Wonder Wheel, “Kau Tidak Harus Bahagia Meskipun Hidup di Taman Bermain”

7 months ago
Sumber: sholin.info

Sejak semula, “Wonder Wheel” memang sangat mencerminkan bahwa ini adalah film Woody Allen. Film ini merupakan hal bagus yang dimiliki oleh Woody Allen, di mana film-film yang ia buat memiliki identitas dirinya. Bahkan sepertinya kalau kita menonton sebuah film dengan acak tanpa melihat siapa sutradaranya, maka kita akan langsung tahu bahwa ini memang garapan Woody Allen.

Nilai-nilai estetika yang terus dibawa Woddy Allen ke dalam film-filmnya, membuat setiap karyanya selalu dinanti. Beruntung, semua orang gak perlu terlalu merasa merindukan karyany,a sebab ia adalah sutradara yang produktif. Setiap tahun ada saja satu film yang ia buat.

Sumber: www.nytransitmuseum.org

Sumber: www.nytransitmuseum.org

“Wonder Wheel” mencoba menangkap kehidupan di tahun 1950 dengan latar belakang taman bermain di Coney Islan. Penulis rasa, Vittorio Storaro selaku sinematografi sangat berhasil menangkap banyak gambar istimewa yang indah, lembut, sekaligus ramai. Visual indah ini memberikan banyak emosi pada setiap adegan yang terjadi, baik itu untuk memperdalam melodrama, atau membuat adegan lainnya jadi lebih dramatis.

Woody Allen membuka “Wonder Wheel” dengan sebuah narasi yang disampaikan oleh karakter Mickey (Justin Timberlake), seolah dia lah pusat dari semesta dunia yang ada di dalam film ini. Semacam penggunaan sudut pandang orang pertama “aku” yang sering kita temukan dalam novel. Bukan hal yang jelek, walau penulis sendiri lebih suka jika narasi itu disampaikan oleh narator seperti beberapa film Woody Allen yang sudah-sudah.

Sumber: www.wmagazine.com

Sumber: www.wmagazine.com

Mickey adalah pemuda penuh ambisi yang haus akan pengalaman baru. Hal ini bukan tidak berdasar, sebab ia juga punya impian untuk menjadi seorang penulis. Ketertarikan Mickey pada beberapa karakter lain jelas terlihat lebih kepada rasa ingin tahunya untuk menyelami karakter seseorang dan sering terpesona oleh cerita masa lalu hidup orang lain.

Suatu hari Mickey berjumpa dengan Ginny (Kate Winslet), seorang ibu rumah tangga yang galau dan merasa pernikahannya adalah sebuah kesalahan. Pertanyaan semacam “Jika kamu tidak suka mengapa kamu masih bertahan?” terus dimunculkan pada karakter Ginny. Memang ini sangatlah ironis sekaligus klise tapi terkadang keadaan membuat seseorang terus terjebak agar beberapa hal lain terus berjalan dengan baik.

Sumber: collider.com

Sumber: collider.com

Ginny merasa punya hutang budi dengan suaminya, Humpty (Jim Belush), sebab Humpty lah yang telah menyelamatkan hidupnya setelah ia dihantui oleh perasaan bersalah atas kejadian suram di masa lalunya. Semacam tekanan moral tapi juga membuat karakter Ginny menjadi cukup menjengkelkan.

Konflik semakin bertambah ketika anak Humpty, Carolina (Juno Temple) hadir dalam kehidupan Ginny. Carolina lari dari suaminya yang seorang mafia karena sebuah masalah, dan ia dikejar-kejar untuk dibunuh. Sampai di sini penulis tidak berharap kalian membayangkan bahwa Woody Allen akan banyak mengangkat hal soal mafia dan menjadikan filmnya sarat dengan adegan kekerasan semacam adu senjata, sebab senjata terbesar Woody Allen dalam filmnya adalah konflik yang banyak dengan sebuah jalan keluar yang sederhana.

Perselingkuhan Ginny dan Mickey tak bisa dihindarkan dan kehadiran Carolina menjadi semacam kerikil yang juga membuat Mickey tertarik sebab Carolina punya kisah hidup yang mempesona. Mungkin aroma cinta segitiga mulai terendus di film ini, tapi sekali lagi Woody Allen tidak ingin menghakimi dua orang perempuan yang terobsesi akan cinta mereka, mungkin karena kedua perempuan ini sudah cukup banyak masalah besar dalam hidup mereka. Maka jadilah Mickey semacam korban kekacauan relasional yang tidak bisa menghindar padahal dia adalah karakter sekaligus narator dalam film ini.

