi internet gempar, penasaran dengan film aksi berbudget pas-pasan dan efek CG yang lebih parah dibanding sinetron Angling Dharma. Trailernya ada, tapi tidak ada cara untuk menonton filmnya. Namun di tahun 2015, 5 tahun sejak rilis original-nya, Who Killed Captain Alex bisa ditonton via Youtube atau torrent resmi.

Dunia kini menjadi saksi kerasnya film aksi Uganda. Wakaliwood diliput oleh berbagai outlet berita besar. Halaman Kickstarter dibuka. Film-film Nabwana menjadi primadona di berbagai festival film. Saat virus ebola merebak di Afrika, Wakaliwood justru memanfaatkan momen ini untuk me-remake salah satu filmnya, Tebaatusassula. Bahkan Nabwana mengajak fans di seluruh dunia untuk tampil sebagai cameo figuran yang mati terkena ebola. Dunia perfilman mendapatkan satu lagi film cult favorit. Fans dari seluruh dunia, bahkan termasuk Indonesia, ramai-ramai mengirim video mereka saat terserang ebola.

Tak hanya itu saja. Meme Knuckles cebol dari game VRChat juga berasal dari film Who Killed Captain Alex! Sang Ugandan Warrior senantiasa berteriak “He Knows The Way!” yang merupakan salah satu dialog yang muncul di film itu.

captain alex ugandan

Jika di VRChat melihat belasan orang dengan avatar Knuckles cebol ini, artinya bro sis didatangi pasukan Ugandan Warrior. (Sumber: Know Your Meme)

Sebenarnya apa yang membuat “film murahan” seperti Who Killed Captain Alex ini meraih kesuksesan di jagat siber?

Secara premis memang nggak ada yang salah dengan film Captain Alex ini. Semua orang memang bisa menggagas ide, namun eksekusinya pasti bakal jadi cerita lain. Dengan budget setara smartphone Android mid-entry, tidak banyak yang bisa dilakukan Nabwana. Tapi otaknya berjalan. Ia bisa menciptakan prop dan efek dengan sumber daya dan pengetahuan tersendiri.

captain alex nabwana

Nabwana IGG (kaos biru) menyajikan kearifan khas kampung Uganda dalam film aksinya. (Sumber: Vice)

Hasil akhirnya memang jelek, bahkan jelek untuk ukuran standar film indie kampus sekalipun. Namun ada hal yang membuat film-film ciptaan Nabwana diminati banyak orang. Walau pada akhirnya kita justru malah terbahak-bahak menonton setiap adegannya, tapi jangan tepis fakta bahwa film ini merupakan bentuk curahan passion Nabwana sebagai seorang sineas. Ia memberikan effort keras 100% meski memiliki sumber daya terbatas.

captain alex wakaliwood

Bukti totalitas, membuat studio green screen dengan alat seadanya. (Sumber: Wakaliwood)

Setidaknya Nabwana jujur dengan karyanya. Ia membuat film karena ia suka dengan film. Karena film adalah passion dia. Film adalah bentuk ekspresi diri baginya. Toh pada akhirnya, kita turut terhibur menonton Who Killed Captain Alex. Dan meskipun kita menikmatinya karena alasan yang agak salah, Nabwana berhasil meraih impiannya.

captain alex the room

Film The Room dipuji karena aspek-aspek negatifnya. (Sumber: Any Good Films)

Mau tahu apa lagi film yang mirip dengan Who Killed Captain Alex? The Room. Citizen Kane-nya film-film jelek ini digerayangi berbagai masalah seperti akting pas-pasan, naskah yang amburadul, dan editing pas-pasan. Namun hal itu justru melambungkan nama sang kreator eksentrik nan misterius Tommy Wiseau sebagai sineas cult.

Entah sudah berapa kali diadakan pemutaran terbatas The Room dimana penontonnya mengotori bioskop dengan garpu plastik dan bola rugby yang dilempar kesana kemari. Setiap momen filmnya dijadikan meme silih berganti. Bahkan James Franco menciptakan film The Disaster Artist yang mengulas behind the scene dari film The Room, dan film tersebut pun baru saja meraih penghargaan Golden Globe.

captain alex tommy franco

Kiri ke kanan: Tommy Wiseau, James, dan Dave Franco saat menerima penghargaan untuk The Disaster Artist di acara Golden Globe tanggal 7 Januari lalu. (Sumber: The Daily Beast)

Jadi seperti itulah, bagaimana sebuah film yang pas-pasan dan bahkan jauh di bawah standar kualitas film normal, dapat menjadi judul cult yang digilai banyak moviegoers. Baik Who Killed Captain Alex dan The Room membuktikan bahwa passion dan ketulusan sang pembuat film dapat menjadi faktor X yang dapat menentukan apakah penonton menyukai sebuah film atau tidak. Jika di Indonesia ada premiere film Wakaliwood bersamaan dengan film Avengers, saya pribadi akan nonton film Wakaliwood lebih dulu.

Bro sis sendiri punya film favorit yang sejenis dengan Who Killed Captain Alex atau The Room? Beri tahu kami di komentar ya!

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

COPi Bandung Hadirkan Parade One Piece di Setiap Event Jejepangan

Bro sis yang demen sama cosplay, pernah denger COPi Bandung belum? CIAYO Blog sempet ketemu sama salah satu komunitas co.. more

Sumber: www.taptap.com

Game Attack On Titan Akan Rilis Di Mobile, Sudah Bisa Pre-order Dari Sekarang!

Kali ini giliran manga “Attack on Titan” yang akan kebagian game terbaru versi mobile-nya. Apakah ini juga aji mumpu.. more

Sumber: YouTube

Sisi Gelap Harajuku Style Yang Mengejutkan: Yami Kawaii Fashion Sebagai ‘Coping Mechanism’ Keinginan Bunuh Diri

Yami Kawaii adalah fashion style yang merepresentasikan sebuah kondisi depresi dan atau masalah kesehatan kejiwaan dalam.. more

Sumber: TheHindu

Menjadikan Indiana Jones Karakter Wanita: Ide Buruk atau Sebaliknya? Steven Spielberg Tidak Keberatan!

Sebagai salah satu karya besar sutradara film Steven ‘Spesialis Box Office’ Spielberg bersama George Lucas, IP dan f.. more