Kuingin Memelukmu Sekali Saja

8 months ago
Sumber foto: static.pexels.com

Semangkok mie instan itu adalah porsi keduanya setelah melahap roti bakar. Bukan semata-mata masih lapar, tetapi rasa manis di lidah harus ia netralkan dengan hidangan yang gurih. Mie goreng telur-kornet. Menu andalan di kala hujan-hujan. Rani sedang mampir ke warkop sendiri.

Warkop itu adalah tempat favorit di kala rindu dengan mie instan dan butuh asupan micin ekstra untuk membangkitkan kreativitas. Warkop, kependekan dari warung kopi. Sedangkan micin, adalah asupan wajib bagi pekerja kreatif macam Rani. Ya, micin sudah seperti heroin bagi Rani. Bila sedang stuck, micin dipercaya mampu membuyarkan titik-titik beku dan menstimulasi otak untuk menemukan ide-ide brilian. Ia tidak ingin ketergantungan dengan micin, tetapi sepertinya ia sudah kecanduan. Berilah Rani kesehatan, ya Tuhan.

Biasanya Rani ke warkop bersama teman-temannya sepulang kerja. Mas-mas penjaga warkop juga sepertinya sudah hafal dengan mereka, karena setidaknya seminggu sekali mereka mampir. Kadang Abah yang melayani mereka. Abah sepertinya ayah dari si Mas penjaga warkop. Tidak tahu pasti juga apa hubungan mereka yang sebenarnya.

Abah asli Tasik. Badannya tinggi besar, perutnya agak buncit. Meski sudah terlihat di atas 50 tahun, ia masih semangat memasak. Hasil masakannya juga enak. Ya meski menu yang ditawarkan sederhana, tetapi cara masak yang khas juga akan menghadirkan rasa nikmat. Sedangkan Mas-mas penjaga warkop masih muda. Sepertinya belum sampai 30 tahun. Badannya tidak terlalu gemuk, juga tidak terlalu kurus. Proporsional lah. Mas-mas penjaga warkop suka bercanda, dan logat Sunda nya itu masih terdengar khas. Tidak tahu siapa namanya, sebut saja Fred.

Mie goreng tek-tek adalah salah satu menu yang disukai Rani. Tidak hanya direbus, mie digoreng lagi beserta bumbu. Tidak ketinggalan sambal asli buatan warkop itu. Maknyos!

Suatu malam, Rani mampir bersama teman-temannya sepulang kerja. Belum juga bumbu dimasukkan, saat mentega menyentuh wajan panas, tercium aroma yang membuat segak. Merasuk hingga saluran pernapasan dan bisa membuat tersedak. Rani dan teman-temannya sampai terbatuk-batuk mencium aroma menyengat dari asap masakan itu. Terbatuk-batuk lagi, sambil sesekali terselip tawa. Anehnya, mereka tetap saja bertahan di situ. Tidak menyingkir atau menjauh. Mereka seperti sudah terbiasa, dan menjadikan kejadian itu ritual setiap memesan makanan yang digoreng-goreng di warkop.

Abah yang sedang jaga di warkop. Meski ritme pergerakannya tidak terlalu cepat, tetapi tangannya terampil menyiapkan pesanan. Ia memanaskan wajan, mengoleskan mentega. Kemudian pindah ke wajan sebelahnya, mengaduk-aduk mie yang sedang direbus. Pindah lagi ke meja yang dilengkapi dengan rak berisi bahan-bahan memasak, ia mengoleskan selai di atas roti. Belum lagi memasukkan gula ke dalam gelas, menuangkan teh, lalu mengaduk-aduknya. Meski tangannya hanya dua, berbagai pekerjaan ia lakukan dalam satu waktu. Salut lah sama si Abah.

“Yah, akhirnya ujan juga cuy.” Sonny, teman Rani menengok ke arah jalan.

“Biarin lah, hujan air ini.” Rani menjawab sekenanya.

“Tenang, gue bawa payung kok.” Teman Rani yang bernama Indah menimpali.

“Iya, gue juga bawa.” Rani berkata lagi.