Sumber: www.much.com

Sumber: www.much.com

“Wonder Wheel” tidak bisa dikatakan film yang buruk, hanya saja sepertinya terasa tidak tepat jika berada di dalam sebuah film layar lebar. Naskah film ini lebih cocok jika di garap untuk sebuah panggung broadway, sebab dialog yang mondar-mandir serta beberapa kilas balik cerita masa lalu yang lebih dipilih hidup dalam dialog daripada potongan gambar menjadikan semua hal menjadi sangat padat untuk disampaikan.

Ide-ide dan pemikiran Woody Allen tentang banyak hal, memang selalu menarik ketika dibangun lewat dialog. Terkadang dia menjadi sangat kritis akan suatu hal, atau menjadi tidak terlalu peduli dengan hal lainnya.

Seperti filmnya yang sudah-sudah, Woddy Allen selalu membawa banyak kesukaannya dalam film yang dia buat. Dia akan membicarakan sebuah buku yang dia sukai, film klasik yang juga dia sukai, dan juga akan memutar lagu-lagu kesukaannya. Ini semacam ajakan pada kita untuk menyukai apa yang dia sukai. Gak salah, sebab ini soal selera!

Sumber: www.slate.fr

Sumber: www.slate.fr

Meruncingnya masalah antara Ginny dan Carolina dengan banyak ketidak tahuan menjadikan semacam dendam kesumat yang tidak berbalas. Karakter Ginny yang sebenarnya penyayang harus menciptakan kecerobohan dan pertanyaan seberapa bagus moral dalam dirinya.

Dominannya Ginny mengambil banyak bagian cerita, membuat karakter Mickey yang sekaligus narator terasa tidak lagi menjadi pusat semesta. Sebab pusat semesta dalam film ini beralih pada Ginny. Oleh sebab itu, sedari awal penulis memilih lebih tepat narator dituturkan oleh narator, bukan oleh karakter dalam film.

Kebisingan taman bermain, orang-orang yang datang untuk bersenang-senang dan berlibur, menyuarakan bahwa tempat itu semacam surga yang banyak orang butuhkan. Namun secara terang-terangan Woody Allen juga memberitahu kita semua bahwa semua kesenangan itu merupakan simbolisme yang tidak urung dari hal-hal menyedihkan yang terjadi di belakangnya. Mungkin kalimat yang cocok untuk menggambarkan hal ini ialah;

Kau Tidak Harus Bahagia Meskipun Hidup Di Taman Bermain”

Dari sekian banyak film Woody Allen yang pernah ditonton, penulis rasa “Wonder Wheel” bukan lah film terbaiknya. Gak bisa juga dikatakan buruk. Film ini punya detail yang luar biasa bagus, dan sekali lagi Vittorio Storaro banyak membuat film ini terselamatkan. Perubahan warna visual yang ia tuangkan benar-benar lembut dan tidak terlalu terasa perubahannya. Balutan biru, terkadang oranye, terkadang juga penuh warna berpadu dengan alunan musik yang akan membuat penonton meyakini bahwa film ini cukup berkualitas.

Jadi apakah film ini wajib untuk ditonton? Jawabannya “iya”, terutama untuk penggemar berat Woody Allen. Paling tidak kita bisa belajar bahwa hidup itu adalah taman bermain, yang indah dan membawa kebahagiaan namun juga penuh derita walau selalu coba kita samarkan.

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Dua nama besar game genre FPS saat ini. Sumber gambar: youtube.com

Call Of Duty & Battlefield: Game Simulasi Militer Terpopuler

Jadi game FPS mana yang lebih bagus? CoD atau BF?.. more

Sumber: pinterest.com

Chronestesia: Mesin Waktu Dalam Otak Manusia

Film dan buku fiksi yang memakai tema balik ke masa lalu atau tokoh yang punya kekuatan teleporter bisa pergi ke suatu m.. more

Sumber gambar: steemit.com

Tak Hanya PUBG dan Fortnite – Game Berikut Juga Cocok untuk Mode Battle Royale Death Match

Saat ini di kalangan PC gamers sedang trending game berbasis “Battle Royale Death Match”. Battle Royale? Seperti apa.. more

Sumber: CIAYO Comics

Rika Si Preman Sekolah Siap Menghancurkan Masa Indahmu!

Berandalan sekolah Rika dan kawan-kawan siap tarung dengan sekolah sebelah di komik Rika Si Preman Sekolah... more

sumber: www.actucine.com

A Quiet Place, Sebuah Paku Tak Pernah Seseram Ini

“A Quiet Place” film pembuka bulan April yang penuh dengan kengerian. .. more