Pesanan Sonny dan Indah sudah ada di hadapan mereka. Tinggal pesanan Rani yang masih diproses sama si Abah. Saat makanan yang dipesannya sedang dimasak, Rani sempat melamun cukup lama. Ia memandang ke arah kompor. Sonny dan Indah yang sudah sedari tadi menikmati makanan, kemudian saling berpandangan karena bingung melihat Rani yang tiba-tiba bengong. Sonny mengernyitkan alis, sambil mengarahkan dagunya ke arah Rani. Seakan bertanya pada Indah, tentang keadaan Rani. Indah juga mengernyitkan alis sambil menggeleng, lalu menaikkan bahu.

“Woy, ngapain lu ngelamun?” Indah yang paling dekat dengan Rani mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rani.

“Hehehe…jadi malu, ketahuan ngelamun.” Rani cengengesan, muncul rona di pipinya.

“Yeeehh…lagi ngebayangin yang jorok-jorok lu ya?” Sonny menebak sekenanya.

“Hush, enggak lah! Gile lu.” Rani memonyongkan bibirnya, sambil mengibaskan satu tangannya.

“Kenapa sih…lagi mikirin apa emangnya? Serius bener kayaknya…” Cara bicara Indah melembut, sambil gelendotan ke bahu Rani.

“Oh…lu lagi mikirin si Bonar gebetan lu di kantor itu ya?” Sonny setengah teriak.

“Heh, jangan teriak juga keleus…Tar orangnya denger lu! Lagian siapa juga yang lagi mikirin dia.” Rani mengernyitkan alisnya. Bibirnya makin monyong saat ngeles.

Sonny dan Indah tertawa geli melihat ekspresi Rani, kemudian kembali menikmati makanan mereka masing-masing. Rani juga ikutan tertawa. Entah mengapa, setiap nongkrong dengan Sonny dan Indah, ada saja yang membuat Rani tertawa geli.

“Nih, mangga.” Akhirnya pesanan Rani jadi juga, Abah menyodorkan semangkok mie tek-tek ke arah Rani.

“Eh, iya. Makasih Bah…” Rani tersenyum sambil menerima mangkok. Sesaat sebelum menyantap makanannya, Rani sempat terdiam dan menghela napas.

Setelah selesai makan, mereka pulang ke kosan masing-masing. Keesokan harinya, seperti biasa Rani berangkat ke kantor. Pekerjaannya lagi banyak-banyaknya. Deadline juga udah pada mepet. Rani sudah sampai di kantor sejak pagi. Ia berkutat di depan laptopnya dan menyicil tumpukan pekerjaan. Masih ada vendor yang harus ia hubungi untuk keperluan wardrobe untuk syuting esok harinya. Semua wardrobe untuk syuting hari itu sudah ia siapkan.

Live tadi pagi sudah mulus terlewati. Syuting selanjutnya jam 12 siang. Setelah beberapa jam memandang laptop dan duduk di mejanya, ia istirahat sebentar dan makan di kantin. Timnya yang akan meng-handle wardrobe saat syuting.

Rani bukan tipe pemilih dalam hal makanan. Ia bisa makan di mana saja. Asal rasanya cocok di lidah, ia tidak segan makan di pinggir jalan sekalipun. Tetapi saat di kantor, kantin lah yang paling dekat dan praktis. Ya, walaupun standar yang ditawarkan selevel dengan foodcourt di mall-mall. Siang itu ia makan rawon. Rasa makanan di kantin tidak segitunya, tapi masih oke lah di lidah Rani. Selesai makan, Rani kembali lagi ke ruangannya.

Sesaat setelah Rani duduk kembali di mejanya, Indah mendatanginya. Indah adalah creative di program jam 12 siang.

“Ran, duh…gawat nih. Tadi Pak Bonar nyariin elu.” Indah menyampaikan kegelisahannya.

“Lah, kenapa gawat?” Rani masih duduk santai di mejanya, tanpa gentar mendengar celotehan Indah.

Belum juga kering bibir Indah menyampaikan kegelisahannya, Pak Bonar datang dari arah studio. Mukanya sangat tegang, memperlihatkan kemarahan.

“Ran, lo gimana sih? Enggak pernah nge-list wardrobe emangnya? Kok bisa-bisanya sih?” Pak Bonar langsung memberondong Rani dengan nada yang sangat kesal.

“Kenapa sih Pak?” Rani masih menanggapi dengan santai.

“Otak lu di mana sih? Masa wardrobe host bisa sama gitu!”

“Yang mana sih Pak?” Rani masih belum menangkap apa yang disampaikan Pak Bonar, karena ia yakin sudah mengatur wadrobe dengan bervariasi.

“Gue inget, hari Selasa Fenita pake jumpsuit. Terus hari ini lo pakein dia jumpsuit lagi?” Nada bicara Pak Bonar masih setinggi tali jemuran.

“Iya, saya juga sadar Pak. Fenita pake jumpsuit hari Selasa. Sekarang kan hari Kamis, modelnya beda Pak. Warnanya juga beda. Bahkan boutique nya juga beda Pak.” Rani menjelaskan pelan-pelan. Tapi dadanya sudah cukup berdegup mendengar bentakan Pak Bonar.

“Nggak bisa gitu, dong. Dikiranya kita nggak ada wardrobe. Lagian kita kan udah kerjasama dengan banyak boutique. Cari yang lebih kreatif lah. Jangan asal templok aja!”

“Pak, saya juga sadar dengan keputusan yang saya ambil. Saya ngerasa walaupun sama-sama jumpsuit, nggak bikin penampilan host jadi monoton kok. Saya juga kan udah bilang, model sama warnanya juga beda. Itu nggak bakal jadi masalah di look kamera Pak.”

“Udah, ya…gue nggak mau denger alasan lu lagi. Ini yang terakhir. Selanjutnya, gue nggak mau dalam seminggu ada wardrobe yang modelnya sama. Beda warnapun gue nggak mau terima!”

“Oke, Pak. Saya minta maaf kalo Bapak nggak mau terima hasil kerja saya. Selanjutnya akan saya perbaiki.” Rani meminta maaf dengan dagu yang masih terangkat dan menunjukkan ketegarannya.

Kerja di tivi memang harus tahan banting. Kuat mental. Kalo nggak bisa nerima perlakuan yang rada ajaib sih, mending ke laut aja. Kejadian siang itu sukses membuat hari Rani jadi kurang bersemangat. Meski ia tetap melanjutkan pekerjaannya, tapi mood nya nggak bisa bohong. Rasanya ia ingin terjun bebas naik paralayang dan teriak sekencang-kencangnya.

Malam hari sepulang kerja, seperti biasa Rani mampir ke warkop. Ia penat dan kesal dengan kejadian di kantor. Saat melihat Abah memasak, seketika itu juga ia teringat dengan sosok yang selama ini ia rindukan.

Beberapa tahun yang lalu, Rani masih tinggal di Bandung. Rani adalah anak tunggal. Ia tinggal bersama ayahnya. Ibunya meninggal setelah melahirkan Rani. Rani dan ayahnya adalah tim yang sangat kompak. Mereka sangat dekat. Tak jarang, ayahnya memasak untuk Rani. Rani menjadi anak kesayangan dan dengan senang hati menjadi anak manja.

Sosok Abah mengingatkan Rani pada ayahnya. Ketika Abah memasak, Rani membayangkan ayahnya. Ia mengenang kembali ketika ia duduk di meja, menunggu ayahnya menyelesaikan masakan untuk mereka berdua. Setelah masakan matang, ayahnya menghidangkannya di meja. Sebelum makan, tidak lupa ayahnya mencium dahi Rani dan mengatakan “selamat makan, sayang”. Rani rindu saat-saat itu. Rani selalu terbersit sosok ayahnya setiap melihat Abah. Maka pertemuan dengan Abah merupakan obat bagi Rani. Karena Rani tidak akan bisa lagi bertemu ayahnya.

Malam itu, ketika Rani sedang keluar rumah, ayahnya sedang memasak untuk makan malam mereka. Tiba-tiba saja ayahnya terkapar. Ketika Rani sampai di rumah, ia sudah melihat ayahnya tertidur di lantai dapur. Saat ia larikan ayahnya ke rumah sakit, sudah tidak ada yang bisa diperbuat. Ayahnya sudah tiada. Ia terkena serangan jantung. Sejak saat itu, Rani pindah ke Jakarta untuk bekerja. Ia masih sulit menerima kenangan pahitnya di rumah.

“Abah, anak dan keluarganya semua di kampung?” Rani berbicara pada Abah, ucapannya seperti tercekat menahan tangis.

“Iya, neng…mereka semua di kampung. Saya aja tuh sama si Roni yang cari rejeki di Jakarta.”

“Suka kangen nggak sih, Bah?” Rani melanjutkan, ia sudah berkaca-kaca.

“Ya, kadang kangen atuh neng. Tapi ya mau gimana lagi. Kan di sini juga Abah cari rejeki. Kalo lagi ada lebihan, bisa ketemu 3 bulan sekali neng.”

“Saya kangen sama ayah saya, Bah.” Rani sudah tidak kuat lagi. Ia hampir meneteskan air matanya.

“Oh, ya pulang atuh neng. Tengokin ayahnya.”

“Saya udah nggak bisa nengokin ayah, Bah. Ayah udah di surga.”

“Oh, ayah neng udah meninggal? Punten ya neng. Sok atuh, neng kan bisa sesekali ziarah ke makamnya.” Saat melihat kesedihan di wajah Rani, Abah berhenti mengaduk mie. Ia memandang ke arah Rani. Pilu yang Rani rasakan, seperti bisa Abah rasakan.

“Iya, Bah. Saya suka kok ziarah ke makam ayah. Tapi waktu ngeliat Abah, saya suka keinget ayah. Dia suka masakin buat makan kami.” Air mata bercucuran di pipi Rani.

Abah berhenti memasak. Ia mendekat ke tempat Rani duduk.

“Neng, hidup dan mati itu udah diatur sama yang di atas. Kita sebagai manusia, hanya bisa pasrah. Tapi bukan berarti kita harus menyerah.”

Saat Abah mendekat, Rani makin sesenggukan. Tak tahan lagi dengan pilu yang selama ini ia pendam.

“Neng harus tetap ceria dan berkarya, supaya ayah neng tenang di atas sana. Bikin ayah neng bangga dengan usaha neng di dunia.” Abah melanjutkan, kemudian mengambil mie pesanan Rani.

“Nih, sekarang neng makan dulu. Jangan nangis lagi ya.” Abah menyodorkan mangkuk berisi mie.

Rani mengusap air matanya. Perlahan-lahan tangisnya mereda.

“Makasih ya Bah. Boleh nggak saya peluk Abah?” Rani berkata dengan ragu-ragu.

Tanpa menjawab, Abah mendekat dan memeluk Rani. Tiga bulan yang lalu, terakhir kali Abah memeluk anak perempuannya. Ada kehangatan pula yang menyusup ke hati Rani. Dalam hati, Rani berdoa untuk ayahnya.

“Neng, sok atuh dimakan dulu. Saya mau masak lagi, tuh ada yang pesen lagi.”

Rani nyengir setelah melepas pelukannya. Kerinduan pada ayahnya, kekesalannya hari itu, terobati.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

(japanesesearch.com)

Konsep Gacha dalam Mobile Game Online

Guys, pernahkah kalian bermain game gashapon? Sebenarnya di antara kalian pasti banyak yang udah pernah maen game ini, t.. more

Si Nopal: Karakter Chubby yang Bikin Geli

Hari ini rubrik Chit Chat akan membahas salah satu komikus yang lagi ngetrend di Instagram nih yaitu Si Nopal!.. more

Ini Dia Komik Strip Paling Viral Selama Juni dan Juli 2017

Komik strip sampai sekarang masih menjadi primadona di dunia maya. Perkembangan dan inovasi komikus strip dan jumlahnya .. more

Faza Meonk: Saya Tidak Punya Role Model Khusus

Rubrik Chit Chat kali ini kita kedatangan Faza Meonk! Bro sis punya role model nggak?.. more

Sabrina – Chapter 14: Sehangat Sentuhan Seorang Ibu

Gabrielle tidak habis pikir dengan jawaban Sabrina. Ia tahu, Sabrina memang lapar. Bukan keadaan perut yang Gabrielle in.. more